| |
| |
Memotivasi
Karyawan
|
| |
Oleh
Johanes Papu
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
9 Juli 2002
|
| |
Keberhasilan
perusahaan (manajemen) dalam mempertahankan karyawan
terbaik yang dimiliki tidaklah dicapai dengan cara yang
mudah. Hal tersebut hanya dapat
terjadi berkat kepiawaian manajemen dalam memahami
kebutuhan karyawan dan kemampuan mereka untuk
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif yang dapat membuat para
karyawannya merasa termotivasi secara
internal.
|
| |
|
| |
Kebutuhan
Karyawan
|
| |
|
| |
Salah
satu teori motivasi yang banyak mendapat sambutan yang
amat positif di bidang manajemen organisasi adalah teori
Hirarki Kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow.
Menurut Maslow setiap individu memiliki
kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari
tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkatan yang
paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada
tingkatan paling rendah telah terpenuhi maka akan muncul
kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada tingkat yang
paling bawah, dicantumkan berbagai kebutuhan dasar yang
bersifat biologis, kemudian pada tingkatan lebih tinggi
dicantumkan berbagai kebutuhan yang bersifat sosial.
Pada tingkatan yang paling tinggi dicantumkan kebutuhan
untuk mengaktualisasikan diri.
|
| |
|
| |
HIRARKI
KEBUTUHAN ABRAHAM MASLOW
|
| |
|
Kebutuhan untuk aktualisasi diri
|
|
Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
|
|
Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
|
|
Kebutuhan fisiologis dasar
|
|
| |
|
| |
Dalam perusahaan kebutuhan-kebutuhan
tersebut diatas diterjemahkan sebagai berikut:
|
| |
-
Kebutuhan
fisiologis dasar: gaji, makanan, pakaian,
perumahan dan fasilitas-fasilitas dasar lainnya yang
berguna untuk kelangsungan hidup pekerja
-
Kebutuhan
akan rasa aman: lingkungan kerja yang bebas dari
segala bentuk ancaman, keamanan jabatan/posisi,
status kerja yang jelas, keamanan alat yang
dipergunakan.
-
Kebutuhan
untuk dicintai dan disayangi: interaksi dengan
rekan kerja, kebebasan melakukan aktivitas
sosial, kesempatan yang diberikan untuk menjalin
hubungan yang akrab dengan orang lain
-
Kebutuhan
untuk dihargai: pemberian penghargaan atau
reward, mengakui hasil karya individu
-
Kebutuhan
aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk
merealisasikan cita-cita atau harapan individu,
kebebasan untuk mengembangkan bakat atau talenta
yang dimiliki.
|
| |
Mengingat
bahwa setiap individu dalam perusahaan berasal dari
berbagai latarbelakang yang berbeda-beda, maka akan
sangat penting bagi perusahaan untuk melihat apa
kebutuhan dan harapan karyawannya, apa bakat dan
ketrampilan yang dimilikinya serta bagaimana rencana
karyawan tersebut pada masa mendatang. Jika
perusahaan dapat mengetahui hal-hal tersebut, maka akan
lebih mudah untuk menempatkan si karyawan pada posisi
yang paling tepat, sehingga ia akan semakin termotivasi.
Tentu saja usaha-usaha memahami kebutuhan karyawan
tersebut harus disertai dengan penyusunan kebijakan
perusahaan dan prosedur kerja yang efektif. Untuk
melakukan hal ini tentu bukan perkara yang gampang,
tetapi memerlukan kerja keras dan komitmen yang
sungguh-sungguh dari manajemen.
|
| |
|
| |
Lingkungan Kerja Kondusif
|
| |
|
| |
Semua
karyawan memliki kebutuhan untuk mengungkapkan diri,
ingin diterima sebagai bagian dari "anggota
keluarga/perusahaan", ingin dipercaya dan didengar
kata-katanya, dihargai oleh manajemen dan bangga
terhadap apa yang dikerjakannya. Melalui komunikasi dua
arah (termasuk rapat/meeting) pihak manajemen dapat
mengidentifikasi hal-hal tersebut sekaligus
menginformasikan tentang tujuan-tujuan perusahaan,
target market dan rencana masa depan lalu mendorong
karyawannya untuk memberikan feedback.
|
| |
|
| |
Pihak
manajemen juga harus belajar bagaimana membentuk "budaya
perusahaan" dan lingkungan kerja yang kondusif. Hal
ini hanya dapat dicapai melalui praktek kepemimpinan dan
manajemen perusahaan yang baik, pendekatan kemanusiaan,
keadilan bagi semua, struktur karir yang jelas, program
pelatihan dan pengembangan yang terpadu, dukungan
peralatan kerja yang memadai, penilaian kinerja yang
obyektif, program "reward" yang tepat, gaji
dan tunjangan yang memadai serta kegiatan-kegiatan lain
yang diadakan oleh perusahaan.
|
| |
|
| |
Faktor
lain yang tidak kalah pentingnya adalah karyawan
perlu mengetahui bahwa pihak manajemen mengakui kehadiran mereka,
sadar akan arti penting karyawan bagi perusahaan, para
manager mampu mengingat nama-nama bawahannya dan tidak
segan menyapa mereka. Manager yang gagal mengingat nama
bawahannya atau tidak merespon ketika disapa oleh
bawahan akan membuat karyawan kehilangan motivasi kerja,
kurang loyal dan kurang kepercayaan pada manager
tersebut. Para manager dapat memperoleh loyalitas
dan kepercayaan dari bawahannya jika ia memperlakukan
bawahannya sebagai "mitra kerja", menunjukkan
kepedulian yang tinggi, mau mendengarkan saran dan
keluhan dan mau saling berbagi pengalaman.
|
| |
|
| |
Akhirnya
tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab para manager:
mungkinkah untuk melakukan hal-hal tersebut di
perusahaan Anda. Dengan perencanaan yang matang dan niat
baik yang didasari kepedulian akan pentingnya.kualitas
hidup setiap orang dalam perusahaan, saya yakin para
manager akan dapat melakukannya.(jp)
|
|
_____________________________
|
| |
|