| |
| |
Menjadi HRD
Manager: Haruskah Berpengalaman?
|
| |
Oleh
Johanes Papu
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
9 Juli 2002
|
| |
Setiap
kali kita melihat iklan lowongan pekerjaan yang
dipublikasi di berbagai media massa pada umumnya setiap
jabatan mempersyaratkan kandidatnya memiliki pengalaman
kerja di bidang yang sama dalam kurun waktu tertentu.
Kurun waktu pengalaman kerja yang dituntut akan semakin
lama manakala jabatan yang dibutuhkan adalah pada
tingkat managerial (top executive). Hal tersebut
juga berlaku untuk posisi di bidang SDM seperti HRD
Manager. Pada umumnya untuk posisi tersebut perusahaan
mempersyaratkan pengalaman kerja minimal 5 (lima) tahun
pada bidang SDM.
|
| |
|
| |
Dengan
melihat persyaratan di atas maka tentu saja akan menutup
peluang bagi kandidat yang belum pernah bekerja di
bidang SDM, meskipun sang kandidat mungkin sangat
kompeten sebagai manager di bidang lainnya. Namun
demikian, pada prakteknya kita mungkin seringkali
menjumpai bahwa banyak HRD Manager yang dipilih atau
diangkat tanpa pernah memiliki pengalaman
dibidangnya ternyata sukses dalam memimpin departemennya.
Fenomena menempatkan orang-orang yang tidak memiliki
latarbelakang bidang SDM pada posisi kunci (top
executive) ternyata bukan hanya terjadi di
perusahaan-perusahaan yang berskala kecil tetapi bahkan
dilakukan oleh perusahaan yang sudah tergolong Fortune
100 companies.
|
| |
|
| |
Steve
Bates dalam tulisannya berjudul "No Experience
Necessary?" di HR Magazine yang mengutip
hasil survey dari Center
for Effective Organizations at the University of
Southern California (USC) mengungkapkan
bahwa seperempat
(1/4) top eksekutif di bidang SDM pada perusahaan-perusahaan
terkemuka di Amerika ternyata memulai pekerjaan mereka
tanpa pernah memiliki pengalaman di bidang SDM. Hasil
survey yang dilakukan HR magazine pada 53
perusahaan yang tergolong Fortune 100
yang bersedia mengungkapkan resume para top HR
executive mereka, memperlihatkan bahwa ternyata 12
orang tidak pernah memiliki latarbelakang di bidang SDM. (Jurubicara dari 47
perusahaan yang lain menolak untuk memberikan resume
para top HR executive mereka).
|
| |
|
| |
Tampaknya
memang ada kecenderungan untuk menempatkan orang-orang
dari bidang lain seperti accounting, finance atau hukum
untuk menjalankan HRD.
Mengapa demikian? Apakah
pengalaman tidak lagi dibutuhkan?
|
| |
|
| |
Beberapa
Alasan
|
| |
|
| |
Mengapa
ada kecenderungan menempatkan orang-orang yang tidak
berpengalaman untuk menduduki posisi top eksekutif tentu
saja ada alasannya. Pertama-tama perlu dilihat bahwa
fenomena tersebut dipacu oleh tekanan-tekanan yang
dialami oleh para eksekutif perusahaan (top manajemen)
untuk mencapai tujuan perusahaan. Tekanan-tekanan
tersebut memaksa CEO untuk melakukan berbagai tindakan
yang dianggap perlu. Oleh karena itu dalam pengangkatan
seorang yang belum berpengalaman harus dilihat juga
apakah ada agenda khusus yang harus dilakukan HRD atau
ada sesuatu yang segera harus diperbaiki. Untuk memahami
hal-hal tersebut kita perlu juga memahami apa yang ada
dalam benak CEO. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak
CEO masih menganggap bahwa HRD kurang memberikan
kontribusi secara finansial kepada perusahaan.
Hasil survey Center
for Effective Organizations mengungkapkan
bahwa
78% dari para manager percaya bahwa HRD harus
menjadi mitra bersama-sama dengan top manajemen dalam
usaha membentuk para para eksekutif yang tangguh. Tetapi,
hanya 27% dari para manager percaya bahwa HRD mampu
melaksanakan perannya tersebut. CEO
seringkali menempatkan "muka baru" pada posisi
HRD Manager dengan harapan akan memberikan angin segar
dan perubahan yang
menguntungkan perusahaan.
|
| |
|
| |
Alasan
kedua adalah CEO menginginkan para top executive
untuk sementara ditempatkan sebagai HRD Manager agar
dapat lebih memahami fungsi HRD lebih dalam sehingga
jika nantinya dia menduduki posisi yang lebih tinggi
maka akan dapat lebih menghargai keberadaan HRD. Alasan
lainnya adalah para pejabat yang tidak berpengalaman di
HR tetapi sangat professional di bidang lain dapat
mengajarkan ketrampilan-ketrampilan bisnis kepada para
personil HRD dan menunjukkan kepada mereka bagaimana
mereka dapat memberikan kontribusi langsung kepada
usaha-usaha pencapaian tujuan perusahaan.
|
| |
|
| |
Beberapa
Kiat Sukses
|
| |
|
| |
Sebagai
konsekuensi dari penempatan orang yang tidak
berpengalaman tentu saja ada yang berhasil dan ada yang
tidak. Tidak jarang beberapa pejabat mengalami masa yang
sangat sulit bahkan frustrasi pada awal menjabat. Namun
demikian banyak juga yang berhasil melewati masa sulit
tersebut dan sukses memimpin departemennya.
|
| |
|
| |
Beberapa
faktor dan kiat yang dapat membuat para HRD Manager
berhasil diantaranya adalah dengan mengikuti beberapa
saran berikut:
|
| |
|
| |
-
Bagi
anda pemegang tampuk pimpinan di perusahaan, jangan
pernah menunjuk seorang eksekutif yang gagal
sebagai HRD Manager. Dengan kata lain janganlah
posisi di bidang SDM merupakan tempat pembuangan
bagi para eksekutif yang gagal di bidang lain. Jika
sampai hal ini terjadi hampir dapat dipastikan akan
terjadi chaos pada HRD.
-
Penempatan
orang yang memiliki jiwa bisnis yang kuat akan
membuat HRD mampu memainkan perannya dalam menyusun
perencanaan SDM dan mengintegrasikannya ke dalam
strategi bisnis perusahaan serta tidak lagi hanya
berfungsi sebagai pelengkap. Seorang HRD Manager
harus mampu membaca dan memahami laporan keuangan
dan cash-flow serta dapat mengetahui secara pasti
bagaimana program-program HRD akan berpengaruh
terhadap hal tersebut.
-
Menjadi
HRD Manager bukan sekedar berhasil dalam menjalankan
fungsi-fungsi manajemen SDM, namun perlu juga
memahami bisnis perusahaan secara menyeluruh.
Termasuk disini adalah pemahaman mendalam tentang "nature
of business" dan budaya perusahaan.
-
HRD
Manager yang tidak berpengalaman dibidangnya
hendaklah pandai-pandai dalam mengambil hati dan
belajar dari orang-orang dalam yang sudah
berpengalaman. Jika Anda seorang yang kebetulan
dipilih sebagai HRD Manager dan menganggap bahwa
Anda harus ahli dalam segala hal maka masalah akan
senantiasa menyertai Anda. Agar terhindar dari
masalah cobalah untuk bersikap rendah hati dan
katakan kepada bawahan Anda "Saya perlu belajar
dari Anda lebih banyak lagi tentang hal ini".
-
Tunjukkan
penghargaan yang mendalam kepada staff atau bawahan
anda yang telah mendedikasikan dirinya pada bidang
SDM. Jangan pernah menganggap remeh orang-orang
tersebut, sebab jika anda melakukannya maka anda
akan kehilangan dukungan dari mereka.
-
Jika
anda sebagai HRD Manager menghadapi bawahan yang
kurang senang dengan adanya perubahan kepemimpinan (HRD
Manager (anda) berasal dari bidang "non SDM"),
cobalah untuk menyakinkan mereka bahwa hal ini harus
dilihat dalam kerangka strategi bisnis perusahaan
secara keseluruhan. Katakan juga bahwa Anda
membutuhkan waktu dan bantuan mereka untuk memajukan
HRD di perusahaan.
|
| |
Penutup
|
| |
|
| |
Dengan
melihat semakin banyaknya tantangan yang harus dihadapi
oleh HRD Manager maka dapat juga dilihat bahwa HRD bukan
lagi sekedar faktor pelengkap dalam perusahaan. Setuju
atau tidak HRD merupakan bagian yang penting, sama
seperti finance, marketing, atau divisi lain, yang
mempengaruhi aspek-aspek yang ada dalam perusahaan dalam
mencapai tujuan. Sekarang tinggal bagaimana para HRD
Manager mampu menjawab tantangan tersebut dan terus
meningkatkan kemampuan diri bukan hanya ahli dibidang
SDM tetapi juga harus memiliki kemampuan (minimal
memahami) di bidang-bidang lain seperti finance,
akuntansi, hukum dan IT. (jp)
|
|
_____________________________
|
| |
|