|
 |
Mengelola
Khayalan
|
| |
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
| |
Jakarta,
30 Juli 2003
|
| |
Salah satu kontradiksi
dalam sistem kehidupan sosial kita adalah adanya
sikap "looking down" terhadap khayalan
seseorang untuk "Menjadi" atau "Memiliki".
Kalau anda sering mengkhayal apalagi yang dipandang
lingkungan terlalu muluk, lama kelamaan akan dicap
pelaku dosa sosial sambil diumpat dengan kata-kata
terlalu idealis, khayalis, dan tidak realistis. Anehnya,
di bagian lain sistem sosial kita malah memberi
kesempatan sebesar-besarnya untuk berkhayal.
Lihat saja misalnya di bandara, stasiun kereta,
atau tempat antrian umum. Kalau ada seribu orang mungkin
tidak lebih dari hitungan jari yang menggunakan waktu
menunggu untuk membaca. Sisanya mengkhayal atau ngobrol
nggak karuan.
Kalau ditelusuri
asal-usulnya khayalan merupakan anak dari imajinasi di
mana para
orang sukses telah menggunakannya
untuk menyelesaikan masalah mulai dari
bisnis, profesi, dan lain-lain. Imajinasi adalah
kecerdasan yang dianugerahkan dalam bentuk hiburan yang
menyenangkan. Dikatakan hiburan karena
imajinasi akan membebaskan pikiran
dari kebrutalan (unfairness) realitas temporer.
Dan mengapa dikatakan kecerdasan,
karena dari imajinasilah semua ide kreatif dan
gagasan inspiratif
berproses pertama kali.
Sebagai anak dari imajinasi
berarti kebiasaan mengkhayal
tidak perlu diberantas melainkan perlu dibina dan
dikelola secara tepat agar tidak menjadi makhluk mental
yang liar. Selain itu, kalau kita kembalikan pada fakta
kontradiktif di atas, sebenarnya sistem sosial kita
hanya menolak khayalan yang liar dan menerima khayalan yang tidak liar. Seperti apakah
perbedaan keduanya?
|
| |
Khayalan
Liar
|
| |
Di antara sekian ciri khas
khayalan liar adalah bahwa khayalan liar tidak memiliki
hubungan keterkaitan (interconnectedness) antara
apa yang kita lakukan di masa lalu, masa sekarang dan
masa depan yang kita khayalkan. Umumnya kita mengkhayal
tentang suatu wilayah yang sama sekali tidak dipahami
oleh pikiran mental. Padahal semestinya khayalan kita
berupa penjelasan ideal dari apa yang kita lakukan hari
ini atau cita-cita masa lalu yang bagiannya sudah pernah
kita sentuh.
Ciri khas berikutnya,
khayalan liar tidak memiliki rincian yang jelas (clarity)
sehingga khayalan tersebut berisi peristiwa yang
terpisah (split) dan tidak memiliki relevansi
secara rasional antara peristiwa satu dan lainnya.
Khayalan demikian bertentangan dengan hukum alam (sebab-akibat).
Padahal kalau kita mengkhayalkan suatu peristiwa ideal,
khayalkan juga sebab-sebab yang paling mungkin bisa
mengarah untuk menciptakan peristiwa tersebut.
Untuk mengkhayal menjadi
pebisnis yang sukses, jangan mengkhayalkan jumlah
kekayaan semata yang saat ini tidak kita miliki atau
mengkhayalkan perilaku fisik yang tampak di luar tetapi
khayalkanlah kondisi kualitas software seperti
isi pikiran, isi pembicaraan, isi mental, dll. Rata-rata
orang yang telah sukes di bidangnya punya keunikan
kualitatif, misalnya percaya diri yang tinggi,
gaya berbicara yang meyakinkan, disiplin waktu dan
seterusnya. Ciri khas lain, khayalan
liar biasanya menggambarkan peristiwa hidup yang "enak-enak"
di mana kita pun tidak meyakini sepenuhnya akan terjadi
pada diri kita. Atau hanya berupa peristiwa yang terjadi
di level "seandainya nanti". Kalau dipukul
rata khayalan demikian lebih banyak berisi pengandaian
"memiliki". Mestinya kita menghayal tentang
hal-hal yang enak dan berisi pengandaian "menjadi".
Khayalan untuk memiliki lebih sering tidak mempunyai
padanan fisiknya dengan apa yang kita lakukan hari ini.
Berbeda kalau kita mengkhayal untuk menjadi. Pasti dapat
ditemukan bagian tertentu yang bisa kita lakukan dari
mulai sekarang. Kata kunci yang membedakan adalah
sekarang versus nanti.
|
| |
Dampak
|
| |
Aktivitas khayalan liar di
dalam diri sebenarnya telah banyak membuat kita rugi.
Kerugian yang sudah pasti adalah waktu dan energi
padahal pada saat yang sama ada pilihan lain yang
menguntungkan yaitu berpikir, berimajinasi dan
bervisualisasi. Perbedaannya hanya karena faktor memilih
bidang konsentrasi yang berlokasi di wilayah internal
dan sama-sama gratis. Kerugian berikutnya,
kalau apa yang kita khayalkan berisi materi negatif yang
menyangkut diri kita atau mengkhayalkan sesuatu terjadi
lebih buruk atas orang lain tanpa alasan yang kokoh.
Khayalan negatif punya daya tarik lebih kuat dan
biasanya tanpa harus repot "to make it
happens" sudah muncul apalagi dikhayalkan.
Demikian juga dengan khayalan atas orang lain. Tanpa
alasan yang jelas bisa jadi apa yang kita khayalkan
dapat berbalik menimpa diri kita. Banyak peristiwa atau
kiamat kecil yang muncul seakan-akan tanpa sebab,
padahal peristiwa itu pernah terlintas dalam khayalan
kita yang tidak diingat kapan tanggalnya. Kerugian lain adalah berupa
kualitas mental. Khayalan yang tidak memiliki akses ke
sumber kehendak (khayalan memiliki yang enak-enak) bisa
membikin orang malas dan lebih parahnya lagi, ketika
imajinasi hendak kita gunakan untuk hal-hal yang penting
dan bernilai bagi kita, kemampuan tersebut tidak bisa
bekerja hanya karena kurang dibiasakan. Analoginya
seperti pikiran. Kalau jarang kita pakai untuk menalar
tidak berarti makin awet dan kuat tetapi makin rusak/tumpul.
|
| |
Pengelolaan
|
| |
Banyak alasan yang membuat
manajemen khayalan dibutuhkan. Salah satunya, manajemen
itu hanya berfungsi sebatas mengatur pilihan arah
konsentrasi dan tidak membutuhkan sesuatu yang tidak
kita miliki di samping juga, manajemen tidak akan
membuat kita kehilangan apapun. Malah sebaliknya, dengan
manajemen ini kita akan mendapatkan keuntungan. Keuntungan paling besar
adalah peristiwa yang kita ciptakan di alam khayalan
dapat ditransfer menjadi
materi visualisasi kreatif tentang cita-cita yang sudah
kita rumuskan dalam tujuan ideal atau visualisasi target
aktual. Kalau kita kembalikan ke definisi yang telah
disusun para pakar, visualisasi adalah praktek melihat
potret masa depan dengan penglihatan imajinasi. Karya
besar itu, kata orang, tidak diciptakan langsung secara
fisik tetapi dilihat. Apa yang sudah diciptakan orang
sebenarnya hanyalah menjalani apa yang sudah dilihat di
dalam alam imajinasinya. Keuntungan lain adalah
aktivitasi Otak Kanan dan Otak Kiri secara sadar. Patut
kita akui selama ini hampir sebagian besar dari kita
telah dicetek oleh kebiasaan menggunakan Otak Kiri mulai
dari sistem sosial, sistem pendidikan dan pembelajaran
hidup yang kita lakukan. Akibatnya Otak Kanan akan
protes. Dampak negatif dari aksi protes tersebut
adalah konflik (tabrakan) di tingkat cara kerja otak.
Dengan demikian akan memperpanjang proses realisasi atau
malah menjadi buyar. Kalau belajar dari kisah
orang sukses di manapun berada termasuk dari orang dekat
yang kita kenal, umumnya mereka terdidik untuk
menggunakan fungsi kedua belahan otak tersebut.
Leonardo De Vinci selain seorang seniman besar
(artistic) juga seorang yang ahli bidang
hitung-menghitung bisnis. Pertanyaannya sekarang, dari
mana kita mulai? Khayalan yang kita gunakan untuk
memvisualisasikan tujuan ideal (cita-cita) jelas
menuntut upaya merumuskan tujuan hidup seperti yang
sudah diajarkan ilmu pengetahuan. Sebagaimana pernah
saya jelaskan dalam tulisan yang lalu, acuan merumuskan
tujuan hidup bisa menggunakan formula SMART (specific,
measurable, attainable, relevant dan timescale).
Formula apapun yang kita anut, intinya tujuan hidup yang
kita ambil dari percikan / keseluruhan cita-cita saat
masih kecil harus dapat direkam / dipotret oleh pikiran
secara jelas (apa, bagaimana, kapan, mengapa, dll).
Khayalan di sini berfungsi untuk memperjelas dan membuat
semakin jelas, mengingat konsentrasi / fokus kita pada
tujuan hidup sering terganggu oleh tawaran atau godaan
yang kita setujui. Adapun khayalan yang kita
gunakan untuk memvisualisasi target aktual (apa yang
bisa kita raih) hanya membutuhkan organisasi materi
pekerjaan. Khayalan berfungsi untuk meneteskan gagasan
atau ide kreatif bagaimana pekerjaan tersebut pada
akhirnya diselesaikan. Praktek sering menunjukkan
pekerjaan yang diselesaikan dengan gerakan fisik tanpa
sentuhan ide hanya selesai
dengan pekerjaan (capek, lelah dan
membosankan).Robert Kiyosaki, dalam berbagai ceramahnya
di sejumlah negara, termasuk di Indonesia, selalu
mengulangi ucapannya bahwa kemakmuran finansial (uang)
tidak bersembunyi di dalam pekerjaan tetapi berada di
alam gagasan, ide atau inspirasi. Pendapat ini klop
dengan ajaran agama yang mengatakan bahwa sembilan dari
sepuluh pintu rizki (uang) diperoleh dari perdagangan.
Tentu bukan anjuran menjadi pedagang di pinggir jalan
tetapi bagaimana menyentuh pekerjaan dengan gagasan
kreatif yang menjadi soko guru untung-rugi perdagangan. Aplikasi manajemen bagi
khayalan menuntut disiplin dan evaluasi. Untuk menaati
disiplin dalam bervisualisasi dapat dilakukan di mana
saja tanpa mengganggu rutinas. Idealnya, kita perlu
memiliki waktu khusus yang telah kita beri label untuk
bervisualisasi secara rutin supaya mudah bagi kita untuk
mengevalusi keterkaitan antara materi khayalan kemarin
dan hari ini.
|
| |
Realisasi
|
| |
Untuk
menjadikan khayalan sebagai materi visualisasi menuntut
model mental yang menempatkan materi tersebut sebagai
pembelajaran diri atau materi "self
education". Beberapa saran berikut mungkin dapat
kita jadikan acuan menapaki proses realisasi khayalan.
|
|
|
1.
|
Jangan
malas
|
| |
|
Sebagaimana sudah disinggung
breaking-down dari keseluruhan peristiwa ideal
yang kita khayalkan harus berupa aktivitas yang paling
mungkin untuk dilakukan sekarang. Asumsi demikian sudah
klop dengan temuan teori pengetahuan fisika bahwa semua
peristiwa di dunia ini tidak ada yang berdiri sendiri
melainkan kemenyeluruhan yang dibentuk oleh fregmentasi
partikel. Seorang karyawan yang mengkhayal menjadi
direktur tertinggi di perusahaan tempat ia bekerja dapat
memulai khayalan dengan memahami art atau science
yang berlalu lalang di kantor dan gratis untuk
dipelajari. Apa yang sering membuat kita gagal
adalah penghalang (pagar mental) yang kita ciptakan
sendiri dan kita yakini pagar tersebut tercipta oleh
kekuatan di luar diri kita. Pagar tersebut adalah rasa
malas untuk memulai melakukan dengan berbagai alasan
yang sudah kita yakini benar, tentunya.
|
|
|
2.
|
Jangan
takut
|
| |
|
Selain membutuhkan
perlawanan terhadap kemalasan, merealisasikan khayalan
juga perlu melawan rasa takut. Umumnya khayalan yang
sulit direalisasikan bukan karena terlalu muluk tetapi
terlalu rendah, tidak jelas dan takut kita yakini
benar-benar terjadi. Padahal kalau dipikir, risiko
paling fatal dari sebuah khayalan adalah tidak terjadi
apa-apa kecuali khayalan kita lebih rendah dari harapan
atau tujuan.
|
|
|
3.
|
Jangan
malu
|
| |
|
Dalam sistem sosial yang
sedemikian kontradiktif,
umumnya terjadi perlakuan bahwa kalau ada
orang gagal
menjalankan gagasannya maka orang itulah yang pantas
malu, apalagi jika ia pernah melontarkan khayalan
tentang cita-cita.
Treatmen demikian sebenarnya adalah refleksi dari
diri kita. Perlu kita ingat, sebagian besar dari derita
rasa malu yang kita rasakan tidak diciptakan oleh
persepsi orang lain tentang kita tetapi diciptakan oleh
persepsi kita tentang sosok kita yang memalukan menurut
persepsi kita. Sementara orang lain adem-adem saja.
Meskipun demikian ada
siasat yang diajarkan dari sejak dahulu kala
yaitu jangan mudah obral khayalan kecuali pada orang, moment
dan bidang tertentu.
|
|
|
Kalau
kita pikir ulang, menjalani aktivitas mengkhayal
sebenarnya adalah bentuk dari kepatuhan kita terhadap
adanya hukum "possibility
& opportunity".
Sayangnya
kitalah yang sering meyakini (menukar) possibility
tersebut dengan impossibility (kemustahilan) dan opportunity
dengan ancaman atau kepastian. Dengan tulisan ini
mudaha-mudahan anda menyadari hal itu. Semoga berguna. (jp)
|
|
_____________________________
|
|