|
Selama yang kita pilih
adalah menang atas gagasan, self realization, self
actualization, menaklukkan gunung, maka alasan
mendasar untuk memperkuat daya tahan
internal itu antara lain:
-
Perlakuan
Situasi Eksternal
-
Perlakuan
Lingkungan
-
Fluktuasi
spectrum emosi
Seperti yang sudah dibahas
dalam artikel sebelumnya bahwa ketahanan fokus pada
tujuan akhir dibutuhkan karena siklus situasi eksternal
bisa menampilkan layar fair dan unfair (baca
artikel:
Uji
Ketahanan Fokus). Selama situasi eksternal
selalu fair maka mungkin tidak ditemui masalh
berarti, tetapi ketika siklus situasi berjalan
terus antara fair – unfair dan akan snagat
dibutuhkan pengerahan focus tetap pada penggunaan
energi positif, konstruktif dan kondusif.
Hal inilah yang membedakan antara penakluk dan
pecundang. Tampilan fair-unfair itu
mengelilingi konstruksi realitas temporer di
bagian simbol permukaan dan esensi. Para penakluk
biasanya punya sudut pandang menyeluruh yang mampu
membedakan mana simbol permukaan dan mana esensi
sehingga penglihatannya tidak mudah kabur oleh kabut
siklus.
Alasan lain adalah perlakuan
lingkungan. Tidak ada orang yang akan menjabat tangan
kita ketika masih sedang naik gunung apalagi kalau
masih mencari alat perlengkapan untuk naik. Orang
baru akan mengatakan ‘selamat’ ketika kita berhasil
menaklukkan gunung. Ketahanan internal dibutuhkan justru saat kita masih mencari-cari
peralatan untuk naik dimana lingkungan punya watak untuk
menolak atau memperkecil ambisi. Atau
ketika sedang jatuh pada saat
menjalani usaha naik. Dalam posisi jatuh selain
keinginan yang tidak / belum tercapai, dampak lain
adalah pandangan looking-down, cemoohan, dan
afirmasi pukulan psikologis dari lingkungan. Kalau
afirmasi pukulan itu dikeluarkan dari mulut orang lain
yang kita anggap musuh (baca: musuh hitam) kemungkinan
besar kita menolak tetapi bagaimana kalau afirmasi itu datang dari orang yang
kita kenal: teman, rekan, keluarga dan lain-lain atau
katakanlah tergolong musuh putih? Di sinilah ketahanan
berperan untuk membedakan watak lingkungan yang manusiawi dan watak personal si Anu. Jika menengok sejarah,
peristiwa demikian pernah dihadapi oleh Columbus saat
mengutarakan gagasan peta jalan pintas menuju India.
Ketika itu tim penasehat raja yang terdiri atas para
ahli ilmu bumi Spanyol mengeluarkan rekomendasi TIDAK
atas usulan Columbus itu. Tetapi
Columbus memahami bahwa
komentar yang muncul hanyalah watak lingkungan
yang manusiawi sehingga
ia tetap ingin mempertahankan gagasannya menang untuk membuktikan dunia ini bulat. Selain keadaan dan manusia,
alasan lain mengapa ketahanan internal dibutuhkan adalah
fluktuasi spectrum emosi yang tidak stabil dan tidak
matang. Andaikan orang punya kematangan emosi yang
senantiasa stabil maka dunia ini, seperti dinyatakan
teori kesehatan, akan dipenuhi oleh manusia yang dapat
hidup dengan keunggulannya. Sebab setiap bayi yang lahir
tidak lepas dari alasan keunggulan atas calon bayi lain
di dalam rahim seorang ibu. Ketidakstabilan itulah yang
membuat orang berada di ujung kutub antara ingat dan
lupa atas keunggulan, tujuan, visi dan misi. Ketika
bersama dengan orang lain, kita lebih banyak ‘ingat’
membahas dengan fasih mengapa orang lain gagal,
salah, begini dan begitu. Sementara ketika sedang sendirian kita gampang ‘lupa’ dan
berpikir, mengapa saya tidak diberi keunggulan seperti
orang lain. Di sinilah perlunya
manajeman Ingat dan Lupa.
Manajemen ini akan bertindak sebagai mekanisme
auditing di dalam diri atas munculnya 'Ingatan Rational'
dan 'Lupa Irrational' yang dapat memperkuat daya tahan.
Ingatan Rational mengatakan dunia ini berputar
dan menghasilkan siklus sehingga yang dibutuhkan dari
kita adalah memperjuangkan gagasan agar sampai di atas
gunung sesuai dengan cuaca siklus. Tetapi Lupa
Irrational membisikkan
bahwa dunia ini harus berjalan dengan mengikuti
aturan yang kita rencanakan. Karena bertentangan dengan
keadaan, maka percikan lain menyuarakan bisikan bahwa
anda sudah pantas putus asa dan menyerah. Begitu juga dalam memahami
watak lingkungan. Percikan irrational kita membisikkan
bahwa orang lain atau lingkungan harus tahu lebih dulu
apa yang kita mau / atau ikut mendukung rencana kita
mengumpulkan perlengkapan sebagai bekal naik gunung.
Kalau tidak, mereka
akan kita libatkan untuk bertanggung jawab jika
kegagalan terjadi dengan mengeluarkan senjata blaming
atau memusuhinya. Padahal
ingatan rational kita sudah membisikkan hal yang
sebaliknya bahwa orang lain akan tahu seiring dengan
proses pembuktian yang dijalankan oleh dirinya atas diri
kita. Semua orang kecuali
dibedakan kadar yang diberdayakan akan cenderung
menampilkan watak manusiawi dengan enggan mengatakan YA
ketika disodorkan suatu gagasan baru dari orang
lain, terlepas apakah
gagasan itu baik atau buruk, apalagi kalau
gagasan itu kecil. Fenomena ini hanya ingin
mengisyaratkan pelajaran penting
bahwa kita tidak perlu meladeni distraksi
kanan-kiri secara berlebihan tetapi perlu memantapkan
focus pada tanjakan ke atas, proses dan mengukur
progress dengan melihat ke bawah. Kalau watak lingkungan
demikian kita pahami secara irrational, maka dampak yang
pasti adalah kehilangan energi dan pikiran akibat
pemaksaan oleh kita terhadap orang lain yang hasilnya
sudah kita ketahui bersama.
|