| |
Dua
Modal Utama
Menjelang tahun baru
kemarin, saya pernah menerima email dari seseorang yang
isinya kira-kira begini:
Pak, saya agak bingung menghadapi tahun 2006 ini. Seringkali saya sudah
merasa bosan pada pekerjaan sekarang ini. Pekerjaannya
itu saja-saja, gajinya segitu-gitu aja, dan suasana
kerjanya sudah tidak menarik lagi buat saya. Rasanya,
langkah saya sudah menthok sampai di sini bila saya
memilih untuk terus bekerja di tempat kerja sekarang
ini. Obsesi saya saat ini adalah ingin punya usaha
sendiri. Cuma saja, saya belum tahu usaha apa yang cocok
dengan saya. Ada kawan yang mengajak mendirikan
perusahaan kecil-kecilan secara patungan dengan modal
senilai harga motor yang saya miliki. Saya ingin
meng-iya-kan ajakan itu. Tetapi terkadang saya takut
seperti kawan saya yang lain. Awalnya sih ingin punya
usaha sendiri tetapi karena bangkrut, akhirnya menjadi
karyawan lagi, menulis surat lamaran lagi, menunggu
panggilan lagi. Dengan asumsi adanya peningkatan
gelombang PHK akibat kenaikan BBM dan lain-lain, mencari
pekerjaan baru lagi bukan soal yang mudah kan, Pak . . .
. ?
Saya yakin di
dunia ini ada banyak orang yang menghadapi masalah
antara kebosanan dan kebimbangan semacam itu, meski
detail-detailnya berbeda. Kita sudah bosan dengan
pekerjaan kita saat ini tetapi di sisi lain kita belum
benar-benar punya kejelasan langkah (determination)
yang utuh di kepala tentang pilihan yang baru. Lantas,
apa yang harus kita lakukan?
Antara
penting dan utama
Penting
manakah modal tangible dan modal intangible? Kalau
pertanyaannya adalah penting mana, tentu harus dijawab
keduanya penting. Berusaha butuh modal material –
finansial seperti halnya juga butuh modal akal (intangible).
Tetapi jika pertanyaannya adalah, manakah yang
harus diutamakan lebih dulu, maka pengalaman sejumlah
pengusaha dan kesimpulan pakar di bidang usaha,
mengatakan bahwa modal intangible harus lebih dulu diutamakan.
Tidak saja
Henri Ford yang mengakui ini. Pak Bob Sadino, Pak Cik,
dan Bu Martha Tilar, rupanya juga kesimpulan yang sama.
“Banyak sekali orang yang menerjemahkan modal dengan
uang atau benda-benda. Sebetulnya dari pengalaman saya,
modal intangible itu awal yang nantinya diikuti oleh modal tangible”,
jelas Pak Bob (majalah Manajemen, April, 2003)
Apa yang
dikatakan Pak Bob itu rupanya memiliki esensi yang sama
dengan kesimpulan George Torok. (George
Torok,The Yukon Spirit: Nurturing Entrepreneurs ,www.torok.com).Torok
yang banyak melakukan penelitian terhadap kehidupan para
pengusaha menyimpulkan bahwa tidak semua orang yang
punya modal tangible bisa disebut pengusaha. Bisa saja
mereka menjadi pengusaha dalam waktu seminggu sebulan
atau beberapa bulan ke depan tetapi selebihnya mereka
bukan lagi pengusaha. Menurut Torok, modal intangible
yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha adalah:
§
Memiliki
dorongan batin yang kuat untuk maju (personal
drive)
§
Memiliki
fokus yang tajam tentang apa yang dilakukanya dan kemana
dia akan membawa usahanya (focus)
§ Memiliki
kemampuan yang kuat untuk berinovasi (produk, sistem,
cara, metode, service, dst)
§ Memiliki
sikap mental “Saya bisa” (The
I can mental attitude) dalam menghadapi
persoalan-persoalan yang kedatangannya seperti tamu tak
diundang
§ Memiliki
kemandirian dalam mengambil keputusan (berdasarkan
pengetahuan, pengalaman, skill, intuisi, dan akal
sehatnya)
§ Memiliki
kemampuan untuk “tampil beda” atau memunculkan
keunggulan-keunggulan
(kreatif)
Mengapa harus
lebih dulu diutamakan? Saya tidak tahu alasan
spiritual-mistikal yang mengilhami para pengusaha itu
berkesimpulan demikian. Tetapi secara logika, ada
sedikitnya dua alasan yang bisa kita pahami:
Pertama,
seandainya kita punya modal tangible
yang bagus tetapi kita tidak memiliki modal intangible
yang bagus, maka modal tangible
kita bukan malah akan bertambah. Modal itu akan
berkurang dan bahkan bukan tidak mungkin akan ludes.
Contoh-contohnya sudah seabrek di sekeliling kita.
Tetapi seandainya kita punya modal intangible
yang bagus sementara kita tidak memiliki modal tangible yang berlimpah, ini masih bisa diatasi. Sudah banyak kita
saksikan pengusaha yang mengawali usahanya dengan modal
yang sedikit atau pas-pasan bahkan kurang (istilahnya
modal dengkul), tetapi karena ulet, kreatif, tekun, dan
punya jaringan yang luas, akhirnya usaha itu mengalami
kemajuan yang menggembirakan.
Kedua,
keahlian tidak bisa dibeli atau tidak bisa dipinjam dari
orang lain. “You cannot buy the skill to be great”. Uang bisa dipinjam, gedung bisa disewa atau boleh numpang
sementara, produk bisa ‘nge-sub’ tetapi keahlian
menjalankan bisnis, tentu tak mengenal istil beli,
pinjam, apalagi ngesub atau numpang. Kalau Anda tidak
bisa atau tidak ahli, maka buktinya langsung nyata dalam
bentuk antara lain: gagal, rugi, tidak efektif, tidak
efisien, tidak untung, dan lain-lain.
Ada kebenaran
umum (folk wisdom)
yang terkadang lupa kita pikirkan secara masak. Kita
sering mendengar ada orang mengatakan, “Orang ahli kan
bisa dibeli. Apa susahnya kita merekrut sarjana ahli
lalu kita gaji untuk menjalankan bisnis kemudian kita
tinggal menerima untungnya saja …. “. Kebenaran umum
seperti ini memang benar tetapi prakteknya tidak benar
bagi semua orang. Bagi mereka yang sudah ahli dalam me-manage manusia, kebenaran umum ini benar. Tetapi bagi yang belum
punya keahlian dalam hal “managing
people”, seringkali kebenaran umum itu belum benar
di lapangan. Belum benar di sini artinya rencana kita
gagal karena kita tidak memiliki keahlian yang memadai
dengan masalah yang kita hadapi.
Kesimpulannya,
menerjuni usaha di bidang apapun memang butuh uang,
butuh dana, butuh fasilitas, butuh materi. Modal tangible
seperti ini wajib hukumnya. Tetapi, memiliki modal tangible yang memadai belum dapat menjamin kelangsungan usaha. Untuk
poin yang terakhir ini lebih banyak ditentukan oleh
modal intangible yang kita miliki. Modal intangible
di sini adalah “kualitas SDM” kita yang sesuai
dengan bidang usaha yang kita geluti. Modal yang
terakhir inilah yang akan menentukan apakah kita akan
menjadi pengusaha sebulan atau seumur hidup.
Memang benar
bahwa yang diinginkan oleh semua orang adalah memiliki
modal tangible yang berlimpah (punya cadangan uang cash berlipat, punya fasilitas kerja yang lengkap, dan punya kantor
yang representatif) dan juga modal intangible yang bagus
(punya kemampuan berbisnis yang handal, punya kemampuan
mengolah produk yang bagus, punya kemampuan memasarkan
produk yang jitu, punya kemampuan membina jaringan yang
kokoh, dan lain-lain).Cuma saja, keadaan ideal itu
sangat jarang terjadi.
Tak hanya itu, memiliki
modal tangible
yang bagus dan memiliki modal intangible
yang bagus pula, biasanya terjadi sebagai akibat dari
sebuah sebab, atau sebagai sebuah hasil dari sebuah
proses. Artinya,
pengusaha yang memiliki keduanya adalah pengusaha yang
sudah berhasil menjalankan usahanya, bukan orang yang
baru memulai berusaha. Untuk orang yang baru memulai
merintis usaha, problem umum yang dihadapi adalah
problem yang muncul sebagai akibat adanya keterbatasan,
antara lain: terbatas modalnya, terbatas SDM-nya,
terbatas, materinya, terbatas fasilitasnya, terbatas
dalam mengantisipasi perubahan, terbatas pelanggannya,
dan lain-lain. Karena itulah, maka modal intangible
jauh lebih perlu didahulukan.
|
|
|
Ada dilema
tersendiri yang harus dihadapi oleh calon pengusaha
pemula. Kalau ia batalkan keinginannya untuk menjadi
pengusaha karena takut resiko, takut pada berbagai
kemungkinan buruk, tentu saja ia tidak akan pernah
menjadi pengusaha atau tidak akan pernah paham seluk
beluk memulai usaha. Tetapi, bila ia terus nekad untuk
menjadi pengusaha dengan modal pas-pasan, tidak berarti
ini akan ada jaminan berhasil. Gagal dalam arti
“tembakan kita meleset” tentu ini biasa dalam usaha.
Tetapi gagal dalam arti kehabisan peluru, kehilangan
sumber penghasilan, menanggung hutang, kehilangan
pekerjaan, tentu ini beda efeknya bagi kita.
Jadi,
bagaimana berkelit dari dilema yang sulit seperti ini?
Kalau dijawab dengan kata-kata, mungkin tidak
akan habis kita menulisnya dengan tinta air laut. Ada
sekian jawaban, ada sekian alternatif, dan ada sekian
opsi. Sebagai tambahan dari jawaban yang sudah kita
miliki, saya ingin mengingatkan satu istilah yang sangat
populer di dunia usaha. Istilah itu adalah street
smart. Menurut pengertian yang lazim dipahami,
street
smart artinya cerdas di lapangan.
Gambaran aplikatifnya mungkin pernah dijelaskan
oleh Pak Bob dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa
tahun lalu (Majalah Manajemen, April 2003):
“Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan.
Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah
lagi. Terhadang lubang saya lompati. Melangkah lagi.
Bertemu api saya mundur. Melangkah lagi. Berjalan terus
dan mengatasi masalah.”
Street smart termasuk
modal intangible
yang luar biasa peranannya. Saya pernah membaca hasil
survei yang menanyakan tentang sejauhmana relevansi
antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan hari
ini (ExecuNet: 2005). Hasilnya tercatat seperti berikut:
-
46 % menjawab relevansi itu sangat dekat.
-
39 % menjawab relevansi itu ada
-
15 % menjawab relevansi itu tidak ada sama sekali
-
84 % menjawab begini: "street smarts" is more
important in business than an advanced degree.
Jadi, yang diperlukan
dari kita adalah kecermatan, keberanian dan kesiapan. Kita perlu cermat agar terhindar dari resiko usaha yang
bernama kegagalan dalam bentuk kehabisan peluru atau
menanggung hutang yang berat untuk kita. Kalau bisa,
maksimalnya resiko itu hanya berupa kegagalan dalam
bentuk meleset sementara atau belum untung banyak. Kita
perlu keberanian melawan ketakutan yang biasanya
membisikkan teror: “bagaimana nanti kalau gagal”,
“jangan-jangan nanti ….”, dan lain-lain.
Selama ketakutan semacam itu belum bisa kita atasi,
sebaiknya kita sembunyikan lebih dulu keinginan kita
menjadi pengusaha.
Kita juga perlu kesiapan mental untuk menumbuhkan
bangkitnya kecerdasan yang bernama street
smart.
|