|
| |
| |
Dilema
Wirausahawan: Beberapa Hambatan Psikologis
|
| |
|
| |
Oleh
Lilly H. Setiono
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
16 Juli 2002
|
| |
Bagi
seorang atau sekelompok wirausahawan, salah satu dilema
yang umum
dihadapi ketika perusahaannya menjadi berkembang adalah
pilihan dalam menentukan gaya bisnis apa yang sebaiknya
diterapkan di dalam manajemennya. Ketika perusahaan
masih berskala kecil, manajemen keluarga masih bisa
digunakan, tetapi semakin lebar perkembangan usaha maka
gaya manajemen pun harus berkembang karena tidak lagi
mampu dikelola oleh anggota keluarga. Banyak
wirausahawan yang memilih untuk tidak mengembangkan
perusahaan karena mereka tidak ingin kehilangan
kemampuan untuk mengendalikan perusahaan yang
dimilikinya. Bagi
sebagian orang mengembangkan usaha lebih lanjut berarti
harus merelakan dirinya untuk berbagi "kuasa"
dan tanggungjawab kepada orang lain yang dianggap
profesional. Disinilah dilema mulai terjadi, karena
disatu sisi si wirausahawan ingin tetap memegang kendali
usaha tetapi di sisi lain dia dihadapkan pada beberapa
keterbatasan yang membuatnya tidak
dapat lagi mengontrol semua hal dalam perusahaannya.
Pertanyaan
yang layak kita ajukan kemudian adalah mengapa para
wirausahawan cenderung menjadi ragu untuk mengubah gaya
manajemen keluarga menjadi manajemen profesional?
Hambatan-hambatan apa yang menjadi penghalang bagi
wirausahawan untuk menyerahkan kendali perusahaan kepada
para profesional yang diperkerjakannya? Artikel ini ditulis
dalam rangka mencoba menjawab hal-hal
tersebut.
|
| |
Manajemen
Keluarga vs Manajemen Profesional
|
| |
Gaya
bisnis dengan manajemen keluarga pada umumnya diterapkan
pada awal berdirinya perusahaan karena memang kebutuhan
akan gaya ini masih terasa sangat kental.
Modal dan kegiatan usaha umumnya masih terbatas
dan masih mampu ditangani oleh pemilik dan keluarganya.
Karyawan yang direkrut dan dipekerjakan masih
berkisar pada mereka yang berfungsi sebagai pembantu
kegiatan operasional rutin dan bukan sebagai
pemecah-masalah (problem solver) atau pembuat keputusan
(decision maker).
Strategi perusahaan tidak rumit, hanya sebatas
bagaimana caranya mempertahankan kelangsungan bisnis dan
tetap menghasilkan keuntungan.
Manajemen hanya merupakan pengelolaan sumberdaya
sederhana, tanpa perlu perhitungan bisnis atau
perencanaan yang rumit.
Selama perusahaan masih menghasilkan keuntungan
yang diharapkan, strategi dan operasi tidak akan berubah
banyak dari waktu ke waktu.
Gaya ini sering dipakai untuk perusahaan skala
menengah dan kecil dan dikenal sebagai “manajemen
warung”
karena industri yang sering menggunakan manajemen
ini adalah industri distribusi dalam skala kecil dan
bukan industri manufaktur, seperti misalnya industri
ritel.
|
| |
Jika
perusahaan memiliki kesempatan untuk berkembang dan
pemilik menghendaki/mampu memodali perkembangan itu,
maka dia akan menambah investasi dan mengembangkannya.
Kebutuhan sumberdaya akan bertambah mengikuti
arah dan tujuan perkembangannya termasuk kebutuhan
sumberdaya manusia untuk mengelola kegiatan operasional
dan manajemen.
Dengan kata lain pada tahapan ini si wirausahawan mulai
memasuki gaya manajemen profesional. Di
sinilah awal dilema seorang wirausahawan.
Di satu sisi, ada keinginan untuk melipat
gandakan keuntungan tetapi di sisi lain ada ketakutan
dan rasa ketidak-pastian karena dengan gaya manajemen
profesional ia harus mulai membagi tanggungjawab dan
fungsi-fungsi lainnya di dalam perusahaan.
Seorang wirausahawan yang memang memiliki
“keberanian” atau “guts” untuk maju akan
menggunakan setiap kesempatan “at all costs”,
artinya dia akan mengejar kesempatan dengan atau tanpa
memperhitungkan risiko-risiko yang ada di hadapannya. (Lihat
Artikel: Risiko yang Dihadapi Wirausahawan)
|
| |
Proses
Adaptasi
|
| |
Sehubungan
dengan perubahan gaya manajemen keluarga ke manajemen
profesional yang diterapkan oleh perusahaan maka secara
otomatis akan terjadi pergeseran kendali dari pemilik
kepada para profesional yang dipekerjakan oleh si
pemilik. Dalam kenyataan seringkali dijumpai bahwa
antara pemilik dan para profesional tidak memiliki
kesamaan visi dan titik temu dalam memajukan perusahaan.
Para pemilik yang seringkali terlalu bernafsu untuk
mengembangkan perusahaannya seringkali merasa kecewa
karena meskipun telah mempekerjakan para profesional
yang terbaik dan sudah terkenal ternyata tidak banyak
membawa angin perubahan yang mengarah pada kemajuan
perusahaan. Sebaliknya para profesional yang merasa
dirinya sangat kompeten seringkali menjadi bingung dan
tidak bisa berbuat apa-apa karena kurangnya pemahaman
terhadap kebutuhan atau pun visi dari si pemilik.
Akhirnya tidak jarang hubungan kerja semacam ini justru
berakhir dengan kekecewaan di kedua belah pihak.
Tak
dapat dipungkiri, para wirausahawan dan
profesional memerlukan waktu yang cukup banyak untuk
berinteraksi, sehingga di antara mereka ada ikatan
kesamaan dalam bekerja. Waktu interaksi ini tidak cukup didapatkan dari proses
interview ketika akan masuk kerja tetapi justru
banyak diperoleh dari komunikasi informal.
Salah satu kesalahan para wirausahawan
adalah melalaikan proses ini dan menganggap bahwa para
profesional terbaik yang diperkerjakannya sudah akan otomatis
mengerti akan keinginan, kebiasaan, dan pola pikir
mereka.
Sebenarnya
ada
banyak cara bagi wirausahawan dan profesional untuk saling mengenal sebelum proses
hiring
difinalkan. Proses alami, tentu saja melalui pertemuan
informal seperti makan siang atau hanya sekedar
mengobrol biasa.
Cara lain yang lebih cepat adalah dengan
menggunakan jasa konsultan/ psikolog industri &
organisasi yang bisa secara obyektif berfungsi sebagai mediator
bagi percepatan ikatan ini.
Para konsultan tersebut akan dapat membantu mencari titik temu antara kedua
individu tersebut sehingga bisa mempercepat dan memperdalam proses
interaksi supaya para profesional tidak terlalu banyak
menghabiskan waktu untuk mengenal perusahaan dan para
wirausahawan tidak salah memilih profesional yang tepat
baginya. Keberadaan
konsultan ini akan sangat bermanfaat terutama jika HRD
internal perusahaan tidak terlalu kuat.
Selain obyektif, seorang konsultan yang memahami
masalah-masalah psikologis individu akan mampu
menjembatani banyaknya rintangan (terutama menyangkut psychological
barriers) yang ada di dalam diri para wirausahawan atau
para profesional.
|
| |
Hambatan
Psikologis
|
| |
Ketidak-mampuan
seorang wirausahawan mempekerjakan profesional secara
efektif seringkali disebabkan oleh faktor psikologis
yang ada dalam diri sang wirausahawan sendiri. Ada
banyak masalah psikologis yang menyebabkan seorang
wirausahawan tidak mampu mempekerjakan atau bekerja sama
dengan profesional. Beberapa di antaranya adalah:
|
|
|
-
Wirausahawan
merasa tidak secure dengan dirinya sendiri
sehingga ia takut mempekerjakan profesional yang
lebih baik atau lebih pintar dari dirinya.
Ketakutan itu umumnya berasal dari ketakutan
akan kehilangan kekuasaan.
Wirausahawan jenis ini memiliki tendensi
untuk mempekerjakan profesional lebih berdasarkan
loyalitas dan bukan kompetensi.
Gaya kepemimpinan yang digunakan juga sangat
otoriter untuk melindungi kerentanan dirinya.
Dia tidak akan membiarkan para profesional
yang dipekerjakan itu nampak lebih pintar atau lebih benar
dari dirinya, bahkan sebisa mungkin dia akan sering
membuat mereka “mati-kutu” dengan
perdebatan-perdebatannya yang kadang-kadang tidak relevan atau
”terkesan mau menang sendiri”.
Dalam kondisi demikian, para profesional seakan kehilangan
kemampuan untuk menjadi dirinya sendiri dan memilih
untuk tidak mem-provokasi si wirausahawan.
Keputusan yang semestinya mampu dibuat oleh
para profesional ternyata tetap dipegang oleh si
wirausahawan bahkan
untuk hal-hal yang terkecil.
Laporan
diminta bukan untuk dipelajari tetapi untuk
memberikan kesan bahwa yang memegang kekuasaan
adalah si wirausahawan.
Profesional pun menjadi kecil hati dan
seringkali kehilangan rasa percaya diri.
-
Masalah
lainnya adalah ketakutan dibohongi atau dikhianati
oleh profesional sehingga
mengakibatkan rendahnya rasa saling percaya antara
wirausahawan dengan profesionalnya.
Wirausahawan curiga dan para profesional
takut dicurigai.
Akibatnya, interaksi antara wirausahawan
dengan profesional menjadi sangat tidak sehat.
Kesalahan demi kesalahan dijadikan
“justification” bagi wirausahawan untuk membenarkan
kecurigaannya. Di lain pihak, jika seandainya si
wirausahawan memutuskan untuk mempercayai
seseorang, maka dia akan menjadi sangat percaya pada
orang tersebut apalagi jika profesional/manager yang
dipekerjakannya menunjukkan “perceived loyalty”.
Dalam hal ini
kompetensi menjadi elemen nomor ke sekian.
-
Wirausahawan
seringkali salah dalam menilai para profesional (false intuition)
.
Penilaian seorang wirausahawan terhadap orang lain
sangat dipengaruhi oleh beberapa keadaan: kemampuan
wirausahawan untuk mengobservasi dan menilai
secara obyektif, kemampuan memperhitungkan keadaan
lingkungan (situational context) yang mempengaruhi
tindakan orang lain dan kemampuan menganalisa dan
memprediksikan keadaan bisnis di masa datang yang
juga turut mempengaruhi perilaku atau pola pikir
profesional.
Kesalahan wirausahawan, terutama yang belum
berpengalaman, adalah menilai dari sudut pandangnya
sendiri tanpa menimbang sudut pandang orang lain,
sehingga penilaian hanya terjadi sepihak dan
subyektif.
Jika hal ini didampingi oleh kerendahan hati
si wirausahawan, maka profesional akan berani
mengemukakan pandangannya. Dan dialog terbuka akan
membawa pada keputusan yang lebih efektif. Celakanya,
banyak wirausahawan yang merasa pandangannya lah yang paling
benar, arogan dan tidak mau menerima pandangan
profesional yang dipekerjakannya.
Juga tidak mau/mampu menjelaskan alasan
mengapa ia memiliki pandangan tersebut. Seringkali
kata kunci adalah: "Pokoknya........"
Dengan kondisi demikian, lama-kelamaan, para profesional akan menekan
keahlian yang dimilikinya dan cenderung hanya menuruti asumsi si
wirausahawan.
-
Wirausahawan
tidak bisa menghargai para profesional dan
menganggap profesional hanyalah salah satu komoditas
yang bisa dijual-belikan.
Dia bersikap sebagai pembeli dan si
profesional tidak lebih dari penjual keahlian.
Profesional tidak lagi diterima sebagai
manusia dengan derajat yang sama, melainkan mesin
yang bisa diperah karena sudah dibeli dan dibayar
mahal.
Si wirausahawan merasa bahwa profesional yang
“dibeli dan dibayar” tidak boleh membantah dan
hanya perlu menurut saja.
|
| |
Wirausahawan dengan
masalah-masalah di atas membawa dampak buruk pada
perusahaan, di antaranya:
|
| |
-
Tendensi
untuk mem-falsifikasi data.
Para profesional di beri peluang hanya untuk memberi data yang membuat hati si
usahawan ini senang, terutama yang berhubungan
dengan illusion of success.
-
Profesional
tidak menjadi dirinya sendiri tapi menjadi
kepanjangan tangan pemilik. Potensi kepintaran,
keahlian dan identitas profesional yang ada menjadi
redup di dalam perusahaan tersebut.
Kreativitas mandek dan perasaan tidak berguna
mulai tertanam sedikit-demi sedikit.
Produktivitas menurun dan timbul rasa tidak
percaya diri.
-
Profesional
menjadi “bonsai-bonsai”
yang tidak bisa tumbuh secara alami
karena setiap ide atau solusi yang dimilikinya tidak
terpakai, padahal kesalahan tidak ada padanya.
-
Profesional
merasa dimanipulasi oleh majikannya dan perasaan ini
mendorong/memotivasi profesional untuk membalas
dengan melakukan tindakan destruktif yang merugikan
perusahaan, misalnya penyalahgunaan wewenang,
korupsi atau pencurian.
|
| |
Di
sisi lain, besar kemungkinan bahwa seorang profesional
juga memiliki masalah psikologis yang mampu secara
langsung atau tidak langsung mencelakakan perusahaan, si
wirausahawan atau diri si profesional itu sendiri.
Ada dua kemungkinan di mana keadaan psikologis si
profesional dapat membahayakan perusahaan:
|
| |
-
Pada
saat para profesional merasa keahlian mereka pasti benar dan mutlak. Akibatnya mereka menjadi
tinggi-hati dan tidak mengerti akan ketakutan atau
keraguan si wirausahawan, sehingga mengambil
risiko-risiko bisnis tanpa mempertimbangkan apa yang
pernah dialami oleh wirausahawan di masa lalu atau
keadaan psikologis mereka saat itu.
Sikap ini bisa merupakan arogansi keahlian,
terutama jika wirausahawan memiliki wawasan atau
pendidikan yang lebih rendah, atau merupakan
mekanisme pertahanan diri karena profesional
tersebut merasa tertekan di dalam pekerjaan mereka.
(Baca juga artikel: Mengenal
Mekanisme Pertahanan Diri)
-
Pada
saat para profesional merasa takut untuk membuat
keputusan karena tidak mampu menghadapi risiko kehilangan atau kesalahan.
Rasa tanggung jawab yang begitu besar bisa
membuat seorang profesional merasa kecil atau
kehilangan rasa percaya diri. Ia juga merasa bahwa
kegagalan perusahaan adalah kegagalan pribadinya
sendiri. Jika keahliannya tidak melebihi kemampuan
untuk mengendalikan risiko-risiko ini, maka dia
cenderung untuk tetap bergantung pada keputusan si
wirausahawan.
Salah satu solusinya adalah meningkatkan
kompetensi yang dimilikinya atau menyelesaikan
masalah psikologis yang dimilikinya sehingga tidak
lagi mempengaruhi kemampuannya berkarya.
|
| |
Beberapa
Saran
|
| |
Sebagai wirausahawan,
beberapa kiat berikut ini mungkin layak Anda
pertimbangkan dalam memilih para profesional yang tepat
untuk membantu anda mengelola bisnis anda.
|
| |
-
Sadarilah
keadaan psikologis diri sendiri karena itu yang
menjadi titik terlemah dalam memilih alternatif
solusi dan pembuatan keputusan. Self-awareness akan membuat wirausahawan mampu keluar dari
ketakutan-ketakutannya.
Konsultasi psikologis bisa dilakukan sebagai
dasar atau awal pengenalan diri guna memahami
faktor-faktor yang merupakan kelebihan atau pun
kekurangan yang dimiliki. (Baca juga artikel: EQ
dalam Kepemimpinan
&
Tanda-tanda
Kedewasaan Seorang Pemimpin)
-
Untuk
posisi eksekutif puncak yang bergerak di strategic
level, carilah mereka yang memiliki visi yang sama,
stamina yang prima dan kemampuan analisis yang baik.
Jangan kita memilih hanya karena dia punya reputasi
yang baik saja, tetapi lebih karena dia memiliki potensi
untuk menjadi baik di masa yang akan datang.
-
Untuk
posisi profesional di level operasional, sebaiknya di
pilih profesional yang keahliannya jauh lebih baik
dari pemilik, tapi di samping itu dia juga memiliki kemampuan untuk
menyelaraskan keahlian ini dengan visi dan tujuan
perusahaan. Salah satu kesalahan wirausahawan adalah
membajak profesional yang memiliki track record
of success di perusahaan lain tetapi lupa
mempertimbangkan bahwa kesuksesan mereka di
perusahaan lain sangat tergantung pada kondisi
perusahaan itu sehingga ketika dia mesti berkiprah
di perusahaan baru dengan kondisi yang lain, itu
malah menjadi awal dari kehancuran karir profesional
tersebut. Richard Ritti & Ray Funkhouser (1987)
dalam buku "The Ropes to Skip & The
Ropes to Know" menyebutnya sebagai "The
Peter Principle” – mengacu pada karakter
kartun Peter Pan yang suka mengejar bayang-bayangnya
sendiri dan hanya bermain di dunia fantasy.
Julukan ini diberikan pada para profesional
yang dipromosikan pada ke sebuah level di mana dia
tidak mampu lagi menjadi produktif tetapi malah
menjadikan perusahaan play-land di mana dia mengejar
bayang-bayangnya (citra, kesuksesan masa lalu,
cita-cita).
-
Belajar
untuk menghargai profesional sebagai seorang
individu yang memiliki kepribadian sendiri disamping
keahliannya. Membiarkan
profesional yang dipekerjakan menjadi dirinya
sendiri berarti membuat potensi dan keahliannya
berkembang sehinggga bisa menjadi lebih kreatif dan
produktif. Kontrol
dan rasa curiga yang berlebihan malah akan
mencelakakan kedua-belah pihak.
-
Sehebat
atau sepintar apapun seorang profesional, ia tetap
akan memerlukan visi atau arah perjalanan perusahaan.
Ia juga perlu kejelasan akan batasan
kewenangan dan tanggung jawab sehingga ia berani
membuat keputusan dan mencari solusi yang tepat.
Selain itu, berikan kesempatan untuk mandiri.
Seorang profesional sejati tidak akan pernah
mampu bekerja jika ia terus didikte, dikontrol atau
dicurigai.
|
| |
Sementara bagi para
profesional, dibutuhkan sejumlah karakter agar dapat
menjalankan fungsinya secara efektif. Beberapa karakter
yang harus dimiliki tersebut antara lain:
|
| |
-
Kesadaran
bahwa ia tetap profesional dan bukan pemilik.
Ia harus mampu mengerti tentang pandangan
para pemilik/wirausahawan. Para
profesional juga harus bisa mengerti bahwa pemilik
memiliki pengalaman, keinginan, cita-cita, dan cara pandang
tertentu yang mungkin tidak dimilikinya.
Galilah hal-hal ini pada proses adaptasi.
-
Kemampuan
untuk menterjemahkan keinginan pemilik, menggunakan
keahliannya untuk menyelaraskan dengan keadaan
operasional dan membuat keinginan itu terlaksana
secara nyata.
Hal ini tidak
bisa diberikan dengan membuat laporan yang sarat dengan ilusi
sukses untuk kepentingan diri sendiri, sebab suatu
saat ilusi itu akan terungkap juga.
Kasus Enron, Worldcom and Xerox yang akhir-akhir
ini marak menghiasi media bisnis
terjadi karena mekanisme ini.
Dalam
kasus-kasus tersebut, profesional hanya
peduli pada keinginannya
sendiri (mendapat uang sebanyak mungkin) dengan mendongkrak nilai saham dengan manuver akunting yang
jelas-jelas menyalah gunakan kepercayaan si pemilik
(publik)
-
Mampu
menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemilik dan
bawahan.
Para pemilik biasanya melihat bisnis dan
perusahaannya dari sisi makro, sedangkan pekerja
melihat dari sisi mikro (sebatas pekerjaan dalam
departemen atau divisinya sendiri). Eksekutif
profesional harus mampu membedakan kedua sisi ini
dan mengkomunikasikan sebagian sisi makro pemilik
untuk pekerja
dan sebagian sisi mikro pekerja pada pemilik
sehingga ada saling pengertian di antara kedua sisi
ini yang akan termanifestasikan ke dalam
kebijaksanaan perusahaan yang memang betul-betul bijak.
Dengan demikian, tidak ada lagi persepsi
bahwa perusahaan hanya bisa memeras pekerja atau
pekerja yang hanya menumpang hidup pada perusahaan.
-
Mampu
memberikan alternatif solusi yang tidak dilihat
oleh para pemilik.
Kelebihan profesional yang diinginkan oleh
para pemilik adalah kemampuannya memecahkan masalah
dan memberikan solusi. Seringkali, karena beberapa
hal para profesional datang kepada pemilik dan memberikan
masalah yang dihadapinya tanpa disertai solusi.
Fungsi profesional seperti ini hanya
merupakan “messenger” saja dan tidak
mencerminkan profesionalisme mereka.
Pemilik merasa terkecoh, sebab keinginannya
dengan mempekerjakan profesional tidak terpenuhi.
Dia malah lebih bingung dalam menilai karena
mungkin saja pendapat profesional itu tidak sama
dengan pendapatnya sendiri. (jp)
|
|
_____________________________
|
| |
|
|