|
 |
The
Map Is Not The Territory
|
| |
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
| |
Jakarta,
7 Februari 2003
|
| |
Wanita
muda itu hampir
memutuskan
untuk kembali
ke perusahaan tempat ia bekerja dulu.
Bagaimana tidak, dengan jabatan
terakhirnya
sebagai
seorang
Manager
di sebuah hotel bintang empat, jalur ke arah
pengembangan karir masih
sangat terbentang luas dan jelas.
Sementara keputusannya untuk menjalankan
bisnis di
bidang jasa Catering yang
ditekuninya saat ini masih
berupa tanda tanya
besar. Bayangannya tentang dunia wirausaha
ketika ia masih bekerja di hotel dulu
tiba-tiba terasa sangat
jauh dengan apa yang terjadi di lapangan
dan dirasakannya saat ini. Semula "map"
(peta) yang dipegang menjelaskan bahwa suatu
bisnis
adalah anda menciptakan produk kemudian pelanggan atau
pembeli menukarnya dengan uang lalu dari hasil penukaran
tersebut keuntungan diciptakan. Dari akumulasi
keuntungan itulah kemudian
asset perusahaan ditingkatkan.
Tetapi "territory" (kenyataan)
atau fakta berbicara lain. Sudah berbulan-bulan bahkan
nyaris satu tahun, usahanya belum menghasilkan transaksi
yang melegakan. Bahkan keuntungan transaksi yang sedikit
dan masih jarang itu habis untuk menutup biaya tak
terduga akibat hambatan-hamabatan teknis seperti:
handling complain pelanggan yang kurang
efektif, biaya marketing yang kurang
terkontrol, produk yang kurang memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan, dsb.
Sudah begitu, terkadang ia terpaksa "nombok"
ketika tanggal gajian tiba. Pendek kata, ia dihadapkan
pada situasi yang serba salah.
Saat ia lupa dengan cita-cita menjadi seorang
wirausawan dan pemilik suatu bisnis, terkadang muncul
keinginan untuk menghentikan dengan paksa usahanya.
Tetapi tiba-tiba ia ingat bahwa cita-citanya untuk
menjadi wirausahawan adalah sesuatu yang sudah final;
tidak bisa ditawar. Dengan melintasi siklus antara lupa
dan ingat dengan cita-citanya, wanita lajang itu terus
melakukan sesuatu antara creating customer dan handling
jobs serta terkadang meng-istirahatkan diri. Seed
of action tetap ia taburkan meskipun tidak
membuahkan hasil yang diharapkan pada detik-detik ia
membutuhkannya. Hingga suatu saat yang ia lupa
tanggalnya, telephone berdering dari seseorang yang
ingin mengadakan acara pernikahan sederhana. Ternyata
penelpon itu adalah orang yang membaca surat penawaran
via facsimile kantor yang dikirim sekian bulan
yang lalu. Dari hasil pembicaraan disepakati bahwa
seluruh menu yang dipesan tergolong mudah dilayani.
Walhasil kepuasan bisa dicapai baik oleh penyedia dan
pengguna jasa. Inilah yang disebut “The window of
opportunity”.
Dari pengalaman inilah ia memahami “Ilmu
pengetahuan khusus” untuk menjalankan bisnis dengan
pendekatan improvisasi setapak demi setapak. Memahami
bahwa seed of action itu tidak pernah bermakna
sia-sia dalam arti yang kasat mata. Memahami bahwa
peluang itu datangnya sangat tersembunyi setelah
diciptakan persiapan internal yang matang. Memahami
bahwa anak tangga yang dipasang oleh Hukum Alam tentang entrepreneurship
tidak bisa dilewati melainkan butuh bimbingan untuk
mempercepat langkah. Memahami bahwa saat-saat yang masih
diliputi kegagalan demi kegagalan dalam menciptakan
transaksi yang profitable punya makna sebagai
referensi dan memperkokoh postur diri.
|
| |
Sistem
|
| |
Cerita wanita muda di atas mewakili sekian banyak
umat manusia yang mengawali hidupnya sebagai pejuang
gagasan di bidang apapun. Tetapi memang seperti yang
dikatakan Alford Korzybski bahwa “ The map is not
the territory”. Artinya persepsi anda tentang
suatu realitas bukanlah realitas melainkan persepsi itu
sendiri. Selamanya pemahaman konseptual tidak pernah
tepat seratus persen dengan realitas dunia oleh karena
itu gap selalu ada dan gap itulah yang harus anda
letakkan ke dalam perspektif tantangan untuk diubah.
Tidak salah jika membangun bisnis diawali dengan
persepsi menciptakan
produk, menemukan pelanggan atau pembeli, dan menikmati
keuntungan. Tetapi di sisi lain begitu mudahnya persepsi itu kabur
sehingga tidak segagah seperti pada saat anda
merumuskannya di atas kepala, menjadi sekedar human-talk,
menjadi harapan yang jauh dari fakta atau dokumen
sia-sia. Apa masalahnya?
Kalau merujuk pada cerita wanita muda di atas,
maka jelas yang ia butuhkan sebenarnya adalah THE
EFFORTS OF FINDING OUT THE SYSTEM THAT WORKS –
menemukan suatu sistem yang tepat. Sebagai business
owner maka yang
dibutuhkan oleh
si wanita adalah tindakan bagaimana ia menemukan
celah di mana produk makanannya dalam kondisi siap untuk
menciptakan benefit bagi pembeli pada saat yang tepat
dengan nilai transaksi yang mendatangkan keuntungan dan
terjadi secara rutin, predictable atau identified.
Inilah yang disebut
Sistem.
Jika muncul pertanyaan, mengapa tidak semua
pebisnis meraih keuntungan meskipun diperkuat dengan
modal besar; mengapa tidak semua kaum professional
mandiri dengan professionalitasnya; dan mengapa
terkadang masih
bisa ditemukan seorang penjual air mineral di sebuah
pangkalan Angkutan Kota yang bisa mandiri dengan keadaan
hidupnya. Jawabannya tentu saja bukan persoalan kasta
intelektual atau akademik, modal, atau lokasi
strategis melainkan upaya menabur seed of action
yang telah menemukan sistem untuk berbuah dalam bentuk
prestasi dan kemandirian.
Penjual air mineral yang telah memiliki sistem
memahami dengan pasti siapa pelanggannya hari itu, air
mineral merek apa yang disukai, dan kapan membeli. Jika
ada calon pelanggan baru, ia sudah tahu bagaimana cara
menggiringnya supaya membeli produk dagangannya.
|
| |
Menemukan
Sistem
|
| |
Dalam artikelnya berjudul “The Slight Edge
Philosophy”,
seperti yang ditayangkan oleh Top Achievement
(1998,
Gene Donohue, Marlborough NH),
Jeff Olson menyebut
sistem itu dengan nama “The Slight Edge”,
yaitu sebuah sistem tentang kesuksesan yang didasarkan
pada akumulasi perbaikan-perbaikan kecil. " It
is based on doing things that are easy-little
disciplines which done consistently over time, add up to
the biggest accomplishments”. Cuma masalahnya,
karena sifatnya yang kecil dan gampang dilakukan, maka
anda pun puya pilihan yang gampang untuk tidak
melakukannya. Apalagi resikonya tidak membahayakan sama
sekali. Artinya jika anda memilih tidak melakukan, anda
tidak bakal mati atau terganggu hidup anda seketika.
Katakanlah, andaikan wanita muda di atas tidak
pernah mengirim facsimile ke kantor orang yang
sekarang ini menjadi pelanggannya, tentu saja ia tidak
merasakan apapun dari resiko itu.
Toh mengirim facsimile atau tidak mengirim
hanya dibedakan oleh waktu yang bisa dihitung dengan
jumlah menit. Tetapi waktu yang hanya berukuran menit
itulah yang sebenarnya menjadi “The Slight Edge”
– untuk memulai kesuksesan.
Dengan istilah yang berbeda tetapi esensinya
sama, Aristotle menyebutnya dengan Kebiasaan (The habit). “We are
what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act,
but a habit."
Anda menjadi
sosok yang dihasilkan dari apa yang berulang-ulang anda
kerjakan. Kesuksesan di bidang apapun tidak pernah
dibangun dari tindakan sekali jadi melainkan kebiasaan. Excellency
lahir dari kebiasaan yang excellent.
Menurut Jeff Olson, Excellency atau Quality of
life, atau
apapun bentuknya adalah
side effect dari pembenahan kecil dan
terus-menerus terhadap
empat wilayah berikut:
|
| |
-
Philosophy
-
Attitude
-
Action
-
Result
|
| |
Philosophy adalah paradigma, pedoman, Ilmu
Pengetahuan Khusus yang anda gunakan sebagai jurus untuk
bermain di dalam kehidupan ini guna mendapatkan apa yang
benar-benar anda inginkan. Dalam urutannya, paradigma
merupakan muatan
software internal anda yang menjadi sumber utama
sebuah sikap dan tindakan. Untuk mencapai Excellent
quality of life, maka anda harus menjadikan “The
Slight Edge System” sebagai pedoman hidup. Paradigma yang tepat
akan membentuk pola sikap yang tepat pula
terhadap diri anda, orang lain, dan keadaan dunia
pada umumnya dalam kaitan dengan upaya menjadi pejuang
gagasan. Sikap
yang tidak tepat akan mempercepat keinginan untuk
‘lupa’ dengan gagasan awal anda, mudah putus asa,
dan patah. Ketika anda lupa, maka action anda
berhenti atau berpindah ke tempat lain. Dengan
sendirinya struktur dari kebiasaan anda pudar. Dan pada
saat sudah terjadi demikian, anda bisa menjawab sendiri
bagaimana result yang dihasilkan.
Pertanyaannya kemudian, apa yang anda butuhkan
agar pembenahan yang anda lakukan di empat wilayah di
atas terjaga sinergisitasnya dengan keadaan anda dan
keadaan dunia. Tak
lain adalah knowledge yang menurut Jeff Olson
ditemukan sumbernya dari tiga hal:
|
|
|
1.
|
Studied Knowledge
|
| |
|
Bacalah materi pengembangan yang sudah ditulis
oleh para ahli sesuai kebutuhan anda.
Membaca adalah escalator yang memungkinkan
untuk mempercepat pemahaman anda tentang manusia dan
dunia . Begitu pemahaman sudah anda peroleh lebih dulu
ketimbang orang lain, maka pemahaman itu bisa
menjadi competitive advantage bagi anda.
|
|
|
2.
|
Activity Knowledge
|
| |
|
Sudah jelas bahwa hidup ini merupakan proses oleh
karena itu jalan menuju kesuksesan selalu dalam posisi
sedang diperbaiki. Kuncinya adalah anda harus melakukan
sesuatu yang anda butuhkan. Jangan menunggu sesuatu yang
anda butuhkan lalu baru melakukan. Melakukan berarti
menyelami territory ke tingkat yang lebih dalam
untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam. Knowledge
oleh sebab itu, is power.
|
|
|
3.
|
Modeled Knowledge
|
| |
|
Selain materi yang sudah ditulis oleh para pakar
di bidangnya, kehidupan ini masih menyisakan tanda tanya
yang tidak tertulis tetapi mempunyai pengaruh konkrit
dalam hidup anda. Contoh saja "The Law of
Association". Menurut Hukum ini, anda
mendapatkan apa yang benar-benar anda inginkan sebanding
kurang lebihnya dengan apa yang didapatkan oleh sepuluh
orang pertama yang dekat dengan anda. Pepatah lama
mengatakan, Jika anda ingin mengetahui seseorang, cukup
anda mengetahui dengan siapa ia berteman dan berasosiasi.
|
|
|
Energi
|
| |
Di luar bagan yang telah dirumuskan oleh Jeff
Olson di atas, tidak bisa dipungkiri bahwa anda
membutuhkan energi atau "mental fuel"
yang berfungsi sebagai mobilisator. Energi itulah yang
akan menggerakkan anda ke arah kiblat tertentu yang anda
tuju. Energi tersebut meliputi:
|
|
|
1.
|
Konsentrasi
|
| |
|
Awalnya semua orang punya bakat alamiah untuk
merealisasi apa yang benar-benar diinginkan dari
kehidupan ini. Jika kemudian terjadi kenyataan yang
sebaliknya, tentu saja sebabnya yang paling utama adalah
pilihan konsentrasi. Satu sisi anda punya keinginan
untuk maju dengan cita-cita dan gagasan anda tetapi pada
sisi lain muncullah keinginan untuk tidak mau melawan
virus yang mengajak anda mundur. Keinginan meraih
sesuatu versus keinginan menghindar dari sesuatu;
keinginan mengingat versus keinginan melupakan.
Semua bentuk konflik keinginan di atas terjadi di
dalam diri anda, dan oleh sebab itu konsentrasi anda
butuhkan dalam kaitan dengan bagaimana keberadaan anda
setiap saat selalu barada di atas garis menuju realisasi
gagasan (staying on track). Jika anda
tiba-tiba lupa dengan cita-cita anda, cepatlah menarik
diri untuk ingat. Gunakan konsentrasi untuk
memperpanjang durasi ingatan, maju, dan meraih sesuatu.
Buatlah kavling atau pembatas yang jelas agar pikiran
bisa bekerja melawan semua distraksi yang akan
menjauhkan anda dari keinginan meraih sesuatu. Dalam hal
ini memang dibutuhkan pengorbanan untuk melupakan
sesutau yang tidak penting yang terkadang setelah anda
sadari tidak ada kaitan apapun dengan misi, visi, dan
tujuan anda.
|
|
|
2.
|
Komitmen
|
| |
|
Komitmen adalah bentuk tanggung jawab anda
terhadap cita-cita dan gagasan anda. Berbeda dengan human
talk atau keinginan umum yang tidak dipertanggung
jawabkan. Sekedar bicara gagasan dan cita-cita, semua
orang pasti menyimpan gagasan di kepalanya tentang hal
yang enak-enak. Tetapi kenyataannya memperjuangkan
gagasan tidak selamanya berhubungan dengan hal yang enak
atau tidak enak melainkan mau tidak mau berupa responsible
action.
Komitmen terjadi di dalam proses merealisasikan
apa yang anda inginkan sementara hal yang
enak-enak itu merupakan efek sampingan saja. Di bidang
bisnis misalnya, uang adalah efek samping dari benefit
yang anda berikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan.
Kesuksesan adalah daya tarik yang anda ciptakan di dalam
diri anda. Tanpa komitmen terhadap The Slight Edge
System, sangat mudah bagi anda untuk segera
terperangkap dalam pengembaraan asumsi yang terkadang
sia-sia di mana anda
menghabiskan waktu untuk mencari dan menghindar dari
orang lain. Padahal mestinya anda mengeluarkan sesuatu
dari dalam diri anda untuk menciptakan benefit bagi
orang lain lalu terjadi feedback setimpal bahkan
terkadang lebih besar.
|
|
|
3.
|
Integritas
|
| |
|
Dalam hubungannya dengan memperjuangkan gagasan,
integritas lebih gampang diartikan dengan ukuran cinta
dan rasa sayang anda terhadap cita-cita, gagasan, dan
keinginan. Dengan kata lain seberapa hebat anda mampu “living
with them”. Keluarga Jackson berlatih musik yang
dibimbing oleh orang tuanya selama dua puluh enam jam
dalam satu hari. Bayangkan, sementara semua manusia
hanya memiliki waktu dua puluh empat jam. Memang,
awalnya anda harus lebih dulu membangkitkan energi yang
membuat anda memiliki integritas terhadap cita-cita dan
gagasan anda. Begitu integritas sudah tercipta, andalah
yang dibangkitkan.
Inilah rahasia mengapa Edison atau Abraham
Lincoln tidak pernah kapok dengan sekian kegagalannya
padahal kalau diukur dengan kualitas manusia umum mereka
sudah memiliki alasan yang sangat cukup kuat untuk
menghentikan eksperimennya. Bukan Edison, Abraham, atau
Soekarno yang menyuruhnya untuk maju tetapi mereka telah
digerakkan oleh energi intergritas yang tidak mampu
dibendung meskipun oleh dirinya sendiri.
|
|
|
Kembali
ke perihal “The map is not the territory”,
maka jadikan peta itu sebagai guideline. Biarkan
ia sebagai bintang yang bersinar. Jangan disobek atau
dibuang di tong sampah ketika anda menemukan gap antara the
map dan the territory. Karena yang
benar-benar anda perlukan adalah menyempurnakannya
seiring dengan kemajuan penyelaman terhadap
kawasan teritorial. Jagalah agar peta anda tetap akurat
sehingga tidak menyesatkan anda ketika hendak dijadikan
referensi hidup berikutnya. Semoga berguna. (jp)
|
|
_____________________________
|
|