 |
Mentalitas
Wirausahawan
|
| |
Oleh
Lilly H. Setiono
|
| |
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
1 Agustus 2002
|
| |
Selama
tahun
2002 ini, kondisi negara kita di berbagai bidang tidak
menunjukkan perubahan berarti. Kebijakan
pemerintah masih simpang siur, hukum semakin tidak jelas,
dan kondisi sosial kian tidak menentu. Di bidang
ekonomi, tidak ada perubahan kearah yang lebih baik. PHK
tetap berlangsung karena banyak wirausahawan tidak lagi
berminat memulai atau mengembangkan usahanya dan para
investor asing sudah banyak yang memutuskan untuk
memindahkan usahanya ke negara lain yang lebih
menjanjikan.
Di
sisi lain, jumlah populasi dengan usia produktif tidak
bisa begitu saja menganggur. Hidup tetap harus berjalan
dan penghasilan tetap mesti dicari untuk menutupi biaya
hidup yang kian mahal.
Berbagai ide bisnis bermunculan dan di diskusikan
dalam berbagai pertemuan baik formal maupun
informal. Sebagian ide tersebut memang hanya
merupakan “mimpi yang indah” tetapi sebagian lagi
ditanggapi dengan antusiasme yang tinggi. Dari hal ini
terlihat bahwa masyarakat kita justru merasa terpacu
ketika dihadapkan pada suatu krisis yang berkepanjangan.
Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan Ralph
Stacey (1997) dalam tulisannya berjudul
"Excitement and Tension at the Edge of
Chaos" yang mengatakan bahwa
kreativitas cenderung meningkat pada saat situasi
semakin parah, atau sering disebut dengan istilah
populernya "kreatif karena kepepet". Jika
asumsi Stacey ini benar, sangat mungkin “mimpi-mimpi
indah” itu sudah ada di benak banyak sekali penduduk
Indonesia yang secara kreatif dan positif menginginkan
perubahan.
Masalahnya
sekarang, bagaimanakah mewujudkan jutaan mimpi indah itu
menjadi kenyataan?
Apa saja faktor-faktor psikologis yang harus dimiliki
sang wirausaha sehingga dapat mewujudkan mimpi indahnya
tersebut? Artikel ini ditulis dengan harapan
dapat inspirasi bagi para pemilik mimpi indah
supaya mereka bisa mempersiapkan diri dalam usaha mereka
membuat mimpi itu menjadi kenyataan.
|
| |
Beberapa
Alternatif
|
| |
Bagi
orang-orang yang memiliki "mimpi-mimpi indah",
ada beberapa alternatif yang dapat dipilih untuk
mewujudkan mimpi tersebut. Beberapa alternatif tersebut
diantaranya:
|
| |
1.
|
Menjadi
wirausahawan mandiri
|
| |
|
Untuk
menjadi seorang wirausahawan mandiri, berbagai jenis
modal mesti dimiliki.
Ada 3 jenis modal utama yang menjadi syarat: (1)
sumber daya internal yang merupakan bagian dari pribadi
calon wirausahawan misalnya kepintaran, ketrampilan,
kemampuan menganalisa dan menghitung risiko, keberanian
atau visi jauh ke depan.
(2) sumber daya eksternal, misalnya uang yang
cukup untuk membiayai modal usaha dan modal kerja,
social network dan jalur demand/supply, dan lain
sebagainya.
(3) faktor X, misalnya kesempatan dan
keberuntungan. Seorang calon usahawan harus menghitung
dengan seksama apakah ke-3 sumber daya ini ia miliki
sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka
ia akan merasa optimis dan keputusan untuk membuat mimpi
itu menjadi tunas-tunas kenyataan sebagai wirausahawan
mandiri boleh mulai dipertimbangkan.
|
| |
2.
|
Mencari
mitra dengan “mimpi” serupa.
|
| |
|
Jika
1 atau 2 jenis sumber daya tidak dimiliki, seorang calon
wirausahawan bisa mencari partner/rekanan untuk membuat
mimpi-mimpi itu jadi kenyataan.
Rekanan yang ideal adalah rekanan yang memiliki
sumber daya yang tidak dimilikinya sendiri sehingga ada
keseimbangan “modal/sumber daya” di antara mereka.
Umumnya kerabat dan teman dekatlah yang dijadikan prospective
partner yang utama sebelum mempertimbangkan pihak
lainnya, seperti beberapa jenis institusi finansial
diantaranya bank.
Pilihan
jenis mitra memiliki resiko tersendiri. Resiko
terbesar yang harus dihadapi ketika berpartner dengan
teman dekat adalah dipertaruhkannya persahabatan demi
bisnis. Tidak sedikit keputusan bisnis mesti dibuat
dengan profesionalisme tinggi dan menyebabkan
persahabatan menjadi retak atau bahkan rusak. Jenis
mitra bisnis lainnya adalah anggota keluarga; risiko yang
dihadapi tidak banyak berbeda dengan teman dekat.
Namun, bukan berarti bermitra dengan mereka tidak
dapat dilakukan. Satu hal yang penting adalah memperhitungkan dan
membicarakan
semua risiko secara terbuka sebelum kerjasama bisnis
dimulai sehingga jika konflik tidak dapat
dihindarkan, maka sudah terbayang bagaimana cara
menyelesaikannya sejak dini sebelum merusak bisnis itu
sendiri.
Mitra
bisnis lain yang lebih netral adalah bank atau institusi
keuangan lainnya terutama jika modal menjadi
masalah utama. Pinjaman pada bank dinilai lebih aman
karena bank bisa membantu kita melihat secara makro
apakah bisnis kita itu akan mengalami hambatan. Bank
yang baik wajib melakukan inspeksi dan memeriksa studi
kelayakan (feasibility study) yang kita ajukan. Penolakan dari bank dengan alasan “tidak feasible” bisa
merupakan feedback yang baik, apalagi jika kita bisa
mendiskusikan dengan bagian kredit bank mengenai elemen
apa saja yang dinilai “tidak feasible”.
Bank juga bisa membantu kita untuk memantau
kegiatan usaha setiap tahun dan jika memang ada
kesulitan di dalam perusahaan, bank akan
mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pinjamannya. Ini
merupakan “warning” dan kontrol yang bisa
menyadarkan kita untuk segera berbenah.
Wirausahawan yang “memaksakan” bank untuk
memberi pinjaman tanpa studi kelayakan yang obyektif dan
benar akhirnya sering mengalami masalah yang lebih parah.
Agunan (jaminan) disita, perusahaan tidak jalan,
dan hilanglah harapan untuk membuat mimpi indah menjadi
kenyataan. Kejadian
seperti ini sudah sangat sering terjadi, dalam skala
kecil maupun skala nasional. Pinjaman seringkali
melanggar perhitungan normal yang semestinya diterapkan
oleh bank sehingga ketika situasi ekonomi tidak
mendukung, sendi perekonomian mikro dan makro pun turut
terbawa jatuh.
|
| |
3.
|
Menjual
mimpi itu kepada wirausawahan lain (pemilik modal)
|
| |
|
Jika
teman atau kerabat yang bisa diajak bekerjasama tidak
tersedia (entah karena kita lebih menghargai hubungan
kekerabatan atau persahabatan atau karena memang mereka
tidak dalam posisi untuk membantu) dan tidak ada agunan
yang bisa dijadikan jaminan untuk memulai usaha anda,
ada cara lain yang lebih drastis, yaitu menjual ide atau
mimpi indah itu kepada pemilik modal.
Kesepakatan mengenai bagaimana bentuk kerjasama
bisa di lakukan antara si pemilik modal dan penjual ide.
Bisa saja pemilik modal yang memodali dan penjual
ide yang menjalankan usaha itu, bisa juga penjual ide
hanya menjual idenya dan tidak lagi terlibat dalam usaha
itu. Jalan ini biasanya diambil sesudah cara lainnya tidak lagi
memungkinkan sedangkan ide yang kita miliki memang
sangat layak diperhitungkan.
|
| |
Ketiga
cara di atas selayaknya dipikirkan sebelum seseorang
mengambil keputusan untuk menjadi wirausahawan.
Tanpa pemikiran mendalam, pengalaman pahit akan
menjadi makanan kita.
Banyak usaha yang akhirnya gulung tikar sebelum
berkembang. Contohnya, pada tahun 1998, penduduk Jakarta
tentu masih ingat akan trend “kafe tenda” sebagai
reaksi atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat itu
banyak terjadi. Tiba-tiba
saja banyak mantan karyawan perusahaan beralih profesi
menjadi wirausahawan. Bahkan usaha tersebut ramai-ramai
diikuti oleh pula oleh para selebritis. Trend ini tidak mampu bertahan lama. Banyak “usaha dadakan” ini terpaksa gulung tikar. Entah
kemana para wirausahawan baru kita ini akhirnya menggantungkan
nasibnya sekarang.
|
| |
Mentalitas
Wirausahawan: Mitos atau Realita?
|
| |
Untuk
mewujudkan mimpi menjadi seorang wirausahawan yang
sukses memang diperlukan berbagai faktor pendukung.
Selain modal (sumber
daya seperti tersebut di atas), masih ada faktor lain
yang merupakan syarat untuk keberhasilan seorang
wirausahawan. Banyak
yang mengatakan “mental” atau “bakat”; dalam
bahasa umum “bakat dagang”, merupakan salah satu
diantara faktor tersebut. Meskipun belum banyak
penelitian ilmiah mengenai mental atau kepribadian
wirausahawan, namun ada beberapa fakta maupun
asumsi yang bisa menerangkan bahwa memang ada perbedaan
karakter antara wirausahawan dengan non-wirausahawan.
Bisa saja perbedaan itu tumbuh karena kebiasaan atau
pengaruh lingkungan sehingga menjadi karakter yang
menetap dalam kepribadian seseorang
|
| |
Bagi
pengikut aliran non-deterministic, bakat dagang
mungkin lebih bisa diterima sebagai sebuah mitos, sebab
sulit untuk mengatakan bahwa seorang bayi memiliki “in-born
entrepreneurship trait”.
Lebih logis bila mengasumsikan bahwa “bakat
dagang” yang dimitoskan mungkin merupakan kumpulan
dari kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dimiliki oleh
wirausahawan lewat proses pembelajaran sejak dini.
Kebiasaan ini disosialisasikan dan dikondisikan
secara konstan kepada individu atau kelompok tertentu
sehingga menjadi ciri karakter yang kuat dan mengakar di
dalam mereka. Sebagian dari kebiasaan itu adalah:
|
| |
-
menghitung
untung rugi setiap tindakan/keputusan yang diambil
-
melihat
peluang dan menganalisis kebutuhan pasar
-
mengelola
sumber daya (planning, organizing, directing,
controlling)
-
bekerja
keras secara konstan dan mencari solusi bagi
masalahnya
-
kebiasaan
“jatuh-bangun” sehingga tidak lagi takut membuat
keputusan
|
| |
Selain
faktor kebiasaan di atas, masih banyak faktor lain yang turut
menentukan apakah seseorang bisa menjadi seorang
wirausahawan yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:
|
| |
1.
|
Kreatif
& Inovatif
|
| |
|
Seorang
wirausahawan umumnya memiliki daya kreasi dan inovasi
yang lebih dari non-wirausahawan.
Hal-hal yang belum terpikirkan oleh orang lain
sudah terpikirkan olehnya dan dia mampu membuat hasil
inovasinya itu menjadi “demand”.
Contohnya:
Menjelang tahun 2000, ada sekelompok orang yang
menjadi “kaya raya” karena mereka berhasil menjual
ide “the millenium bug”.
Puluhan juta dollar bergulir di industri komputer
dan teknologi hanya karena ide ini.
Software baru, jasa konsultasi teknologi
komputer bahkan Hollywood pun berhasil membuat ide ini
menjadi industri hiburan yang menghasilkan puluhan juta
dollar. Film “The Entrapment” adalah salah
satu hasilnya.
Contoh lainnya yang sederhana adalah pengemasan
air minum steril kedalam botol sehingga air bisa diminum
langsung tanpa dimasak.
Banyak sekali contoh lain yang menunjukkan bahwa
kreatifitas dan inovasi adalah salah satu faktor yang
bisa membawa seseorang menjadi wirausahawan sukses.
Perlu diingat bahwa kreatifitas dan inovasi bukan
merupakan satu-satunya faktor penentu karena artispun
harus memiliki kedua faktor ini sebagai penentu
kesuksesannya.
|
| |
2.
|
Confident,
Tegar dan Ulet
|
| |
|
Wirausahawan
yang berhasil umumnya memiliki rasa percaya diri yang
tinggi, tegar dan sangat ulet.
Ia tidak mudah putus asa, bahkan mungkin tidak
pernah putus asa.
Masalah akan dihadapinya dan bukan dihindari.
Jika ia membuat salah perhitungan, saat ia sadar
akan kesalahannya, ia secara otomatis juga memikirkan
cara untuk membayar kesalahan itu atau membuatnya
menjadi keuntungan.
Ia tidak akan berhenti memikirkan jalan keluar
walaupun bagi orang lain, jalan keluar sudah buntu.
Kegagalan akan dibuatnya menjadi pelajaran dan
pengalaman yang mahal.
Semangatnya tidak pernah luntur; ada saja yang
membuatnya bisa berpikir positif demi keuntungan yang
dikejarnya.
Kualitas kepribadian seperti ini tidak mungkin
tumbuh secara mendadak. Keuletan, ketegaran dan rasa
percaya diri tumbuh sejak dini (usia balita) dan sudah
menjadi karakter atau dasar kepribadiannya.
Sulit (bukan tidak mungkin) bagi seorang dewasa
membentuk kualitas-kualitas ini jika tidak dimulai sejak
masa balita.
|
| |
3.
|
Pekerja
Keras
|
| |
|
Waktu
kerja bagi seorang wirausahawan tidak ditentukan oleh
jam kerja. Saat ia sadar dari bangun tidurnya,
pikirannya sudah bekerja membuat rencana, menyusun
strategi atau memecahkan masalah.
Kadang dalam tidurnyapun ia tetap berpikir.
Membiarkan waktu berlalu tanpa ada yang dipikirkan atau
dikerjakan kadang membuatnya merasa “tidak produktif”
atau merasa kehilangan kesempatan.
|
| |
4.
|
Pola
Pikir Multi-tasking
|
| |
|
Seorang
wirausahawan sejati mampu melihat sesuatu dalam
perspektif/dimensi yang berlainan pada satu waktu (multi-dimensional
information processing capacity).
Bahkan ia juga mampu melakukan “multi-tasking” (melakukan
beberapa hal sekaligus). Kemampuan inilah yang
membuatnya piawai
dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi oleh
perusahaan. Semakin tinggi kemampuan seorang
wirausahawan dalam multi-tasking, semakin besar pula
kemungkinan untuk mengolah peluang menjadi sumber daya
produktif.
|
|
|
5.
|
Mampu
Menahan Nafsu untuk Cepat Menjadi Kaya
|
| |
|
Wirausahawan
yang bijak biasanya hemat dan sangat berhati-hati dalam
menggunakan uangnya terutama jika ia dalam tahap awal
usahanya.
Setiap pengeluaran untuk keperluan pribadi
dipikirkannya secara serius sebab ia sadar bahwa
sewaktu-waktu uang yang ada akan diperlukan untuk modal
usaha atau modal kerja. Keuntungan tidak selalu menetap,
kadang ia harus merugi dan perusahaan harus tetap
dipertahankan. Oleh sebab itu, jika ia memiliki
keuntungan 10, hanya sepersekian yang digunakan untuk
keperluan pribadinya. Sebagian besar disimpannya untuk
digunakan bagi kemajuan usahanya atau untuk tabungan
jika ia terpaksa mengalami kerugian.
|
| |
|
Wirausahawan
yang bijak juga mengerti bahwa membangun sebuah
perusahaan yang kokoh dan mapan memerlukan waktu
bertahun-tahun bahkan tidak jarang belasan atau puluhan
tahun.
Seorang wirausahawan yang memulai usahanya dari
skala yang kecil hingga menjadi besar akan mampu menahan
nafsu konsumtifnya. Baginya, pengeluaran yang tidak
menghasilkan akan dianggap sebagai sebuah kemewahan.
Jika tabungannya tidak cukup untuk membeli
kemewahan itu, dia akan menahan diri sampai tabungannya
jauh berlebih.
Ia juga menghargai keuntungan yang sedikit demi
sedikit dikumpulkannya. Keuntungan itu diinvestasikannya
ke dalam usaha lainnya sehingga lama-kelamaan hartanya
bertambah banyak. Dalam hal ini memang ada benarnya
pepatah yang mengatakan: “hemat pangkal kaya”.
|
| |
|
Sebaliknya,
wirausahawan yang tidak bijak seringkali tidak dapat
menahan nafsu konsumtif.
Keuntungan dihabiskan untuk berbagai jenis
kemewahan dan hal yang tidak produktif sehingga tidak
ada lagi tabungan untuk perluasan perusahaan atau untuk
bertahan pada masa sulit. Perusahaanpun tidak lama
bertahan.
|
| |
6.
|
Berani
mengambil risiko
|
| |
|
Seorang
wirausahawan berani mengambil risiko. Semakin besar
risiko yang diambilnya, semakin besar pula kesempatan
untuk meraih keuntungan karena jumlah pemain semakin
sedikit. Tentunya,
risiko-risiko ini sudah harus diperhitungkan terlebih
dahulu. (Lihat
artikel:
Risiko-Risiko
Pengembangan Bisnis)
|
| |
7.
|
Faktor
Lainnya
|
| |
|
Masih
banyak lagi faktor yang belum terungkap dalam artikel
ini. Saya
berharap para pembaca yang memiliki pengalaman
lain mau membagikan pengalamannya agar dapat menjadi inspirasi bagi calon-calon wirausahawan baru.
Negara kita memang sedang membutuhkan
wirausahawan baru untuk membangun kembali ekonomi yang
morat-marit ini.
|
| |
Bagi
mereka yang sudah memiliki ide dan mimpi indah, cobalah mulai berhitung. Siapa tahu anda sudah memiliki
banyak faktor yang disebutkan di atas dan anda tinggal
mengatakan pada diri anda:”Just try it”.
Bagi anda yang merasa bahwa dunia wirausaha bukan
dunia anda, jangan kecil hati….sebab anda masih bebas
bermimpi.
Selain mimpi itu gratis, segala sesuatu yang baru
selalu dimulai dari mimpi indah. “Selamat
bermimpi”. (jp)
|
|
_____________________________
|