|
|
 |
|
|
Menopause
|
|
Oleh: Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
27 September 2002
|
| |
Kata
menopause berasal dari dua kata Yunani yang berarti
"bulan” dan “penghentian sementara” yang
secara linguistik lebih tepat disebut “menocease”.
Secara medis istilah menopause mengandung arti
berhentinya masa menstruasi, bukan istirahat.
|
| |
Meski
kata
menopause hanya mengandung arti akhir masa menstruasi,
walaupun demikian dalam penggunaan secara umum menopause
mempunyai makna masa transisi atau masa peralihan, dari
beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir sampai
setahun sesudahnya. Hal itu disebabkan karena keluaran
hormon dari ovarium (indung telur) berkurang,
masa haid menjadi tidak teratur dan kemudian lenyap sama
sekali. Dengan lenyapnya haid ini maka wanita sudah
memasuki suatu masa peralihan yaitu masa menopause.
Menopause
merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi
mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan
berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Secara
normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40
tahun sampai 50 tahun. Pada
saat menopause, wanita akan mengalami
perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang
disebabkan oleh bertambahnya usia. Usia dari hari ke
hari akan terus berjalan dan setiap orang seiring dengan
bertambahnya usia tidak akan lepas dari predikat tua.
Dengan bertambahnya usia maka gerak-gerik, tingkah laku,
cara berpakaian dan bentuk tubuh mengalami suatu
perubahan.
Secara
singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa
produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa
non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon
estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya
usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia
maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak
atau perubahan yang
meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut.
|
| |
Fisik
|
| |
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik
mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu
yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh,
misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas.
Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa
panas atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah,
cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock, 1992).
Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan
gejala dari menopause yaitu:
|
|
|
a.
|
Ketidakteraturan
Siklus Haid
|
| |
|
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus
haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak
pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering
disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak
seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini
sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali
mengganti pembalut yang dipakainya. Normalnya haid akan
berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada
keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu
atau lebih.
|
|
|
b.
|
Gejolak
Rasa Panas
|
| |
|
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid
mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar
berhenti. Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979)
mengatakan “ kira-kira 60% wanita mengalami arus panas”.
Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar
jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau
bahkan timbul secara menyeluruh. Munculnya hot
flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher
atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang
lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit
yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika
terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu
tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan
rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi.
|
|
|
c.
|
Kekeringan
Vagina
|
| |
|
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim
sedikit sekali mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah
kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina
menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis.
Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering
sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan,
rasa sakit pada saat kencing. Keadaan ini membuat
hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering
kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi
buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan
kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau
orgasme.
|
|
|
d.
|
Perubahan
Kulit
|
| |
|
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit,
ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih
tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah,
leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi
mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian
ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992)
|
|
|
e.
|
Keringat
di Malam Hari
|
| |
|
Berkeringat malam hari, bangun bersimbah
peluh. Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam hari.
Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur
melainkan juga teman atau pasangan tidur. Akibatnya
diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah
tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak.
|
|
|
f.
|
Sulit
Tidur
|
| |
|
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada
waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya
dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah
memerah dan perubahan yang lain.
|
|
|
g.
|
Perubahan
Pada Mulut
|
| |
|
Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita
berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain
mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah
tanggal.
|
|
|
h.
|
Kerapuhan
Tulang
|
| |
|
Rendahnya
kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis
(kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan
penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan
persoalan bagi yang telah berumur, paling banyak
menyerang wanita yang telah menopause. Biasanya kita
kehilangan 1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan
(mungkin ini yang menyebabkan nyeri persendian), tetapi
kadang setelah menopause kita kehilangan 2% setahunnya.
John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita
kehilangan tulang lebih cepat daripada proses menua.
Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan
penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan.
Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan
menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan
akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.
|
|
|
i.
|
Badan
Menjadi Gemuk
|
| |
|
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama
menopause. Rasa letih yang biasanya dialami pada masa
menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang
sembarangan. Banyak wanita yang bertambah berat badannya
pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor
makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga.
|
|
|
j.
|
Penyakit
|
| |
|
Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami
oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua)
perubahan paling penting yang terjadi pada waktu
menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi
penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral
dan protein di dalam tulang (osteoporosis). Penyakit
jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan
seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu
penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang
yang berusia lanjut. Semakin lama kehidupan maka
semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang.
Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker
ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita
yang telah melampaui masa menopause.
Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker
yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat
menjadi tempat bermulanya kanker. Yang pertama adalah
serviks, kanker ini terutama berjangkit pada wanita
berusia diatas 30 tahun. Gejala yang harus diperhatikan
adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan,
pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda diantara
haid. Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim)
terutama menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang
paling menanggung resiko adalah yang pernah mendapat
haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara
tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih.
Gejalanya adalah pendarahan tak normal, pendarahan
antara haid, keluaran darah yang lebih lama atau lebih
kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid
terakhir dalam menopause.
|
|
Psikologis
|
|
Aspek
psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita
menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial
lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang
berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan atau
pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang
lansia tersebut. Berbicara
tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan
eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan
antara aspek organ-biologis, psikologis, sosial, budaya
dan spiritual dalam kehidupan lansia. Beberapa gejala
psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah
tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian,
tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi.
Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena
menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa
tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta
merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi
yang hilang.
Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda
dan gejala dari menopause yaitu:
|
|
|
a.
|
Ingatan
Menurun
|
|
|
Gelaja
ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat
mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause
terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa
pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara
otomatis langsung ingat.
|
|
|
b.
|
Kecemasan
|
|
|
Banyak
ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia
merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul
sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam
menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah
dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian
ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan
khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari
ana-anaknya. Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah
menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang
cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan
semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga
yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang
disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak
juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak
mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya.
Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa
pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal
berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang
cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa
sehingga tidak menimbulkan gejolak. Adapun
simtom-simtom psikologis
adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek,
menurut Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai
berikut :
|
|
|
-
Suasana
hati yaitu
keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis,
seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.
-
Pikiran yaitu keadaan pikiran yang
tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi,
pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang
diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya.
-
Motivasi yaitu dorongan untuk
mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi,
ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari
dari kenyataan.
-
Perilaku gelisah yaitu keadaan diri
yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan
yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
-
Reaksi-reaksi biologis yang tidak
terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing,
berdebar-debar, mual, mulut kering.
|
|
|
|
Gangguan
kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme
pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk
hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya.
Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi
isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan
mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi
bahaya atau ancaman.
Menjadi
cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian
dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari.
Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak
sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai
hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis.
|
|
|
c.
|
Mudah
Tersinggug
|
|
|
Gejala
ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan.
Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu
yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin
disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi
sangat menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam
dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap
sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama
jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai
menyinggung proses penerimaan yang sedang terjadi dalam
dirinya.
|
|
|
d.
|
Stress
|
|
|
Tidak
ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was
dan cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan
perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan
pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan
bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak
ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi
produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap
penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh
secara diam-diam.
Namun
demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif,
tapi bisa juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian
dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana
individu memandang dan mengendalikannya. Stress adalah
suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar
kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat
individual sifatnya.
Respon
orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang
waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer.
Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik
keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat
digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis.
Di
tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress
tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati
dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai
dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain
yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap
sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor,
termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu
dalam menanggapi stress tersebut.
|
|
|
e.
|
Depresi
|
| |
|
Dari
penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat
dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12%
pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam
kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d
9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena
gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan
bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan
menderita depresi daripada pria.
Wanita
yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena
kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena
kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena
kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena
kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus
menghadapi masa tuanya.
Depresi
dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang
depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan
fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan
tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin
mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai
atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan
mungkin sulit dihindarkan.
Simton-simton
psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa
aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5)
adalah sebagai berikut :
|
| |
|
-
Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan,
mudah marah.
-
Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi,
lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri
sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah.
-
Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan
menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial,
ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang
lain.
-
Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban,
sering mondar-mandir, menangis, mengeluh.
-
Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan
atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu, gelisah.
|
|
Mungkin
masih ada gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang
menyertai menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat
perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam
memperlakukan para lansia. Dengan memahami gejala tersebut
diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi
dalam diri mereka. Selain itu pihak keluarga pun
diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak
membuat lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan. Mari
kita bantu para lansia kita dengan memahami berbagai
gejala fisik maupun psikologis sehingga tahu bagaimana
cara terbaik untuk membantu mereka. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|