|
|
|
Gerontopilia
|
|
Oleh: Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
24 Juli 2002
|
|
Manusia
tercipta sebagai makhluk yang mampu berpikir (homo
sapien), makhluk sosial (homo sosious), dan
makhluk yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa (homo
religous) sekaligus juga sebagai makhluk yang unik.
Unik dalam segala perilaku dan perbuatannya, sehingga
terkadang sulit diprediksi untuk apa manusia berbuat
sesuatu, yang kadang-kadang sulit diterima berdasarkan
nalar yang sehat atau secara normal. Istilah normal
inipun juga bukan patokan yang pasti tetapi tergantung
orientasi kita (kapan, dimana dan siapa); misalnya suatu
saat pada hari Jumat kita sholat di parkiran, karena tak
kebagian tempat di dalam mesjid, itu normal, tetapi di
saat yang lain orang sholat sendirian di tempat tersebut,
pasti dianggap tidak normal, bisa-bisa ia ditangkap
satpam. Itulah salah satu keunikan dalam kehidupan
manusia. Suatu tingkahlaku yang dilakukan seseorang
dapat dikatakan baik atau tidak baik, normal atau tidak
normal, sehat atau tidak sehat, dan sebagainya
sebenarnya sangat ditentukan orientasi
seseorang dalam kehidupannya.
|
|
Keunikan
yang ada pada manusia tidak hanya terlihat dalam tingkah
laku yang bisa dianggap normal atau sehat saja, tetapi
juga bisa terlihat pada perilaku-perilaku yang dianggap
menyimpang seperti kasus-kasus penyimpangan seksual.
Kasus-kasus penyimpangan seksual sangat banyak macamnya,
dari yang sifatnya mencari kepuasan bila disakiti (Masochisme)
sampai mencari kepuasan dengan menyakiti orang lain (Sadisme).
Dari jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual pada anak
kecil (Pedopilia) sampai dengan jatuh cinta dan
mencari kepuasan seksual kepada nenek-nenek atau
kakek-kakek (Gerontopilia).
|
|
Apa
itu Gerontopilia?
|
|
Gerontopilia
adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang
pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada
orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau
kakek-kakek). Gerontopilia termasuk
dalam salah satu diagnosis gangguan seksual, dari sekian
banyak gangguan seksual seperti voyurisme,
exhibisionisme, sadisme, masochisme, pedopilia,
brestilia, homoseksual, fetisisme,
frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan
awalnya adalah merasa
impoten bila menghadapi
istri/suami sebagai pasangan hidupnya, karena
merasa tidak tertarik lagi. Semakin ia didesak
oleh pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan
menjadi cemas. Gairah seksualnya kepada pasangan
yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia telah
bertemu dengan idamannya (kakek/nenek).
|
|
Manusia
itu diciptakan Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga
mampu mencintai dirinya (autoerotik), mencintai
orang lain beda jenis (heteroseksual) namun juga
yang sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta
makhluk lain ataupun benda, sehingga kemungkinan terjadi
perilaku menyimpang dalam perilaku seksual amat banyak.
Manusia walaupun diciptakanNya sempurna namun ada
keterbatasan, misalnya manusia itu satu-satunya makhluk
yang mulut
dan hidungnya tidak mampu menyentuh genetalianya;
seandainya dapat dilakukan mungkin manusia sangat
mencintai dirinya secara menyimpang pula. Hal itu sangat
berbeda dengan hewan, hampir semua hewan mampu mencium dan
menjilat genetalianya, kecuali Barnobus (sejenis
Gorilla) yang sulit mencium genetalianya. Barnobus
satu-satunya jenis apes (monyet) yang bila bercinta
menatap muka pasangannya, sama dengan manusia. Hewanpun
juga banyak yang memiliki penyimpangan perilaku seksual
seperti pada manusia, hanya saja mungkin variasinya lebih
sedikit, misalnya ada hewan yang homoseksual, sadisme, dan
sebagainya.
|
|
Kasus
Gerontopilia mungkin jarang terdapat dalam masyarakat
karena umumnya si pelaku malu untuk berkonsultasi ke ahli,
dan tidak jarang mereka adalah anggota masyarakat biasa
yang juga memiliki keluarga (anak & istri/suami) serta
dapat menjalankan tugas-tugas hidupnya secara normal
bahkan kadang-kadang mereka dikenal sebagai orang-orang
yang berhasil/sukses dalam karirnya. Meski jarang
ditemukan, tidaklah berarti bahwa kasus tersebut tidak ada
dalam masyarakat Indonesia.
|
|
Contoh
Kasus
|
|
Untuk
dapat memahami perilaku Gerontopilia, saya mengajak
pembaca untuk melihat satu contoh kasus, sebagai berikut:
|
|
|
Sebut
saja si pelaku berinisial "S". S mulai menceritakan riwayat hidupnya
sebagai seorang anak laki-laki yang ketika berumur 4 tahun
ayahnya meninggal dunia, dan selanjutnya ia diasuh oleh
kakek dan neneknya. Kehidupan masa kecilnya bersama nenek
dan kakeknya cukup bahagia, S dapat mengikuti pendidikan
formal dengan baik. Setelah lulus SMA, S pindah ke kota
lain karena diterima di salah satu Fakultas Kedokteran
Negeri di Sumatera dan akhirnya berhasil menjadi seorang
dokter. Ketika di SMA banyak waktu dihabiskan untuk
melakukan kegiatan-kegiatan di masjid atau surau seperti
kawan-kawan sebayanya di sana. Meski telah menjadi seorang
dokter, ada kenangan yang sulit dilupakan karena pada saat
S banyak melakukan kegiatan di surau, ia memiliki
kenalan yang sangat akrab yaitu seorang kakek yang banyak
memberikan perhatian, bantuan, dorongan, kesenangan dan
kepuasan bagi S sebagai seorang remaja. Pada saat S kuliah
di kota lain hubungan tetap terjalin, tiap malam minggu ia
pulang seperti remaja lain mengunjungi pacarnya. Namun
pacar S ini lain dari yang lain yaitu seorang kakek yang
ubanan, bersih dan ganteng, katanya. Apa yang dilakukan
antara kakek dan remaja tersebut ternyata bercinta secara
homoseksual. Hal itu dilakukan cukup lama sejak SMA kelas
I sampai S lulus menjadi dokter, pada hal si kakek
tersebut punya anak dan punya istri. Cara bercintanya juga
sangat rapi karena tidak ada yang tahu, baik pihak
keluarga kakek maupun keluarga S, termasuk kawan-kawan
sebayanya. Rupanya apa yang dilakukan kedua insan berbeda
usia dan sejenis tersebut membahagiakan kedua belah pihak,
karena kedua belah pihak merasa sulit untuk berpisah.
Untuk menjaga kelestarian hubungan antara keduanya, kakek
menawarkan kepada S agar menikah dengan anak perempuannya
bernama (K). S sudah cukup kenal dengan K walaupun merasa
tidak cinta, seperti cintanya terhadap ayah K. Namun
akhirnya S nikah dengan K karena ada udang dibalik batu
agar tetap dekat dengan ayah K. Dalam kehidupan sebagai
suami istri S menjalaninya biasa-biasa saja, namun
hubungan dengan kakek juga tetap dijalankan, bahkan merasa
lebih bebas karena satu rumah. Kadang-kadang ia bermesraan
sama kakek yang sekarang adalah mertua, namun
kadang-kadang bermesraan sama K sebagai istri. Dalam
bathin S sering timbul perasaan bahwa
cintanya terhadap istri cukup sebagai simbol status
sosial, karena secara umum hal itu merupakan suatu yang
wajar bahwa laki-laki berpasangan
dengan wanita. Namun disisi lain S merasa sangat
mencintai kakek dan merasa lebih bergairah dalam bercinta.
Bahkan S merasa terangsang dengan istri bila habis
bermesraan dengan kakek, entah bagaimana caranya. Keadaan
itulah yang terus terbawa sampai saat ini. S merasa
bergairah dengan istrinya apabila habis bercinta dengan si
kakek.
Kehidupan memang tidak pernah akan berlanjut
dengan mulus bagi S untuk bermesraan dengan dua
orang, dimana satu sama lain tidak memperlihatkan
kecumburuan dan kecurigaan dan dua-duanya memberi kepuasan
pada dirinya. Setelah S dengan K memiliki anak pertama, si
kakek meninggal dunia. S pada awalnya merasa shock karena
pasangan yang sangat dicintainya telah tiada dan S
kemudian mencurahkan perhatiannya kepada anak dan istrinya
serta pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Waktu berlalu
dengan cepat, sampai akhirnya S sudah
berpindah-pindah kota dan sudah menduduki jabatan penting.
Suatu saat S ditawari untuk pindah ke Jakarta dan ia tentu
saja merasa sangat senang karena dapat bekerja di pusat.
Setelah berada di Jakarta S merasa senang jika mendapat
tugas mendampingi tamu bule pria untuk keliling
daerah. Menurut S umumnya orang bule senang diajak main
cinta dengan dia, sehingga keinginan S untuk bertemu
idamannya yaitu laki-laki, sudah cukup tua, rambutnya
putih dan klimis, apalagi mau diajak bercinta semakin
menggebu lagi. Ketika hal itu dapat dilakukan S maka
ia merasa bahagia dan merasa bergairah untuk bercinta
dengan istrinya. Selain itu hubungan S dengan istrinya
tidak uring-uringan dan keduanya merasa bahagia, walaupun
keadaan S mungkin tidak diketahui oleh istrinya.
Dalam
kehidupan bermasyarakat perilaku S terlihat biasa-biasa
saja namun sebagai seorang seorang ahli medis ia
mendapatkan kesulitan bila menemui pasien seperti yang
diidamkannya yaitu pria cukup tua, rambut putih,
penampilan bersih dan klimis. Setiap bertemu pasien
seperti itu S langsung naksir dan amat tertarik.
Kata S,
secara naluri
ia tahu apakah orang yang dihadapi (diperiksa) itu
mau diajak bercinta atau tidak, sehingga hal itu
menyebabkan konflik, antara tugas profesi dan dorongan
nalurinya yang tidak pada tempatnya. Untuk menjaga
profesinya itu S sangat hati-hati jangan sampai rahasia
dirinya diketahui oleh para pasiennya. Dalam keadaan
inilah S sering merasa terganggu
ketenangannya sehingga di rumahpun ia mudah menjadi
emosional dan uring-uringan. Keadaan seperti itu terus
berlanjut sampai usianya berkepala lima. Dorongan ingin
bertemu dengan idamannya sangat kuat.
Saking kuatnya keinginan tersebut, suatu saat
S mencoba mendekati waria di pinggir jalan di sekitar
sebuah taman di Jakarta pada saat waria mejeng di sana.
Begitu mudah berkenalan dengan waria bagi S, namun S
menjadi terkejut dan takut karena perilaku waria ternyata
lain dengan yang di bayangkan S. Kata S waria yang
ditemuinya ternyata lebih feminin dari wanita, sehingga ia
bingung bagaimana cara merayunya untuk bercinta, sehingga
S teringat pada istrinya dan spontan meninggalkann waria
tersebut.
|
|
Contoh kasus di atas menggambarkan bahwa
penyimpangan (deviasi) seksual kadang-kadang memang
merupakan sesuatu yang aneh. Misalnya kenapa S menjadi
bingung, obsesif, cemas hanya karena ingin ketemu untuk
bercinta dengan orang yang sudah tua dan
sejenis (homo), padahal dia sudah punya anak
dan istri. Kasus tersebut juga heteroseksual (punya istri)
namun juga biseksual karena dapat bercinta dengan sejenis
maupun lawan jenis. Disisi lain S juga mengeluh impotensi
terhadap istri, walaupun hal itu tidak bersifat permanen,
bahkan jika setelah ketemu idamannya untuk bermain cinta,
ia menjadi bergairah lagi.
|
|
Menyikapi masalah-masalah seperti dalam contoh
kasus tersebut, kita semua dituntut untuk memiliki
ketahanan mental agar tidak mudah tergoda untuk melakukan
hal-hal yang tidak sewajarnya sehingga akhirnya menjadi
menyimpang. Untuk memperoleh ketahanan mental tersebut
kita sudah diberikan acuan dan pedoman berupa norma-norma
agama, norma etika maupun norma sosial. Oleh sebab itu
berperilakulah yang normatif dalam arti bertingkahlaku
mengikuti norma agama, norma etika dan norma sosial yang
berlaku. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|