|
|
|
Lansia
dan Pekerjaan
|
|
Oleh: Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
22 Mei 2002
|
|
|
Pria
lanjut usia biasanya lebih tertarik pada jenis pekerjaan
yang statis daripada pekerjaan yang bersifat dinamis dan
menantang. Dampak yang mereka peroleh adalah pekerjaan
yang memberi kepuasan pada dirinya walaupun pekerjaan
itu jelas berbeda dengan pekerjaan orang yang lebih muda
atau pekerjaan pada masa mudanya. Bahkan mereka
mengetahui bahwa sebentar lagi akan pensiun, atau bagi yang sudah pensiun akan berhenti
bekerja, sehingga apa yang dilakukan tidak mempengaruhi
sikap mereka terhadap pekerjaannya jika mereka memang
menikmati apa yang mereka kerjakan. Bagi lansia yang
bukan pegawai negeri atau karyawan swasta, misalnya
wiraswastawan, pedagang, ulama, guru swasta dan
lain-lain pikiran tentang pensiun mungkin tidak
terlintas, mereka umumnya mengurangi kegiatannya setelah
lansia dan semakin tua tugas-tugas tersebut secara
berangsur berkurang sampai suatu saat secara rela dan
tulus menghentikan kegiatannya. Kalau mereka masih mau
melakukan kegiatan umumnya sebatas untuk beramal atau
seolah-olah menjadi kegiatan hobby. Dalam kehidupan
keluarga biasanya anak-cucu mereka cenderung keberatan
jika kakeknya yang sudah lanjut usia masih harus bekerja
mencari nafkah oleh karena itu kebutuhannya dicukupi
oleh anak cucu atau keluarganya. Dalm kondisi demikian
bekerja bagi lansia bukan keharusan lagi, namun lebih
untuk bersenang-senang dalam menikmati masa tuanya.
|
|
|
Bagi
wanita yang tidak bekerja selama masa dewasa dini,
dengan kesibukan pekerjaan
rumah tangga dan mengurus anak. Bekerja sebagai ibu
rumah tangga sepanjang kurun waktu usia madya akan
mendapatkan kompensasi kepuasan dari tanggung jawab
keluarga dan rumah tangga karena dapat mengantarkan
anak-anak menjadi dewasa, menyelesaikan studinya,
mendapatkan pekerjaan sampai berkeluarga. Mereka akan
merasa sangat puas dan bangga atas upayanya bila dapat
mengantarkan ankak-anaknya sampai bekerja dan
berkeluarga. Bagaimanapun juga wanita dari kelompok ini,
yang bekerja, cenderung merasa kurang puas dengan
pekerjaannya ketimbang pria. Meskipun peran pasangan
hidupnya (suaminya) turut menentukan kepuasan dalam
bekerja. Jika suami sangat mendukung dengan kondisi
pekerjaan istri, maka si wanita akan cenderung merasa
puas dan bangga memiliki penghasilan. Hal itu perlu
dimaklumi juga terutama
karena pekerjaan yang tersedia bagi wanita madya
yang mencoba untuk bekerja kembali kurang menarik dan
kurang menantang tidak seperti pekerjaan yang tersedia
atau yang dikerjakan oleh pria madya yang mudah
berpindah kepekerjaan lain pada usia madya. Akibat
keadaan tersebut wanita
lanjut usia merasa kurang puas dengan
pekerjaannya namun disisi lain mereka kurang merasa
terganggu dengan tibanya masa pensiun ketimbang pria
lanjut usia.
|
|
|
Sikap
|
|
|
Bagaimana
sikap seseorang terhadap pekerjaan sebenarnya
sangat penting bagi semua tingkat usia terutama
pada lanjut usia karena
tidak hanya mempengaruhi kualitas pekerjaan yang
dilakukan tetapi juga sikapnya terhadap masa pensiun
yang akan datang. Pada masa lanjut usia, yang juga
terjadi pada tingkat usia lain selama rentang hidup masa
dewasa, orang mempunyai alasan yang berbeda terhadap
pekerjaan yang diinginkan, seperti yang diungkapkan oleh
Havighurst Hurlock(1992:414), bahwa sikap terhadap kerja
merupakan dasar terhadap pekerjaan yang diinginkan.
|
|
|
Budaya
sikap kerja yang berlaku sebelumnya
juga dapat mempengaruhi sikap pekerja lanjut usia
terhadap pekerjaannya. Mereka yang pertumbuhan masa
dewasanya terjadi ketika sikap budaya terhadap pekerjaan
pada umumnya lebih menyenangkan dibandingkan dengan
sekarang, mempunyai sikap kerja yang sangat berbeda
dibandingkan dengan orang muda. Hal ini mau tidak mau
mewarnai sikap mereka terhadap pekerjaannya dan menambah
kesulitan mereka dalam menyesuaikan diri karena tidak
dapat memperoleh pekerjaan, padahal kondisi secara
fisiknya masih memungkinkan untuk bekerja.
|
|
|
Kesempatan
Kerja
|
|
|
Sangat
disayangkan, bila pria atau wanita lanjut usia harus
kehilangan pekerjaan. Seringkali hal tersebut bukan
karena kesalahan mereka sendiri, tetapi lebih disebabkan
sangat sedikitnya kesempatan kerja yang tersedia bagi
lansia, walaupun mereka ingin bekerja dan sanggup untuk
melakukan pekerjaan tersebut. Situasi yang serupa juga
terjadi bagi mereka yang ingin berganti pekerjaan,
karena mereka merasa tidak puas dengan pekerjaan
sekarang atau mereka sudah bosan terhadap pekerjaan yang
sudah puluhan tahun ditekuni. Acapkali mereka juga
merasa pekerjaan yang telah lama ditekuni dirasakan
semakin berat, sehingga tidak sesuai lagi untuk diri
mereka yang sudah berusia lanjut, namun mereka mengalami
kesulitan untuk mengalihkan pekerjaan tersebut
dengan pekerjaan lain yang dianggap lebih sesuai dengan
kondisi mereka.
|
|
|
Selama
usia madya kesempatan bekerja berkurang dengan cepat.
Pada usia madya sangat sulit bahkan sering tidak
mungkin memperoleh pekerjaan baru. Bagi lansia yang
masih mendapat pekerjaan tentu sangat beruntung, hanya
saja jenis pekerjaan yang diperoleh umumnya lebih
banyak bersifat monoton, pekerjaan yang statis dan
kurang berkembang dan mungkin juga tidak sesuai dengan
tingkat kemampuan dan latihan yang pernah diterima.
Hal itu mengakibatkan mereka merasa tidak puas. Secara
relatif, hanya ada beberapa pekerjaan yang terbuka
bagi orang lanjut usia yang berketrampilan tinggi atau
jenis pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab tinggi
atau juga pekerjaan profesional yang sangat diperlukan
di masyarakat. Dalam dunia usaha dan industri hanya
pekerjaan yang ringan dan menyenangkan saja yang
tersedia bagi pekerja lanjut usia.
|
|
|
Semua
itu berarti bahwa secara keseluruhan skala pendapatan
bagi kebanyakan pekerja lanjut usia berada pada urutan
paling bawah dan hanya sedikit sekali yang memperoleh
pendapatan tinggi, kecuali bagi seorang profesional
seperti dokter, notaris, pengacara atau Guru Besar.
Akibatnya, banyak pekerja lanjut usia memperoleh hanya
sedikit kepuasan dari pekerjaannya.
|
|
|
Bagi
lansia yang
sanggup melaksanakan tugas dengan baik sekalipun harus
menunggu bertahun-tahun, promosinya sangat lambat.
Selain itu pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab
lebih besar seringkali diserahkan pada pekerja yang
lebih muda. Dalam kondisi demikian, jika sang lansia
merasa bahwa tugas / pekerjaan mereka hanya
menghitung-hitung waktu sampai mencapai usia pensiun,
maka kontribusinya bagi majikan/perusahaan menjadi jauh
kurang berharga ketimbang saat sebelumnya. Di samping
itu peraturan dari perusahaan maupun pemerintah ikut
mempersulit bagi lansia yang masih ingin bekerja dan
berkarya, karena tenaga-tenaga muda yang potensial dan
enerjik banyak yang antri untuk menggantikan kedudukan
yang sudah tua. Hal semacam itu merupakan dilema bagi
lansia dalam bekerja dan berkarya.
|
|
|
Kinerja
|
|
|
Hasil
penelitian tentang keuntungan dan kerugian yang
diperoleh apabila mempekerjakan lanjut usia sangat
bergantung pada jenis pekerjaan yang dikerjakan.
Beberapa jenis pekerjaan mungkin lebih sesuai bagi
pekerja lanjut usia dan beberapa jenis lainnya lebih
cocok untuk pegawai yang lebih muda. Jenis-jenis
pekerjaan yang memerlukan pengalaman dan kemampuan
membuat keputusan, lebih mengutamakan kualitas hasil
kerja daripada kecepatan, merupakan jenis pekerjaan yang
lebih sesuai bagi pekerja lanjut usia. Pekerja
lanjut usia dapat mengkompensasikan kelambanan dalam
bekerja dan kesulitannya dalam menyesuaikan diri dengan
stabilitas dan kemampuan bekerja tanpa pengawasan.
|
|
|
Penelitian
tentang pekerja lanjut usia menekankan pada kualitas
kerja yang menyumbang keberhasilan mereka dalam kerja.
Pekerja lanjut usia, misalnya karena mereka banyak
memiliki pengalaman, cenderung bekerja dengan gerak yang
lamban daripada pekerja muda yang kurang berpengalaman.
Kelebihan ini dapat menutupi kelemahan mereka dalam
bekerja. Pertambahan beban masalah yang berhubungan
dengan kehidupan pribadinya juga berkurang daripada
pekerja muda yang keinginannya biasanya lebih dipusatkan
pada cinta keluarga, sementara bagi lansia yang penting
adalah rasa aman untuk bekerja dan tidak dikejar-kejar
waktu, sehingga dapat bekerja dengan tenang.
|
|
|
Lanjut
usia yang bekerja, seperti dijelaskan di atas, umumnya
lebih stabil dan tenang sehingga tidak resah dan tidak
mudah kecewa dengan pekerjaannya. Mereka juga
kurang berminat untuk berganti pekerjaan
dibandingkan dengan pekerja yang lebih muda. Mereka juga
senang untuk berdemonstrasi bila ada kekecewaan. Perlu
diakui bahwa volume
pekerjaan mereka mungkin juga lebih sedikit daripada
volume kerja orang muda, namun secara kualitas mungkin
lebih baik dan dapat dijadikan andalan. Mereka lebih
sedikit melakukan kekeliruan, hal ini sebagian
disebabkan karena cara membuat keputusan lebih baik dan
sebagian lagi
karena cara kerja mereka lebih pasti, hati-hati walaupun
lebih lambat lambat.
|
|
|
Kesadaran
diri para pekerja usia lajut lebih besar karena sikap
mereka lebih matang dan mereka ingin terus memiliki
pekerjaan tersebut. Akibatnya, mereka biasanya lebih
dapat diandalkan dalam kualitas hasil pekerjaannya.
Ketidakhadiran karena alasan sakit atau rasa tidak
senang kerja paling banyak dilakukan oleh pekerja yang
lebih muda, terutama mereka yang masih berumur dibawah
duapuluh tahun, sedang pekerja lanjut usia jauh lebih
jarang untuk tidak masuk. Bagi mereka yang secara
psikologis merasa terjamin dan tidak diburu waktu
biasanya tidak mudah stres dan tahan sakit.
|
|
|
Kecelakaan
pada umumnya jarang terjadi, karena pekerja usia lanjut
sangat berpengalaman dan sangat hati-hati. Meski
pendapat umum seringkali menganggap bahwa para lansia
mudah lengah dan kurang reaktif sehingga sangat berisiko
dalam bekerja, namun kenyataannya tidaklah demikian.
Argumentasi bahwa pekerja lanjut usia kurang begitu bisa
bergaul dengan pekerja yang lebih muda dan teman sejawat
daripada mereka yang masih muda juga tidak benar.
Kenyataan yang ada adalah para pekerja usia lanjut
cenderung menghindari komunikasi yang tidak perlu,
karena desakan dari kebutuhannya tidak banyak. Hal yang
penting bagi mereka adalah bekerja dengan senang dan
tenang. Meski beberapa pekerja lanjut usia memang
mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang rendah
dibandingkan dengan mereka yang lebih muda, tetapi
persentase mereka tidak begitu besar ketimbang
persentase pekerja yang lebih muda yang mempunyai
kesulitan dalam bergaul dengan rekan sekerjanya. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa nampaknya sikap sosial
yang tidak menyenangi pekerja lanjut usia dan cenderung
memojokkan mereka dengan berbagai anggapan negatif dalam
kenyataannya tidak terbukti. Oleh karena itu sebenarnya
perlu dipertimbangkan alasan yang tepat untuk memutuskan
hubungan kerja lansia, bukan sekedar karena alasan tua (usia
lanjut). Hal ini penting mengingat bahwa pekerja
usia lanjut pun dapat juga menegerjakan
pekerjaan-pekerjaan tertentu sama baiknya dengan mereka
yang berusia muda, karena pengalaman dan kemampuan untuk
mengambil keputusan dengan pertimbangan masak. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|