 |
|
|
Dukungan
Sosial Pada Lansia
|
|
Oleh Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
16 Agustus 2002
|
|
Setelah
seseorang memasuki masa lansia,
maka dukungan sosial dari orang lain menjadi
sangat berharga dan akan menambah ketenteraman hidupnya.
Namun demikian dengan adanya dukungan sosial tersebut
tidaklah berarti bahwa setelah memasuki masa
seorang lansia hanya tinggal duduk,
diam, tenang, dan berdiam diri saja. Untuk menjaga
kesehatan baik fisik maupun kejiwaannya lansia justru
tetap harus melakukan aktivitas-aktivitas yang berguna
bagi kehidupannya. Lansia tidak boleh ongkang-ongkang,
enak-enak, dan semua dilayani oleh orang lain (Sidiarto
Kusumoputro: 2002). Hal itu justru akan
mendatangkan berbagai penyakit dan penderitaan, sehingga
bisa menyebabkan para lansia tersebut cepat
meninggal dunia. Dalam rangka membantu agar lansia tetap
dapat beraktivitas maka dibutuhkan dukungan sosial.
Dukungan sosial bagi lansia sangat diperlukan selama
lansia sendiri masih mampu memahami makna dukungan
sosial tersebut sebagai penyokong/penopang kehidupannya.
Namun
dalam kehidupan lansia seringkali ditemui bahwa tidak
semua lansia mampu memahami adanya dukungan sosial
dari orang lain, sehingga walaupun ia telah menerima
dukungan sosial tetapi masih saja menunjukkan adanya
ketidakpuasan, yang ditampilkan dengan cara menggerutu,
kecewa, kesal dan sebagainya. Dalam hal ini memang diperlukan pemahaman dari si
pemberi bantuan tentang keberadaan (availability)
dan ketepatan/ kelayakan (adequacy) dari bantuan
tersebut bagi lansia, sehingga tidak menyebabkan
dukungan sosial yang diberikan dipahami secara keliru
dan tidak tepat sasaran. Jika lansia (karena berbagai
alasan) sudah tidak mampu lagi memahami makna dukungan
sosial, maka yang diperlukan bukan hanya dukungan sosial
namun layanan atau pemeliharaan secara sosial (social
care) sepenuhnya. Bila yang terakhir ini tidak ada
yang melaksanakan berarti lansia tersebut menjadi
terlantar dalam kehidupannya.
|
|
Pengertian
Dukungan Sosial
|
|
Manusia
sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendirian tanpa
bantuan orang lain. Kebutuhan fisik (sandang, pangan,
papan), kebutuhan sosial (pergaulan, pengakuan, sekolah,
pekerjaan) dan kebutuhan psikis termasuk rasa ingin tahu,
rasa aman, perasaan religiusitas, tidak mungkin
terpenuhi tanpa bantuan
orang lain. Apalagi jika orang tersebut sedang
menghadapi masalah, baik ringan maupun berat. Pada
saat-saat seperti itu seseorang akan mencari dukungan
sosial dari orang-orang di sekitarnya, sehingga dirinya
merasa dihargai, diperhatikan dan di cintai. Contoh
nyata yang paling sering kita lihat dan alami adalah
bila ada seseorang yang sakit dan terpaksa dirawat di
rumah sakit, maka sanak saudara ataupun teman-teman
biasanya datang berkunjung. Dengan kunjungan tersebut
maka orang yang sakit tentu merasa mendapat dukungan
sosial.
Dukungan
sosial (social support) didefenisikan oleh oleh
Gottlieb (1983) sebagai informasi verbal atau
non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkahlaku
yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek
di dalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran
dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional
atau berpengaruh pada tingkahlaku penerimanya. Dalam hal
ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial,
secara emosional merasa lega karena diperhatikan,
mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya.
Pendapat senada dikemukakan juga oleh Sarason (1983)
yang mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan,
kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi
kita. Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Cobb
yang mendefinisikan dukungan sosial sebagai adanya
kenyamanan, perhatian, penghargaan atau menolong orang
dengan sikap menerima kondisinya, dukungan sosial
tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok.
Sarason (1983) berpendapat bahwa dukungan sosial itu
selalu mencakup dua hal yaitu:
-
Jumlah
sumber dukungan sosial yang tersedia; merupakan
persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat
diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan
berdasarkan kuantitas).
-
Tingkatan
kepuasan akan dukungan sosial yang diterima;
berkaitan dengan persepsi individu bahwa
kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan
kualitas)
Hal
di atas penting dipahami oleh individu yang ingin
memberikan dukungan sosial, karena menyangkut persepsi
tentang keberadaan (availability) dan ketepatan (adequacy)
dukungan sosial bagi seseorang. Dukungan sosial bukan
sekedar memberikan bantuan, tetapi yang penting
adalah bagaimana persepsi si penerima terhadap makna
dari bantuan itu. Hal itu erat hubungannya dengan
ketepatan dukungan sosial yang
diberikan, dalam arti bahwa orang yang menerima
sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya, karena
sesuatu yang aktual dan memberikan kepuasan.
Dari
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
dukungan sosial merupakan bantuan atau dukungan yang
diterima individu dari orang-orang tertentu dalam
kehidupannya dan berada dalam lingkungan sosial tertentu
yang membuat si penerima merasa diperhatikan,
dihargai dan dicintai. Orang yang menerima dukungan
sosial memahami makna dukungan sosial yang diberikan
oleh orang lain.
|
|
Sumber-Sumber
Dukungan Sosial
|
|
Sumber-sumber
dukungan sosial banyak diperoleh individu dari
lingkungan sekitarnya. Namun perlu diketahui seberapa
banyak sumber dukungan sosial ini efektif bagi individu
yang memerlukan. Sumber dukungan sosial merupakan aspek
paling penting untuk diketahui dan dipahami. Dengan
pengetahuan dan pemahaman tersebut, seseorang akan tahu
kepada siapa ia akan mendapatkan dukungan sosial sesuai
dengan situasi dan keinginannya yang spesifik, sehingga
dukungan sosial memiliki makna yang berarti bagi kedua
belah pihak.
Menurut
Rook dan Dooley (1985) ada dua sumber dukungan sosial
yaitu sumber artifisial dan sumber natural.
Dukungan sosial yang natural diterima seseorang melalui
interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan
dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, misalnya
anggota keluarga (anak,istri, suami dan kerabat), teman
dekat atau relasi. Dukungan sosial ini bersifat
non-formal. Sementara itu yang dimaksud dengan dukungan
sosial artifisial adalah dukungan sosial yang dirancang
ke dalam kebutuhan primer seseorang, misalnya dukungan
sosial akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan
sosial.
|
|
Sumber dukungan sosial yang bersifat natural
berbeda dengan sumber dukungan sosial yang bersifat
artifisial dalam sejumlah hal. Perbedaan tersebut
terletak dalam hal sebagai berikut:
|
|
a.
|
Keberadaan sumber dukungan sosial natural
bersifat apa adanya tanpa dibuat-buat sehingga lebih
mudah diperoleh dan bersifat spontan
|
|
b.
|
Sumber dukungan sosial yang natural memiliki
kesesuaian dengan norma yang berlaku tentang kapan
sesuatu harus diberikan
|
|
c.
|
Sumber dukungan sosial yang natural berakar dari
hubungan yang telah berakar lama
|
|
d.
|
Sumber dukungan sosial yang natural memiliki
keragaman dalam penyampaian dukungan sosial, mulai dari
pemberian barang-barang nyata hingga sekedar menemui
seseorang dengan menyampaikan salam
|
|
e.
|
Sumber dukungan sosial yang natural terbebas dari
beban dan label psikologis
|
|
Komponen-komponen
Dalam Dukungan Sosial
|
|
Para ahli berpendapat bahwa dukungan sosial dapat
dibagi ke dalam berbagai komponen yang berbeda-beda.
Misalnya Weiss (Cutrona dkk,1994 : 371), mengemukakan
adanya 6 (enam) komponen dukungan sosial yang disebut
sebagai “The Social Provision Scale”, dimana
masing-masing komponen dapat berdiri sendiri-sendiri ,
namun satu sama lain saling berhubungan. Adapun
komponen-komponen tersebut adalah :
|
|
|
1.
|
Kerekatan Emosional (Emotional Attachment)
|
|
|
Jenis dukungan sosial semacam ini memungkinkan
seseorang memperoleh kerekatan (kedekatan) emosional
sehingga menimbulkan rasa aman bagi yang menerima. Orang
yang menerima dukungan sosial semacam ini merasa tenteram,
aman dan damai yang ditunjukkan dengan sikap tenang dan
bahagia. Sumber dukungan sosial semacam ini yang paling
sering dan umum adalah diperoleh dari pasangan hidup, atau
anggota keluarga/teman dekat/sanak keluarga yang akrab dan
memiliki hubungan yang harmonis. Bagi lansia adanya orang
kedua yang cocok, terutama yang tidak memiliki pasangan
hidup, menjadi sangat penting untuk dapat memberi dukungan
sosial atau dukungan moral (moral support).
|
|
|
2.
|
Integrasi sosial (Social Integration)
|
|
|
Jenis dukungan sosial semacam ini memungkinkan
lansia untuk memperoleh perasaan
memiliki suatu
kelompok yang memungkinkannya untuk membagi minat,
perhatian serta melakukan kegiatan yang sifatnya rekreatif
secara bersama-sama. Sumber dukungan semacam ini
memungkinkan lansia mendapatkan rasa aman, nyaman serta
merasa memiliki dan
dimiliki dalam kelompok. Adanya kepedulian oleh masyarakat
untuk mengorganisasi lansia dan melakukan kegiatan bersama
tanpa ada pamrih akan banyak memberikan dukungan sosial.
Mereka merasa bahagia, ceria dan dapat mencurahkan segala
ganjalan yang ada pada dirinya untuk berceritera, atau
mendengarkan ceramah ringan yang sesuai dengan kebutuhan
lansia. Hal itu semua merupakan dukungan sosial yang
sangat bermanfaat bagi lansia.
|
|
|
3.
|
Adanya Pengakuan (Reanssurance of Worth)
|
|
|
Pada dukungan sosial jenis
ini lansia mendapat pengakuan
atas kemampuan dan keahliannya serta mendapat
penghargaan dari orang lain atau lembaga. Sumber dukungan
sosial semacam ini dapat berasal dari keluarga atau
lembaga/instansi atau perusahaan/organisasi dimana
sang lansia pernah bekerja. Karena jasa, kemampuan dan
keahliannya maka ia tetap mendapat perhatian dan santunan
dalam berbagai bentuk penghargaan. Uang pensiun mungkin
dapat dianggap sebagai salah satu bentuk dukungan sosial
juga, bila seseorang menerimanya dengan rasa syukur.
Bentuk lain dukungan sosial berupa pengakuan adalah
mengundang para lansia pada
setiap event / hari besar untuk berpartisipasi dalam
perayaan tersebut bersama-sama dengan para pegawai yang
masih berusia produktif. Contoh: Setiap hari besar TNI
maka para mantan pejabat yang telah pensiun /memasuki masa
lansia biasa diundang hadir dalam upacara atau pun resepsi
yang diadakan oleh Instansi tersebut.
|
|
|
4.
|
Ketergantungan yang dapat diandalkan (
Reliable Reliance)
|
|
|
Dalam dukungan sosial jenis ini, lansia mendapat
dukungan sosial berupa jaminan bahwa ada orang yang dapat
diandalkan bantuannya ketika lansia membutuhkan bantuan
tersebut. Jenis dukungan sosial jenis ini pada umum
berasal dari keluarga. Untuk lansia yang tinggal di
lembaga, misalnya pada Sasana Werdha ada petugas yang
selalu siap untuk membantu para lansia yang tinggal di
lembaga tersebut, sehingga para lansia mendapat pelayanan
yang memuaskan.
|
|
|
5.
|
Bimbingan (Guidance)
|
|
|
Dukungan sosial jenis ini adalah berupa adanya
hubungan kerja atau pun hubungan sosial yang memungkinkan
lansia mendapatkan informasi, saran, atau nasehat
yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi
permasalahan yang dihadapi. Jenis dukungan sosial jenis
ini bersumber dari guru, alim ulama, pamong dalam
masyarakat, figur yang dituakan dan juga orang tua.
|
|
|
6.
|
Kesempatan untuk mengasuh (Opportunity for
Nurturance)
|
|
|
Suatu aspek penting dalam hubungan interpersonal
akan perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Jenis dukungan
sosial ini memungkinkan lansia untuk memperoleh perasaan
bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh
kesejahteraan. Menurut Weiss (Cotuna dkk,1994), sumber
dukungan sosial ini adalah keturunan (anak-anak) dan
pasangan hidup. Itulah sebabnya sangat banyak lansia yang
merasa sedih dna kurang bahagia jika berada jauh dari
cucu-cucu atau pun anak-anaknya.
|
|
Dengan
memahami pentingnya dukungan sosial bagi lansia, kita
semua diharapkan mampu untuk memberikan partisipasi dalam
pemberian dukungan sosial sesuai dengan kebutuhan lansia.
Mulailah dengan memberikan dukungan sosial pada lansia
yang berada dekat dengan kita. Dengan pemberian dukungan
yang bermakna maka para lansia akan dapat menikmati hari
tua mereka dengan tentram dan damai yang pada
akhirnya tentu akan memberikan banyak manfaat bagi
semua anggota keluarga yang lain.(jp)
|
| |
_____________________________
|