|
|
|
Masalah
Kesehatan Jiwa Lansia
|
|
Oleh: Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
16 April 2002
|
|
Proses
menua (aging) adalah proses alami yang disertai
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial
yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu
cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan
secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada
lansia.
|
|
Masalah
kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan
yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan
Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi,
yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah
lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial,
kultural, ekonomi dan lain-lain (Depkes.RI, 1992:6)
|
|
Geriatri
adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah
kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof,
preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial
yang menyertai kehidupan lansia. Sementara Psikogeriatri
adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari
masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek
promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta
psikososial yang menyertai kehidupan lansia.
|
|
Ada 4 ciri yang dapat
dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri,
yaitu :
|
|
-
Keterbatasan
fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin
meningkatnya usia
-
Adanya
akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif
-
Lanjut
usia secara psikososial yang dinyatakan krisis
bila : a) Ketergantungan
pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang
lain), b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari
kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab,
diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah
sakit cukup berat dan lama, setelah kematian
pasangan hidup dan lain-lain.
-
Hal-hal
yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis)
sehingga membawa lansia kearah kerusakan /
kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif
terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya
bingung, panik, depresif, apatis dsb. Hal itu
biasanya bersumber dari munculnya stressor
psikososial yang paling berat, misalnya kematian
pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat,
terpaksa berurusan dengan penegak hukum, atau trauma
psikis.
|
|
Ada
beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah
disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat
menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun
beberapa faktor yang dihadapi
para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa
mereka
adalah sebagai
berikut:
|
|
-
Penurunan
Kondisi Fisik
-
Penurunan
Fungsi dan Potensi Seksual
-
Perubahan
Aspek Psikososial
-
Perubahan
yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
-
Perubahan
Dalam Peran Sosial di Masyarakat
|
|
Penurunan
Kondisi Fisik
|
|
Setelah
orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi
adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple
pathology), misalnya tenaga berkurang, enerji
menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang
makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang
yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan
secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan
gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun
sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia
agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka
perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan
kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau
harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang
bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu
mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan,
tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
|
|
Penurunan
Fungsi dan Potensi Seksual
|
|
Penurunan
fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai
gangguan fisik seperti :
|
|
-
Gangguan
jantung
-
Gangguan
metabolisme, misal diabetes millitus
-
Vaginitis
-
Baru
selesai operasi : misalnya prostatektomi
-
Kekurangan
gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu
makan sangat kurang
-
Penggunaan
obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan
steroid, tranquilizer, serta
-
Faktor
psikologis yang menyertai lansia antara lain :
|
|
-
Rasa
tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual
pada lansia
-
Sikap
keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta
diperkuat oleh tradisi dan budaya
-
Kelelahan
atau kebosanan karena kurang variasi dalam
kehidupannya
-
Pasangan
hidup telah meninggal
-
Disfungsi
seksual karena perubahan hormonal atau masalah
kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi,
pikun dsb.
|
|
Perubahan
Aspek Psikososial
|
|
Pada
umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif
meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian,
perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi
psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan
dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan,
koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang
cekatan.
|
|
Dengan
adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga
mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan
dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan
tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian
lansia (lihat artikel MemahamiTipe Kperibadian
Lansia)sebagai berikut:
|
|
-
Tipe Kepribadian Konstruktif
(Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak
banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai
sangat tua.
-
Tipe Kepribadian Mandiri
(Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami
post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak
diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi
pada dirinya
-
Tipe Kepribadian Tergantung
(Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat
dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak
bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka
pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit
dari
kedukaannya.
-
Tipe Kepribadian Bermusuhan
(Hostility
personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia
tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak
keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara
seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
-
Tipe
Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada
lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya
sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat
susah dirinya.
|
|
Perubahan
yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
|
|
Pada
umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar
para lansia dapat menikmati hari tua atau
jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering
diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan
sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran,
kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah
orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model
kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point
tiga di atas.
|
|
Bagaimana
menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental
setelah lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap
mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam
kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada
yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada
juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah).
Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak
bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif.
Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan
dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup
lansia. Agar
pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa
persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan
kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan
diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau
tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut
dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah
bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu
dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar
tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif. Untuk
merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa
lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya
memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara
berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat
banyak jenis dan macamnya. Model pelatihan hendaknya
bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya sehingga
menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan yang
selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup
menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak
membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna,
menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya.
|
|
Perubahan
Dalam Peran Sosial di Masyarakat
|
|
Akibat
berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak
fisik dan sebagainya maka muncul gangguan
fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya
badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,
penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan
selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak
untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang
terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis,
mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna
serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain
sehingga perilakunya seperti anak kecil.
|
|
Dalam
menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya
lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya
ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga
seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat
umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh
kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak
punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya
anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup
dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar.
Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat
untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping
sebagai long stay rehabilitation yang tetap memelihara
kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan
sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan
dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik
dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai
seorang lansia.
(jp)
|
| |
_____________________________
|
|