|
|
|
Mengenal
Gangguan Jiwa Pada lansia
|
|
Oleh: Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
14 Mei 2002
|
|
|
Skizofrenia
|
|
|
Gangguan jiwa skizofrenia merupakan
gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami
manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat
ketika muncul pada lanjut
usia (lansia) karena menyangkut
perubahan pada segi fisik, psikologis dan
sosial-budaya. Skizofrenia pada lansia angka
prevalensinya sekitar
1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep.Kes.1992)
|
|
|
Banyak
pembahasan yang telah dikeluarkan para ahli sehubungan
dengan timbulnya skizofrenia pada lanjut usia (lansia).
Hal itu bersumber dari kenyataan yang terjadi pada
lansia bahwa terdapat hubungan yang erat antara gangguan
parafrenia, paranoid dan skizofrenia. Parafrenia lambat (late
paraphrenia) digunakan oleh para ahli di Eropa untuk
pasien-pasien yang memiliki gejala paranoid tanpa gejala
demensia atau delirium serta terdapat gejala waham dan
halusinasi yang berbeda dari gangguan afektif.
|
|
|
Gangguan
skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh
gangguan pada alam pikiran sehingga pasien memiliki
pikiran yang kacau. Hal tersebut juga menyebabkan
gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya
cemas, bingung, mudah marah, mudah salah faham dan
sebagainya. Terjadi juga gangguan perilaku, yang
disertai halusinasi, waham dan gangguan kemampuan dalam
menilai realita, sehingga penderita menjadi tak tahu
waktu, tempat maupun orang.
|
|
|
Ganguan skizofrenia berawal dengan keluhan
halusinasi dan waham kejaran yang khas seperti mendengar
pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras, atau
mendengar dua orang atau lebih memperbincangkan diri si
penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga. Dalam
kasus ini sangat perlu dilakukan pemeriksaan tinggkat
kesadaran pasien (penderita), melalui pemeriksaan
psikiatrik maupun pemeriksaan lain yang diperlukan. Karena banyaknya
gangguan paranoid pada lanjut usia (lansia) maka banyak
ahli beranggapan bahwa kondisi tersebut termasuk dalam
kondisi psikosis fungsional dan sering juga digolongkan
menjadi senile psikosis.
|
|
|
Parafrenia merupkan gangguan jiwa yang
gawat yang pertama kali timbul pada lanjut usia (lansia),
(misalnya pada waktu menopause pada wanita). Gangguan
ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia
paranoid di satu pihak dan gangguan depresif di pihak
lain. Lebih sering terjadi pada wanita dengan
kepribadian pramorbidnya (keadaan sebelum sakit) dengan
ciri-ciri paranoid (curiga, bermusuhan) dan skizoid (aneh,
bizar). Mereka biasanya tidak menikah atau hidup
perkawinan dan sexual yang kurang bahagia, jika punya
sedikit itupun sulit mengasuhnya sehingga anaknyapun tak
bahagia dan biasanya secara khronik terdapat gangguan
pendengaran. Umumnya banyak terjadi pada wanita dari
kelas sosial rendah atau lebih rendah.
|
|
|
Gangguan skizofrenia sebenarnya dapat
dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
-
Skizofrenia paranoid (curiga, bermusuhan,
garang dsb)
-
Skizofrenia katatonik (seperti patung,
tidak mau makan, tidak mau minum, dsb)
-
Skizofrenia hebefrenik (seperti anak kecil,
merengek-rengek, minta-minta, dsb)
-
Skizofrenia simplek (seperti gelandangan,
jalan terus, kluyuran)
-
Skizofrenia Latent (autustik, seperti
gembel)
|
|
|
Pada umumya, gangguan skizof
renia yang terjadi pada lansia adalah skizofrenia
paranoid, simplek dan latent. Sulitnya dalam
pelayanan keluarga, para lansia dengan gangguan kejiwaan
tersebut menjadi kurang terurus karena perangainya dan
tingkahlakunya yang tidak menyenangkan orang lain,
seperti curiga berlebihan, galak, bersikap bermusuhan,
dan kadang-kadang baik pria maupun wanita perilaku
seksualnya sangat menonjol walaupun dalam bentuk
perkataan yang konotasinya jorok dan porno (walaupun
tidak selalu).
|
|
|
Gangguan
Jiwa Afektif
|
|
|
Gangguan
jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan
adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku
diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. Gangguan
afektif ini antara lain:
|
|
|
Gangguan
Afektif tipe Depresif
Gangguan
ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. Faktor
penyebabnya dapat disebabkan oleh kehilangan atau
kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat
dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau
lama mengalami penderitaan.
Gangguan
ini paling banyak dijumpai pada usia pertengahan, pada
umur 40 – 50 tahun dan kondisinya makin buruk pada
lanjut usia (lansia). Pada usia perttangahan tersebut
prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki, akan
tetapi diatas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang.
Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa
menopause, yang berarti fungsi seksual mengalami
penurunan karena sudah tidak produktif lagi, walaupun
sebenarnya tidak harus begitu, karena kebutuhan
biologis sebenarnya selama orang masih sehat dan masih
memerlukan tidak ada salahnya bila dijalankan terus
secara wajar dan teratur tanpa menggangu kesehatannya.
Gejala
gangguan afektif tipe depresif adalah sedih, sukar
tidur, sulit berkonsentrasi, merasa dirinya tak
berharga, bosan hidup dan kadang-kadang
ingin bunuh diri. Beberapa pandangan menganggap
bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe
Neurotik dan Psikotik. Pada tipe neurotik kesadaran
pasien tetap baik, namun memiliki dorongan yang kuat
untuk sedih dan tersisih. Pada depresi psikotik,
kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas
(reality testing ability) ikut terganggu dan
berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat
mengenali orang, tempat, maupun waktu atau menjadi
seseorang yang tak tahu malu, tak ada rasa takut, dsb.
Gangguan
Afektif tipe Manik
Gangguan
ini sering timbul secara bergantian pada pasien yang
mengalami gangguan afektif tipe depresi sehingga
terjadi suatu siklus yang disebut gangguan afektif
tipe Manik Depresif. Dalam keadaan Manik, pasien
menunjukkan keadaan gembira yang tinggi, cenderung
berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu
yang melampaui batas kemampuannya, pembicaraan menjadi
tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak.
Kondisi ini lebih jarang terjadi dari pada tipe
depresi. Kondisi semacam ini kadang-kadang silih
berganti, suatu ketika pasien menjadi eforia, aktif,
riang gembira, pidato berapi-api, marah-marah, namun
tak lama kemudia menjadi sedih, murung, menangis
tersedu-sedu yang sulit dimengerti.
|
|
|
Neurosis
|
|
|
Gangguan
neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia).
Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut
usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan.
Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa
mudanya, sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang
didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia).
Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan
erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap
lanjut usia (lansia).
|
|
|
Gangguan ini ditandai oleh kecemasan
sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta
daya menilai realitasnya yang baik. Kepribadiannya tetap
utuh, secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik,
namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional.
Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa dilakukan
oleh orang normal sehari 2 kali, namun bagi orang
neurosis obsesive untuk mandi, ia akan mandi berkali-kali
dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas
untuk mandi.
|
|
|
Secara umum gangguan neurosis dapat
dikategorikan sebagai berikut:
|
|
|
-
Neurosis
cemas dan panik
-
Neurosis
obsesif kompulsif
-
Neurosis
fobik
-
Neurosis
histerik (konversi)
-
Gangguan
somatoform
-
Hipokondriasis.
Pasien
dengan keadaan ini sering mengeluh bahwa dirinya
sakit, serta tidak dapat diobati. Keluhannya sering
menyangkut alat tubuh seperti alat pencernaan,
jantung dan pembuluh darah, alat kemih/kelamin, dan
lainnya. Pada lansia yang menderita hipokondriasis
penyakit yang menjadi keluhannya sering
berganti-ganti, bila satu keluhannya diobati yang
mungkin segera hilang, ia mengeluh sakit yang lain.
Kondisi ini jika dituruti terus maka ia akan
terus-menerus minta diperiksa dokter; belum habis
obat untuk penyakit yang satu sudah minta diperiksa
dokter untuk penyakit yang lain.
-
Gangguan
disosiatif
-
Gangguan
depersonalisasi
-
Gangguan
distimik
-
Gangguan
stres pasca trauma. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|