|
|
 |
|
|
Depresi Pada Penderita Stroke
|
|
Oleh: Nasrullah
Idris **
|
|
|
Jakarta,
5 Agustus 2004
|
| |
Stroke itu timbul akibat
tersumbatnya peredaran darah pada otak dengan gejala
spontan. Stroke merupakan ancaman sumber cacat setelah
usia 45 tahun. Sebagai akibatnya, banyak penderita yang
menjadi invalid alias tidak mampu lagi mandiri.
Seperti diketahui, otak itu
membutuhkan banyak oksigen yang kira-kira sekitar 18%
dari stok melalui peredaran darah. Tanpa oksigen, fungsi
peredaran darah jadi tidak berguna. Karena tidak
mempunyai cadangan, otak hanya mengandalkan oksigen pada
peredaran darah tiap detik. Jika suplai oksigen terhenti
sampai 10 detik, misalnya, akan terjadi radang fungsi
otak. Jika terjadi lebih lama lagi bisa menimbulkan
pusing, pingsan, sampai lumpuh.
Stroke terkadang bisa terjadi lagi
pada penderita dengan kondisi yang lebih parah. Ini
umumnya terjadi pada penderita yang kurang kontrol.
Karena cepat puas, misalnya, merasa tidak perlu lagi
memeriksakan diri. Jika stroke berulang, berarti
pendarahan di otak jadi lebih luas.
Cukup banyak gejala stroke,
tergantung di mana lokasi pecahnya pembuluh darah pada
otak. Antara lain gangguan : *) Gerak: yang ringan,
misalkan, tidak bisa mengambil gelas, menggosok gigi,
dan menyelipkan kancing, dengan sempurna. Yang berat
disebut juga lumpuh total, yang bisa menimpa tiap organ
gerak, termasuk bibir, wajah, dan mata. *) Rasa : pada
sebelah anggota badan, yang jika dibarengi lumpuh akan
dirasakan pada sisi ini. Tingkat rasa dari yang ringan (semutan)
sampai yang berat (baal). Kalau pun bisa berdiri, namun
jika menginjak lantai terkadang seperti berada di
awang-awang. *) Sadar: dari ringan (mudah ngantuk)
sampai berat (seperti koma). Terkadang pihak keluarga
cepat memvonis penderita akan segera meninggal sehingga
mereka tidak/kurang semangat lagi merawat atau
mengatasinya. Apalagi jika sudah manula sampai mereka
seperti putus asa - meskipun tidak diucapkan dengan
terus-terang. *) Verbal: baik karena organ bicara yang
rusak maupun daya ingat yang turun. Misalkan dalam
bentuk tidak bisa : mengeluarkan kata dan menangkap arti.
Ini benar-benar akan menimbulkan depresi bagi penderita
dengan latar belakang karir, seperti hakim, guru, dan
orator, singkatnya yang mengandalkan mulut sebagai
sarana karir.
Stroke kini tambah populer saja,
sejalan sejalan dengan jumlah penderitanya yang tambah
banyak, yang antara lain akibat mutu stres yang tambah
tinggi dan dampak sarana hidup yang tambah moderen.
Stroke tidak saja menyerang orang yang sering atau
sedang sakit, juga orang yang sedang dalam kondisi
puncak. Sudah berapa banyak orang yang tiba-tiba
badannya merasa lemas, matanya buram, dan bicaranya pelo,
yang akhirnya lumpuh. Padahal sebelumnya tidak merasakan
gejala itu sedikit pun. Malah antara lain termasuk yang
rajin sport. Dari aspek "sumber daya manusia"
pun sudah dianggap bencana pembangunan. Karena potensi
yang besar pada mereka jadi terhenti atau terbengkalai.
Bisa dibayangkan jika stroke
menyerang teknokrat yang memimpin, sekaligus sebagai
arsitek dan manajer, perusahaan makrodengan melibatkan
ribuan karyawan? Tentu saja akan menimbulkan krisis
manajemen. Terlepas, apakah stroke pada penderita akan
"permanen atau sementara", yang jelas telah
mempengaruhi iklim perusahaannya. Jadi, dampak stroke
bukan saja pada penderitanya, namun juga pada mereka
yang mengandalkan atau berkepentingan dengan penderita.
|
|
|
Depresi
Pada Penderita Stroke
|
|
|
Umumnya stroke berlanjut dengan
depresi. Artinya, para penderita sadar, kondisinya sudah
lain untuk melakukan ini dan itu secara rutin, seperti
makan harus disuapi, jalan jadi lambat, dan mandi harus
dibantu. Karena faktor mental, mereka jadi depresi :
sering menangis dan suka melamun. Ini tambah terasa bagi
mereka yang mempunyai posisi cukup tinggi dalam karir
atau sedang naik daun sebagai idola publik. Tiap kerabat
yang datang besuk disambutnya dengan menangis. Penderita
seperti bertanya, mengapa hal ini sampai terjadi. Malah
ada yang ketus bilang mau segera mati saja, karena sudah
tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut.
Situasi ini memang berat serta
memakan waktu lama. Usaha merehabilitasi sampai
menyembuhkannya tidak kalah susah dengan "terapi
medis". Seperti di Belanda-Australia, misalnya,
psikolog sudah dilibatkan langsung bersama para dokter.
Melewatkan masalah depresi, hanya
akan membuat penderita bertambah parah serta bertambah
susah pula untuk merehablitasinya, apalagi
menyembuhkannya. Soalnya depresi sangat erat dengan
tenaga. Artinya, orang depresi akan membuat banyak
tenaga / energi psikis terkuras.
Jadi, sebagai anggota keluarga
janganlah hanya menasihati, namun mereka lebih
membutuhkan tindak lanjut berupa "terapi psikis"
secara bertahap, bervariasi, dan berjenjang, sesuai
dengan kondisi, latar belakang, dan emosinya. Antusias
yang optimal sangat diharapkan dari mereka yang
mempunyai ikatan persaudaraan atau pun ikatan emosional
dengannya.
Yang penting, dalam usaha tesebut
adalah bahwa penderita melakukan langkah-langkah seperti:
1.
Kesempatan
untuk mengekspresikan perasaannya untukditanggapi dengan wajar dan serius.
2.
Pengobatan
yang bisa memberikannya motivasi dalam membangun kembali
sikap optimis mereka yang goyah. Kita perlu melenyapkan
kesan, bahwa mereka tidak lagi berguna bagi masyarakat
dan keluarga.
3.
Pergaulan,
dalam rangka membangun kembali sosialnya. Misalkan
berdialog dengan teman-temannya, agar timbul sikap
sependeritaan, sekaligus timbul kesan bahwa bukan dia
saja yang terkena stroke dan yang mengalami
ketidakberdayaan.
4.
Kesempatan
berkomunikasi dengan pihak yang terkait serta bisa
memonitor perkembangannya, seperti dokter dan psikolog.
5.
Ketenangan hati, berupa
jaminan bahwa semua keluhannya akan dirahasiakan,
sehingga ia tidak perlu merasa cemas dan malu
|
|
|
Dukungan
Psikologis Dari Keluarga
|
| |
Banyak
penderita yang mengalami kesulitan dalam berbicara
ketika mereka recover from stroke. Peranan
keluarga jelas sangat diharapkan selain semangat dari
penderita itu sendiri untuk proses merehabilitasi fungsi
bicaranya dan senso-motoriknya. Oleh karena proses ini
memerlukan waktu relatif lama, maka perlu pengertian dan
kesabaran yang dalam dari semua pihak. Yang
jelas, setiap saat penderita harus diajak bicara dan
berinteraksi. Ini diawali dengan sering menanyakan
keinginan yang menimbulkan jawaban "singkat".
Secara psikologis, motivasi yang sangat kuat pada
penderita untuk mengekspresikan sesuatu, akan mendorong
kemampuannya berbicara dan bergerak/bertindak. Pada
umumnya, penderita cenderung lebih bersemangat menjalani
proses terapi, saat kondisi mereka sedang fit.
Proses
ini cenderung lebih efektif, jika secara langsung
dilakukan anggota keluarganya, seperti anak-cucu. Sebab
bagaimana pun, bobot kualitas komunikasi dan interaksi
semacam itu susah digantikan 100% oleh pihak lain.
Apalagi jika keluarga berkeinginan yang kuat untuk
merehabilitasi fungsi bicara dan senso-motoriknya. Kata
pakar orthopedi, dengan sikap tersebut, rehabilitasi
sudah terjamin dengan prosentase besar.
Banyak
faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses
rehabilitasi. Di antaranya : frekwensi interaksi dan
terapi, tekanan yang dialami (emotional pressure /
situational pressure); dan, manifestasi dari recovery-nya
pun beragam ekspresi dan modelnya. Jika tampak
penambahan jumlah verbal yang bisa diucapkannya atau pun
gerakan yang mampu dihasilkannya, kita perlu menampakkan
ekspresi gembira sebagai sebuah penguat (reinforcement);
sebab, ini akan tambah meyakinkannya bahwa proses terapi,
dilakukan dengan tulus hati oleh keluarganya. Masalahnya,
jika proses terapi dilakukan secara keras, dengan sikap
dan ekspresi negatif dari lingkungan keluarga yang
seharusnya mampu bersikap sabar dan penuh pengertian,
maka sudah dapat diprediksikan, bahwa penderita akan
mudah patah semangat dan jatuh dalam depresi.
|
| |
**Penulis
adalah peneliti dan praktisi bidang Sains Matematika dan
Teknologi
_____________________________
|
|