|
|
|
Memahami
Mitos & Realita Tentang Lansia
|
|
Oleh Drs.
H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi.
|
|
Jakarta,
2 April 2002
|
|
Dalam
masyarakat kita, sering dijumpai pengertian dan
mitos yang salah kaprah mengenai lansia, sehingga banyak
merugikan para lansia. Salah kaprah tersebut adalah
anggapan dan pandangan yang keliru namun tetap diucapkan
dan dipraktekkan secara keliru pula, sehingga sangat
merugikan. Dalam hal ini yang dirugikan adalah para
lanjut usia, karena dapat merupakan stigma (cap
buruk) dari masyarakat dan dapat mempengaruhi
orang-orang yang sesungguhnya memiliki kepedulian untuk
membantu para lansia. Salah kaprah yang seringkali kita
jumpai dalam masyarakat mencakup beberapa hal sebagai
berikut:
|
|
-
Lansia
berbeda dengan orang lain
-
Lansia
tidak dapat belajar keterampilan baru serta tidak
perlu pendidikan dan latihan
-
Lansia
sukar memahami informasi baru
-
Lansia
tidak produktif dan menjadi beban masyarakat
-
Lansia
tidak berdaya
-
Lansia
tidak dapat mengambil keputusan
-
Lansia
tidak butuh cinta dan tidak perlu relasi seksual
-
Lansia
tidak menikmati kehidupan sehingga tidak dapat
bergembira
-
Lansia
itu lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat
-
Lansia
menghabiskan uang untuk berobat
-
Lansia
sama dengan pikun
|
|
Dalam
masyarakat kita selaku orang timur dengan budaya
kekeluargaan yang sangat kental; anak, cucu dan sanak
saudara dari para lansia pada umumnya sangat tidak
keberatan untuk menerima kehadiran dan keberadaan lansia
di dalam keluarganya. Namun demikian adanya pandangan
yang keliru seperti tersebut diatas tak urung bisa
mempengaruhi anggota keluarga dalam memperlakukan para
lansia. Hal inilah yang perlu diperjelas supaya salah
kaprah tersebut tidak terjadi berkepanjangan dan perlu
dicari cara untuk mensosialisasikan
pengertian dan pemahaman yang benar sehingga
lansia memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai
dengan
kondisi, usia, jenis kelamin dan status sosial
mereka dalam masyarakat. Salah satu cara mengurangi
salah kaprah dan tindakan yang keliru sehingga dapat
memahami lansia secara benar adalah dengan melihat
realita yang ada.
|
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia
Berbeda Dengan Orang Lain
|
|
|
|
Orang
yang mencapai tahap perjalanan hidup sampai mencapai
lanjut usia dapat dikatakan sebagai orang yang beruntung.
Mereka telah mengenyam kehidupan dalam masa yang panjang.
Di Indonesia pemerintah dan lembaga-lembaga pengelola
lansia, memberi patokan bahwa mereka yang disebut lansia
adalah yang telah mencapai usia 60 tahun yang dinyatakan
dengan pemberian KTP seumur hidup. Namun di negara maju
diberi patokan yang lebih spesifik: 65 - 75 tahun
disebut old, 76 – 90 tahun disebut old –
old dan 90 tahun ke atas disebut very old (W.M.Roan,
1990). Pengelompokan tersebut bersifat teoritik
artinya untuk kepentingan ilmiah namun dalam kenyataan
untuk pelayanan kesehatan, sosial dan sebagainya tidak
dibedakan.
Meskipun lansia
seringkali mendapat prioritas dan fasilitas; misalnya
kalau naik pesawat dapat potongan
khusus, beberapa tempat wisata memberi karcis
gratis bagi pengunjung lansia, di bandara atau stasiun
Kereta Api disediakan loket/jalan khusus bagi lansia,
hal itu bukan dimaksudkan untuk membedakan lansia dengan
orang lain tetapi lebih bertujuan untuk membantu
kelancaran pelayanan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
mereka.
|
|
|
|
Bahwa
para lansia tersebut harus dihormati tentu kita semua
setuju. Sebagai orang timur orang yang lebih tua (baca:
berusia lanjut) memang mendapat kehormatan yang lebih
dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Dalam adat Jawa
lansia sebagai pinisepuh atau sesepuh yaitu
orang yang memiliki kehormatan yang tinggi dan bila ada
hajatan ditempatkan di tempat yang istimewa.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia
Tidak Dapat Mempelajari Ketrampilan Baru dan Tidak
Memerlukan Pendidikan dan Latihan
|
|
|
|
Kenyataan
di masyarakat terutama di Perguruan Tinggi banyak lansia
yang dapat menyelesaikan studinya sampai jenjang S-2
atau S-3, berkompetisi dengan orang-orang muda secara
jujur dan objektif. Bahkan dalam proses belajar bersama
para lansia tersebut justru sering menjadi teladan yang
memberikan motivasi yang tinggi bagi kawan-kawannya yang
lebih muda. Hal itu menunjukkan bahwa lansia dapat
mempelajari ketrampilan baru sama baiknya dengan orang
lain, hanya mungkin karena lama tidak berlatih dan
kadang-kadang kurang memiliki keyakinan akan
kemampuannya sehingga butuh dorongan dari orang lain.
Bagi lansia dorongan dan keinginan mempelajari
pengetahuan dan keterampilan baru merupakan suatu hal
yang biasa, baik dengan motivasi untuk meningkatkan mutu
kehidupannya maupun mengisi waktu luangnya agar lebih
produktif dan berguna. Semakin banyak pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki lansia makin banyak pula
hal-hal yang dapat disumbangkan kepada masyarakat. Hal
ini menunjukkan bahwa lansia merupakan sumber ilmu
pengetahuan dan keterampilan serta referensi yang sangat
baik dan berharga, sehingga perlu dipelihara. Cara
memeliharanya adalah dengan mengajak mereka untuk
berdiskusi, berkonsultasi, bertanya serta menempatkan
lansia sebagai nara sumber dalam berbagai bidang yang
disenangi dan dimiliki.
|
|
Berdasarkan
kenyataan di atas adalah keliru bila lansia itu dianggap
tidak dapat mempelajari pengetahuan dan keterampilan
baru. Sebaliknya, mereka justru memiliki sumber enerji
yang tetap kuat untuk belajar, meski perlu motivator
untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya mampu. Pandangan
yang keliru pula yang mengatakan bahwa lansia itu jompo,
rapuh, tidak perlu belajar dan berlatih, dan tidak perlu
bekerja, sehingga dianjurkan untuk istirahat, enak-enak,
ongkang-ongkang kaki saja di rumah. Jika pandangan
tersebut dipraktekkan maka justru mungkin hal semacam
itulah yang akan menimbulkan stress dan distress
serta dispair (putus harapan) pada lansia.
Merupakan suatu
tindakan yang bijaksana jika para anggota keluarga tetap
memberikan kesempatan pada lansia untuk melakukan
kegiatan apa saja yang disukainya sehingga tetap menjaga
harga diri, martabatnya serta merasa dirinya berguna
untuk yang lain. Agar
lansia tetap eksis dalam keluarga dan masyarakat maka
perlu pendidikan dan latihan dalam arti menyesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan pribadinya serta tuntutan
lingkungan.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia
Sukar Menerima Informasi Baru
|
|
|
|
Pada
lansia kesempatan untuk memperoleh informasi baru justru
terbuka lebar, karena waktu senggangnya relatif banyak.
Umumnya pada masa ini tidak dituntut untuk bekerja keras
seperti masa-masa sebelumnya. Dalam kehidupan lansia
umumnya haus akan berita-berita baru dan
informasi-informasi baru, karena mereka tidak mau
ketinggalan informasi dibandingkan orang-orang yang
lebih muda. Dalam kenyataan kita menjumpai bahwa mereka
banyak nonton televisi, mendengarkan radio, membaca
koran, majalah ataupun bertanya kepada sesama lansia
atau orang yang lebih muda tentang tentang hal-hal baru
yang berkembang dalam masyarakat. Dalam kenyataan lansia
lebih tahu berita baru dari orang-orang lain dan sangat
senang menyampaikan berita baru tersebut kepada
kawan-kawannya, maupun kepada yang lebih muda. Bagi
lansia adanya informasi baru berarti menstimulasi fungsi
kognitifnya, fungsi afektifnya dan fungsi
psikomotoriknya yang membuat syaraf-syaraf otaknya tetap
berfungsi secara normal.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia
Tidak Produktif dan Menjadi Beban Masyarakat
|
|
|
|
Umumnya
lansia di negara-negara berkembang dan negara-negara yang
belum memiliki tunjangan sosial untuk hari tua, akan tetap
bekerja untuk memenuhi tuntutan hidup maupun mencukupi
kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya. Jadi
tidaklah sepenuhnya benar jika dikatakan lansia tidak
produktif. Dalam kenyataan di dunia ini jutaan orang
bekerja mendapat bayaran, namun ada juga jutaan orang
bekerja tanpa mendapat bayaran misalnya pemuka masyarakat,
ulama, guru-guru ngaji, mereka yang merawat anak-anak,
orang sakit, orang cacat, lansia yang sudah sangat tua,
guru sukarelawan dan banyak lagi. Baik yang dibayar maupun
yang tidak semuanya memiliki andil dan sumbangan yang
besar dalam perkembangan masyarakat. Biasanya para lansia
memainkan perannya sebagai orang-orang yang bekerja tanpa
mendapat bayaran namun memiliki arti yang sangat penting
dalam masyarakat karena sumbangan ide-ide dan nasehatnya.
Dalam proses penuaan sendiri mereka sering menemukan
cara-cara yang tepat dan bijaksana dalam mengatasi
tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan jika dalam banyak kasus, lansia seringkali
merupakan penasehat yang jitu untuk mengatasi
masalah-masalah sosial dalam kehidupan masyarakat.
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa lansia amat
memerlukan dukungan atau support dari lingkungan
keluarga dan masyarakat. Lansia
bukan merupakan beban bagi yang muda, sebaliknya mereka
sering menjadi teladan bagi orang muda, misalnya dalam
sopan santun, disiplin, keteguhan iman, kejujuran,
semangat juang, maupun kewibawaan.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia
Tidak Berdaya
|
|
|
|
Tidak
benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia itu tidak
berdaya, sebab dalam kenyataan para lansia tetap eksis
dan terus berjuang mencari kehidupan yang lebih baik.
Kalau seorang lansia memerlukan bantuan biasanya ia tahu
persis apa yang diperlukan secara wajar. Mereka memiliki
banyak pengalaman dalam kehidupannya, sehingga dalam
keseharian kita sering menjumpai bahwa lansia tidak mau
tinggal diam, ada saja yang ingin dikerjakannya.
Terkadang memang ada yang menjadi loyo atau pasrah,
mereka ini umumnya lansia yang pada masa mudanya sudah
terkuras oleh tugas-tugas berat dan tingkat pendidikan
yang relatif rendah, sehingga dalam masa lansia tidak
berdaya. Untuk menghadapi lansia model demikian,
lingkungan hendaknya selalu memberikan support dan rasa
peduli, agar mereka tidak merasa tersisih dan tetap
memiliki harga diri. Adalah keliru jika anggota keluarga
selalu mendampingi lansia, melarang mereka untuk
berkomunikasi dengan sesama lansia, melarang mereka
bepergian ke suatu tempat karena takut kecapaian, dan
menganjurkan lansia untuk istirahat saja di rumah. Cara
demikian justru akan memperburuk kondisi lansia yang
berakibat bahwa mereka akhirnya merasa tak berdaya.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia Tidak Dapat Mengambil Keputusan Untuk Kehidupan Dirinya
|
|
|
|
Setiap
orang kadang-kadang sulit mengambil keputusan. Hal ini
berlaku bagi siapa saja, baik bagi orang muda atau lansia.
Namun demikian tidaklah berarti bahwa lansia tidak dapat
mengambil keputusan untuk kehidupannya sendiri. Bahkan
lansia sebagai orang yang dihormati, justru sering
dijadikan referensi untuk dimintai nasehatnya oleh anak,
cucu maupun sanak saudara, dalam mengambil keputusan.
Sebagai contoh seorang anak atau cucu bila masih memiliki
kakek- nenek, bila akan mengadakan hajatan akan selalu
minta doa restu dan nesehat dalam mengambil keputusan
penting. Nasehat dari orang tua yang sudah lanjut usia ini
akan dipegang teguh dan dilaksanakan oleh anak cucunya.
Hal yang perlu diperhatikan agar lansia mampu mengambil
keputusan untuk kepentingan kehidupan dirinya adalah
dengan cara sering mengajaknya berdiskusi tentang hal-hal
baru dan sering meminta petunjuk atau petuahnya sehingga
ia merasa tetap eksis dan memiliki rasa percaya diri.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia Tidak Butuh Cinta dan
Relasi Seksual
|
|
|
|
Fungsi
psikis setiap orang baik fungsi kognitif, afektif dan
konatif (psikomotorik) serta kombinasi-kombinasinya,
selama hayat masih dikandung badan masih tetap berfungsi.
Proses pikir, perasaan dan kemauannya tetap berfungsi
dengan baik, apalagi bila sering mendapat stimulasi secara
teratur dalam kehidupannya. Bahkan relasi seksualpun tetap
berjalan bila masih memiliki pasangan. Oleh karena itu,
adalah tindakan yang keliru jika lansia dianjurkan untuk
meng-isolasi diri agar tidak memiliki pikiran yang
menyusahkan dirinya ataupun keinginan-keinginan yang
menyusahkan orang lain. Agar
gairah hidup tetap berkobar lansia perlu berinteraksi
dengan orang-orang muda untuk berdiskusi, berkomunikasi
atau bersuka ria. Sayangnya seringkali orang muda tidak
tertarik untuk melakukan hal itu. Namun demikian bila
orang-orang muda memiliki pemahaman yang benar tentang
kebutuhan lansia dan mau membantu kesejahteraan batin
mereka; hendaknya yang muda (terutama anggota keluarga)
mau beramal untuk kepentingan lansia.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia Tidak Menikmati
Kehidupan Sehingga Tidak dapat Bergembira
|
|
|
|
Pada
dasarnya tidak ada orang di dunia ini berencara untuk
berhenti bersenang-senang, kecuali orang tersebut berada
dalam kondisi depresi atau distress. Semua
orang ingin hidup senang, bahagia dan sejahtera, termasuk
para lansia. Lansia sekarang ini justru mendambakan
kenikmatan hidup di hari tua. Itulah sebabnya sejak muda
orang sudah bekerja keras, agar di hari tua nanti mendapat
pensiun ataupun tabungan yang cukup untuk menikmati masa
tuanya. Harapan itu merupakan idaman setiap orang,
sehingga termotivasi untuk belajar dari sekolah dasar
sampai perguruan tinggi bahkan sekarang semua berlomba
untuk belajar sampai S-3. Kiranya usaha keras untuk
mencari ilmu pengetahuan bertujuan untuk mendapatkan
pekerjaan yang mapan, sehingga nantinya memiliki hari tua
yang sejahtera, dapat menikmati hidup hari tua dan bahagia
atau menjadi lansia yang dapat bergembira.
|
|
Agar
lansia dapat menikmati kehidupan di hari tua sehingga
dapat bergembira atau merasa bahagia, diperlukan dukungan
dari orang-orang yang dekat dengan mereka. Dukungan
tersebut bertujuan agar lansia tetap dapat menjalankan
kegiatan sehari-hari secara teratur dan tidak berlebihan.
Dukungan dari keluarga terdekat dapat saja berupa anjuran
yang bersifat mengingatkan si lansia untuk tidak bekerja
secara berlebihan (jika lansia masih bekerja), memberikan
kesempatan kepada lansia untuk melakukan aktivitas yang
menjadi hobinya, memberi kesempatan kepada lansia untuk
menjalankan ibadah dengan baik, dan memberikan waktu
istirahat yang cukup kepadanya sehingga lansia tidak mudah
stress dan cemas. Perlu dipahami bahwa setelah orang
mencapai masa lansia, baik fisik maupun mental sosial
secara perlahan mengalami perubahan, namun hal itu dapat
ditahan agar perubahan tersebut tidak terlalu dirasakan
sebagai penghambat dalam kehidupan. Perubahan-perubahan
yang terjadi hendaknya jangan dijadikan sumber stress
tetapi perlu diwaspadai dengan
melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik.
Kalau orang percaya bahwa dirinya sehat, maka ia akan
memiliki gairah hidup yang baik dan tidak menunjukkan rasa
khawatir yang berlebihan.
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia Lemah, Jompo, Ringkih, Sakit-sakitan atau Cacat
|
|
|
|
Tidaklah
sepenuhnya benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia
lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat, karena
dalam kenyataan banyak lansia yang masih gagah, masih
mampu bekerja keras bahkan banyak yang masih memiliki
jabatan penting dalam suatu lembaga. Memang kadang-kadang
ada lansia yang ringkih (gampang jatuh, gampang sakit)
atau sakit ataupun cacat tetapi hal itu berlaku untuk
semua orang, baik orang muda juga ada yang memiliki
kondisi semacam itu. Kondisi kesehatan orang dalam
masyarakat menurut paradigma kesehatan saat ini bergradasi
dari : lebih sehat, sehat, sehat sakit (ill health),
sakit dan cacat (impairment – disability –
handicap). Kondisi kesehatan itu berlaku baik untuk
anak, remaja, dewasa maupun lansia, jadi sebenarnya bukan
lansia saja yang sakit-sakitan atau cacat, yang lain pun
bisa demikian
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia Menghabiskan Uang untuk Berobat
|
|
|
|
Memang
benar para lansia perlu melakukan pemeriksaan
kesehatan secara
periodik,
namun bukan berarti bahwa mereka adalah orang yang
sakit-sakitan. Untuk menjaga kesehatan tentu juga
memerlukan obat, namun hal itu bukan berarti
menghabis-habiskan uang untuk berobat. Perlu dipahami
bahwa orang dalam perjalanan hidup sampai usia 70 ke atas
pasti kadar gula, garam,dan lemak dalam tubuh sudah lebih
banyak, sehingga mudah menjadi rentan terhadap penyakit
kencing manis, stroke, jantung atau yang lainnya. Namun
semuanya akan dapat dikontrol bila orang rajin memeriksa
kesehatan. Lansia yang paham tentang kondisi dirinya tentu
juga akan mengatur hidupnya secara lebih baik, misalnya
makan tidak berlebihan, melakukan diet, tidak melakukan
kegiatan-kegiatan secara berlebihan, sehingga memperkecil
timbulnya penyakit. Lansia umumnya tahu diri dan faham
dalam menjaga dan memelihara kesehatan dirinya yang
ditunjukkan bentuk rajin olah raga ringan, rajin beribadah
dan peduli terhadap kesehatannya.
|
|
|
Kembali ke atas
|
|
Lansia Sama Dengan Pikun
|
|
|
|
|
Pandangan
ini keliru karena tidak semua lansia mengalami pikun (senile).
Pikun ini adalah penyakit (patologis) pada orang
tua, yang ditandai dengan dengan menurunnya daya ingat
jangka pendek. Dalam kehidupan manusia daya ingat akan
berubah sesuai dengan usia, sehingga setelah orang menjadi
lansia ia tidak cepat dapat mengingat sesuatu, terutama
hal yang baru. Namun anggapan bahwa lansia sama dengan
pikun merupakan suatu kekeliruan. Banyak cara menyesuaikan
diri dengan perubahan daya ingat dan banyak hal yang
mempengaruhi daya ingat manusia, pada usia berapa saja
daya ingat tersebut akan berkurang ketajamannya jika
orang trsebut dalam keadaan lelah, stress, cemas, khawatir,
depresi, sakit atau jiwanya tidak tenang.
|
|
|
Demi
menjaga agar daya ingat lansia tidak cepat berubah
secara frontal, karena kondisi fisik dan usia, maka
perlu dihindarkan atau paling tidak dikurangi dari
hal-hal yang dapat menimbulkan kelelahan, kekawatiran,
kecemasan, rangsangan emosi, depresi dan sakit.
Disinilah kepedulian dari orang yang lebih muda sangat
diperlukan sebagai kontrol agar lansia tidak melakukan
hal-hal yang merugikan dirinya. (jp)
|
|
Kembali ke atas
|
| |
_____________________________
|
|