 |
Mentalitas
Presiden
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
|
| |
Jakarta,
30 April 2003
|
| |
|
| |
Bayangkan kalau anda saat
ini sedang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang dirasakan belum
pulih dari krisis, maka andalan yang bisa menopang
adalah devisa luar negeri yang didapatkan dari sektor
pariwisata. Tak lama berjalan, peristiwa pengeboman dan
ancaman keamanan lain yang mengganggu membuat sektor
andalan ini pun akhirnya terganggu. Andalan penopang
berikutnya adalah sektor pengiriman tenaga kerja ke luar
negeri. Itupun tak berjalan lama karena tiba-tiba
kawasan Timur Tengah yang selama ini paling banyak
mendatangkan tenaga kerja dari Indonesia dilanda perang.
Masih bisa tenang karena negara lain yang
membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia diperkirakan
cukup untuk bertahan sampai perang usai. Namun ternyata
virus SARS datang melanda sejumlah negara yang
diandalkan itu. Jadi ……. ………
Tentu sudah bisa dibayangkan
reaksi penolakan masyarakat kalau misalnya Bu Megawati
atau Pak Hamzah berpidato bahwa selaku presiden atau
Wakil presiden saya tidak bertanggung jawab atas jumlah
kesempatan kerja di sektor pariwisata yang drastis turun
di Bali karena yang meledakkan Bom bukan aparat
pemerintah atas instruksi presiden. Silahkan para calon
TKI mengurusi dirinya masing-masing karena yang
berperang bukan pemerintah RI tetapi Bush dan Saddam.
Dan carilah doa yang cocok atas virus SARS. Lalu
apa sebenarnya kunci sukses seorang presiden untuk bisa
keluar dari masalah yang sangat kompleks seperti
tersebut diatas? Jika ditelaah lebih lanjut maka kunci
suksesnya terletak pada kualitas mental seorang presiden.
Pertanyaan berikutnya adalah dari manakah kualitas
mental itu bisa dipelajari?
|
| |
Mengambil
Tanggungjawab Negeri
|
| |
Ilustrasi
di atas rasanya cukup untuk mengatakan bahwa kunci
mendapatkan reward sebagai seorang presiden
adalah terletak pada kualitas mental. Meskipun secara
politik jabatan presiden hanya diduduki oleh segelintir
orang dalam kurun waktu lima tahun atau lebih,
tetapi secara alamiah semua manusia telah menjadi "presiden"
bagi negeri-dirinya. Persoalan yang timbul kemudian,
mengapa tidak semua orang mendapat reward sebagai
presiden dari negerinya? Dapat ditebak, karena
mentalitas untuk mempertanggungjawabkan persoalan negeri
diserahkan kepada presiden negeri lain.
Jabatan presiden secara
politik dan alamiah menuntut tanggung jawab persoalan
negeri tidak sekedar ‘from enjoyment to
enjoyment’ tetapi
ketika berupa tanggung jawab maka enak dan tidak enak
haruslah dijadikan santapan pertama untuk ditelah. Dari
penjabaran imajinatif di atas, persoalan yang menjadi
tanggung jawab presiden bukan semata persoalan yang
diakibatkan oleh pengabaian birokrasi yang bobrok di
dalam negeri tetapi persoalan yang sifatnya efek samping
dari persoalan yang dibuat oleh orang lain di negerinya
ketika efek samping itu sudah punya pengaruh riil
terhadap kehidupan di dalam negeri. Mentalitas presiden
seperti yang dikatakan Covey adalah menentukan reaksi
yang cocok atas efek yang ditimbulkan oleh lingkungan
dan orang lain. “Our ultimate freedom is the right and power to decide how anybody or
anything outside ourselves will affect us.”
Atas tanggung jawab yang
besar itu, seorang presiden dituntut memiliki keahlian
untuk mengalokasi resources mengingat watak
persoalan yang bisa muncul dari negeri lain terkadang
seperti kata Shakespeare bahwa persoalan amat
sangat jarang muncul secara sendirian melainkan menyerbu
dari segala penjuru. Selain itu persoalan seringkali
muncul dalam kondisi di mana anda belum
benar-benar siap menerimanya. Bisa jadi penyebab
persoalan sudah ditemukan tetapi bentuk solusi yang
dibutuhkan belum ditemukan. Kalau bentuk solusi
ditemukan mungkin saja cara untuk menuju solusi masih
gaib. Begitu penyebab, solusi dan cara sudah didapatkan
barangkali yang muncul adalah teka-teki pilihan yang
juga tidak bisa dibilang gampang. Persoalan situasional
demikian memang hanya terjadi dalam siklus tertentu yang
juga menjadi bagian dari hidup ini.
|
| |
Living
with PANCASILA
|
| |
Baik jabatan politis atau
mentalitas, seorang presiden sudah dibuatkan acuan
bagaimana solusi persoalan negeri dapat diciptakan.
Salah satu acuan yang dapat dijadikan materi
pembelajaran-diri adalah rumusan Pancasila yang antara
lain sudah berisi ajaran tentang:
|
| |
1.
|
Meletakkan
Tuhan.
|
| |
|
Tuhan adalah nilai-nilai
keluhuran di langit, sumber kekuatan tak terbatas, dan
kontrol keseimbangan hidup yang secara mekanisme-tekhnis
telah diatur oleh semua agama baik samawi atau ardhi.
Bertuhan dengan demikian menjadi kebutuhan
naluriah semua manusia sampai pun ketika manusia menolak
untuk mengakui, kebutuhan itu akan tetap muncul pada
titik di mana manusia tidak bisa menahan. Orang yang
tidak merasa dirinya punya pegangan nilai-nilai
ketuhanan, merasa tidak mendapat perlindungan, merasa
tidak dikontrol oleh nilai-nilai itu maka secara
psikologis akan mudah goyah atau gampang menciptakan
deviasi penyimpangan perilaku yang menyebabkan kerusakan
bagi dirinya, orang lain dan alam.
|
| |
2.
|
Kemanusiaan
|
| |
|
Persoalan dalam negeri tidak bisa diselesaikan
hanya
dengan kekuatan tak terbatas
Tuhan yang masih di langit melainkan perlu proses
bagaimana mengejawentahkan nilai dan kekuatan itu di
dalam diri berdasarkan hukum bumi. Bagian mendasar hukum
bumi untuk menyelesaikan persoalan adalah menjalin
hubungan kemanusiaan secara adil: win-win position,
sikap assertive dan beradab: kredibilitas moral
dan perlakuan rasional-humanistik. Hubungan kemanusian
yang adil dan beradab adalah cadangan ketika kita
menghadapi persoalan yang secara matematis tidak bisa
dilumpuhkan oleh keterbatasan yang kita miliki.
Persoalan itu baru akan selesai ketika anda punya
jalinan hubungan dengan manusia lain yang kekuatannya
cukup.
|
| |
3.
|
Persatuan
|
| |
|
Persatuan adalah upaya
menciptakan kreasi kekuatan ketiga yang lebih kokoh
untuk menghadapi persoalan hidup. Ide pokok persatuan
bukan bagaimana menyatukan sesuatu yang sudah sama
tetapi menyatukan hal yang berbeda mulai dari tingkat
internal dan eksternal. Di tingkat internal persatuan
adalah mengerahkan sekian kekuatan yang secara alamiah
berbeda fungsinya untuk menggempur tantangan internal
seperti ragu-ragu, pikiran negatif, sikap mental yang
dihegemoni rasa tak berdaya, malas, dan lain-lain. Di
tingkat eksternal, seluruh kreasi ketiga baik dalam
bentuk barang atau jasa dihasilkan dari persatuan
kekuatan yang berbeda dengan sentuhan ide kreatif.
Semakin banyak wilayah yang dapat kita satukan berarti
semakin besar kekuatan yang kita miliki untuk
mennyelesaikan masalah.
|
| |
4.
|
Kerakyatan
|
| |
|
Agar kreasi kita tidak
menjadi bencana yang berarti awal dari problem maka
dibutuhkan ketaatan terhadap kaidah kepemimpinan yang
merujuk pada kehikmahan dan kebijaksanaan. Hikmah adalah
penemuan makna hidup dan kebijaksanaan adalah kematangan
yang mempertimbangkan posisi orang lain dan alam menurut
kepentingan kemaslahatan. Keduanya merupakan manifestasi
dari persatuan kekuatan, hubungan kemanusian dan
hubungan ketuhanan. Kepemiminan presiden yang merujuk
pada kebenaran sendiri jelas akan menyengsarakan rakyat
di dalam negeri dan orang lain. Dengan kesengsaraan yang
ditimbulkan maka sangat mungkin presiden perlu
dilengserkan oleh kekuatan lain. Kalau kita sering
menggunakan kebenaran sendiri tidak berarti akan
menambah kekuatan justru bisa jadi akan membuka peluang
untuk dilengserkan oleh diri kita dan orang lain.
|
| |
5.
|
Keadilan
|
| |
|
Lawan dari keadilan adalah
kezaliman yang berarti meletakkan sesuatu secara terlalu
berlebihan sehingga merugikan sesuatu yang lain.
Kebutuhan naluriah bertuhan harus diletakkan secara adil
dengan kebutuhan alamiah untuk menjalin hubungan
kemanusiaan. Kebutuhan alamiah untuk menjalin hubungan
kemanusiaan harus diletakkan secara adil dengan
kebutuhan ilmiah untuk mengasah kekuatan internal dan
eksternal secara bersatu dan begitu sebaliknya. Tanpa
ikatan yang meletakkan sesuatu secara adil, sangat jauh
dari kemungkinan untuk menciptakan persatuan atau
kepemimpinan hidup secara hikmah dan bijaksana. Dalam
kondisi demikian mungkin sekali persoalan datang seperti pasukan dan tanggung
jawab untuk merebut solusi diterima dengan cara
membiarkan sebab tidak ada cadangan untuk menyelesaikan.
|
| |
Ajaran Pancasila yang sebenarnya sudah mengandung
dorongan untuk mengasah kecerdasan
Intelektual, Emosional, dan Spritual, kalau
dipikir lebih dalam, ternyata tidak cukup diterima hanya
untuk dihafalkan tetapi menuntut komitmen “Living
with” yang secara tidak langsung menuntut
pembelajaran diri seperti bayi melangkah (baby-step learning model).
Semoga hal ini menjadi renungan bagi kita semua. (jp)
|
| |
_____________________________
|