|
|
 |
Efek
Media Massa dalam Politik
|
|
Oleh RR. Ardiningtiyas Pitaloka, S.Psi.**
|
|
|
| |
Jakarta,
28 Mei 2004
|
| |
Psikologi
sosial sebagai cabang ilmu psikologi mempelajari
bagaimana individu dipengaruhi orang lain. Televisi,
yang bisa menampilkan atau tampil sebagai ‘orang
lain’ juga memiliki pengaruh pada pikiran, perasaan
dan perilaku kita.
Pemilihan
presiden dan wakil presiden secara langsung yang pertama
kali terjadi di bumi Indonesia menjadi agenda utama
media-media baik cetak maupun elektronik. Beberapa
stasiun televisi berlomba-lomba menghadirkan informasi
sebanyak dan seaktual mungkin. Mulai dari acara talk
show, debat kandidat, dialog, atau poling sms.
Fenomena ini
merupakan gambaran dari peran penting media dalam suatu
pemilihan umum (election) seperti dikemukakan
oleh Oskamp & Schultz (1998), yakni memusatkan
perhatian pada kampanye, menyediakan informasi akan
kandidat dan isu seputar pemilu.
Pertanyaan
besar yang sering dilemparkan ialah, bagaimana media
mempengaruhi wawasan politik, sikap dan perilaku
masyarakat?
Meskipun
tidak semua orang setuju dengan model dan gaya yang
ditampilkan media televisi atau media cetak, namun
tercatat empat pengaruh media dalam politik bagi
masyarakat yaitu (a) penambahan informasi, (b) kognitif,
(c) perilaku memilih, (d) sistem politik.
|
|
|
Penambahan informasi
|
| |
Hampir sebagian besar orang dewasa menyatakan bahwa mereka mendapatkan
hampir seluruh informasi tentang berbagai peristiwa
dunia maupun nasional dari media massa.
Secara umum, studi telah menunjukkan bahwa masyarakat yang banyak
mengkonsumsi media biasanya memiliki pengetahuan yang
lebih baik dan aktual daripada yang tidak atau kurang
memanfaatkan media. Namun hal ini lebih berlaku untuk
media cetak ketimbang televisi.
Kelemahan media televisi ada pada kecenderungannya untuk lebih menyorot
hal-hal yang ‘menghebohkan’, seperti huru-hara saat
demonstrasi, reaksi elemen masyarakat terhadap kandidat
tertentu, dan sebagainya. Kecenderungan ini akhirnya
mengabaikan substansi isu politik itu sendiri.
Fenomena ini, jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Patterson & McClure
(1976, dalam Oskamp & Schultz,1998), “Network
news may be fascinating. It may be highly entertaining.
But it simply not informed."
Selain itu, media televisi juga memiliki kapasitas terbatas untuk
menghadirkan ulasan-ulasan yang mendalam, berbeda dengan
media cetak yang bisa menampilkan berbagai tulisan
sehingga pembaca bisa menyimaknya berkali-kali, bahkan
berhenti sejenak untuk merenung atau diskusi dengan
pembaca lain tanpa khawatir artikel tersebut akan ‘hilang’.
Bandingkan dengan televisi, pemirsa tidak bisa
‘menghentikan’ tayangan untuk memberi waktu otaknya
berpikir apalagi merenung.
Meski demikian, tidak berarti televisi tidak pernah memberikan kontribusi
dalam pemilihan umum. Buktinya di Amerika, dalam suatu
studi tahun 1992 telah menunjukkan bahwa tayangan debat
Clinton – Bush – Perrot, telah meningkatkan
informasi tentang kandidat dan pandangan atau
prinsip-prinsip yang dianut bagi para pemilih dalam
pemilu tersebut.
|
|
|
Efek Kognitif
|
| |
Media memiliki kemampuan untuk ‘mengatur’ masyarakat, not what to
think, but what to think about. Penjelasan pada
kalimat yang ‘indah’
ini ialah media cenderung mengarahkan masyarakat
memikirkan hal-hal yang tersaji dalam menunya, bukan apa
yang sebenarnya terjadi di sekitar masyarakat itu
sendiri. Saat media A berbicara tentang Inul, merembet
pada media lain, masyarakat pun ikut terlena didalamnya.
Masalah kebanjiran yang menjadi langganan Jakarta pun
tidak lagi terlalu mengusik, hingga tiba saat kondisi
riil musibah itu.
Perhatian masyarakat cenderung lebih dipengaruhi gambaran media daripada
situasi nyata dunia. Contoh lain, semakin banyak media
yang mengusung dan mengemas berita kriminal, masyarakat
mungkin saja menjadi yakin bahwa ada suatu gelombang
kejahatan, tanpa perlu lagi memastikan atau mencari tahu
informasi sebenarnya apakah kejahatan memang meningkat,
menurun atau konstan.
Oleh kareena itulah, materi dalam media dapat menentukan ‘agenda publik’,
yaitu suatu topik yang menjadi perhatian atau minat
masyarakat serta mencoba untuk direspon.
|
| |
Perilaku memilih
|
| |
Secara luas, media lebih cenderung menguatkan tujuan-tujuan yang ada dalam
pemungutan suara daripada merubahnya.
Seperti telah disinggung diawal bahwa peran utama media
dalam suatu pemilihan umum ialah menfokuskan perhatian
masyarakat pada kampanye yang sedang berlangsung serta
berbagai informasi seputar kandidat dan isu politik
lainnya. Walaupun mungkin tidak memberi dampak langsung
untuk merubah perolehan jumlah suara, namun media tetap
mampu mempengaruhi banyaknya suara yang terjaring dalam
suatu pemilu.
Menurut Noelle-Newman (1984,1992, dalam Oskamp & Schulz,1998), secara
implisit, masyarakat membuat suatu penilaian terhadap
pihak maupun cara yang ditempuh untuk memenangkan
pemilihan, atau isu-isu panas yang diperdebatkan.
Penilaian personal yang dipengaruhi kuat oleh media ini
diam-diam bisa
berdampak pada pengurangan jumlah suara bagi pihak yang
kalah.
Ulasan dini seputar pemilu atau laporan berdasarkan
survei secara random dapat memperkuat penilaian
masyarakat, terutama tentang siapakah yang akan menjadi
pemenang dan mendorong terbentuknya ‘spiral
silence’ diantara pihak yang merasa kalah atau
menjadi pecundang.
Jadi, jangan terlalu yakin jika poling-poling sms di berbagai stasiun
televisi tidak memiliki dampak apa-apa, setidaknya
besarnya angka poling pada pihak A, akan mengusik atau
menciutkan hati pihak B, atau lainnya. Masyarakat yang
mengidolakan atau akan memilih capres-cawapres C
misalnya, ‘mau
nggak mau dipaksa untuk ‘meringis’ tatkala
melihat jagonya berada di urutan buncit dalam poling sms,
meski hampir semua percaya bahwa itu bukan representasi
masyarakat Indonesia.
|
| |
Efek dalam sistem politik
|
| |
Televisi telah merubah wajah seluruh sistem politik secara luas dengan pesat.
Media ini tidak hanya mempengaruhi politik dengan fokus
tayangan, kristalisasi atau menggoyang opini publik,
namun secara luas berdampak pada para politisi yang
memiliki otoritas dalam memutuskan kebijakan publik.
Media, dengan publisitas, pemasangan iklan dan ulasan beritanya, juga
memiliki kemampuan yang kuat untuk secara langsung
mempengaruhi meningkatnya jumlah dana dalam suatu
kampanye politik.
Begitu penting dan besarnya peran berita atau ulasan-ulasan media
dalam suatu pemilihan umum, maka baik staf maupun
kandidat politik sebenarnya telah menjadi media itu
sendiri.
|
|
|
Kontrol
Masyarakat
|
| |
Begitu besar pengaruh dan peran media dalam perpolitikan, hendaknya
dimanfaatkan secara bijaksana. Terkadang seorang tokoh
atau pihak tertentu yang masih bermasalah di masa silam
atau kini nampak begitu kemilau dan tiba-tiba bersih
sehingga masyarakat pun lengah dengan kepahitan yang
pernah ada. Terus berputar pada masa lampau juga tidak
akan mencerahkan bangsa ini, namun melupakan masa lalu
juga bukan syarat bagi perbaikan diri, terlebih suatu
bangsa.
Kontrol masyarakat untuk selalu melihat segala sesuatu dengan proposional,
kritis dan obyektif sangat lah diperlukan.
Hendaknya media juga mendorong masyarakat untuk
melakukan critical
control, sehingga terjalin kerjasama yang
benar-benar secara positif membawa manfaat dan
kontribusi bagi kedua belah pihak : pihak media massa
dan terutama, pihak masyarakat. (Jr)
|
| |
------------------------------------------
|
| |
**Penulis
adalah Mahasiswa
Pascasarjana Psikologi Sosial Sains
, Universitas Indonesia
|
| |
_____________________________
|
|