 |
Gelar
Palsu & Kepribadian
|
|
|
| |
Oleh
Johanes Papu
|
|
|
| |
Team
e-psikologi
|
|
|
| |
Jakarta,
20 September 2002
|
|
|
| |
Seringkali
kita terheran-heran ketika seseorang yang kebetulan kita
kenal dan sebelumnya tidak memiliki gelar apa-apa tiba-tiba sudah menyandang gelar setingkat Magister atau Doktor.
Lebih heran lagi jika hal itu terjadi pada individu yang tinggal di kota dimana tidak ada Universitas
resmi yang menyelenggarakan program setingkat S2 (magister)
atau S3 (doktor).
Komentar yang keluar dari sebagian orang adalah: kapan
kuliahnya? Kok gampang amat dapat gelar doktor? Tesisnya
tentang apa ya? Kok bisa dia dapat gelar itu
padahal dia khan cuma tamatan SMU?
|
|
|
| |
Komentar-komentar
tersebut tentu amat wajar dan beralasan mengingat bahwa
untuk meraih gelar S2 (magister) atau S3 (doktor)
sungguhan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sebagai
contoh: untuk lulus seleksi dan masuk ke jenjang
pendidikan di tingkat S2 memerlukan berbagai persyaratan,
seperti jumlah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) ditingkat
S1 harus mencapai 3,00 (dgn score tertinggi:
4,00), Score TOEFL harus mencapai 500 atau lebih, Score
Test Potensi Akademik (TPA) harus mencapai 550 ke atas,
dsb. Lulus seleksi juga belum menjamin bahwa seseorang
akan bisa meraih gelar yang diingingkannya karena ia
masih harus mengikuti kuliah dengan jumlah SKS tertentu,
membuat makalah, melakukan penelitian dan membuat tesis.
Semua ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan
yang menyita waktu bertahun-tahun. Mereka yang pernah
melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan
yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar
akademik yang pantas. Membaca berbagai buku teori,
melakukan penelitian, menguji hipotesis,
mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen
penguji merupakan beberapa contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang
dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu. Rata-rata waktu
yang dibutuhkan untuk jenjang pendidikan S2
adalah antara 3 s/d 5 tahun, sementara S3 di luar negeri
adalah 4 s/d 8 tahun, bahkan ada juga yang baru berhasil
menyelesaikan kuliah setelah menjalaninya selama 10
tahun. Lamanya waktu yang harus ditempuh tersebut
, bagi orang dewasa apalagi jika kuliah sambil bekerja,
bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu tidak
jarang bahwa beberapa mahasiswa tidak berhasil
menyelesaikan kuliahnya.
|
|
|
| |
Kondisi
tersebut amat berbeda dengan program S2 atau S3 yang
ditawarkan banyak "lembaga pendidikan" model
"instant" yang membuka program-program di
hotel-hotel berbintang atau bahkan kuliah di tempat
kerja (kantor) peserta. Untuk masuk ke program yang
ditawarkan, peserta hanya cukup mengisi formulir,
memilih gelar yang diinginkan, lalu membayar biaya
jutaan rupiah( contoh: Rp
5 juta s/d Rp 10 Juta untuk gelar MM, MSc, MBA, BBA dan
Rp 20 juta s/d 30 juta untuk gelar Doktor atau
Profesor) dan selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi
dari pihak penyelenggara kapan ada "pertemuan"
dan jadwal wisuda. Mahasiswa yang mengikuti
program ini cukup mengikuti beberapa kali perkuliahan
atau menyelesaikan
beberapa modul yang biasanya dikirim ke rumah, menyetor
sejumlah uang , mengikuti widusa (terkadang di luar
negeri) lalu memperoleh ijazah dan segera menyandang
gelar. Gampang dan cepat, ibarat membuat Mie
Instant. Praktek seperti inilah yang sekarang kita kenal
dengan istilah "jual beli gelar". Jual beli
gelar ini nampaknya tidak pernah surut bahkan semakin
banyak peminatnya. Gelar kehormatan seperti Doktor
Honouris Causa yang seharusnya hanya diberikan kepada
seseorang yang telah berjasa dan memiliki prestasi
luar biasa di suatu bidang tertentu (terutama untuk
pengembangan ilmu pengetahuan) pun tidak luput
dari praktek jual beli ini. Oleh karena itu tidaklah
mengherankan jika suatu saat kita menemukan ternyata
salah seorang rekan atau kenalan kita tiba-tiba sudah
menyandang gelar doktor tersebut, sementara kita tahu
dengan pasti orang tersebut tidak memiliki prestasi luar
biasa di masa sekolah atau pun di masyarakat.
|
|
|
| |
Beberapa pertanyaan
yang perlu kita kemukakan untuk menyikapi fenomena jual
beli gelar ini diantaranya adalah
faktor apakah yang menyebabkan individu berlomba-lomba untuk
memperoleh gelar sampai-sampai harus menggunakan jalan
pintas dengan cara membeli gelar tersebut. Lalu
bagaimana sebenarnya karakteristik para pembeli gelar tersebut jika dilihat dari kacamata psikologi.
Tidakkah ada rasa malu dan tenggangrasa dari para
pembeli gelar tersebut terhadap para individu yang
benar-benar memperoleh gelar dengan cara menuntut ilmu
dan mengikuti kaidah keilmuan yang berlaku? Apakah
mereka mengalami suatu gangguan kepribadian? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin saya jawab dalam
artikel ini.
|
|
|
| |
Penyebab
|
|
|
| |
Gelar adalah
Lambang Status
|
|
|
| |
Di
sebagian masyarakat Indonesia yang cenderung masih memiliki pola
pikir feodalistik, gelar (degree) merupakan suatu
kebanggaan luarbiasa dan sekaligus lambang status sosial
pemiliknya di dalam masyarakat. Tidaklah
mengherankan jika seseorang yang telah berhasil
menyelesaikan studi dan memperoleh gelar akan disambut
oleh pihak keluarga bagaikan pahlawan yang baru kembali
dari medan perang. Serangkaian upacara dan selamatan/syukuran
dengan mengundang relasi atau bahkan orang sekampung
dilakukan untuk menyambut sang sarjana/magister/doktor
tersebut. Tidak sebatas itu saja, ucapan selamat pun
mengalir dan dipamerkan di koran-koran atau majalah.
|
|
|
| |
Tidak
ada yang salah dengan tradisi tersebut diatas, asalkan
memang sang penerima gelar benar-benar memperolehnya
dengan cara yang layak. Sambutan maupun ucapan selamat
merupakan suatu hal yang wajar dan pantas diterima sebab
untuk memperoleh gelar yang asli memang ibarat
memenangkan pertempuran. Bayangkan saja, berapa
banyak peserta program S2 atau S3 yang harus berpisah
dengan anggota keluarganya, tak jarang ia harus
menggadaikan harta benda miliknya dan berjuang seorang
diri demi memperoleh gelar dari sebuah universitas
ternama di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu
sangatlah wajar jika mereka menganggap bahwa gelar yang
diperolehnya merupakan suatu prestise dan kebanggaan
tersendiri karena dihasilkan melalui kerja keras dan
ketekunan selama bertahun-tahun. Sayangnya jika tradisi
seperti ini juga berlaku untuk penerima gelar palsu (gelar
belian) maka
esensi suatu gelar yang seharusnya lebih mengutamakan bobot ilmu
dan karakter pribadi yang dimiliki oleh sang pemegang
gelar tersebut, daripada sekedar ijazah atau nama gelar
yang mentereng, menjadi luntur.
|
|
|
| |
Mutu
Pendidikan Nasional
|
|
|
| |
Masyarakat
sudah sangat paham dengan mutu pendidikan di
negeri ini. Posisi SDM dan peringkat perguruan tinggi
kita merosot amat rendah dibanding dengan negara-negara
tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Oleh karena
itu, bagi orang-orang berkantong tebal dan berpikir
praktis mungkin akan timbul pemikiran untuk apa
capek-capek meraih kesarjanaan formal yang hasilnya juga
tidak membuat "lebih pintar", tidak siap kerja,
lama selesainya,
dan biaya yang dikeluarkan pun tidak jauh berbeda dengan
"sarjana yang dibeli". Orang-orang seperti
inilah yang kemudian tanpa ragu dan malu, memejeng gelar
palsu. Hal ini bisa terjadi karena
masyakarat terkadang sulit membedakan mutu antara gelar sarjana
sungguhan dengan gelar sarjana belian.
|
|
|
| |
Tuntutan
Dunia Kerja
|
|
|
| |
Tuntutan
dunia kerja yang lebih menggantungkan penilaian pada
sertifikat, ijazah dan gelar juga semakin menguatkan
pendapat bahwa ijazah dan gelar merupakan jaminan
kesuksesan dalam berkarir. Tidaklah menjadi rahasia lagi
bahwa di Instansi-instansi tertentu, ijazah dan gelar
adalah modal utama untuk kenaikan pangkat dan
penghargaan (terlepas dari apakah itu gelar formal atau
palsu) dibandingkan dengan performa kerja pegawai. Oleh
karena itu jangan heran jika para pejabat di instansi
tersebut tiba-tiba beramai-ramai mengikuti program S2
atau S3 kelas jauh dari universitas tertentu dalam
rangka untuk mendapat promosi jabatan.
|
|
|
| |
Kepribadian Sang Individu
|
|
|
| |
Adanya
gangguan kepribadian tertentu yang dialami seseorang
dapat menyebabkan individu tersebut tidak merasakan
adanya suatu yang salah dengan perilaku membeli gelar. Bagi
mereka hal ini merupakan suatu kesempatan untuk meraih
impian yang diinginkanya dengan cara tercepat dan
termudah.
|
|
|
| |
Kepribadian
Narsisistik
|
|
|
| |
Jika
kita bertanya pada masing-masing individu maka saya
yakin sebagian besar akan menjawab bahwa gelar "tidak
bisa dibeli dengan uang". Gelar hanya dapat dibeli
dengan ketekunan, kerja keras, kejujuran akademik,
kematangan berpikir, kedewasaan, sikap pantang menyerah,
berkutat dengan teori dan data, persisten, dan tidak ada
jalan pintas. Tak ada gelar yang ditawarkan begitu saja.
Proses seleksinya sangat ketat, bukan masuk tanpa test
dan cukup mengisi formulir saja. Teman-teman yang telah
melalui proses ini pasti merasakan betapa sulitnya
menuntut ilmu dan memperoleh gelar akademik.
|
|
|
| |
Meski semua orang
tahu bahwa gelar merupakan suatu yang membanggakan dan
lambang status sosial, namun banyak juga individu yang
justru tidak mau tahu dengan gelar yang diperolehnya.
Bagi individu semacam ini gelar atau ijazah tidak lebih
dari sebatas tanda penghargaan dan pengakuan atas jasa
atau hasil jerih payahnya selama menuntut ilmu sebagai
persyaratan memperoleh gelar tersebut.
Individu-individu seperti ini tidak silau dengan gelar,
bahkan sedapat mungkin mereka tidak akan mencantumkan
gelar di depan atau dibelakang namanya. Bagi mereka ilmu
pengetahuan yang diperoleh merupakan segala-galanya.
Oleh karena itu mereka lebih banyak memperlihatkan karya
nyata di bidang keilmuannya dengan cara memberikan
pemikiran-pemikiran baru dan berusaha membantu orang
lain sesuai dengan kompetensinya daripada menonjolkan
gelar tersebut.
|
|
|
| |
Individu
yang tidak silau dengan gelar seperti yang telah saya
sebut diatas amat berbeda karakternya dengan mereka yang
menganggap bahwa gelar adalah segala-galanya. Bagi
individu seperti ini ijazah dan gelar adalah modal hidup
sehingga harus diperoleh (apapun caranya) dan jika sudah
didapat maka harus diketahui oleh semua orang. Bagi
mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak lagi
merupakan suatu hal yang penting. Individu-individu
jenis inilah yang dengan bangga memasang iklan-iklan
ucapan selamat dengan space dan tulisan besar di
koran-koran. Lucunya ucapan selamat tersebut
seringkali justru datang dari dirinya sendiri. Artinya
ucapan selamat tersebut jika ditelusuri lebih lanjut
ternyata dikirim oleh perusahaan-perusahaan miliknya
atau sanak
keluarganya sendiri.
|
|
|
| |
Apa
sebenarnya
yang terjadi dalam diri si pembeli gelar yang
tanpa malu dan canggung memamerkan gelar atau ijazah
tersebut di depan orang lain. Apakah mereka mengalami gangguan
kepribadian? Menurut pandangan saya, jika pembelian
gelar tersebut dilakukan secara sadar dengan
pertimbangan matang demi memenuhi ambisi-ambisi pribadi
dengan mengabaikan rasa keadilan masyarakat (terutama
bagi para pemegang gelar asli) maka sudah tentu dapat
dikatakan bahwa individu tersebut memang mengalami
gangguan kepribadian. Namun demikian jika individu
dipengaruhi oleh cara-cara yang tidak profesional atau
dibohongi oleh para penyelenggara program gelar palsu
maka tentu tidak adil jika dikatakan bahwa individu
pembeli gelar tersebut mengalami gangguan kepribadian.
|
|
|
| |
Untuk
membedakan antara individu pembeli gelar karena
dibohongi oleh pihak ketiga dengan individu yang dengan
sadar memang ingin menempuh jalan pintas untuk
memperoleh gelar demi ambisi pribadi dan mengabaikan
rasa keadilan, maka saya mengajak pembaca untuk melihat
salah satu karakteristik gangguan
kepribadian. Gangguan kepribadian yang dimaksud
adalah Gangguan Kepribadian Narsisistik atau Narcissistic
Personality Disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai
dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa
dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik,
sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang
memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya
layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain
(DSM-IV). Perasaan-perasaan tersebut mendorong mereka
untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara
apapun juga.
|
|
|
| |
Menurut
DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders - Fourth Edition) individu dapat dianggap
mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5
(lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai
berikut:
|
|
|
| |
-
Merasa
diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai
dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of
self-important). Ia
senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi)
dan harta benda.
-
Percaya
bahwa dirinya adalah spesial dan unik (believe
that she or he is special and unique).
-
Dipenuhi
dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan,
kepintaran, kecantikan atau cinta sejati (is
preoccupied with fantasies of unlimited success,
power, briliance, beauty, or ideal love).
-
Memiliki
kebutuhan yang eksesif untuk dikagumi (requires
excessive admiration).
-
Merasa
layak untuk diperlakukan secara istimewa (has a
sense of entitlement).
-
Kurang
empathy (lacks of empathy: is unwilling to
recognize or identify with the feelings and needs of
others).
-
Mengeksploitasi
hubungan interpersonal (is interpersonally
exploitative).
-
Seringkali
memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap
bahwa orang lain iri kepadanya (is often envious
of others or believes that others are envious of him
or her).
-
Angkuh
(shows arrogant, haughty behavior or attitudes).
|
|
|
| |
Meskipun
mungkin tidak semua ciri tersebut diatas dimiliki oleh
para pembeli gelar namun setidaknya beberapa ciri sudah
cukup menunjang adanya gangguan kepribadian tersebut.
Untuk lebih jelasnya maka saya mencoba memberikan
beberapa ciri kepribadian yang biasanya dimiliki oleh
individu-individu yang seringkali mengambil jalan pintas
untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk gelar,
sebagai berikut:
|
|
|
| |
Merasa
Diri Paling Hebat
|
|
|
| |
Jika
seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan
dengan orang yang benar-benar hebat/penting) maka ia
tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa
memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung
citra / image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan
segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut
berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana
cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau
malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi
mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu
bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara
seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang
diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh
"diri sendiri" dianggap bukan suatu hal yang
aneh.
|
|
|
| |
Fantasi Kesuksesan & Kepintaran
|
|
|
| |
Pintar dan sukses
adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit
orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada
individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka
menganggap bahwa
kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan)
belum cukup jika tidak diikuti dengan gelar akademik
yang seringkali dianggap sebagai simbol "kepintaran"
seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka
seringkali tidak memiliki modal dasar yang cukup karena
adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya
latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki
kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki
waktu untuk sekolah lagi. Hal ini membuat mereka
memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga
terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan
kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi
karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang
dimiliki).
|
|
|
| |
Sangat
Ingin dikagumi
|
|
|
| |
Pada
umumnya para pembeli gelar adalah para individu
yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain.
Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk
mendapatkan "simbol-simbol" yang dianggap menjadi
sumber kekaguman, termasuk gelar akademik. Obsesi
untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali
tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang
individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus
mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya).
Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol
kekaguman tersebut.
|
|
|
| |
Kurang
Empathy
|
|
|
| |
Para pembeli gelar
pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika
mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana
perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar
tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki
empati pastilah mereka dapat merasakan betapa sakit hati
para pemagang gelar sungguhan karena kerja keras mereka
bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal
uang puluhan juta rupiah.
|
|
|
| |
Merasa
Layak Memperoleh Keistimewaan
|
|
|
| |
Setiap
individu yang mengalami gangguan kepribadian
narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk
mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa
maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia
harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu
mereka tidak merasa risih atau pun malu jika membeli
gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu
keistimewaan yang layak mereka dapatkan.
|
|
|
| |
Angkuh dan
Sensitif Terhadap Kritik
|
|
|
| |
Pada
umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan
benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang
menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang
bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang
yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi tidaklah
mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang
membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya
maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda
sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan
terjawab. Bahkan mereka akan menghindari
pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik.
|
|
|
| |
Kepercayaan
Diri yang Semu
|
|
|
| |
Jika dilihat lebih
jauh maka rata-rata individu yang mengambil
jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan
seringkali
disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di
depan orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri
namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya
mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya
tidak memiliki modal dasar yang kuat. Para individu
yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut
bersaing dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang
percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu,
tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada
mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang
cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para
individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas
yang sudah pasti hasilnya.
|
|
|
| |
Tindakan
|
|
|
| |
Dengan
mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin timbul di
masa mendatang sebagai akibat maraknya jual beli gelar,
maka perlu diadakan tindakan-tindakan nyata agar negara ini
tidak kebanjiran gelar yang hebat-hebat padahal isinya
kosong. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan
diantaranya adalah:
|
|
|
| |
Individu
|
|
|
| |
Segala
keputusan dan tindakan yang akan dilakukan oleh individu
sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh diri kita
sendiri. Oleh karena itu individu hendaknya menyadari
bahwa tidak ada jalan pintas untuk mencapai gelar
kesarjanaan. Semua itu harus dicapai melalui
tahapan-tahapan tertentu yang panjang. Jika anda memang tidak memiliki kapasitas
sebagai seseorang yang layak untuk menyandang suatu
gelar akademik (karena tidak pernah melalui tahapan yang
dipersyaratkan) maka hendaklah tidak menipu diri dengan
cara membeli gelar. Jika itu anda lakukan secara sadar maka
hal tersebut adalah ibarat anda berjalan dengan menggunakan
jubah raja yang kebesaran. Anda mungkin merasa diri
hebat karena memakai jubah yang mahal dan bagus meskipun
kedodoran. Tetapi jangan lupa bahwa orang lain pasti
tahu bahwa jubah itu bukan untuk anda. Seandainya pun
ada rekan atau relasi yang memuji atau menyanjung anda
ketika menggunakan jubah tersebut, saya yakin bahwa orang
tersebut tidak lebih dari seorang penjilat atau hanya
mau berbasa-basi untuk menyenangkan anda. Inikah yang
anda inginkan? Jika tidak maka raihlah gelar dengan
cara-cara yang seharusnya.
|
|
|
| |
Masyarakat
|
|
|
| |
Masyarakat
Indonesia memiliki peran penting terhadap maraknya jual
beli gelar. Dalam hal ini masyarakat dapat dibagi dalam
4 (empat) kategori:
|
|
|
| |
-
Akademik.
Masyarakat akademik dapat mempelopori pemberantasan
gelar palsu dengan cara meningkatkan mutu pendidikan
(ilmu pengetahuan & pembentukan kepribadian) dan tidak
semata-mata berorientasi pada materi. Hal ini
mengimplikasikan bahwa para pendidik yang ada di
perguruan tinggi benar-benar mereka yang telah
diseleksi secara ketat dan memenuhi syarat sebagai
pendidik. Selain itu Pembukaan program-program S2 & S3
kelas jauh hendaknya dipertimbakan secara cermat,
bukan semata-mata demi kepentingan mengejar
pendapatan.
-
Media
Massa. Media massa dapat membantu upaya
pemberantasan jual beli gelar dengan cara menolak
menerbitkan iklan-iklan jual beli gelar yang
dipasang oleh lembaga penjaja gelar palsu.
-
Perusahaan.
Dalam dunia kerja atau industri cara-cara
pemberantasan gelar palsu adalah dengan tidak
mengutamakan ijazah & gelar sebagai dasar
kenaikan pangkat atau pun penghargaan, tetapi lebih
kepada kompetensi yang dimiliki dan kinerja. Selain itu
ijazah atau pun gelar yang diperoleh hendaknya
diperiksa dengan ketat sehingga gelar palsu tidak
disamakan dengan gelar sungguhan. Tidak
mempekerjakan karyawan yang membeli gelar atau
memperoleh gelar secara instant merupakan langkah
jitu yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk
mencegah "diploma
diseases".
-
Umum.
Masyarakat umum dapat berperan dalam pemberantasan
gelar palsu dengan cara tidak mempromosikan
lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada
teman-teman atau pun keluarga, tidak memamerkan
gelar yang diperoleh oleh anggota keluarga atau
sanak saudara secara berlebihan seperti memasang ucapan selamat secara
besar-besaran di surat kabar, melaporkan
lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada pihak
berwenang, dll.
|
|
|
| |
Pemerintah
|
|
|
| |
Pemerintah
dapat secara aktif melakukan tindan-tindakan baik
preventif maupun kuratif untuk mencegah maraknya jual
beli gelar palsu. Cara-cara yang dapat dilakukan oleh
pemerintah adalah:
|
|
|
| |
-
Pembuatan
kurikulum pendidikan nasional yang lebih seimbang
antara pembentukan karakter individu dan ilmu dan
pengetahuan. Selain itu rencana strategi pendidikan
hendaknya lebih berorientasi pada pengisian lapangan
kerja daripada hanya berhenti sampai mendapat ijazah
atau gelar saja. Dengan demikian maka setiap
individu yang berhasil memperoleh gelar akan
mendapatkan ilmu dan ketrampilan untuk bekerja di
bidangnya. Dengan demikian masyarakat pasti akan
dapat membedakan dan menghargai gelar yang diperoleh
seseorang sehingga gelar palsu mungkin tidak laku
lagi.
-
Menindak
tegas penyelenggara-penyelenggara program S1 (sarjana),
S2 (magister) dan S3 (doktor) yang menyimpang dari
prosedur yang sebenarnya; seperti ketentuan jumlah
SKS, tempat perkuliahan, proses belajar mengajar,
dll.
-
Menghentikan
praktek-praktek jual beli gelar yang diselenggarakan
melalui studi jarak jauh yang banyak terjadi di
kota-kota kabupaten maupun ibukota provinsi di
Indonesia.
-
Menolak
gelar-gelar yang diperoleh secara tidak pantas untuk
keperluan kenaikan pangkat atau penghargaan di
instansi-instansi pemerintah, sehingga para pejabat
tidak berlomba-loma "mengambil" gelar.
|
|
|
| |
Seandainya
hal-hal tersebut diatas dapat kita laksanakan maka
niscaya praktek jual beli gelar ini akan dapat dikurangi.
Jika tidak maka bisa-bisa lembaga pendidikan formal kita
dipenuhi oleh lembaga-lembaga penjual gelar dan setiap
orang dapat memiliki gelar secara cepat. Jika
sampai demikian yang terjadi, lalu apa artinya gelar itu.
|
|
|
| |
Negara
ini sudah terlalu lama berada dalam kondisi yang tidak
sehat. Di berbagai sektor kita dapat melihat carut-marut
penyelenggaraan negara kita ini. Relakah kita jika dalam
dunia akademik, yang katanya menjadi ujung tombak untuk
memajukan sumber daya manusia, dikotori oleh
praktek-praktek jual beli gelar yang sangat
memalukan dan merupakan pembodohan bangsa ini? Dan
relakah kita jika negara ini dibanjiri oleh para doktor
yang ternyata sebagian besar adalah doktor honoris causa
dari universitas-universitas yang tidak jelas
juntrungannya? Jika tidak rela, mari segera mengambil
tindakan nyata. (jp)
|
|
|
| |
_____________________________
|
|
|