|
|
 |
Perang
dan Peradaban
|
|
Oleh: Ubaydillah,
AN
|
|
|
| |
Jakarta,
16 April 2003
|
| |
|
| |
Perang seolah sudah menjadi keniscayaan zaman
terlepas nilai persoalan yang memicunya. Padahal tidak satupun yang menyukai perang mengingat akibat yang
ditimbulkan sering tidak sebanding dengan nilai
persoalan yang menjadi sumber terjadinya peperangan
tersebut. Perang mungkin akan tetap saja terjadi, tidak
hanya di dalam catatan sejarah atau ketika saat ini baru
saja usai perang antara Irak melawan koalisi (Amerika
& Inggris), bahkan esok hari masih terbuka peluang
untuk terjadi. Jika
Mahatma Gandhi mengkampanyekan gerakan anti kekerasan
sebagai cara terbaik untuk menghindari peperangan,
lalu mengapa manusia masih tetap saja memilih cara
perang?
|
| |
Alasan
|
| |
Perang terjadi oleh dorongan untuk membenarkan
kenyataan alamiah yang bertentangan dengan misi
penciptaan manusia untuk menyatakan kebenaran. Kenyataan
alamiah yang bisa membenarkan alasan untuk memilih
perang adalah:
|
| |
a.
|
Perbedaan
Individual
|
| |
|
Secara alamiah, setiap manusia yang dilahirkan
dengan berbagai perbedaan. Jika diibaratkan maka ketika
lahir setiap manusia sudah menempati salah satu
‘tebing sungai’
yang berbeda
dengan manusia lain. Sementara dengan sejumlah
keinginannya yang berada di ujung tebing masing-masing,
hukum alam menggariskan bahwa manusia tidak bisa meraihnya
seorang diri tetapi harus melalui keterlibatan manusia
lain di tebing yang berlawanan. Oleh karena itu secara
tidak langsung muncullah keharusan untuk saling melewati
sungai agar interaksi dapat diciptakan.
Supaya proses penyeberangan dapat berjalan lancar
maka peradaban memperkenalkan teknologi membangun 'jembatan'.
Jembatan itulah yang bisa menggambarkan
penjelasan dari Walton C. Bosher, seorang konsultan
Human Relation, dalam artikelnya “Assumptions
about Human Nature”
yang mengatakan bahwa manusia memiliki tiga
pilihan watak dari perilakunya yaitu:
|
| |
|
-
Animalistic
-
Humanistic
-
Rationalistic
|
| |
|
Dikatakan pilihan karena ketiganya berwujud dalam
satu bentuk konstruksi berlapis
yang memberi kebebasan pada semua orang untuk
melewati berdasarkan nilai-nilai peradaban yang sudah
diserapnya. Ketika anda memilih jembatan animalistic,
maka hukum yang berlaku adalah kompetisi dualistic
dan kongkurensi hewani
yang menabrak – menubruk atau
menang-kalah terlepas dari urusan besar-kecil
nilai kepentingan.
Jembatan
lapis paling bawah ini dibangun di atas
konstruksi paradigma perbedaan dan perubahan untuk
dipertentangkan.
Maka sudah tak bisa disangkal, jembatan ini akan
mengantarkan para penyeberang ke ujung tebing perpecahan,
sehingga muncullah kreasi paradoks atau dikhotomistik.
Contoh: jauh sebelum perang demokrasi berkobar di
bumi Irak, perang mempertahankan Orde Baru dan merebut
‘Reformasi’ juga terjadi di sini. Sayangnya jembatan
yang dipilih untuk melewati sungai adalah jembatan animalistic
sehingga melahirkan peperangan kedua yang
menghasilkan kreasi paradok berupa kebebasan yang
kebablasan.
|
| |
b.
|
Rasa
Cinta
|
| |
|
Selain dipicu oleh alasan perbedaan tebing,
peperangan juga berhubungan erat dengan kodrat
manusia berupa rasa cinta. Menurut Leslie Giblin dalam Skill
with People (1995), orang lain lebih tertarik [baca:
lebih cinta] terhadap dirinya ketimbang dengan anda
dalam jumlah perbandingan
sepuluh ribu kali lipat.
Kalau anda meneriakkan kata-kata “Maling”
kepada orang yang memasuki rumah di tengah malam untuk
tujuan maling, kira-kira kemungkinan
yang umum
terjadi ada tiga. Pertama, orang itu lari dengan alasan rasa takut atau ingin
menyelamatkan diri dari amukan massa atau noda
citra-diri yang bisa diartikan menolak dikatakan maling.
Kedua, orang itu akan melawan dengan alasan membela diri
atas tuduhan yang diteriakkan. Ketiga, orang itu akan
mengaku salah dan minta maaf. Kemungkinan ketiga ini
amat sangat jarang dilakukan.
Maling menolak dikatakan maling
bukan karena ia tidak tahu bahwa perbuatannya
salah atau sudah menemukan ajaran baru yang membenarkan
untuk maling, tetapi semata karena
memahami bahwa pembelaan diri itu ‘hukumnya
wajib’ atas dasar rasa cinta.
Inilah kenyataan alamiah yang kurang diingat
ketika berinteraksi sehingga gampang sekali memunculkan
fenomena perang di mana orang lebih suka berbicara dari
pada mendengarkan, lebih dulu minta dipahami dari pada
memahami, dan lebih dulu menuntut orang lain berubah
sebelum mengubah diri.
|
| |
c.
|
Alasan
Pembenaran
|
| |
|
Semua tindakan manusia dikontrol oleh isi
pikirannya dalam arti menemukan sudut pandang yang
membenarkannya untuk melakukan suatu tindakan tertentu.
Dari contoh maling di atas, tidak saja ia
menolak dituduh karena alasan membela diri tetapi
kalau diurut lebih panjang, maling tersebut berusaha
sekuat mungkin untuk mengatakan kepada dirinya bahwa ia
mencuri karena memenuhi tanggung jawab suci sebagai
suami atau istri.
Di dalam seluruh tindakan selalu dapat ditemukan
bagian tertentu yang bisa dijadikan alasan untuk salah
atau benar terlepas apakah tindakan itu nyata-nyata
salah / benar menurut kebenaran atau kesalahan umum.
Artinya dibalik kebenaran umum masih ditemukan kebenaran
sendiri (pribadi) yang bisa jadi saling bertentangan.
Hal ini didukung oleh kenyataan alamiah – seperti yang
dikatakan dalam pepatah bijak bahwa orang tidak
akan mampu mencapai kebenaran dari keseluruhan dimensi
tetapi tidak juga menemukan kesalahan dalam tiap dimensi.
Dengan kata lain, sampai kapan pun orang tidak
akan kesulitan
menemukan alasan mengapa ia memilih cara perang
dalam merealisasikan keinginannya selama yang menjadi
substansi alasan adalah perbedaan, rasa cinta diri, dan
alasan kebenaran sendiri.
|
| |
Solusi
|
| |
Menyatakan kebenaran menyimpan makna perjuangan
dengan kualitas
cara dan materi yang lebih baik dan sebaliknya
membenarkan kenyataan adalah indikasi kepasrahan,
jembatan realisasi paling bawah. Perang adalah cara yang
ditempuh untuk ‘membenarkan’ kenyataan alamiah.
Lalu solusi apa yang diberikan oleh peradaban?
|
| |
a.
|
Semangat
|
| |
|
Peradaban didatangkan sama sekali bukan
menolak kenyataan alamiah di mana perbedaan
tebing harus dijadikan persamaan tebing, tetapi semata
merupakan ajakan untuk memperbaiki pilihan cara dalam
menyelesaikan perbedaan itu. Cara memiliki korelasi
dengan semangat. Untuk menciptakan perdamaian tidak
perlu menghitung aspek persamaan tetapi cukup
mengawalinya dengan semangat damai kemudian memilih cara
damai. Biasanya di tingkat manapun, sebelum benar-benar
terjadi peperangan secara fisik pasti terlebih dahulu
diawali dengan perang isu tentang suatu persoalan yang
dipertentangkan. Karena isunya berupa pertentangan, maka
secara reaktif orang terhanyut dalam semangat melawan
yang mempengaruhi
pilihan terhadap cara yang ditempuh.
Dengan alasan semangat inilah peradaban
modern [baca: maju] terus berupaya meneriakkan
ajakan untuk memilih jembatan kedua atau ketiga:
jembatan humanistic dan rationalistic.
Teriakan itu menawarkan aplikasi slogan "Learning"
berupa demokrasi, diplomasi, negosiasi dan masih banyak
lagi. Dikatakan Learning karena mengandung makna
"menjadikan sesuatu" yang berarti hanya
diberikan kepada komunitas manusia yang memiliki
kemampuan memilih dan memperbaiki pilihan. Hewan tidak
mengenal ajaran negosiasi kepentingan.
Di sisi lain, peradaban
juga tidak menghapus kenyataan adanya perang suci
dan perang kotor yang dahulu sama-sama diwujudkan dengan
perang fisik. Tetapi dengan semangat perdamaian,
memperbaiki pilihan cara, dan perkembangan peradaban,
maka slogan peradaban di atas menjadi cara
memilih yang membedakan materi substansial antara perang
suci dan kotor.
Sebab kesucian material yang ditempuh dengan cara yang
kotor - jembatan hewaniah maka akan sangat mungkin
menghasilkan kreasi yang kotor pula.
|
| |
b.
|
Realisasi
Misi
|
| |
|
Peradaban juga sama sekali tidak menolak bahwa
orang sudah dikodratkan untuk lebih mencintai dirinya
tetapi bagaimana rasa cinta diri yang begitu besar itu
tidak menjadi senjata menciptakan egoisme posisi semata.
Sebagai ganti peradaban menawarkan pilihan berupa
realisasi misi yang berarti mengganti pertentangan
akibat perbedaan dengan menciptakan kesepakatan sinergis
dari perbedaan itu untuk menciptakan kreasi ketiga yang
lebih unggul.
Orang dipanggil atasan karena memiliki bawahan.
Meskipun secara posisi berbeda, tetapi kalau perbedaan
itu dijadikan materi pertentangan, maka dengan
sendirinya realisasi misi terhalang. Sekeras apapun
atasan berteriak menaikkan 'penjualan' tetapi
kalau di tingkat bawah justru menciptakan perilaku yang
menjauhkan pelanggan, maka tidak terjadi kesepakatan
sinergis dengan perbedaan posisi itu.
Sudah menjadi kodrat, rasa cinta diri yang begitu besar akan memunculkan dorongan
untuk mendapatkan banyak hal: kekayaan, kepintaran atau
kemenangan. Dan semua itu benar. Tetapi yang dilarang
oleh peradaban adalah anda menjadi kaya dengan cara
membuat orang lain miskin; menjadi pintar yang mengambil
posisi berlawanan
dengan orang lain yang bodoh; menjadi atasan yang
berlawanan dengan bawahan.
Posisi berlawanan akan menciptakan pertahanan egoisme
yang berarti saling membuat kerugian dan saling merusak
misi.
|
| |
c.
|
Kemaslahatan
|
| |
|
Sudut pandang personal berperan seperti pisau.
Satu sisi ia dapat memperkokoh pendirian sehingga
membuat orang tetap tegar menjalani
hidupnya dalam arti positif, tetapi di sisi yang
berbeda, atas nama egoisme dan watak hewaniah, sudut
pandang pribadi menghasilkan kebenaran sendiri yang
memacu tindakan demi kepentingan sendiri. Hukum formal
baru akan berbicara ketika tindakan tersebut merugikan
orang lain secara riil. Tetapi kembali lagi, hukum
formal adalah kreasi manusia yang bisa ditemukan sudut
pandang hukum formal
lain yang menjadi lawannya untuk menghasilkan
kebenaran sendiri mengingat hukum formal baru membahas
tatanan dengan standard minimal.
Sebagai
pelengkap dari hukum formal tersebut,
peradaban mengeluarkan seruan yang tidak lagi
berbicara pada level pelanggaran dan hukuman melainkan
kuantitas dan kualitas kemaslahatan. Untuk mengatakan
salah-benar suatu tindakan manusia tidak cukup hanya
dengan standard kebenaran hukum formal yang bisa
direkayasa atau kebenaran sendiri yang egoisme tetapi
perlu melibatkan hukum peradaban kemanusiaan yang
mempunyai standard kemaslahatan.
|
| |
Ulasan singkat di atas bisa dijadikan bahan
refleksi diri bahwa selama ini yang banyak menyedot
perhatian kita adalah perang di tingkat antarpribadi. Di
sisi lain kita tidak bisa melupakan kenyataan bahwa
bukankan semua yang terjadi di luar diawali dari sesuatu
yang terjadi di dalam? Perang juga terjadi di dalam diri
kita pribadi. Perang, baik terjadi pada tingat
antarpribadi dan di dalam pribadi, tidak bisa dikatakan
dampak buruknya lebih ringan atau lebih berat. Bedanya,
perang fisik di luar menghasilkan korban berupa nyawa
dan bangunan yang runtuh tetapi perang di dalam diri
akan mengorbankan misi, kemaslahatan, dan cara meraih
cita-cita yang lebih panjang dan banyak menguras tenaga,
waktu dan pikiran yang pada saat bersamaan masalah hidup
yang lain tetap saja muncul. Semoga bisa menjadi bahan
renungan. (jp)
|
| |
_____________________________
|
|