INFORMASI PSIKOLOGI ONLINE  

     
     
     
     
     
     
     

 

Anak & Balita

 

 

 

 

Remaja

 

 

 

 

Dewasa

 

 

 

 

Lanjut Usia

 

 

 

 

Keluarga

 

 

 

 

Pengembangan Karir

 

 

 

 

Sosial & Budaya

 

 

 

 

Wirausaha

 

 

 

 

Masalah Psikologis Dalam Organisasi

 

 

 

 

Manajemen SDM

 

 

 

 

Ruang Konseling

 

 

 

 

Komunitas

 

 

 

 

Komentar Anda

 

 

 

 

Tentang Kami

 

 

 

 

Hubungi Kami

 

 

 

Keterlibatan Politik Masyarakat Akar Rumput 

Oleh :  RR.Ardiningtiyas P., SPsi,Msi
 
 

Jakarta, 12 Agustus 2005

 

Pemilihan kepala daerah pertama kali dilaksanakan secara langsung. Seperti yang sudah sering terjadi, tidak hanya mereka yang namanya tercantum sebagai bakal calon (balon) atau telah resmi menjadi kandidat yang bersitegang. Tetapi para pendukung yang turun ke jalan dan rela babak belur jika baku hantam harus terjadi dengan lawan sang idola.

Pertanyaan yang kerap menghampiri, mengapa mereka begitu rela mempertaruhkan nyawa untuk para elite politik yang juga belum pasti akan mengangkat mereka dari himpitan hidup? Kenyataan telah membuktikan, begitu sang jagoan naik tahta, rakyat kecil yang telah menjadi pagar betis dan mortir saat persaingan, toh tidak berubah nasibnya.

 

Keterlibatan Politik

 

Schatz, dkk (1999) menyebutkan empat faktor yang terangkum dalam keterlibatan politik yaitu political efficacy (keyakinan politik), pengetahuan politik, pencarian informasi dan aktivitas politik, serta minat politik. Keterlibatan politik ini juga menjadi salah satu komponen penting bagi terciptanya pikiran, sikap dan tindakan kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  

Pertama, keyakinan politik, adalah persepsi seseorang tentang kekuatan dan kemampuannya untuk mengubah kondisi sosial dan politik yang ada. Kedua, pengetahuan politik merupakan wawasan atau pengetahuan individu tentang sistem politik yang berlaku dalam negaranya. Ketiga, pencarian informasi dan aktivitas politik merupakan estimasi waktu seseorang untuk mendapatkan informasi politik serta bagaimana ia memandang keterlibatan dirinya sendiri dalam proses politik ang tengah berlangsung. Apakah seseorang merasa dirinya sebagai orang yang aktif atau tidak dalam kehidupan politik. Terakhir, minat politik, yakni ketertarikan individu pada proses politik yang tengah berlangsung. Namun studi penulis menunjukkan bahwa minat politik tidak tidak mampu menyokong pikiran, sikap dan tindakan kritis (Pitaloka,2004). Kekritisan memang membutuhkan lebih dari sekedar minat, tetapi juga pemahaman dan keyakinan diri dalam politik.

 

Masokisme Politik 

 

Suatu analisis menarik dikemukakan oleh Adlim dalam studinya, ia menemukan bahwa kecenderungan masokisme politik terjadi di masyarakat akar rumput Nahdlatul Ulama Jember (2005). Penulis melihat kecenderungan ini juga bisa menjelaskan perilaku politik masyarakat akar rumput secara luas di Indonesia.

Istilah masokisme berasal dari seorang novelis Austria bernama Leopold vonSacher-Masoch. Lahir di Lemberg tanggal 27 Januari 1836 dan meninggal pada tanggal 9 Maret 1895. Freud menggunakan istilah ini untuk menunjukkan kelainan seksual. Tetapi Fromm memandang masokisme dengan cara berbeda. Menurutnya, masokisme merupakan mekanisme melarikan diri dari kebebasan yang di dalamnya terpola jalinan hubungan yang menjanjikan pembebasan dari ketidakpastian.

Ketidakberdayaan untuk menyatakan keinginan diri dan eksistensi diri membuat individu lantas mengikatkan diri pada ikatan-ikatan sekunder. Masokisme, dalam pandangan Fromm, mengakomodir ketidakberdayaan ini. Sebagai konsekuensi, individu harus rela ketika ikatan-ikatan sekunder meminta balasan untuk keamanan yang telah diberikan oleh ikatan sekunder. Pada tingkat ekstrem, rasa sakit, penderitaan secara fisik atau mental menjadi bentuk penghambaan pada ikatan sekunder.

Tiga karakter yang ditunjukan dengan jelas dalam sosok masokis politik, yaitu ketidakberdayaan politik, ketidakpercayaan diri dan ketidakkekuasaan dalam politik.

Ketidakberdayaan dalam lingkup politik membawa individu tenggelam dalam arus politik tanpa mampu bersikap rasional dalam politik. Ketidakpercayaan diri dalam politik juga merupakan akibat dari ketidakmampuan diri membuat individu tidak bisa tegas berpendapat dalam politik. Terakhir, ketidakkekuasaan sebagai cerminan bahwa kekuasaan hanya milik segelintir orang dan anak masokis tidak pantas memilikinya.

Kekuasaan yang sebenarnya bisa menjadi hak setiap insan dilimpahkan pada orang yang dinilai layak dan sosok masokis menikmati kekuasaan dengan menghamba pada rang yang berkuasa.

 

 

Self-Esteem

 

Selain masokisme politik, ada hal lain yang akan melengkapi penjelasan perilaku masyarakat akar rumput dalam kehidupan politik di tanah air ini.

Uraian tentang masokisme politik mengingatkan pada hubungan individu dan kelompok yang dijelaskan Tajfel dalam identitas sosial. Ketidakmampuan pribadi dalam memenuhi self-esteem membuat individu menumpukan harapan pada kelompok sosial yang menjadi identitas sosialnya. Identifikasi ini mengikat seseorang secara nilai dan emosi yang bermuara pada peningkatan self-esteem melalui kelompok.

Ikatan yang kuat dengan kelompok dan harapan yang tumbuh mengandung resiko terjadinya ingroup favoritism (fanatisme kelompok) yang tidak jarang diikuti dengan outgroup derogation (menilai rendah kelompok lain). Individu tidak akan membiarkan begitu saja kelompoknya jatuh atau lebih rendah dari kelompok lain, maka perlakuan tidak adil terhadap kelompok lain pun kadang tak bisa terhindarkan.

 

 

Kebutuhan Dasar

 

Keterlibatan politik masyarakat menjadi salah satu syarat untuk terciptanya patriotisme konstruktif (Schatz, 1999; Pitaloka, 2004). Adalah suatu identifikasi dan evaluasi positif secara kritis pada bangsa dan negara. Hal ini bermakna individu dituntut untuk peduli, memahami dan mencarikan solusi bagi berbagai permasalahan bangsa.

Seperti telah dijabarkan di awal tulisan, keterlibatan ini membutuhkan pengetahuan politik, alokasi waktu untuk mendapatkan informasi politik, aktivitas politik juga keyakinan diri untuk bisa berperan dalam perubahan kondisi sosial-politik di dalam negeri. Yang banyak terjadi adalah ketidakberdayaan masyarakat dalam politik.

Roda kehidupan yang berputar cepat, jalanan yang begitu terjal dan tajam melumpuhkan kemampuan masyarakat banyak untuk memenuhi tiga faktor penyusun keterlibatan politik di atas. Sebagian besar masyarakat masih berkutat pada kebutuhan paling dasar dalam hirarki kebutuhan Maslow. Kehidupan untuk mengisi perut masih begitu sulit untuk dipenuhi di setiap detiknya. Bagaimana mereka mengalokasikan waktu untuk memahami dan mendapatkan pengetahuan politik? Bagaimana mereka menemukan celah dalam diri untuk meyakini kemampuannya untuk mengubah kondisi sosial?

Pesta demokrasi seringkali terlihat begitu gemerlap. Harapan untuk memiliki arti sebagai manusia yang biasanya hanya angan, tiba-tiba terasa dekat. Kampanye politik selalu menaburkan asa yang menggelitik kebutuhan masyarakat. Kebutuhan untuk diakui, kebutuhan untuk dihargai.

Dalam pesta demokrasi, sebagian masyarakat seakan melihat setitik cahaya bagi diri mereka. Bersama, mereka membentuk barisan pendukung partai X, kandidat X, mereka mulai menggantungkan pencapaian self-esteem pada kelompok sosial yang bahkan mungkin baru saja menjadi identitas sosial baru mereka. Kebutuhan ini terasa kental ketika partai atau calon mereka kalah atau gagal lolos sebagai calon. Berbagai tudingan negatif akan mulai dilontarkan pada kelompok lawan. Fanatisme dan pendiskreditan kelompok lain pun sering tak mampu dihindarkan demi kelompok, demi diri mereka.

Bila Fromm menyebutnya sebagai penghambaan sebagai pembayaran atas perasaan aman (berdaya) yang diberikan oleh ikatan sekunder, hal itu sangat masuk akal.

Kemenangan seorang kandidat atau partai adalah kemengan banyak individu pada barisan pendukung. Bukan tidak mungkin mereka menyadari bahwa kemenangan itu tidak serta merta membuat mereka bisa menyekolahkan anak mereka dengan murah, mendapat pengobatan terbaik atau tidak lagi pusing memikirkan besok akan makan apa. Namun kepuasan, kebanggaan sebagai bagian dari pihak pemenang adalah ‘pencapaian’ diri yang berdampak bagi peningkatan self-esteem mereka. Mungkin tidak lama, tapi cukup berarti untuk bisa tersenyum dan kembali menjalani kehidupan seperti biasanya.

 

 

Sumber:

Adlim, A.I. (2005) Kecenderungan masokisme politik masyarakat akar rumput Nahdlatul Ulama Jember. Jurnal Psikologi Sosial Januari 2005, vol.11, no 02, 54-63. Depok; Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Schatz, dkk (1999) On the varieties of national attachment: blind and constructive patriotism. Political Psychology vol 20, no 1, 151-174. London; Sage Publication

Pitaloka, A. (2004) Patriotisme buta dan patriotisme politik. Tesis. Depok; Depok; Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

 

_____________________________


Copyright (c) 2000, e-psikologi.com. All rights reserved
Situs ini didesain oleh e-psikologi.com