 |
Pengungkapan
Diri
|
|
Oleh
Johanes Papu
|
|
Team
e-psikologi
|
| |
Jakarta,
12 Juli 2002
|
| |
Dalam
kehidupan sosial di masyarakat, individu seringkali
dirundung rasa curiga dan tidak percaya diri yang kuat
sehingga tidak berani menyampaikan berbagai gejolak atau
pun emosi yang ada di dalam dirinya kepada orang lain,
apalagi jika menyangkut hal-hal yang dianggapnya tidak
baik untuk diketahui orang lain. Akibatnya individu
tersebut lebih banyak memendam berbagai persoalan hidup
yang akhirnya seringkali terlalu berat untuk ditanggung
sendiri sehingga menimbulkan berbagai masalah psikologis
maupun fisiologis.
Dalam ruang konseling di website ini,
banyak pembaca yang mengatakan bahwa mereka sulit
sekali mengungkapkan diri (mengatakan pendapat, perasaan,
cita-cita, rasa marah, jengkel, dsb) kepada orang lain,
bahkan tidak pernah berbagi informasi jika tidak diminta
/ ditanya. Hal yang menarik adalah mereka mengakui bahwa
kondisi tersebut sangat tidak nyaman dan cenderung
membuat mereka dijauhi oleh rekan atau pun anggota
keluarganya sendiri. Meskipun di satu sisi mereka merasa
ragu dan takut untuk mengungkapkan diri, namun di sisi
lain mereka merasa bahwa hal tersebut sangat diperlukan
untuk meringankan beban diri sendiri.
|
| |
Menyikapi
permasalahan diatas, maka kita perlu mengetahui mengapa
pengungkapan diri perlu dilakukan dan mengapa, bagi
sebagian individu, hal ini amat sulit untuk dilaksanakan.
Pertanyaan mendasar adalah mengapa kita harus
memberitahu orang lain tentang diri kita sendiri. Lalu
bagaimana cara mengungkapkan diri secara tepat sehingga
tidak menimbulkan penyesalan bagi diri sendiri dan
menambah beban bagi orang lain.
|
| |
Dasar
Pemikiran
|
| |
Pengungkapan
diri atau “self disclosure” dapat diartikan
sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada
orang lain. Informasi yang diberikan tersebut dapat
mencakup berbagai hal seperti pengalaman hidup, perasaan,
emosi, pendapat, cita-cita, dan lain sebagainya.
Pengungkapan diri haruslah dilandasi dengan kejujuran
dan keterbukaan dalam memberikan informasi, atau dengan
kata lain apa yang disampaikan kepada orang lain
hendaklah bukan merupakan suatu topeng pribadi atau
kebohongan belaka sehingga hanya menampilkan sisi yang
baik saja.
|
| |
Untuk
menjawab pertanyaan mengapa seseorang perlu memberitahu
orang lain tentang dirinya sendiri, maka hal tersebut
harus dilihat sebagai suatu siklus yang melibatkan 3 (tiga)
hal yaitu pengungkapan diri, hubungan persahabatan dan
penerimaan terhadap diri sendiri. Adapun penjelasannya
adalah sebagai berikut:
|
| |
-
Merupakan suatu hal yang
sangat baik jika anda mengatakan kepada teman atau
orang lain yang berinteraksi dengan anda bagaimana
mereka dapat mempengaruhi anda. Dengan mengungkapkan
perasaan dan berbagi pengalaman maka akan
dapat semakin mempererat hubungan persahabatan.
-
Penerimaan teman atau orang
lain akan
memudahkan anda untuk dapat menerima kondisi diri
anda sendiri.
-
Karena anda sudah dapat
menerima diri sendiri dan merasa nyaman dengan
kondisi tersebut, maka anda lebih mudah untuk
mengungkapkan diri sehingga hubungan dengan teman
anda terasa lebih menyenangkan.
-
Dengan
adanya berbagai masukan dari orang lain, rasa aman
yang tinggi, dan penerimaan terhadap diri, maka anda
akan dapat melihat diri sendiri secara lebih
mendalam dan mampu menyelesaikan berbagai masalah
hidup.
|
| |
Meski diakui bahwa pengungkapan diri sangat
penting bagi perkembangan individu, namun sebagian orang
masih enggan untuk melakukannya. Pada dasarnya
keengganan atau kesulitan individu dalam mengungkapkan
diri banyak dilandasi oleh faktor risiko yang akan
diterimanya di kemudian hari, di samping karena belum
adanya rasa aman dan kepercayaan pada diri sendiri.
Risiko yang dimaksud dapat berupa bocornya informasi yang telah diberikan pada seseorang kepada
pihak ketiga padahal informasi tersebut dianggap sangat
pribadi oleh si pemberi informasi, atau bisa juga
informasi yang disampaikan justru menyinggung perasaan
orang lain sehingga dapat mengganggu hubungan
interpersonal yang sebelumnya sudah terjalin dengan baik.
Selain itu pengungkapan diri pada orang atau kondisi
yang tidak tepat justru akan menjadi bumerang bagi si
pemberi informasi. Selain faktor risiko, faktor pola
asuh juga berperan penting. Dalam keluarga atau
lingkungan yang tidak mendukung semangat keterbukaan dan
kebiasaan berbagi informasi maka individu akan sulit
untuk bisa mengungkapkan diri secara tepat. Itulah
sebabnya mengapa sebagian orang amat sulit berbagi
informasi dengan orang lain, sekali pun informasi
tersebut sangat positif bagi dirinya dan orang lain.
|
| |
Meskipun pengungkapan diri mengandung risiko bagi
si pelaku (pemberi informasi) namun para ahli psikologi
menganggap bahwa pengungkapan diri sangatlah penting.
Hal ini dasarkan pada pendapat yang mengatakan bahwa
pengungkapan diri (yang dilakukan secara tepat)
merupakan indikasi dari kesehatan mental seseorang.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mampu
mengungkapkan diri secara tepat terbukti lebih mampu
menyesuaikan diri (adaptive), lebih percaya pada diri
sendiri, lebih kompeten, extrovert, dapat diandalkan,
lebih mampu bersikap positif dan percaya terhadap orang
lain, lebih obyektif dan terbuka (David Johnson, 1981;
dalam mentalhelp.net). Selain itu para ahli
psikologi juga meyakini bahwa berbagi informasi dengan
orang lain dapat meningkatkan kesehatan jiwa, mencegah
penyakit dan mengurangi masalah-masalah psikologis yang
menyangkut hubungan interpersonal. Dari segi komunikasi
dan pemberian bantuan kepada orang lain, salah satu cara
yang dianggap paling tepat dalam membantu orang lain
untuk mengungkapkan diri adalah dengan mengungkapkan
diri kita kepada orang tersebut terlebih dahulu. Tanpa
keberanian untuk mengungkapan diri maka orang lain akan
bertindak yang sama, sehingga tidak tercapai komunikasi
yang efektif.
|
| |
Secara lebih lengkap manfaat-manfaat dari
pengungkapan diri dapat disebutkan sebagai berikut:
|
| |
-
Meningkatkan
kesadaran diri (self-awareness).
Dalam proses pemberian informasi kepada orang lain,
anda akan lebih jelas dalam menilai kebutuhan,
perasaan, dan hal psikologis dalam diri anda. Selain
itu, orang lain akan membantu anda dalam memahami
diri anda sendiri, melalui berbagai masukan yang
diberikan, terutama jika hal itu dilakukan dengan
penuh empati dan jujur.
-
Membangun
hubungan yang lebih dekat dan mendalam, saling
membantu dan lebih berarti bagi kedua belah pihak.
Keterbukaan merupakan suatu hubungan timbal balik,
semakin anda terbuka pada orang lain maka orang lain
akan berbuat hal yang sama. Dari keterbukaan
tersebut maka akan timbul kepercayaan dari kedua
pihak sehingga akhirnya akan terjalin hubungan
persahabatan yang sejati.
-
Mengembangkan
ketrampilan berkomunikasi
yang memungkinkan seseorang untuk menginformasikan
suatu hal kepada orang lain secara jelas dan lengkap
tentang bagaimana ia memandang suatu situasi,
bagaimana perasaannya tentang hal tersebut, apa yang
terjadi, dan apa yang diharapkan.
-
Mengurangi
rasa malu dan meningkatkan penerimaan diri (self
acceptance).
Jika orang lain dapat menerima anda maka kemungkinan
besar anda pun dapat menerima diri anda.
-
Memecahkan
berbagai konflik dan masalah interpersonal.
Jika orang lain mengetahui kebutuhan anda, ketakutan,
rasa frustrasi anda, dsb, maka akan lebih mudah bagi
mereka untuk bersimpati atau memberikan bantuan
sehingga sesuai dengan apa yang anda harapkan.
-
Memperoleh
energi tambahan dan menjadi lebih spontan.
Harap diingat bahwa untuk menyimpan suatu rahasia
dibutuhkan energi yang besar dan dalam kondisi
demikian seseorang akan lebih cepat marah, tegang,
pendiam dan tidak riang. Dengan berbagi informasi
hal-hal tersebut akan hilang atau berkurang dengan
sendirinya.
|
| |
Beberapa
Kiat
|
| |
Bagi anda yang mengalami masalah dalam
mengungkapkan diri kepada orang lain, ada 4 (empat)
langkah yang dapat anda lakukan agar pengungkapan diri
dapat berjalan efektif. Keempat langkah tersebut adalah:
|
| |
Langkah 1: Tanyakan pada diri sendiri, sejauhmana
saya akan membuka diri? Hal-hal apa yang bisa saya bagi
dengan orang lain dan kepada siapa?
|
| |
Setiap orang memiliki rahasia pribadi. Hal
tersebut sangatlah normal karena setiap orang tentu
ingin menjaga agar hal-hal khusus tidak perlu diketahui
oleh orang lain. Sayangnya banyak rahasia yang
sebenarnya justru tidak perlu dirahasiakan karena tidak
membahayakan diri sendiri dan orang lain, tetapi karena
takut orang lain tidak memahami rahasia tersebut maka
rahasia ini disimpan terus-menerus . Hal inilah yang
harus diperhatikan oleh anda jika ingin mengungkapkan
diri.
|
| |
Langkah 2: Lakukan persiapan sebelum membuka diri.
Atasi terlebih dahulu kekhawatiran dan ketakutan anda.
|
| |
Untuk mengatasi kekuatiran, ketakutan atau
ketidakpercayaan diri, anda dapat memulai pengungkapan
diri dengan memilih topik pembicaraan pada hal-hal yang
ringan dan santai. Contohnya: berbagi cerita tentang
acara televisi
atau film yang disukai, perawatan mobil/motor, kegiatan
di sekolah atau kantor, dll. Pada awalnya usahakan untuk
tidak mengutarakan berbagai perasaan atau opini pribadi.
Jika tahapan ini
sudah anda lalui dan berhasil dengan baik,
barulah anda memilih orang yang dapat anda percayai
untuk mengemukakan pendapat pribadi maupun perasaan anda
tentang suatu hal, misalnya utarakan apa yang anda
rasakan dan apa yang anda harapkan dari teman anda.
Secara berangsur-angsur lakukan hal tersebut dengan
beberapa yang berbeda. Dengan cara ini anda akan menjadi
mudah untuk memulai komunikasi dan selanjutnya menjadi
terbiasa dalam berbagi informasi.
|
| |
Langkah 3: Tingkatkan terus ketrampilan anda
dalam mengungkapkan diri.
Pelajari cara-cara mengungkapkan diri dan
bagaimana memberikan masukan yang bermanfaat.
|
| |
Pengungkapan
diri melibatkan cara-cara penyampaian informasi yang
baik dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman
bagi orang yang menerima informasi tersebut.
Jika anda ingin berbagi informasi maka kemukakan
hal itu sejelas-jelasnya, hindari ketidakjujuran,
kemukakan dengan bahasa sederhana dan jangan
berbelit-belit. Jangan berasumsi bahwa orang lain akan
memahami anda, mengetahui perasaan dan kebutuhan anda
tanpa harus anda katakan. Ingatlah bahwa tidak ada
seorangpun yang dapat membaca pikiran anda. Jadi andalah
yang harus mengatakan dan menjelaskan apa perasaan anda,
apa kebutuhan anda saat ini dan apa yang anda harapkan
dari orang lain. Jika ada hal-hal yang anda rasakan
kurang jelas, bertanyalah pada saat ini dan jangan
berasumsi.
|
| |
Dalam
mengungkapkan diri, secara tidak langsung sebenarnya
anda juga memberikan masukan kepada orang lain dan
sebaliknya. Oleh karena itu dalam memberikan berbagai
masukan kepada teman (orang yang diberi informasi) anda
perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
|
| |
-
Masukan yang diberikan tidak boleh
bernada ancaman. Fokuskan pada permasalahan dan bukan
pada kepribadian si lawan bicara.
-
Fokus pada masalah yang sedang
dibahas,
jangan ngalur-ngidul ke masalah-masalah lain atau ke
masa lalu
-
Jangan memberi masukan jika tidak
diperlukan,
tidak mungkin dilaksanakan atau diterima, atau
jika usulan tersebut sudah tidak berguna.
Berikan hanya masukan yang benar-benar masuk akal,
bersifat membangun dan tidak
rumit.
|
| |
Langkah 4:
Ungkapkan diri anda secara tepat dengan pemilihan waktu
dan situasi yang tepat pula.
|
| |
Agar
dapat mengungkapkan diri secara tepat pada waktu atau
situasi yang tepat, perlu memperhatikan beberapa hal
sebagai berikut:
|
| |
-
Pertama-tama anda harus memiliki suatu
alasan mengapa anda perlu membuka diri.
-
Dengan siapa anda
akan berbicara..teman dekat? orangtua? atasan?
kenalan baru? atau siapa?
-
Sejauhmana pengungkapan diri anda akan
membahayakan diri anda sendiri?
|
| |
Dengan
mempertimbangkan ketiga hal tersebut maka anda akan
dapat mengungkapkan diri secara tepat dan proporsional
sehingga akan bermanfaat bagi diri anda dan orang lain.
Bagi anda yang sangat sulit membuka diri kepada orang
lain, maka akan sangat baik jika anda membuat semacam
catatan kecil tentang hal-hal yang telah anda ungkapkan
pada orang lain dan pengaruhnya terhadap perkembangan
diri anda.
|
| |
Mengingat kodrat manusia sebagai makhluk sosial
dan dengan melihat berbagai manfaat yang akan diperoleh
jika seseorang dapat mengungkapkan diri secara tepat,
maka tidak ada pilihan lain bagi setiap individu selain
belajar untuk dapat mengungkapkan diri. Ketidakmampuan
untuk mengungkapkan diri akan sangat merugikan
perkembangan jiwa individu yang bersangkutan. Meskipun
demikian, keputusan untuk membuka diri dan berbagi
informasi dengan orang lain haruslah dilakukan secara
hati-hati dan bijaksana. Dengan melihat beberapa kiat
diatas, individu diharapkan dapat memiliki kepercayaan
diri dalam membuka diri bagi orang lain sehingga dapat
tercipta hubungan interpersonal yang sehat. Bahwa
dalam kenyataan pasti ada risiko yang harus ditanggung
jika seseorang berani mengungkapkan diri kepada orang
lain, misalnya informasi yang diberikan dimanipulasi
oleh si penerima informasi, atau pun dikhianati oleh
orang yang sangat dipercayai, tentu tidak dapat
dipungkiri. Namun demikian dengan cara-cara yang bijak
dan perencanaan yang baik maka hal itu pasti akan dapat
dikurangi. Jika diambil persamaan maka pengungkapan diri
sama saja dengan jatuh cinta: ada risiko yang harus
ditanggung tetapi amat sulit untuk ditolak. Selamat
mencoba. (jp)
|
| |
_____________________________
|