|
Akibat meniru adegan dalam tayangan televisi ‘smack
down’, seorang anak meninggal dan seorang anak lain
mengalami patah tulang. Masyarakat pun mulai bergerak,
mendesak agar tayangan tersebut dihentikan guna
menghindari jatuhnya korban lagi.
Berhentinya tayangan tersebut bukan berarti televisi
kita bersih dari adegan kekerasan. Mulai dari berita
hingga program yang dirancang sebagai hiburan seperti
film baik dari Asia – Amerika. Kekerasan hampir menjadi
menu utama yang disajikan di televisi. Selain berita
yang banyak diwarnai oleh tindakan anarkis para
demonstran hingga liputan kriminal, televisi kita masih
menawarkan tayangan film-film asing yang tidak lepas
dari adegan memukul, menendang, adu tembak, hingga darah
yang berceceran sebagai hiburan. Seolah, tak ada film
lain yang menarik tanpa salah satu adegan tersebut yang
patut untuk dihadirkan di ruang keluarga penonton
Indonesia.
Tayangan lokal pun tidak mau kalah, dari membentak, mata
melotot, menampar dan meneriakkan kata makian menjadi
andalan di setiap iklan tayangannya. Coba sesekali
sediakan secarik kertas dan pena kala melihat tayangan
berita, hitunglah berapa iklan tayangan baik film asing
atau sinetron yang menunjukkan adegan kekerasan. Lain
waktu, tambahkan kolom untuk juga mencatat berita
kekerasan yang ditampilkan. Sungguh menakjubkan, untuk
sebuah bangsa yang mengaku dan merasa sebagai bangsa
yang ramah dan berbudaya…
Tinjauan &
Analisis Tayangan Kekerasan
Secara literatur, beratus studi telah menunjukkan dengan
jelas bahwa.. Exposure to media may indeed be one
factor contributing to high levels of violence in
countries where such materials are viewed by large
numbers of persons (e.g., Anderson, 1997; Berkowitz,
1993; Paik & Comstock, 1994; Wood et al, 1991, dalam
Baron & Byrne,2000)
Bagaimana media dapat memberikan efek yang tajam dari
tayangan kekerasan terhadap penontonnya, setidaknya ada
tiga penjelasan yang menarik berikut;
Pertama, media memudahkan orang untuk mempelajari
‘cara-cara baru’ kekerasan yang kemungkinan besar tidak
terpikirkan sebelumnya. Disebut juga dengan ‘Copycat crimes’, di mana
kekerasan yang bersifat fiksi maupun nyata yang
ditayangkan oleh media kemudian ditiru oleh orang lain
di tempat lain dengan harapan akan mendapatkan hasil
yang serupa.
Kasus anak korban ‘smack down’ menjadi gambaran
yang sedang hangat. Terlebih bagi anak-anak, tayangan
tersebut bisa memberikan pemahaman yang keliru tentang
rasa sakit dan kondisi tubuh manusia. Betapa tidak,
tayangan yang menampilkan dua orang yang berbadan kekar
saling hantam dengan gaya bebas namun tetap terlihat
‘tidak kesakitan’. Anak akan menganggap bahwa meloncat
dan menjatuhkan tubuh di atas tubuh kawannya, misalnya,
tidak akan menimbulkan rasa sakit apalagi cacat tubuh
bahkan meninggal.
Kedua, de-sensitization effects, berkurang atau
hilangnya kepekaan kita terhadap kekerasan itu sendiri.
Studi menunjukkan, akibat dari banyaknya
menonton tayangan kekerasan, orang tidak lagi mudah
merasakan penderitaan atau rasa sakit yang dialami orang
lain (Baron, 1974 dalam Baron & Byrne,2000).
Secara biologis, ketika menonton tayangan yang
menyakitkan atau kekerasan, aktivitas otak akan bergerak
dari ranah bahasa di otak kiri ke otak kanan yang
mendominasi proses emosi dan pengkodean gambaran visual.
Itu sebabnya menonton memberi dampak emosional yang
lebih kuat dari pada membaca. Jika hal ini terlalu
banyak, maka kita akan menjadi kebas dan tidak peka lagi
dengan kekerasan (Flora, 2004).
Sejak reformasi, televisi kita bisa lebih bebas dalam
pemilihan tayangan. Seiring dengan itu, kekerasan pun
merebak, berita mulai didominasi dengan tindakan-tindakan
anarkis yang tidak jarang bersumber dari sesuatu yang
sepele. Masyarakat menjadi sangat mudah disulut api
kekerasan. Sayangnya, televisi pun makin getol dengan
adegan kekerasan bahkan sebagai hiburan. Coba telusuri
program serangkaian film asing yang dijanjikan akan
diputar dalam satu bulan, sulit sekali menemukan film
keluarga yang bisa menciptakan senyum, tawa, perasaan
santai, melepas beban rutinitas dan mendapatkan
insight yang positif.
Padahal banyak sekali film yang mengedepankan nilai-nilai
kehidupan dari hal kecil seperti perasaan seorang anak
di tengah kesibukan orangtua yang disajikan begitu
santun, mengelitik, tanpa didominasi teriakan amarah.
Mrs. Doubtfire, salah satunya yang sudah berulang kali
ditayangkan oleh televisi kita, dan masih banyak lagi
yang lain yang semestinya bisa ditampilkan ketimbang
film-film yang lebih banyak memamerkan kekerasan. Lebih
miris lagi, sinetron-sinetron yang berbungkus nama agama
pun diwarnai dengan umpatan, saling pukul dan saling
tampar.
Ketiga, periklanan menganggap tayangan kekerasan lebih
menjual.
Bushman (1998, dalam Baron & Byrne,2000) menemukan hal
yang kurang menggembirakan, ternyata orang yang menonton
tayangan kekerasan , kemungkinan besar hanya mampu
sedikit mengingat isi dari suatu tayangan komersial atau
iklan.
Bushman dan Bonacci (2002, dalam Gunter, Furnham & Pappa,2005)
semakin menemukan betapa kuatnya pengaruh tayangan
kekerasan terhadap penontonnya. Studi mereka menunjukkan
bahwa iklan yang tidak menampilkan kekerasan, jika
ditayangkan di program televisi yang menayangkan
kekerasan, akan sulit diingat dari pada jika ditayangkan
di program televisi non-kekerasan. Sebaliknya, iklan
yang menampilkan kekerasan akan semakin mudah diingat
ketika ditampilkan di program televisi kekerasan.
Hal ini dikarenakan tayangan tersebut mendukung dan
memudahkan penonton untuk mengingat iklan yang juga
berisi adegan kekerasan.
Cukup aneh, bukankah seharusnya periklanan justru
mendorong tayangan non kekerasan? Ataukah dengan tidak
tertangkapnya isi iklan dengan baik oleh penonton
kemudian menjadi nilai tersendiri bagi iklan tersebut?
Kemungkinan, iklan akan memetik keuntungan dengan tidak
telitinya penonton dan hanya menangkap bagian tertentu
dari iklan tersebut. Hal ini sangat menarik untuk
dilakukan studi lebih lanjut, termasuk di Indonesia. |