|
Hambatan yang menyulitkan
Ada beberapa hal yang menghambat usaha kita untuk
mengatasi kesulitan dalam bergaul, antara lain:
1.
Arogansi tersembunyi
Ini biasanya sangat halus bahkan kita
sendiri kurang menyadarinya. Namun demikian ada
bentuk-bentuk riil yang bisa mewakili, misalnya kita
menolak untuk bertanya kepada orang lain lebih dulu
dengan alasan “untuk apa”, menolak berjabat tangan lebih
dulu, dan seterusnya. Meski ini adalah hak kita, tetapi
kalau yang kita inginkan adalah menjalin pergaulan, maka
kita perlu menggantinya dengan yang lebih friendly.
Selain arogansi tersembunyi ini, ada juga
yang bisa kita sebut dengan istilah “terlalu pasif”.
Kita memang tidak memiliki alasan “untuk apa” yang
bernada mengangkat diri kita di atas orang lain, tetapi
kita terlalu pasif, misalnya menunggu ditanya lebih dulu,
menunggu diajak berjabat tangan lebih dulu, menunggu
disapa lebih dulu, menunggu diajak senyum lebih dulu, dan
seterusnya. Dua hal ini bisa mengganggu pergaulan.
2.
Terlalu memikirkan diri sendiri
Ini bisa mengganggu kelancaraan saat
sedang berbicara / berdialog dengan orang lain. Ketika
sedang berbicara dengan orang lain, jangan memikirkan
bagaimana sepatu anda, bagaimana rambut anda, bagaimana
cara duduk anda, bagaimana seluler anda, dan seterusnya.
Atau juga jangan mengembangkan asumsi seperti misalnya:
bagaimana orang lain menilai kostum saya, dan sejumlah
“bagaimana” yang lain. Ini kerap bisa membuat
konsentrasi anda bukan pada pembicaraan, tetapi kepada
diri sendiri. Kalau Anda sedikit-sedikit melihat ke diri
sendiri, mungkin anda akan kehilangan momen untuk
menghangatkan suasana. Jadi, fokuskan pada bagaimana
menciptakan suasana supaya bisa menjadi hidup, bukan
memikirkan diri sendiri.
3.
Terlalu banyak menilai orang lain (jugdmental)
Menilai itu tahapan berikutnya. Untuk
membuka pintu pergaulan, nomorduakan itu. Atau juga,
simpan dulu di batin anda. Terlalu cepat menghakimi
orang lain bisa mengganggu kelancaran usaha dalam
membuka pergaulan. Yang lebih dibutuhkan di sini adalah
kemampuan memunculkan asumsi bahwa semua orang itu punya
sisi positif dan juga punya sisi negatif. Asumsi ini
akan banyak membantu dalam melancarkan urusan pergaulan.
Ada sebuah pepatah yang mengingatkan kita begini: “Kalau
Anda menginginkan orang yang sempurna seperti yang Anda
inginkan, sebaiknya Anda hidup seorang diri dengan
mengunci kamar”
4.
Terpenjara oleh pemahaman sempit dan mempersempit
Sadar atau tidak, seringkali kita
menciptakan pemahaman yang mempersempit hidup kita
sendiri. Ini biasanya terkait dengan urusan agama, suku,
ras, almamater, status sosial, status pendidikan, dan
lain-lain. Meski jarang kita ucapkan tetapi dalam
prakteknya kerap kita jalankan. Kita merasa agak kurang
sreg bergaul dengan lain agama, lain suku, lain
almamater, lain status, dan seterusnya.
Memang ini hak kita juga tetapi bila
dikaitkan dengan upaya mengatasi kesulitan pergaulan, ya
hendaknya ini perlu kita pikirkan ulang. Jangan-jangan
hanya karena kita punya pemahaman yang sempit lalu hidup
kita menjadi sempit. Dunia ini sebetulnya tidak
mempersempit kita. Tetapi karena kita punya pemahaman
yang sempit tentang dunia, akhirnya dunia kita menjadi
sempit.
5.
Masalah kejiwaan yang umum
Ada sejumlah masalah kejiwaan umum yang juga kerap
menghambat pergaulan, seperti misalnya kurang pede, malu
tanpa alasan yang jelas, minder, takut, cepat ngambek,
sering terjadi konflik dengan orang lain, dan lain-lain.
Ada banyak tip yang bisa kita baca dari berbagai sumber
untuk mengatasi masalah ini. Namun begitu, ada satu kata
kunci yang tidak bisa ditinggalkan, yaitu:
menghilangkannya dengan cara mempraktekkan (learning
by doing), belajar memperbaiki diri dari praktek
yang kita lakukan.
Keberanian Anda dalam bergaul akan membaik
apabila Anda terus mempraktekkan pergaulan. Kepercayaan
diri Anda akan tumbuh membaik bukan karena Anda banyak
tahu tentang tip pergaulan tetapi karena Anda banyak
latihan bergaul (practicing). Tip, strategi atau
pengetahuan itu dibutuhkan pada saat Anda sedang
mempraktekkan, bukan sedang memikirkan.
Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk
diingat juga adalah mencampur adukkan antara
pergaulan dengan kepentingan lain, katakanlah di
sini misalnya kepentingan bisnis. Untuk orang tertentu
pada keadaan tertentu dengan konteks tertentu dan pada
level keakraban tertentu, terkadang bisa menganggu kalau
kita bergaul tetapi tujuan kita adalah ingin memasarkan
produk.
Ini memang tidak mutlak dan terkadang
lebih banyak terkait dengan persoalan cara dan level
keakraban. Berdasarkan omongan orang yang sering saya
dengar, orang agak merasa terganggu dengan model
pergaulan yang keakrabannya belum begitu mendalam tetapi
sudah bicara menawarkan produk dengan cara yang agresif.
Jika Anda harus melakukannya juga, tempuhlah cara yang
paling asertif (sopan, tidak bernada “memaksa”, didukung
dengan alasan yang kuat).
Solusi yang bisa Anda lakukan
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi
masalah kesulitan bergaul ini, antara lain:
1.
Melatih kepedulian
Kepedulian itu bentuknya bermacam-macam
dari mulai yang paling ringan bisa kita lakukan sampai
ke yang paling berat. Ini misalnya adalah showing
interest (menunjukkan ketertarikan) pada kehidupan
orang lain, bisa diajak berbicara tentang apa yang
penting menurut orang lain, memberikan alasan pada orang
lain bahwa Anda tidak berada di pulau yang berbeda
dengan mereka, dan seterusnya. Di sini berarti Anda
perlu meningkatkan wawasan yang terkait dengan beberapa
topik utama di lingkungan Anda.
Meskipun showing interest itu
gratis tetapi kalau untuk kepentingan mengatasi masalah
kesulitan bergaul, biasanya berperan sangat penting.
Untuk selanjutnya, bentuk kepedulian ini bisa Anda
tingkatkan, misalnya melibatkan diri pada aktivitas
bersama dengan orang lain, memainkan peranan yang
bermanfaat bagi orang lain, memberi bantuan pada orang
lain yang membutuhkan anda, dan seterusnya. Intinya,
jangan sampai kita menyalahkan model kepribadian yang
kita miliki seiring dengan serangkaian kesulitan bergaul
yang kita alami sementara kita sendiri jarang
menunjukkan ketertarikan pada topik atau hal yang
menarik buat orang lain. Kita merasa hidup di pulau yang
jauh dengan orang lain.
2.
Fokuskan pada pengembangan dialog dan suasana
Seperti yang sudah kita bahas di muka,
terlalu memikirkan diri sendiri dan terlalu membuat
penilaian atas orang lain pada saat pembicaraan
berlangsung, ini bisa mengganggu suasana. Karena itu,
fokuskan pada suasana, topik pembicaraan, dan kehangatan
dialog. Bagaimana caranya? Di antaranya adalah: a)
mengajukan pertanyaan yang bisa kita pelajari dengan
menggunakan kaidah 5W1H (what, where, who, why, when,
dan how), b) mendengarkan dan mengungkapkan, c)
memunculkan humor atau guyonan yang mendukung dan sesuai
kebutuhan.
3.
Menghormati “privay” orang lain
Ada beberapa hal tentang orang lain yang membuatnya akan
lebih suka kalau kita ketahui, tetapi juga ada beberapa
hal tentang orang lain yang akan membuatnya tidak nyaman
kalau kita ketahui. Hal-hal tentang orang lain yang
membuatnya tidak nyaman kalau kita ketahui inilah yang
saya maksudkan dengan privacy. Biasanya yang
kedua ini adalah masalah-masalah yang sangat pribadi.
Setiap orang itu biasanya memiliki tiga
wilayah kehidupan. Pertama adalah wilayah publik (diketahui
secara umum, misalnya tinggal di mana, sekolah di mana,
dst), kedua, wilayah privat (diketahui hanya oleh orang
yang dekat, pacarnya siapa, musuhnya siapa, dst), dan
ketiga adalah wilayah pribadi (tidak ingin diketahui
oleh siapapun kecuali dirinya atau suami-istrinya).
Untuk kepentingan kelancaran bergaul, akan lebih OK
kalau kita memfokuskan diri untuk mengetahui hal-hal
yang memang orang lain merasa nyaman untuk diketahui (wilayah
publik) dan melupakan apa saja yang membuat orang lain
merasa tidak nyaman bila diketahui (wilayah pribadi)
4.
Lihat orang lain yang lebih berhasil
Pergaulan itu erat kaitannya dengan seni (the
art) atau permainan, (playing the game)
tentang bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain.
Karena seni, maka gayanya berbeda-beda dan ini tidak
terkait dengan apakah anda orang yang tipenya banyak
ngomong atau sedikit ngomong. Dan, dalam seni permainan,
biasanya ada dua hal yang mendasar, yaitu: a) bagaimana
anda mengontrol emosi, b) bagaimana anda mengimbangi
emosi orang lain.
Dua hal ini memang agak sulit kalau
dijelaskan dengan kata-kata. Akan lebih cepat bisa anda
pahami dengan melihat bagaimana orang lain yang secara
prestasi di atas Anda menjaga hubungan. Mereka yang
telah berhasil menjaga hubungan sampai bertahun-tahun,
umumnya sudah memiliki kematangan emosi yang lebih bagus.
Ini bukan berarti mereka tidak pernah konflik, gap,
berbeda pendapat dan lain-lain, tetapi karena mereka
sudah tahu bagaimana bermain-main dengan emosi. Karena
itu, ada hal-hal yang ditanggapi dengan diam, dengan
bicara, dengan ketawa, dengan biasa-biasa, dengan humor,
dan lain-lain.
Kalau Anda kesulitan mencari contoh,
lihatlah bagaiman orang tua kita yang telah
bertahun-tahun mempertahankan hubungan dalam membina
keluarga. Secara umum bisa kita lihat bahwa
kecanggihannya dalam memainkan emosi terletak pada
kemampuannya untuk tidak “meng-ekstrim-kan” sesuatu yang
berpotensi akan mengacaukan keadaan atau hubungan. Untuk
mencapai kemampuan ini memang perlu latihan dan ini
tidak terkait langsung dengan umur tetapi terkait dengan
pengalaman hidup (life experiencing).
5.
Tingkatkan prestasi Anda
Ini adalah kunci untuk mengatasi
masalah-masalah kejiwaan umum itu. Semakin banyak
hal-hal positif yang bisa Anda realisasikan dari diri
Anda, maka semakin baguslah Anda merasakan diri anda.
Bagaimana kita merasakan diri kita akan terkait dengan
bagaimana kita berhadapan dengan orang lain. Karena itu,
menurut teori kesehatan mental, orang yang sedang
depresi (punya perasaan negatif terhadap diri sendiri,
orang lain, keadaan atau Tuhan) tidak bisa membangun
hubungan dengan orang lain secara positif dan
konstruktif.
Semua yang kita bahas di sini adalah tahap
awal untuk mengatasi kesulitan bergaul. Silahkan Anda
mengembangkan sendiri dari praktek langsung. Selamat
mempraktekkan!!
|