|
|
 |
Kontak
Dalam Masyarakat Multikultur
|
|
Oleh RR.
Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.**
|
|
|
| |
Jakarta,
3 September 2004
|
| |
Indonesia dikenal luas sebagai bangsa yang terdiri dari
sekitar 300 suku bangsa dan masing-masing mempunyai
identitas kebudayaan sendiri (Bruner,1972;
Koentjaraningrat, 1975, dalam Warnaen, 2001). Banyaknya
suku bangsa di Indonesia kini telah bertambah satu yakni
dengan diakuinya etnis Tionghoa sebagai salah satu etnis
di Indonesia. Mungkin sekian tahun ke depan akan
ditambah dengan etnis Arab dan India yang juga cukup
banyak tinggal di Indonesia.
Yang menggembirakan adalah pengakuan dan pembauran etnis
Tionghoa kini lebih terasa nyata. Coba tengok ajang Indonesian
Idol, beberapa peserta terlihat jelas dari etnis ini
dan mendapat sambutan yang hangat, lalu, sebut saja
deretan artis sinetron; Roger Danuarta, Bertrand Antolin
atau Olga Lydia, mereka pun menjadi idola remaja
Indonesia.
Fenomena lain yang membanggakan dan selayaknya terus dipacu
juga munculnya prestasi anak bangsa dari daerah yang
dianggap ‘tertinggal’ yaitu Papua. Memenangkan
olimpiade fisika tingkat internasional, lomba karya
ilmiah remaja tingkat nasional hingga kiprah remaja
Papua dalam Indonesian Idol bisa meningkatkan
kebangsaan masyarakat Papua sebagai Indonesia. Mengapa?
Setidaknya penghargaan dan sambutan masyarakat dari luar
Papua untuk bersedia mengirimkan dukungan melalui short
message service (sms), atau pengakuan institusi
nasional atas prestasi sekelompok remaja Papua bisa
menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia tidak
mendiskreditkan Papua.
Akhir bulan Agustus ini juga muncul dua macam iklan dari
produk susu kental manis yang menghadirkan kontak dengan
‘kesalahpahaman’ bahasa di antara anak kecil Sunda
dan Jawa, juga antara anak kecil Melayu dan Batak.
Keheranan gadis kecil Jawa mendengar kalimat “Ini
‘teh’, susu...” atau anak suku Melayu
mendengar temannya dari suku Batak menolak bahwa susu
yang sedang dibuatnya adalah untuk
“Tulang” (paman) memancing bisa senyum
penonton iklan tersebut sekaligus ‘mengingatkan’
perbedaan yang memang ada.
Beberapa ilustrasi di atas berpotensi menciptakan harmoni
dalam kehidupan sosial di Indonesia. Kontak langsung
atau tidak langsung yang terjadi antar kelompok etnis
bisa jadi merupakan sesuatu yang tak terelakkan dalam
kehidupan ini. Sebab, bagaimanapun, kategori sosial
adalah sesuatu yang ada, tidak hanya etnis, masyarakat
satu etnis pun bisa berhadapan dalam kategori yang
berbeda, agama misalnya. Setiap identitas sosial membawa
konsekuensi nilai sendiri-sendiri. Seperti dinyatakan
oleh Tajfel (1988) bahwa identitas sosial seseorang
adalah suatu pemahaman dan keterikatan secara emosi dan
nilai terhadap suatu kelompok yang menjadi acuan. Contoh,
menguasai bahasa Indonesia menjadi tuntutan yang wajib
sebagai orang Indonesia.
Pertanyaannya adalah, apakah kontak akan selalu menciptakan
sentimen positif?
|
| |
Hipotesis
Kontak
|
| |
Allport
(1975/1979, dalam Islam dan Hewstone, 2000) mengajukan
hipotesis kontak bahwa kontak dengan orang dari kelompok
yang tidak disukai, dalam kodisi yang tepat, dapat
menumbuhkan rasa suka, saling menghargai atau setidaknya
menurunkan prasangka terhadap kelompok lain.
The
contact hypothesis (Alport,1954/1979) proposes that
contact with persons from a disliked group, under
appropriate conditions, leads to the growth of liking
and respect for, or at least to decreased prejudice
toward, that out-group.
(Islam dan Hewstone,2000,h. 383)
Prasangka merupakan reaksi emosional terhadap outgroup
yang dipicu oleh persepsi ingroup. Konsep ini
juga tidak bisa dilepaskan dari stereotip, yakni
seperangkat penilaian dari kelompok lain dalam
hubungannya dengan ingroup dalam situasi terkini
(Smith, 1999)
Allport menekankan bahwa tidak ada hubungan yang sederhana
di antara kontak dan evaluasi out-group, ia juga
menyatakan adanya sekelompok faktor yang relevan dan
menciptakan apa yang disebut dengan ‘nature of
contact’. Faktor-faktor ini mencakup kuantitas
kontak dan kualitas kontak (contohnya status dan aspek
peran dalam kontak, suasana atau atsmosfir sosial yang
hadir di sekitar kontak itu, dan sebagainya) (Islam dan
Hewstone,2000). Perkembangan studi bahkan menambahkan
adanya efek potensial positif dari kualitas kontak
seperti status equal (yang setingkat), suka rela,
keakraban dan kotak yang kooperatif (Amir,1969, dalam
Islam dan Hewstone,2000).
Namun ternyata studi juga menunjukkan bahwa kontak tidak
terlalu efektif untuk mengubah stereotip negatif atau
memperbaiki hubungan antar kelompok yang berkonflik.
Salah satu penjelasannya adalah adanya intergroup
anxiety (kecemasan substansial terkait dengan
hubungan antar kelompok) dan hal ini membuat interaksi
menjadi kurang menyenangkan (Islam dan Hewstone, 2000)
Kontak
yang menyenangkan antara anggota kelompok berbeda yang
tidak saling suka, tidak bisa digeneralisir pada tingkat
kelompok, sebab hubungan antar kelompok tidak
sesederhana hubungan antar pribadi (Islam dan
Hewstone,2000). Studi
Wilder (2000) menunjukkan bahwa kontak positif
antar anggota kelompok yang berbeda dapat digeneralisir
ke tingkat evaluasi kelompok hanya ketika terjadi dengan
anggota kelompok yang tipikal.
Contact
with a person who appeared to be highly typical of the
out-group (i.e., matched several stereotypes of
out-group members) led to a more favorable evaluation of
the out-group than contact with a less typical member. (Wilder,2000,h.379)
Gaertner,
Mann, Murrell dan Dovidio (2000) mengajukan dua strategi
untuk mengurangi prasangka di antara dua kelompok yang
bertikai: (a) re-kategorisasi, yakni mendorong dua
kelompok yang bertikai untuk menganggap diri mereka
sebagai satu kelompok; (b) de-kategorisasi, yaitu
mendorong kedua kelompok menganggap diri mereka sebagai
sekumpulan individu.
Meskipun
re-kategorisasi kadang bisa berjalan dalam kondisi
terkontrol, strategi ini sering memancing backfire (ledakan)
dalam kehidupan sosial di masyarakat. Ini terjadi karena
re-kategorisasi dapat mengancam kekhasan atau perbedaan
yang ada di antara dua kelompok termasuk juga identitas
para anggota kelompok. Karena itu, mungkin akan lebih
baik untuk membingkai hubungan antar kelompok itu dengan
berusaha memperbaiki sikap dan hubungan antar kelompok
yang seimbang (Gaertner, dkk.,2000).
|
| |
Kontak
Antar Etnis di Indonesia
|
| |
Banyak
stereotip positif maupun negatif yang tersebar di
masyarakat, contohnya adalah “Orang Ambon suaranya
bagus-bagus, orang Cina (Tionghoa) dan Padang itu pintar
dagang, orang Jawa itu bicaranya pelan atau halus, orang
Batak sifatnya keras” dan lain sebagainya. Seperti
dinyatakan oleh Smith (1999) di atas bahwa stereotip ini
merupakan penilaian atau taksiran suatu kelompok oleh
kelompok lain. Karena itu tidak menggambarkan sifat riil
kelompok yang dinilai, maka wajar jika ada orang yang
terkejut jika menemukan orang Batak yang lemah lembut.
Stereotip
ini juga memicu prasangka antar kelompok, misalnya orang
Jawa yang memiliki atasan orang Batak bisa merasa sangat
cemas jika berbuat kesalahan meski kecil, karena ia
berprasangka bahwa atasannya pasti akan marah besar.
Stereotip dan prasangka inilah yang ingin
diminimalisasikan oleh Allport dengan hipotesis
kontaknya. Namun ternyata ada beberapa kondisi yang
harus diperhatikan untuk menciptakan kontak positif.
Ilustrasi
di awal tulisan bisa menjadi alat untuk mengurangi dan
mengubah stereotip yang berkembang dan mengurangi
prasangka. Kehadiran etnis Tionghoa di media elektronik
dan cetak secara suka rela dan setara dengan etnis lain
akan sangat membantu apresiasi masyarakat Indonesia
terhadap etnis itu sendiri. Sekali lagi media massa
berperan penting dalam mengubah atau membentuk persepsi
masyarakat. Inilah yang disebut oleh Moscovici (1988,
dalam Liu dan Lawrence, 2001) sebagai representasi
sosial, suatu wacana yang secara dinamis dibagi bersama
di masyarakat. Menurut Moscovici, individu-individu
dalam masyarakat saling berdialog tentang sesuatu yang
tampil dalam media lalu media menangkap sebagai wacana
masyarakat dan kembali dikonsumsi oleh masyarakat,
begitu seterusnya. Anderson (dalam Brookes,1999)
menyatakan bahwa surat kabar memainkan peran kunci
pemahaman suatu bangsa dalam kurun waktu dan tempat.
Strategi
re-kategorisasi Gaertner, dkk., (2000) bisa saja
diterapkan, namun tidak sepenuhnya dengan mengubah
kategorisasi kelompok-kelompok yang dalam hal ini adalah
etnis di Indonesia. Kategori bersama sebagai Indonesia
adalah kategori yang harus dipegang saat prasangka atau
konflik timbul di antara dua atau lebih kelompok etnis.
|
| |
Penutup
|
| |
Kehidupan berbangsa bukan sesuatu yang mudah
apalagi dalam bangsa multikultur, karena itu sikap untuk
‘membiarkan dan semuanya akan berjalan sendiri’
bukan sesuatu yang arif. Kemauan untuk terus belajar
menjadi bangsa harus dimiliki seluruh komponen di negeri
ini, kemauan ini tidak begitu saja ada, apalagi pada
akar rumput, karena itu, pemerintah, lembaga pendidikan,
media massa, kelompok sosial dan masyarakat yang
beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi mestinya
dapat berperan aktif. Penulis berharap tulisan ini bisa
menjadi usaha kecil dalam pembelajaran dan pendewasaan
bersama sebagai sebuah bangsa, yaitu Indonesia.
|
| |
------------------------------------------
|
| |
|
| |
Sumber:
|
| |
Brookes, R. (1999) Newspapers and national
identity; the BSD crisis and
|
| |
British
press. Media, Culture and Society,Vol.21;247-263.London;
Sage Publication
|
| |
Gaertner, S.L., Mann,J., Murrell,A., Dovidio,J.F.
(2000) Reducing intergroup
|
| |
bias: the
benefits of recategorization. Dalam Hogg and Abrams (eds)
Intergroup Relations. Psychology Press
bias: the benefits of recategorization. Dalam Hogg and
Abrams (eds) Intergroup Relations. Psychology
Press
|
| |
Islam, M.R. & Hewstone,M. (2000) Dimensions
of contact as predictors
|
| |
of intergroup anxiety, perceived out-group
variability, and out-group attitude: an integrative
model. Dalam Hogg and Abrams (eds) Intergroup
Relations. Psychology Press
|
| |
Liu, J.H. & Lawrence B. (2001) Social
representation of history in malaysia
|
| |
and singapore: on the relationship between
national and ethnic identity. Asian of Journal of
Social Psychology, November,26
|
| |
Smith, E.R. (1999) Affective and cognitive
implications of a group becoming part
|
| |
of the self: new models of prejudice and of the
self-concept. DalamAbrams and Hogg (eds) Social
Identity and Social Cognition. UK; Blackwell
Publishers Ltd
|
| |
Tajfel,H. (1988) The social identity approach:
context and content. Dalam
|
| |
Hogg dan Abrams (eds) A social Psychology of
Intergroup Relations and Group Process. London:
Routledge
|
| |
Warnaen, (2001) Stereotip etnis dalam
masyarakat multietnis. Yogyakarta;
|
| |
Mata Bangsa
|
| |
Wilder, D.A. (2000) Intergroup contact: the
typical member and the exception
|
| |
to the rule. Dalam Hogg and Abrams (eds) Intergroup
Relations. Psychology Press
|
| |
-------------------------------------------
|
| |
**Penulis
adalah
alumni
Pascasarjana Psikologi Sosial Sains Universitas
Indonesia
|
| |
_____________________________
|
|