|
|
|

|
Memahami
Psikologi Teroris
|
|
|
Oleh Imam
Ratrioso, Psi.**
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
1 Desember 2005
|
|
|
Terbunuhnya
Doktor Azahari di
daerah batu, malang kembali mengajukan sebuah pertanyaan
mendasar tentang teroris, apa sebenarnya yang dicari
oleh para teroris itu, apa yang menjadi pemicu perilaku
teror mereka, dan atas dasar apa mereka bangga
menyatakan bahwa mereka sedang melakukan jihad dan masuk
surga. Bagaimana bisa seorang Azahari yang bergelar
doctor dan ahli kimia bisa menjadi teroris dan bagaimana
orang-orang yang dulunya terkenal lugu dan pemalu
seperti Amrozi, Imam Samudra, Ali Imron juga ikut
terlibat dan menjadi aktor utama dalam sejumlah aksi
pengeboman di tanah air ? Bahkan walaupun sudah dijatuhi
vonis mati, Amrozi tetap tersenyum dan Imam Samudra
malah mengumandangkan takbir, tak sedikitpun menyisakan
rasa bersalah di hati.
Ditemukannya video para pelaku bom bali II di
Jimbaran yang kemudian diputar dan disaksikan oleh
beberapa ulama di rumah Wakil Presiden Yusuf Kalla
nampaknya memberikan sedikit gambaran tentang motif para
teroris itu. Dalam rekaman video tersebut nampak orang
yang bertopeng hitam menyampaikan ancamannya.
"Musuh-musuh kami adalah Bush dan Blair, Amerika,
Inggris, Italia,……musuh-musuh kami juga mereka para
pembantu Amerika dan Inggris.." begitu kalimat yang
diucapkan dengan nada suara keras mengancam. Sebelumnya
ketiga pelaku Wisnu, Salik dan Yanto menyampaikan
semacam kata-kata perpisahan sebelum mereka melakukan
bom bunuh diri. Wisnu dan Yanto dengan mengenakan surban
membacakan teks berbahasa arab yang berisikan seruan
jihad kepada umat Islam. Adapun Salik menyampaikan kata
perpisahan bahwa bila video ini ditonton maka dirinya
sudah berada di surga. Dari rekaman video ini, kita bisa
mendapatkan gambaran singkat tentang motif yang
mendorong mereka menjadi teroris yaitu rasa tertindas
dan pemahaman yang sesat.
|
|
|
Rasa
Tertindas
|
|
|
Ketidak adilan dan penindasan yang dilakukan oleh
kelompok kuat terhadap kelompok yang lemah adalah akar
permasalahan munculnya perilaku teror. Dalam konteks
global, terorisme yang terjadi di dunia, termasuk di
Indonesia hanyalah limbah dari efek politik ganda yang
dilakukan negara kuat terhadap negara lemah. Kasus
politik standar ganda yang dilakukan Amerika Serikat
terhadap Israel dan Palestina, dilanjuti penyerangan ke
Irak dengan alasan senjata massal yang tak terbukti,
adalah sebagian fakta-fakta nyata yang memicu sebagian
kelompok yang tertindas untuk melakukan aksi terror.
Penyebutan Amerika dan Inggris beserta para pembantunya
(Australia, Spanyol dan negara sekutu Amerika) oleh pria
bertopeng merupakan argumentasi obyektif para teroris.
Aksi terror bisa dilakukan oleh korban yang
menderita langsung, bisa juga oleh kelompok yang
bersimpati karena merasa ikut menjadi bagian dari
kelompok itu, dengan persamaan agama dan teologi sebagai
alasan mereka. Rasa simpati itu kemudian berproses
menjadi empati, dimana penderitaan kelompok tertindas
adalah penderitaan mereka juga. Dan nampaknya kelompok
yang berempati inilah yang kemudian menjelma menjadi
organisasi yang rapi dalam melakukan perlawanan dan aksi
terorisme.
Lebih jauh lagi, bila meneliti kehidupan pribadi
para teroris, seperti Doktor Azahari dan Amrozi, akan
ditemui beberapa kesamaan bahwa mereka memutuskan untuk
menjadi anggota terroris saat sedang berada pada kondisi
kepribadian yang rapuh. Doktor Azahari baru mendalami
agama saat istrinya sedang mengalami sakit kanker
kerongkongan. Pergolakan batin dan kesedihan dengan apa
yang dialami istrinya itu kemudian yang mendorongnya
belajar agama dan berangkat ke Mindanao. Disanalah
kemudian ia melihat perjuangan muslim Mindanao yang
tertindas. Ia lalu belajar membuat senjata api.
Perjalanan selanjutnya membawa nya ke Afgahnistan dan
belajar merakit bom. Sedangkan Amrozi mulai tertarik
pada gerakan radikal saat ia berada di Malaysia sebagai
TKI setelah beberapa kali mengalami perceraian dalam
pernikahannya.
Penderitaan batin secara pribadi – melihat
kemalangan istri pada Doktor Azahari dan perceraian pada
Amrozi- itulah yang mereka repress dalam alam bawah
sadar mereka. Kemudian penderitaan itu mendapat
padanannya ketika mereka melihat ketidak adilan yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok kuat yang semena-mena
terhadap kelompok lemah.
|
|
|
Pemahaman
yang Sesat
|
|
|
Rasa ketertindasan itu kemudian kian mengkristal
menjadi ideologi perlawanan dengan adanya pemahaman yang
sesat tentang makna jihad dan syahid. Karena pengetahuan
agama yang tak utuh, jihad hanya diartikan sebatas jihad
fisik dengan mengangkat senjata, dan syahid ditafsirkan
sebagai mati dalam pengeboman, baik dengan menjadi
korban bunuh diri atau bila nanti tewas di tangan musuh.
Maka jadilah ideologi perlawanan yang mereka
tanam dalam sanubari mereka sebagai "perang
suci" melawan kaum kafir dengan iming-iming surga.
Surga menjadi tawaran paling menggiurkan dalam batin
mereka, sebagai balasan atas penderitaan dan rasa
ketertindasan yang mereka rasakan. Dan sebagai
konsekuensinya, mereka harus berperang dengan cara
melakukan terror. Mati syahid telah meresap ke dalam
jiwa mereka, walaupun pemahamannya telah salah kaprah.
Maka tak aneh bila Amrozi tetap tersenyum saat divonis
mati dan Imam Samudra mengumandangkan takbir
"Allahu Akbar" dengan gagah berani.
Kemungkinan besar, bila dilihat dari wajah dan
gaya bertutur ketiga pelaku bom bali II di Jimbaran,
nampaknya Wisnu, Yanto dan Salik adalah orang –orang
lugu yang terbatas pengetahuan agamanya yang kemudian
dipegaruhi dengan cara halus oleh Doktor Azahari beserta
jaringannya.
Rasa tertindas global, penderitaan batin pribadi
dan pemahaman yang sesat itu akhirnya menggempal menjadi
satu persamaan rasa diantara para teroris untuk kemudian
menggalang kekuatan melakukan perlawanan. Dalam
pandangan mereka, perlawanan diwujudkan dengan
menghancurkan symbol-simbol Amerika Serikat. Gedung WTC
adalah symbol kedigdayaan ekonomi Amerika
Pentagon adalah symbol pertahanan, begitu pula
dengan Kedutaan Besar dan Hotel JW Marriot. Konsep musuh
kemudian berubah menjadi siapapun yang mirip dan setuju
dengan Amerika, maka telah menjadi bagian dari musuh
yang harus diperangi. Maka para turis bule, terutama
Amerika dan Eropa pun yang sedang melancong di Bali
menjadi korban berikutnya, karena di mata para teroris,
mereka adalah pendukung Amerika. Sipil atau militer
dalam konsep korban perang konvensional tak mereka
kenal.
|
|
|
Bukan
Hanya Menangkap
|
|
|
Penangkapan saja tidak akan cukup untuk
menghentikan aksi terorisme, sebab tidak ada jaminan
apakah setelah tewasnya Doktor Azahari dan tertangkapnya
Nordin M.Top beserta jaringannya nanti akan secara
otomatis menghilangkan aksi pengeboman di tanah air.
Mereka mungkin sudah menyiapkan kader-kader yang telah
mempersiapkan aksi terror lainnya dengan perencanaan
lebih matang lagi.
Hal
yang perlu dilakukan untuk menghentikan aksi
terorisme adalah memberikan pencerahan baru bagi mereka
yang tengah sesat dalam memahami "jihad" dan
"mati syahid" dan menebarkan wacana jernih
tentang makna jihad dan mati syahid kepada seluruh
lapisan masyarakat. Pemerintah perlu bekerjasama dengan
para ulama dan tokoh-tokoh agama untuk melakukan gerakan
semacam iklan nasional tentang makna hakiki dari jihad
dan mati syahid. Rekaman video para pelaku bom bali II
bisa dijadikan pijakan bagi para ulama untuk memulai
start darimana menjelaskan makna jihad dan mati syahid
yang hakiki. Selama ini ayat Qur'an yang sering dikutip
oleh para teroris itu adalah ayat "Qotilu fi
sabalillahi lladina yuqoo tiluu nakum". Tafsir
ayat ini perlu dielaborasi lagi oleh para ulama dengan
semangat kontemporer yang mendamaikan.
Dialog yang bersahabat juga perlu dilakukan
terhadap mereka yang sudah tertangkap yang kini tengah
menunggu eksekusi. Bisa jadi pemahaman yang sesat itu
muncul karena mereka juga tak pernah mendapat masukan
dan belum pernah berdialog terbuka dengan orang lain.
Pengakuan dan penyesalan Ali Imron terhadap aksinya
selama ini bisa disosialisasikan kepada masyarakat
sebagai testimony yang mencerahkan. Diharapkan hal itu
akan mencegah orang-orang yang terbatas pengetahuan
keagamaannya untuk terlibat dalam aksi terorisme. Menurut Harun Yahya,
terorisme hanya bisa ditaklukan dengan cinta. Artinya
jika kita hanya menangkap dengan cara kekerasan, maka
mereka pun akan membalas dengan lebih keras lagi.
Di masa mendatang, pendidikan pluralisme dan
kerukunan beragama dalam tataran praktek perlu
ditingkatkan lagi. Depdiknas bekerjasama dengan
deartemen agama nampaknya perlu mematangkan materi ini
dan dimasukkan dalam kurikulum nasional untuk semua
jenjang pendidikan. Selain penangkapan, langkah-langkah
ini merupakan tindakan preventif yang relative paling
mungkin dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah
meluasnya aksi terorisme. Mencegah tentu lebih bijak
daripada menyembuhkan. (jp)
|
|
|
------------------------------------------
|
|
|
**Penulis
adalah Psikolog & Pengajar di LP3I
|
|
|
_____________________________
|
|