| |
Remaja
dan Napza
Oleh
Raymond Tambunan, Psi.
Jakarta,
28 Agustus 2001
Peredaran
narkotika di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir
semakin marak. Berdasarkan data Badan Koordinasi
Narkotika Nasional tahun 2000, ada sekitar 3,5 juta
orang penyalahguna narkotika di Indonesia.
Diindikasikan, besarnya jumlah ini disebabkan
Indonesia – terutama di beberapa kota besar seperti
Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar – menjadi
daerah tujuan pasar narkotika internasional, dan bukan
lagi “sekedar” menjadi tempat transit.
Mengkhawatirkannya,
target utama pasar narkotika ini adalah para remaja.
Misalnya di Jakarta saja, pada tahun 2000 ditenggarai
ada lebih dari 166 SMTP dan 172 SLTA yang menjadi pusat
peredaran narkotika dengan lebih dari 2000 siswa
terlibat di dalamnya. Angka inipun masih akan lebih
besar, karena fenomena ini seperti gunung es, yaitu yang
tampak hanya permukaannya saja dan sebagian besar yang
lain belum terlihat. Diperkirakan setiap 1 penyalahguna
narkotika yang dapat diidentifikasi, ada 10 orang
lainnya yang belum ketahuan.
Dari
data singkat mengenai peredaran narkotika di Indonesia
dan Jakarta ini, terlihat betapa mengkhawatirkannya
ancaman narkotika bagi generasi muda Indonesia (lihat
akibat NAPZA). Apalagi kalau melihat akibat-akibat
yang ditimbulkannya. Padahal, narkotika hanyalah satu
dari beberapa zat berbahaya bila disalahgunakan, di
samping alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA)
Sudah
banyak usaha yang dilakukan dalam menangani fenomena ini.
Dari segi pencegahan, pihak-pihak yang berwenang sudah
melakukan berbagai tindakan untuk menangkal masuknya
zat-zat terlarang itu ke Indonesia. Namun, terlepas dari
hasil tindakan para aparat itu, keluarga sendiri dapat
menciptakan kondisi di mana NAPZA sulit untuk masuk.
Sedangkan, bagi yang sudah terlanjur, ada banyak
alternatif penanganan untuk pemulihan, baik dari segi
medis, psikologis maupun spiritual. Tapi yang paling
penting buat remaja sendiri dan orang tua yang anaknya
belum terlibat, JANGAN menganggap bahwa hal ini tidak
akan mengenai saya atau keluarga saya. Hindari mitos
“Ah, itu kan terjadi di keluarga lain saja, saya dan
keluarga saya tidak mungkin”. Pencegahan selalu lebih
baik.
Simak
lebih lanjut:
_________________________
|