|
LATAR BELAKANG PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA REMAJA
Perilaku seksual
ialah perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik
anggota badan antara pria dan wanita yang telah
mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya
dilakukan oleh pasangan suami istri. Sedangkan
perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang
dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi
menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan
masing-masing individu.
Perilaku
seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak
terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau
dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak
dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata).
Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk
melakukan perilaku seks pranikah. Motivasi merupakan
penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini
cukup kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai
berikut :
-
Motivasi
yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang
berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat
saja diarahkan oleh motivasi yang berbeda.
-
Motivasi
mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu
-
Penguatan
positif / positive reinforcement
menyebabkan suatu perilaku tertentu cenderung
untuk diulang kembali
-
Kekuatan
perilaku akan melemah bila akibat dari perbuatan
itu bersifat tidak menyenangkan.
Motivasi
tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan
perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku
seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa
sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan
kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya,
tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg
hal ini dinamakan romantic love); atau karena
pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja
tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan
mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh
kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan
perilaku seks pranikah.
Faktor
lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan
seks pranikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu
yang besar untuk mencoba segala hal yang belum
diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja
pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang
hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya melalui
pengalaman mereka sendiri, "Learning by
doing".
Disinilah
suatu masalah acap kali muncul dalam kehidupan remaja
karena mereka ingin mencoba-coba segala hal, termasuk
yang berhubungan dengan fungsi ketubuhannya yang juga
melibatkan pasangannya. Namun dibalik itu semua,
faktor internal yang paling mempengaruhi perilaku
seksual remaja sehingga mengarah pada perilaku
seksual pranikah pada remaja adalah berkembangnya
organ seksual. Dikatakan bahwa gonads (kelenjar
seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja
berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khususnya yang
berhubungan dengan ciri-ciri seks sekunder), melainkan
juga berpengaruh jauh pada kehidupan psikis, moral,
dan sosial.
Pada
kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual
mempunyai pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap
lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan jenis
ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih
serius serta memilih pasangan kencan dan romans yang
akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan pada
kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads,
tak jarang timbul konflik dalam diri remaja. Masalah
yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan
pertimbangan moral sering kali bertentangan.
Bila
dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan
konflik yang kuat, maka dorongan seks tersebut
cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai
dalih sebagai pembenaran diri. Dalam hubungan ini,
Jersild (1978) menulis: jika remaja bercerita tentang
kegiatan seksual mereka, maka mereka banyak membela
diri dengan komentar "Everybody does it."
Pengaruh
perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah
remaja dapat memperoleh teman baru, mengadakan jalinan
cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan cinta ini tidak
lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap
lawan jenis dan "cinta monyet" pun tidak
tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada
seorang lawan jenis, sehingga terikat oleh tali cinta.
Perlu
pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar
seks (gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian
integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani
secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu
pun telah mengalami perintisan yang cukup panjang;
Sigmund Freud mengatakan bahwa dorongan seksual yang
diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak
terbentuknya Id. Namun dorongan seksual ini mengalami
kematangan pada usia usia remaja. Karena itulah,
dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan
penyaluran dalam bentuk perilaku seksual tertentu.
Cukup
naïf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan,
yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan
faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya.
Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman
sepermainan (peer-group), pengaruh media dan
televisi, bahkan faktor orang tua sendiri. Pada
masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya
sangat tinggi karena selain ikatan peer-group menggantikan
ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber afeksi,
simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan
sebagai tempat remaja untuk mencapai otonomi dan
independensi (Papalia, 2001). Maka tak heran bila
remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi
informasi yang diterima oleh teman-temannya, tanpa
memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber
yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari
teman-temannya tersebut, dalam hal ini sehubungan
dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan
rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan
dalam diri remaja. Untuk menjawab pertanyaan itu
sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang
diterima, mereka cenderung melakukan dan mengalami
perilaku seks pranikah itu sendiri.
Pengaruh
media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh
remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja
remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan
barat, melalui observational learning, mereka
melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat
diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka,
terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan,
nilai serta norma-norma dalam lingkungan
masyakarat yang berbeda.
Perilaku
yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja
pada umumnya dapat dipengaruhi orang tua.
Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai
perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya
cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai
dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya. Hal ini
terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang
terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri,
dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua
dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam
perkawinan (Aryatmi, 1985; Tukan, 1989; Howard, 1990).
Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila
pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap
kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan
pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya
anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat.
Tentang hal ini Davis (1957) menyimpulkan hasil
penelitiannya sebagai berikut: informasi seks yang
tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia
remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam
kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan
mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan
yang berhubungan dengan seks (Bibby, 1957). Dalam hal
ini, terciptanya konflik dan gangguan mental serta
ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja
untuk melakukan perilaku seks pranikah.
|