|
| |
CINTA
|
| |
Oleh
Raymond Tambunan, Psi.
|
| |
Jakarta,
5 Desember 2001
|
| |
Sudah
banyak lagu digubah, puisi ditulis, dan kanvas dilukis
untuk menggambarkan cinta. Tapi apakah cinta itu
sebenarnya? Tentunya seorang pelukis akan berbeda dengan
seorang pencipta lagu dalam menjelaskan cinta. Bahkan
setiap orang akan mendefinisikan cinta dengan cara yang
berbeda. Sah-sah saja.
|
| |
Psikologi
sebagai ilmu yang mempelajari manusia, sudah lama
tertarik dengan
konsep cinta (misalnya Eric Fromm, Maslow) karena
manusia satu-satunya makhluk, konon, yang dapat
merasakan cinta. Hanya saja masalahnya, sebagai sebuah
konsep, cinta sedemikian abstraknya sehingga sulit untuk
didekati secara ilmiah. Dalam tulisan ini dipilih teori
seorang psikolog, Robert Sternberg, yang telah berusaha
untuk menjabarkan cinta dalam konteks hubungan antara
dua orang.
|
| |
Menurut
Sternberg, cinta adalah sebuah kisah,
kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah
tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan
seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang
perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan
sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari
“skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang
tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini
biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan
bertindak dalam sebuah hubungan.
|
| |
Sternberg
terkenal dengan teorinya tentang segitiga cinta (bukan
cinta segitiga, lho).
Segitiga cinta itu mengandung komponen: (1) keintiman (intimacy),
(2) gairah (passion) dan (3) komitmen.
|
| |
Keintiman
adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat
kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan
untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain
seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang
bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa
rindu bila lama tidak bertemu, dan ada keinginan untuk
bergandengan tangan atau saling merangkul bahu.
|
| |
Gairah
adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan
dari dalam diri yang bersifat seksual.
|
| |
Komitmen
adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara
sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama.
|
| |
Menurut
Strenberg, setiap komponen itu pada setiap orang berbeda
derajatnya. Ada yang hanya tinggi di gairah, tapi rendah
pada komitmen (lihat tabel). Sedangkan cinta yang ideal
adalah apabila ketiga komponen itu berada dalam proporsi
yang sesuai pada suatu waktu tertentu. Misalnya pada
tahap awal hubungan, yang paling besar adalah komponen
keintiman. Setelah keintiman berlanjut pada gairah yang
lebih besar, (dalam beberapa budaya) disertai dengan
komitmen yang lebih besar. Misalnya melalui perkawinan.
|
| |
Cinta
dalam sebuah hubungan ini tidak selalu berada dalam
konteks pacaran atau perkawinan. Pola-pola proporsi
ketiga komponen ini dapat membentuk berbagai macam tipe
hubungan seperti terlihat dalam tabel berikut.
|
| |
|
Tipe
|
Komponen
yang hadir
|
Deskripsi
|
|
Nonlove
|
Ketiga
komponen tidak ada
|
Ada
pada kebanyakan hubungan interpersonal, seperti
pertemanan biasa (hanya kenalan saja)
|
|
Liking
|
Hanya
keintiman
|
Ada
kedekatan, saling pengertian, dukungan emosional,
dan kehangatan. Biasanya ada pada hubungan
persahabatan (bisa sesama jenis kelamin)
|
|
Infatuation
|
Hanya
gairah
|
Seperti
pada cinta pada pandangan pertama, ketertarikan
secara fisik, biasanya mudah hilang
|
|
Empty
love
|
Hanya
komitmen
|
Biasanya
ditemukan pada pasangan yang telah menikah dalam
waktu yang panjang (misalnya pada pasangan usia
lanjut)
|
|
Romantic
love
|
Keintiman
dan gairah
|
Hubungan
yang melibatkan gairah fisik maupun emosi yang
kuat, tanpa ada komitmen (pacaran atau perkawinan)
|
|
Companionate
love
|
Keintiman
dan komitmen
|
Hubungan
jangka panjang yang tidak melibatkan unsur seksual,
termasuk persahabatan (juga persahabatan
suami-istri)
|
|
Fatous
love
|
Gairah
dan komitmen
|
Hubungan
dengan komitmen tertentu (misalnya perkawinan)
atas dasar gairah seksual. Biasanya pada suami
istri yang sudah kehilangan keintimannya
|
|
Consummate
love
|
Semua
komponen
|
Menjadi
tujuan dari hubungan cinta yang ideal
|
Sumber:
Papalia; Olds & Feldman. (1998). Human
development (7th ed.). Boston: McGraw
Hill
|
| |
Pada
remaja, diharapkan mereka mulai mengenali cinta melalui
hubungan yang mengandung komponen keintiman. Mulai dari
tahap perkenalan, lalu menjadi teman akrab, lalu sahabat.
Pada tahap persahabatan, baik dengan lawan jenis maupun
sesama jenis kelamin, diharapkan berkembang perasaan
hangat, kedekatan dan emosi-emosi lain yang lebih kaya.
Dalam hubungan antar jenis,
persahabatan dapat berkembang dengan komitmen
pacaran. Pada tahap pacaran ini keintiman dapat muncul
komponen gairah dengan proporsi yang relatif rendah.
|
| |
Pada
pasangan yang telah dewasa, bila faktor-faktor emosional
dan sosial telah dinilai siap, maka hubungan itu dapat
dilanjutkan dengan membuat komitmen perkawinan. Dalam
perkawinan, diharapkan ketiga komponen ini tetap hadir
dan sama kuatnya.
|
| |
Pada
budaya tertentu, komitmen dianggap sebagai kekutan utama
dalam perkawinan. Karena itu banyak perkawinan (dalam
budaya tersebut) yang hanya dilandasi oleh komitmen
masing-masing pihak pada lembaga perkawinan itu sendiri.
Perkawinan dipandang sebagai keharusan budaya dan agama
untuk melanjutkan keturunan, atau karena usia, atau
untuk meningkatkan status, atau sebab-sebab lain.
Perkawinan seperti ini akan terasa kering karena baik
suami maupun istri hanya menjalankan kewajibannya saja.
|
| |
Variasi
lain, perkawinan hanya dianggap sebagai lembaga yang
mensahkan hubungan seksual. Perkawinan semacam ini
kehilangan sifat persahabatannya, yang ditandai dengan
tidak adanya kemesraan suami istri, seperti makan
bersama, berbincang-bincang, saling berpelukan dan
sebagainya.
|
| |
Seperti
telah diuraikan sebelumnya, pola hubungan cinta
seseorang sangat ditentukan oleh pengalamannya sendiri
mulai dari masa kanak-kanak. Bagaimana orang tuanya
saling mengekspresikan persaan cinta mereka (atau malah
bertengkar melulu), hubungan awal dengan teman-teman
dekat, kisah-kisah romantis sampai yang horor, dan
seterusnya, akan membekas dan mempengaruhi seseorang
dalam berhubungan. Karenanya setiap orang disarankan
untuk menyadari kisah cinta yang ditulis untuk dirinya
sendiri. Seperti apakah cinta menurut kamu?
|
| |
Memang
teori Strenberg tentang cinta ini belumlah lengkap dan
memuaskan semua orang. Misalnya bagaimana teori ini
dapat menjelaskan cinta ibu terhadap anaknya? Atau
bagaimana cinta dapat dipertentangkan dengan perang dan
kebencian? Hanya saja, sebagai sebuah deskripsi ilmiah
terhadap fenomena cinta, teori ini dapat dikatakan cukup
membantu dalam memetakan pola-pola hubungan cinta antar
individu. Apa komentar kamu?
|
| |
|
| |
_________________________
|
|