| |
Kemandirian
Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja
|
| |
Oleh: Zainun
Mu'tadin, SPsi., MSi.
|
|
|
Jakarta,
25 Juni 2002
|
|
|
Setiap
manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia
akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang
berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring
dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya,
seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari
ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di
sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan
suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk
hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering
juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan
kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang
lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek
yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.
|
|
|
Selama
masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat
besar dan jika tidak direspon secara tepat bisa saja
menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi
perkembangan psikologis sang remaja di masa mendatang.
Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa
kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan
rasa frustrasi mendalam terhadap orangtua karena tidak
kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian.
Ruang konseling di website ini banyak dipenuhi oleh
kebingungan-kebingungan dan keluh kesah yang dialami
remaja karena banyak sekali aspek kehidupan mereka yang
masih diatur oleh orangtua, meski banyak diantara mereka
yang sudah berusia lebih dari 17 tahun. Salah satu
contohnya adalah dalam hal pemilihan jurusan/fakultas
ketika masuk sekolah/Perguruan Tinggi. Dalam hal ini
masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot untuk
memasukkan putra/putrinya ke jurusan yang mereka
kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat
untuk masuk ke jurusan tersebut. Akibatnya remaja
tersebut tidak memiliki motivasi belajar, berkehilangan
gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir
dengan Drop Out dari sekolah tersebut.
|
|
|
Mencermati
kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam
proses pembentukan kemandirian seorang. Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan
pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang
dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil
keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar
mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan
demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari
keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua
menjadi mandiri.
|
|
|
Kemandirian
|
|
|
Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982),
meliputi "perilaku mampu berinisiatif, mampu
mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri
dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang
lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini
dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah
“hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri
sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa
kemandirian mengandung pengertian:
|
|
|
-
Suatu
keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat
bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya,
-
Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk
mengatasi masalah yang dihadapi,
-
Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan
tugas-tugasnya,
-
Bertanggungjawab
tetrhadap apa yang dilakukannya
|
|
|
Robert Havighurst (1972)
menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa
aspek, yaitu:
|
|
|
-
Emosi,
aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol
emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari
orang tua.
-
Ekonomi,
aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur
ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi
pada orang tua.
-
Intelektual,
aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk
mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
-
Sosial,
aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk
mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak
tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
|
|
|
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang
diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana
individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam
menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga
individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak
sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih
jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih
mantap.
|
|
|
Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan
kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta
lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi
atas diri sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan
respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak
sebagai ”penguat” untuk setiap perilaku yang telah
dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan
Reber (1985) bahwa : “ kemandirian merupakan suatu
sikap otonomi dimana seseorang secara relatif bebas dari
pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang
lain”. Dengan otonomi tersebut seorang remaja
diharapkan akan lebih bertanggungjawab terhadap dirinya
sendiri.
|
|
|
Proses
Perkembangan Kemandirian
|
|
|
Kemandirian,
seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat
berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk
berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus
dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa
pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja
tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan
kemampuan anak.
|
|
|
Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi
perkembangan individu, maka sebaiknya kemandirian
diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya.
Seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat
diusahakan sejakdini akan dapat dihayati dan akan
semakin berkembang menuju kesempurnaan. Latihan
kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan
dengan usia anak. Contoh: Untuk anak-anak usia 3 - 4
tahun, latihan kemandirian dapat berupa membiarkan anak
memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan
mainan setiap kali selesai bermain, dll. Sementara untuk
anak remaja berikan kebebasan misalnya dalam memilih
jurusan atau bidang studi yang diminatinya, atau
memberikan kesempatan pada remaja untuk memutuskan
sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika
remaja tersebut keluar malam bersama temannya (tentu
saja orangtua perlu mendengarkan argumentasi yang
disampaikan sang remaja tersebut sehubungan dengan
keputusannya). Dengan memberikan latihan-latihan
tersebut (tentu saja harus ada unsur pengawasan dari
orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut
benar-benar efektif), diharapkan dengan bertambahnya usia
akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir
secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani
mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri,
tidak tergantung kepada orang lain dan dengan demikian
kemandirian akan berkembang dengan baik.
|
|
|
Kemandirian
Sebagai Kebutuhan Psikologis Remaja
|
|
|
Memperoleh
kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja.
Dengan kemandirian tersebut berarti remaja harus belajar
dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif,
membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya
sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dilakukannya. Dengan demikian remaja akan
berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan
pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal.
Pendapat ini diperkuat oleh pendapat para ahli
perkembangan yang menyatakan: "Berbeda dengan
kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat
motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan
berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian
tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat
keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai
dengan keinginannya".
|
|
|
Dalam
pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan
diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis
orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan
dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukan
Erikson(dalam Hurlock,1992) yang menamakan proses
tersebut sebagai “proses mencari identitas ego”,
atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja
ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam
lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.
|
|
|
Kemandirian
seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang
terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock (1991)
mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya,
remaja belajar berpikir secara mandiri, mengambil
keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak)
pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan
mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam
kelompoknya. Kelompok
teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana
remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain
yang bukan angota keluarganya. Ini dilakukan
remaja dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan
dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga
tercipta rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman
sebaya ini merupakan hal yang sangat penting, karena
remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk
dapat diterima oleh kelompoknya.
|
|
|
Dalam
mencapai keinginannya untuk mandiri sering kali remaja
mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh masih
adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain.
Dalam contoh yang disebutkan diatas, remaja mengalami
dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak
orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia
mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya
sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan
membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia tidak mengikuti
kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau
membiayai sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering
dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal
ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja.
Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya
untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan
dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya.
Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi
frustrasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada
orangtuanya atau orang lain di sekitarnya.Frustrasi dan
kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan
perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua
maupun orang lain dan dapat membahayakan dirinya dan
orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan sangat
merugikan remaja tersebut karena akan menghambat
tercapainya kedewasaan dan kematangan kehidupan
psikologisnya. Oleh karena itu, pemahaman orangtua
terhadap kebutuhan psikologis remaja untuk mandiri
sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah
penyelesaian konflik-konflik
yang dihadapi remaja.
|
|
|
Bagaimana
Orangtua Menyikapi
|
|
|
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta
dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga,
orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan
membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang
penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman
dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada
anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah
krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut
berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk
mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan
pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.
|
|
|
Bagaimana
orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan
kemandirian seorang remaja, berikut ini terdapat
beberapa saran yang layak Bapak/Ibu pertimbangkan:
|
|
|
-
Komunikasi.
Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang
paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan. Tentu saja komunikasi disii harus
bersifat dua arah, artinya kedua belah pihak harus
mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang
lain. Dengan melakukan komunikasi orangtua dapat
mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir
anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat
mengetahui apa yang diinginkan oleh orangtuanya.
Kebingungan seperti yang disebutkan diatas mungkin
tidak perlu terjadi jika ada komunikasi antara
remaja dengan orangtuanya. Komunikasi disini tidak
berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa
saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi
berlibur sekeluarga.
-
Kesempatan.
Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak
remajanya untuk membuktikan atau melaksanakan
keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja
tersebut mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya
dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai
masalah yang muncul. Dalam hal ini orangtua hanya
bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan
intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat
membahayakan dirinya dan orang lain.
-
Tanggungjawab.
Bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang
diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian.
Dengan berani bertanggungjawab (betapapun sakitnya)
remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal
yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak
menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus masih
banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini.
Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh
pihak berwajib karena terlibat tawuran, tidak jarang
dijumpai justru orangtua lah yang berjuang keras
dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari
tahanan, sehingga anak tidak pernah memproleh
kesempatan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang
diperbuatnya (bahkan tidak sempat melewati
pemeriksaan intensif pihak berwajib). Pada kondisi
demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk
berbuat salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan
menebus kesalahannya. Kalau begini terus, kapan dong
anak bisa bertanggungjawab atas segala perbuatannya
dan mampu mandiri?
-
Konsistensi.
Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan
menanamkan nilai-nilai kepada remaja dan sejak masa
kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan
bagi remaja untuk dapat mengembangkan kemandirian
dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang konsisten
akan memudahkan remaja dalam membuat rencana
hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagai
alternatif karena segala sesuatu sudah dapat
diramalkan olehnya.
|
|
|
Mungkin
masih terdapat banyak cara lain yang patut
dipertimbangkan dalam meningkatkan kemandirian sang
remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu
hal yang perlu kita ingat adalah: "Jika kita dapat
mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui
keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya
untuk mewujudkannya mulai dari sekarang". Negara
ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada
pihak lain, maka jangan lagi kita membangun generasi
baru yang juga penuh dengan ketergantungan dan menjadi
beban keluarga. Semoga. (jp)
|
| |
_________________________
|