| |
Mengenal
Kecerdasan
Emosional Remaja
|
| |
Oleh: Zainun
Mu'tadin, SPsi., MSi.
|
|
|
Jakarta,
25 April 2002
|
|
|
Masa remaja dikenal dengan masa storm and
stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi
dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan
secara psikis yang bervariasi. Pada masa remaja (usia 12
sampai dengan 21 tahun) terdapat beberapa fase (Monks,
1985), fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15
tahun), remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan
18 tahun) masa remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21
tahun) dan diantaranya juga terdapat fase pubertas yang
merupakan fase yang sangat singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja
dalam menghadapinya. Fase pubertas ini
berkisar dari usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16
tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki
variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang
tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga
kesulitan pada masa tersebut dapat
menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase
perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan
dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya
dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik
(terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.
|
|
|
Pergolakan
emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari
bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah
dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang
dilakukannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial
tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut
untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila
aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah (pada
umumnya masa remaja lebih banyak menghabiskan waktunya
di sekolah) tidak memadai untuk memenuhi tuntutan
gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang
tidak positif, misalnya tawuran. Hal ini menunjukkan
betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja
bila berinteraksi dalam lingkungannya.
|
|
|
Mengingat
bahwa masa remaja merupakan masa yang paling banyak
dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan
dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat
merugikan dirinya sendiri dan orang lain, remaja
hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional ini terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana
remaja mampu untuk memberi kesan yang baik tentang
dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya
sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan,
dapat mengendalikan perasaan dan mampu mengungkapkan
reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif.
|
|
|
Apa
Sih Kecerdasan Emosional
|
|
|
Goleman (1997),
mengatakan bahwa koordinasi
suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik.
Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan
suasana hati individu yang lain atau dapat berempati,
orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang
baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam
pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan
bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang
dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan
dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda
kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan
emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada
porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana
hati.
|
|
|
Sementara Cooper dan
Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional
adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara
selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai
sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan
emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar
mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain
serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara
efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
|
|
|
Selanjutnya
Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya,
kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat
seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut
dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari
perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan
sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati,
kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih
mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang
lain.
|
|
|
Dari
beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa
kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar
mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang
lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan
dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan
pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan
emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola
diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu
hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah
tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).
|
|
|
Komponen-Komponen
Kecerdasan Emosional
|
|
|
Kecerdasan
emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual
yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya
berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu
diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang
sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah,
tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan
masyarakat.
|
|
|
Goleman
(1995) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan
emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk
mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
|
|
|
Mengenali
emosi diri
|
|
|
Kesadaran
diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu
terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada
tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari
waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan
pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk
mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri
berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka
akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk
bagi pengambilan keputusan masalah.
|
|
|
Mengelola
emosi
|
|
|
Mengelola
emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat
terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan
yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi
dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur
diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan,
kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali
dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang
buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus
menerus bertarung melawan perasaan murung atau
melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan
dirinya sendiri.
|
|
|
Memotivasi
diri
|
|
|
Kemampuan
seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui
hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan
dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh
terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir
positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti
aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang
sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi,
pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan
kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka
seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang
positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi
dalam dirinya.
|
|
|
Mengenali
emosi orang lain
|
|
|
Empati
atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan
pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi
sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil
membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang
tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri
dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan
orang lain.
|
|
|
Membina
hubungan dengan orang lain
|
|
|
Seni
dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan
keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam
pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki
keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam
pergaulan sosial. Sesungguhnya karena tidak
dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah
yang menyebabkan seseroang seringkali dianggap
angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan.
|
| |
Dengan
memahami komponen-komponen emosional tersebut diatas,
diharapkan para remaja dapat menyalurkan emosinya
secara proporsional dan efektif. Dengan demikian
energi yang dimiliki akan tersalurkan secara baik
sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat
merugikan masa depan remaja dan bangsa ini. Semoga.
(jp)
|
| |
_________________________
|