|
Harga
Diri Remaja
Oleh
Raymond
Tambunan, Psi.
Jakarta,
24 September 2001
Harga
diri merupakan salah satu konsep sentral dalam kajian
psikologi. Terutama pada remaja, harga diri sering kali
dikaitkan dengan berbagai tingkah laku khas remaja
seperti tawuran, penyalahgunaan obat-obatan, pacaran,
sampai prestasi olah raga. Perkembangan harga diri pada
seorang remaja akan menentukan keberhasilan maupun
kegagalannya di masa mendatang.
Harga diri
Harga diri (self esteem)
dalam pembicaraan sehari-hari lebih sering dikaitkan
dengan situasi tersinggung atau penghargaan terhadap
diri maupun orang lain yang dinilai melalui perilaku
orang yang bersangkutan. Misalnya ungkapan “Dia tidak
punya harga diri”, atau “Nggak PD” (pd=percaya
diri). Ungkapan-ungkapan seperti ini memang tidak
terlalu tepat dalam konteks psikologi, namun tetap
menggambarkan arti penting dari harga diri.
Harga diri itu sendiri mengandung
arti suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya
yang diungkapkan dalam sikap–sikap yang dapat bersifat
positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang
dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya
sehari–hari. Harga diri yang positif akan
membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa
yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa
kehadirannya diperlukan di dunia ini. Misalnya seorang
remaja yang memiliki harga diri yang cukup positif, dia
akan yakin dapat mencapai prestasi yang dia dan orang
lain harapkan. Pada gilirannya, keyakinan itu akan
memotivasi remaja tersebut untuk sungguh-sungguh
mencapai apa yang diinginkan.
Sebaliknya, seorang remaja yang
memiliki harga diri yang negatif akan cenderung merasa
bahwa dirinya tidak mampu dan tidak berharga. Di samping
itu remaja dengan harga diri yang negatif cenderung
untuk tidak berani mencari tantangan-tantangan baru
dalam hidupnya, lebih senang menghadapi hal-hal yang
sudah dikenal dengan baik serta menyenangi hal-hal yang
tidak penuh dengan tuntutan, cenderung tidak merasa
yakin akan pemikiran-pemikiran serta perasaan yang
dimilikinya, cenderung takut menghadapi respon dari
orang lain, tidak mampu membina komunikasi yang baik dan
cenderung merasa hidupnya tidak bahagia.
Pada remaja yang memiliki harga
diri negatif inilah sering muncul perilaku negatif.
Berawal dari perasaan tidak mampu dan berharga, mereka
mengkompensasikannya dengan tindakan lain yang,
seolah-olah, membuat dia lebih berharga. Misalnya dengan
mencari pengakuan dan perhatian dari teman-temannya.
Dari sinilah kemudian muncul penyalahgunaan obat atau
berkelahi, misalnya, yang dilakukan demi mendapatkan
pengakuan dari lingkungannya.
Tidak semua kompensasi harga diri
negatif menyebabkan perilaku negatif. Ada juga yang
menyadari perasaan rendah diri kemudian
mengkompensasikannya melalui prestasi dalam suatu bidang
tertentu. Dalam hal ini, prestasi apapun yang dicapai,
akan meningkatkan harga diri seseorang.
Berkaitan dengan masa
remaja, hasil-hasil studi yang panjang di berbagai
negara menunjukkan bahwa masa yang paling penting dan
menentukan perkembangan harga diri seseorang adalah pada
masa remaja. Pada masa inilah terutama seseorang akan
mengenali dan mengembangkan seluruh aspek dalam dirinya,
sehingga menentukan apakah ia akan memiliki harga diri
yang positif atau negatif.
Untuk
memahami lebih lanjut tentang faktor-faktor apa saja
yang berperan dalam pembentukan harga diri remaja,
simak :
_________________________
|