| |
REMAJA
DAN PERILAKU KONSUMTIF
|
| |
Oleh
Raymond Tambunan, Psi.
|
| |
Jakarta,
19 November 2001
|
| |
Belanja,
adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam
konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di
dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah
berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan
rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja
juga punya arti tersendiri bagi remaja.
|
| |
|
| |
Pola
Hidup Konsumtif
|
| |
|
| |
Kata
“konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran
–if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”.
Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala
sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan
konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk
mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang
diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan
yang maksimal.
|
| |
Memang
belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif
ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk
pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang
lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa
yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai
ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu
rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu
tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100
ribu ia belanjakan sepasang sepatu
karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja
sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut
berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk
sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia
membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia
dapat disebut berperilaku konsumtif.
|
| |
Contoh
ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang
telah berperilaku konsumtif atau tidak. Tapi coba
bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta,
untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu, dan 300 ribu
digunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan,
sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalam
usaha. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif?
|
| |
|
| |
Perilaku
Konsumtif Remaja
|
| |
|
| |
Bagi
produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar
yang potensial. Alasannya antara lain karena pola
konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di
samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan,
suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung
boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja
inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk
memasuki pasar remaja.
|
| |
Di
kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas
ekonomi yang cukup berada,
terutama di kota-kota besar, mall sudah
menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa
mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar.
Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para
remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.
Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.
|
| |
Dari
sejumlah hasil penelitian, ada perbedaan dalam pola
konsumsi antara pria dan wanita. Juga terdapat sifat
yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku
membeli. Perbedaan tersebut adalah:
|
| |
|
Pria:
|
Wanita:
|
- mudah
terpengaruh bujukan penjual
- sering
tertipu karena tidak sabaran dalam memilih
barang
- mempunyai
perasaan kurang enak bila tidak membeli
sesuatu setelah memasuki toko
- kurang
menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering
terburu-buru mengambil keputusan membeli.
|
- lebih
tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal
teknis dan kegunaannya
- tidak
mudah terbawa arus bujukan penjual
- menyenangi
hal-hal yang romantis daripada obyektif
- cepat
merasakan suasana toko
- senang
melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window
shopping (melihat-lihat saja tapi tidak
membeli).
|
|
| |
Daftar
ini masih dapat dipertanyakan apakan memang benar ada
gaya yang berbeda dalam membeli antara pria dan wanita.
Selain itu, penelitian-penelitian yang telah dilakukan
belum mendapatkan hasil yang konsisten apakah remaja
pria atau waniata yang lebih banyak membelanjakan
uangnya.
|
| |
|
| |
Apakah
Konsumtif Berbahaya?
|
| |
|
| |
Perilaku
konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila
melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari
identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh
lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari
lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi
sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan
remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang
sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan
emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial
itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi.
Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola
para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru)
dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan
artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.
|
| |
Menjadi
masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada
remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih
besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang
apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang
tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak
orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki
dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah
menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
|
| |
Perilaku
konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup
sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan
menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif.
Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan
finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi
apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan
dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari
pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara
instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif
bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak
psikologis, sosial bahkan etika. (rt)
|
| |
_________________________
|