|
| |
Perkelahian
Pelajar
|
| |
Oleh
Raymond Tambunan, Psi.
|
| |
Jakarta,
16 Oktober 2001
|
| |
Perkelahian,
atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di
antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar
SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus.
Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang
wajar pada remaja.
|
| |
|
| |
Di
kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan,
tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas
Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus
perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183
kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat
194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2
anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang
menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun
berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas.
Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan
korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam
satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga
tempat sekaligus.
|
| |
|
| |
Dampak
perkelahian pelajar
|
| |
|
| |
Jelas
bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak.
Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari
perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan
keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas
mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera
atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum
seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta
fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga,
terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir,
mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik,
adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi,
perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para
pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang
paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan
karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar
tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas
memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap
kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
|
| |
|
| |
Pandangan
umum terhadap penyebab perkelahian pelajar
|
| |
|
| |
Sering
dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah
kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang
lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275
sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di
antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari
tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian
pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga
mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering
dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan
pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada
keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak
berada di rumah.
|
| |
|
| |
Padahal penyebab
perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama
di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi
faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan
pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat
misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti
angkutan umum dan tata kota.
|
| |
|
| |
Secara psikologis,
perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja
digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile
deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian,
dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu
situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional,
perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
“mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu
biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan
masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi
sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu
berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng.
Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang
harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai
anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang
diharapkan oleh kelompoknya.
|
| |
|
| |
Tinjauan
psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar
|
| |
|
| |
Dalam
pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi
antara kecenderungan di dalam diri individu (sering
disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan
kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian
pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor
psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian
pelajar.
|
| |
|
| |
-
Faktor
internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya
kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi
lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti
adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat
ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang
makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang.
Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka
kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan
situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka
biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari
masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap
masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat
untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering
berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik
batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil,
tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan
memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka
biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
-
Faktor keluarga.
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar
orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada
anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa
kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga
adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan
pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi
anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu
yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan
identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan
teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara
total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari
identitas yang dibangunnya.
-
Faktor sekolah.
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga
yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi
sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas
pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang
tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya
suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak
relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas
praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang
melakukan kegiatan di luar sekolah bersama
teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan,
di mana guru jelas memainkan peranan paling penting.
Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan
pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang
sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau
dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
-
Faktor lingkungan.
Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang
sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak
terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan
rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan
yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu
pula sarana transportasi umum yang sering
menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa
negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat
merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari
lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang
berkembang mendukung untuk munculnya perilaku
berkelahi. (rt)
|
| |
_________________________
|
|