| |
Obesitas
dan Faktor Penyebab
|
| |
Oleh: Zainun
Mu'tadin, SPsi., MSi.
|
|
|
Jakarta,
13 Mei 2002
|
|
|
Obesitas atau yang biasa kita kenal sebagai
kegemukan merupakan suatu masalah yang cukup merisaukan
di kalangan remaja. Pada remaja putri, kegemukan
menjadi permasalahan yang cukup berat, karena keinginan
untuk tampil sempurna yang seringkali diartikan dengan
memiliki tubuh ramping/langsing dan proporsional,
merupakan idaman bagi mereka. Hal ini semakin diperparah
dengan berbagai iklan di televisi, surat kabar dan media
massa lain yang selalu menonjolkan figur-figur wanita
yang langsing dan iklan berbagai macam ramuan
obat-obatan, makanan dan minuman untuk merampingkan
tubuh. Akibatnya jutaan rupiah uang dibelanjakan untuk
diet ketat, obat-obatan, dan perawatan-perawatan guna
menurunkan berat badan.
|
|
|
Tidak berbeda dengan remaja putri, remaja
pria pun takut menjadi gemuk. Bagi mereka, pria yang
memiliki bobot berlebih dianggap akan mengalami
permasalahan yang cukup berat untuk menarik
perhatian lawan jenis. Banyak remaja pria yang berharap
dapat membuat tubuhnya ideal (menjadi sedikit berotot/kekar)
dan keinginan mereka untuk itu pada sebagian remaja
disalurkan melalui kegiatan olah raga, namun sayangnya
bagi mereka yang kegemukan kegiatan olah raga akan
terasa sebagai siksaan. Hal inilah yang seringkali
dimanfaatkan oleh para penjual produk-produk obat-obatan
atau makanan penurun berat badan dan alat olahraga
ringan untuk memperlaris dagangannya.
|
|
|
Dengan
melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, tidaklah
berlebihan jika dikatakan bahwa obesitas merupakan salah
masalah rumit yang seringkali dihadapi remaja dan juga
termasuk orang dewasa. Hal ini tercermin dalam
banyak dana yang dikeluarkan untuk melakukan diet,
membeli obat-obatan pelangsing dan peralatan olahraga
yang bertujuan untuk menurunkan berat badan.
|
|
|
Obesitas atau kegemukan terjadi pada saat badan
menjadi gemuk (obese) yang disebabkan penumpukan adipose
(adipocytes: jaringan lemak khusus yang disimpan tubuh)
secara berlebihan. Jadi obesitas adalah keadaan dimana
seseorang memiliki berat badan yang lebih berat
dibandingkan berat idealnya yang disebabkan terjadinya
penumpukan lemak di tubuhnya.
|
|
|
Dihadapkan
pada obesitas, tidak jarang seorang remaja bereaksi
secara berlebihan. Tidak jarang pula mereka menjadi
frustrasi karena meskipun sudah melakukan diet ketat dan
mengkonsumsi ramuan atau obata-obatan penurun berat
badan, ternyata bobot tubuh tidak kunjung susut. Apa
sebenarnya yang terjadi? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut kita perlu melihat faktor-faktor yang menjadi
penyebab obesitas. Menurut para ahli, didasarkan pada
hasil penelitian, obesitas dapat dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya
adalah faktor genetik, disfungsi salah satu bagian otak,
pola makan yang berlebih, kurang gerak / olahraga, emosi,
dan faktor lingkungan
|
|
|
Genetik
|
|
|
Kegemukan dapat diturunkan dari generasi
sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam sebuah
keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai
orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang
gemuk pula. Dalam hal ini nampaknya faktor genetik
telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel
lemak dalam tubuh. Hal ini dimungkinkan karena
pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka
unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran
normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi
selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi
yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif
sama besar.
|
|
|
Kerusakan
Pada Salahsatu Bagian Otak
|
|
|
Sistem
pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada
suatu bagian otak yang disebut hipotalamus –sebuah
kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan
dengan bagian-bagian lain dari otak dan kelenjar dibawah
otak. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh darah
dari daerah lain pada otak, sehingga lebih mudah
dipengaruhi oleh unsur kimiawi dari darah.
|
|
|
Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi
penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang
menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan);
hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi
nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari
hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur
maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan
mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi
infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada
bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan
kegemukan.
|
|
|
Pola
Makan Berlebihan
|
|
|
Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding
dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat
lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau
saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan
bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia
lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan
mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang
individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang
kuat untuk mengurangi berat badan.
|
|
|
Kurang
Gerak/Olahraga
|
|
|
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka
terhadap pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi
tergantung dari dua faktor : 1) tingkat aktivitas dan
olah raga secara umum; 2) angka metabolisme basal atau
tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut
metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga
dari pengeluaran energi orang normal.
|
|
|
Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu
pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat
normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat
badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting.
Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak
berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang.
Kalori secara
tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal.
Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami
penurunn metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan
aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat,
obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit
dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga
secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya
metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga
sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja
karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena
dapat membantu mengatur berfungsinya metabolis normal.
|
|
|
Pengaruh
Emosional
|
|
|
Sebuah pandangan populer adalah bahwa obesitas
bermula dari masalah emosional yang tidak teratasi.
Orang-orang gemuk haus akan cinta kasih, seperti
anak-anak makanan dianggap sebagai simbol kasih sayang
ibu, atau kelebihan makan adalah sebagai subtitusi untuk
pengganti kepuasan lain yang tidak tercapai dalam
kehidupannya. Walaupun
penjelasan demikian cocok pada beberapa kasus, namun
sebagian orang yang kelebihan berat badan tidaklah lebih
terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang
yang memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat
yang mengatakan bahwa 0rang gemuk biasanya tidak
bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan /tekanan batinnya lebih
diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal
tersebut karena dalam suatu masyarakat seringkali tubuh kurus
disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk cenderung malu
dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri
terutama dalam hal yang berhubungan dengan
perilaku makan.
|
|
|
Orang gemuk seringkali mengatakan bahwa mereka
cenderung makan lebih banyak apa bila mereka tegang atau
cemas, dan eksperimen membuktikan kebenarannya. Orang
gemuk makan lebih banyak dalam suatu situasi yang sangat
mencekam; orang dengan berat badan yang normal makan
dalam situasi yang kurang mencekam (McKenna,1999).
Dalam suatu studi yang dilakukan White (1977) pada kelompok orang dengan berat badan
berlebih dan kelompok orang dengan berat badan yang
kurang, dengan
menyajikan kripik (makanan ringan) setelah mereka menyaksikan empat
jenis film yang mengundang emosi yang berbeda, yaitu film yang
tegang, ceria, merangsang gairah seksual dan sebuah
ceramah yang membosankan. Pada orang gemuk didapatkan
bahwa mereka lebih banyak menghabiskan kripik setelah menyaksikan
film yang tegang dibanding setelah menonton film yang
membosannkan. Sedangkan pada orang dengan berat badan
kurang
selera makan kripik tetap sama setelah menonton film yang tegang
maupun film yang membosankan.
|
|
|
Lingkungan
|
| |
Faktor
lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang
untuk menjadi gemuk. Jika seseroang dibesarkan dalam
lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol
kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan
cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan
tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor
eksternal maka orang yang obesitas tidak akan
mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan
dengan kegemukan.
|
| |
Nah,
bagi para remaja yang kebetulan memiliki berat badan
berlebih dan belum berhasil mengurangi berat badan,
janganlah merasa frustrasi. Mungkin dengan
mengetahui faktor-faktor penyebab kegemukan seperti
tertulis diatas Anda akan menemukan penyebab mengapa
berat badan Anda tidak kunjung susut. Satu hal yang
paling penting untuk diingat adalah sejauh tubuh
anda tidak mengidap suatu penyakit maka tidak ada
yang salah dengan tubuh yang besar (gemuk). Hal lain
yang juga tidak kalah penting adalah cobalah untuk
berolahraga secara teratur dan menjaga agar emosi
anda tetap terkendali. Oke.... Semoga bermanfaat. (jp)
|
| |
_________________________
|