|
Gabungan 3M
Dalam bahasa gaul harian, pede yang kita
maksudkan adalah percaya diri. Semua orang sebenarnya
punya masalah dengan istilah yang satu ini. Ada orang
yang merasa telah kehilangan rasa kepercayaan diri di
hampir keseluruhan wilayah hidupnya. Mungkin terkait
dengan soal krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa
tak berdaya menatap sisi cerah masa depan, dan
lain-lain. Ada juga orang yang merasa belum pede
dengan apa yang dilakukannya atau dengan apa yang
ditekuninya. Ada juga orang yang merasa kurang percaya
diri ketika menghadapi situasi atau keadaan tertentu.
Berdasarkan praktek hidup, kita bisa mengatakan bahwa
yang terakhir itu normal dalam arti dialami oleh semua
manusia.
Sebenarnya apa sih yang kita maksudkan dengan istilah
pede itu? Kalau melihat ke literatur ilmiahnya, ada
beberapa istilah yang terkait dengan persoalan pede
ini. Di sini saya hanya ingin menyebutkan empat saja:
§ Self-concept:
bagaimana Anda menyimpulkan diri anda secara keseluruhan,
bagaimana Anda melihat potret diri Anda secara
keseluruhan, bagaimana Anda mengkonsepsikan diri anda
secara keseluruhan.
§ Self-esteem:
sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri
Anda, sejauhmana Anda punya sesuatu yang Anda rasakan
bernilai atau berharga dari diri Anda, sejauh mana Anda
meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat atau
berharga di dalam diri Anda
§
Self efficacy:
sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang
Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani
persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed).
Ini yang disebut dengan general self-efficacy.
Atau juga, sejauhmana Anda meyakini kapasitas anda di
bidang anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang
disebut dengan specific self-efficacy.
§ Self-confidence:
sejauhmana Anda punya keyakinan terhadap penilaian Anda
atas kemampuan Anda dan sejauh mana Anda bisa merasakan
adanya “kepantasan” untuk berhasil. Self confidence
itu adalah kombinasi dari self esteem dan
self-efficacy (James Neill, 2005)
Berdasarkan itu semua, kita juga bisa membuat semacam
kesimpulan bahwa kepercayaan-diri itu adalah efek dari
bagaimana kita merasa (M1), meyakini (M2), dan
mengetahui (M3). Orang yang punya kepercayaan diri
rendah atau kehilangan kepercayaan diri memiliki
perasaan negatif terhadap dirinya, memiliki keyakinan
lemah terhadap kemampuan dirinya dan punya pengetahuan
yang kurang akurat terhadap kapasitas yang dimilikinya.
Ketika ini dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari,
orang yang memiliki kepercayaan rendah atau telah
kehilangan kepercayaan, cenderung merasa / bersikap
sebagai berikut :
§ Tidak
memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang
diperjuangkan secara sungguh-sungguh
§ Tidak
memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang)
§
Mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi
masalah atau kesulitan
§ Kurang
termotivasi untuk maju, malas-malasan atau
setengah-setengah
§ Sering
gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung
jawab (tidak optimal)
§ Canggung
dalam menghadapi orang
§ Tidak
bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan
mendengarkan yang meyakinkan
§ Sering
memiliki harapan yang tidak realistis
§ Terlalu
perfeksionis
§ Terlalu
sensitif (perasa)
Sebaliknya, orang yang kepercayaan diri bagus, mereka
memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya
keyakinan yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan
akurat terhadap kemampuan yang dimiliki. Orang yang
punya kepercayaan diri bagus bukanlah orang yang hanya
merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan
adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya mampu
berdasarkan pengalaman dan perhitungannya.
Berbagai studi dan pengalaman telah menjelaskan bahwa
kepercayaan diri seseorang terkait dengan dua hal yang
paling mendasar dalam praktek hidup kita. Pertama,
kepercayaan diri terkait dengan bagaimana seseorang
memperjuangkan keinginannya untuk meraih sesuatu (prestasi
atau performansi). Ini seperti dikatakan Mark Twin: “Apa
yang Anda butuhkan untuk berprestasi adalah memiliki
komitment yang utuh dan rasa percaya diri. “
Kedua,
kepercayaan diri terkait dengan kemampuan seseorang
dalam menghadapi masalah yang menghambat perjuangannya.
Orang yang kepercayaan dirinya bagus akan cenderung
berkesimpulan bahwa dirinya “lebih besar” dari
masalahnya. Sebaliknya, orang yang punya kepercayaan
diri rendah akan cenderung berkesimpulan bahwa
masalahnya jauh lebih besar dari dirinya. Ini seperti
yang diakui Mohammad Ali. “Satu-satunya yang membuat
orang lari dari tantangan adalah lemahnya kepercayaan
diri.”
Kesimpulan Bandura (Dr. Albert Bandura, 1994),
menjelaskan bahwa self-efficacy yang bagus punya
kontribusi besar terhadap motivasi seseorang. Ini
mencakup antara lain: bagaimana seseorang merumukan
tujuan atau target untuk dirinya, sejauh mana orang
memperjuangkan target itu, sekuat apa orang itu mampu
mengatasi masalah yang muncul, dan setangguh apa orang
itu bisa menghadapi kegagalannya.
Tak hanya Bandura yang kesimpulan semacam itu. Pakar
pendidikan juga punya kesimpulan yang bernada sama.
Self-efficacy yang bagus akan menjadi penentu
keberhasilan seseorang (pelajar) dalam menjalankan tugas.
Mereka lebih punya kesiapan mental untuk belajar, lebih
punya dorongan yang kuat untuk bekerja giat, lebih tahan
dalam mengatasi kesulitan dan lebih mampu mencapai level
prestasi yang lebih tinggi (Pajares & Schunk, The
Development of Achievement Motivation, San Diego:
Academic Press, 2002.).
|