|
| |
Faktor
Penyebab Perilaku Agresi
|
| |
Oleh: Zainun
Mu'tadin, SPsi., MSi.
|
|
|
Jakarta,
10 Juni 2002
|
|
|
Bagi
warga Jakarta, aksi-aksi kekerasan baik individual
maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian.
Saat ini beberapa televisi bahkan membuat
program-program khusus yang menyiarkan berita-berita
tentang aksi kekerasan. Aksi-aksi kekerasan dapat
terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah,
bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Aksi tersebut
dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun
kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan
remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal
merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan,
bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan
aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa
di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan
bagi kita semua.
Hal
yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah
perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok.
Agresi itu sendiri menurut Murray (dalam Hall &
Lindzey, Psikologi kepribadian, 1993)
didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan
dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang,
membunuh,atau menghukum orang lain. Atau secara
singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk
melukai orang lain atau merusak milik orang lain.
Pertanyaannya
kemudian adalah faktor-faktor apa saja yang dapat
menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa
kasus-kasus sepele dalam kehidupan sosial masyarakat
sehari-hari dapat tiba-tiba berubah menjadi bencana
besar yang berakibat hilangnya nyawa manusia?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada
baiknya kita memahami terlebih dahulu apa saja penyebab
perilaku agresi.
|
|
|
Amarah
|
|
|
Marah
merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem
saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak
suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya
kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin
juga tidak (Davidoff, Psikologi suatu pengantar 1991).
Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju,
menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul
pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan
maka terjadilah perilaku agresi.
Jadi
tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi
adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit
fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah
dan akhirnya memancing agresi. Ejekan, hinaan dan
ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah
yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota
seringkali saling mengejek pada saat bermain, begitu
juga dengan remaja biasanya mereka mulai saling mengejek
dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang
diejek ikut membalas ejekan tersebut, lama kelamaan
ejekan yang dilakukan semakin panjang dan terus-menerus
dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi bahkan
seringkali disertai kata-kata kotor dan cabul. Ejekan
ini semakin lama-semakin seru karena rekan-rekan yang
menjadi penonton juga ikut-ikutan memanasi situasi. Pada
akhirnya bila salah satu tidak dapat menahan amarahnya
maka ia mulai berupaya menyerang lawannya. Dia berusaha
meraih apa saja untuk melukai lawannya. Dengan demikian
berarti isyarat tindak kekerasan mulai terjadi. Bahkan
pada akhirnya penontonpun tidak jarang ikut-ikutan
terlibat dalam perkelahian.
|
|
|
Faktor
Biologis
|
|
|
Ada
beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku
agresi (Davidoff, 1991):
1)
Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem
neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari
penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari
yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya,
faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang
berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah
dibandingkan betinanya.
2)
Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi
ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural
yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah
dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang
sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada
manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara
kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991)
menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan
akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak
pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai
cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi).
Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk
menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk
menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena
kurang rangsangan sewaktu bayi.
3)
Kimia darah. Kimia
darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan
faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku
agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan
hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan
lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang
memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus
tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat.
Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi
lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan
yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan
menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang
mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen
dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya
banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah
tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu
banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan
tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid
ini.
|
|
|
Kesenjangan
Generasi
|
|
|
Adanya
perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak
dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan
komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak
nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak
diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku
agresi pada anak. permasalahan generation gap ini
harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain
agresi, masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul
seperti masalah ketergantungan narkotik, kehamilan
diluar nikah, seks bebas, dll.
|
|
|
Lingkungan
|
|
|
1)
Kemiskinan
Bila
seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan,
maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami
penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal
ini dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan
sehari-hari di ibukota Jakarta, di perempatan jalan
dalam antrian lampu merah (Traffic Light) anda
biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih dari
satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda
memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap
di serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan
resikonya anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang
berani memukul pintu mobil anda jika anda tidak memberi
uang, terlebih bila mereka tahu jumlah uang yang
diberikan pada temannya cukup besar. Mereka juga bahkan
tidak segan-segan menyerang temannya yang telah diberi
uang dan berusaha merebutnya. Hal ini sudah menjadi
pemandangan yang seolah-olah biasa saja.
Bila
terjadi perkelahian dipemukiman kumuh, misalnya ada
pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang
untuk beli minuman, maka pada saat itu anak-anak dengan
mudah dapat melihat model agresi secara langsung. Model
agresi ini seringkali diadopsi anak-anak sebagai model
pertahanan diri dalam mempertahankan hidup. Dalam
situasi-situasi yang dirasakan sangat kritis bagi
pertahanan hidupnya dan ditambah dengan nalar yang belum
berkembang optimal, anak-anak seringkali dengan gampang
bertindak agresi misalnya dengan cara memukul, berteriak,
dan mendorong orang lain sehingga terjatuh dan
tersingkir dalam kompetisi sementara ia akan berhasil
mencapai tujuannya. Hal yang sangat
menyedihkan adalah dengan berlarut-larut
terjadinya krisis ekonomi & moneter menyebabkan
pembengkakan kemiskinan yang semakin tidak terkendali.
Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi
semakin besar dan kesulitan mengatasinya lebih kompleks.
2)
Anonimitas
Kota
besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar
lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam
informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara
otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan
melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang
berlebihan tersebut.
Terlalu
banyak rangsangan
indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat
impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain
tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik.
Lebih jauh lagi, setiap individu
cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai
identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia
cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa
tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang
bersimpati pada orang lain.
3)
Suhu udara yang panas
Bila
diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di
Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik
panas matahari, tapi bila musim hujan relatif tidak ada
peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi
demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas
keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang terik dan
panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga
menjadi sepi.
Hal
ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu lingkungan
yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial
berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US
Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim
panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih
banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan
musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito,
Psikologi Lingkungan,1992
|
|
|
Peran
Belajar Model
Kekerasan
|
|
|
Tidak
dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan
remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan
melalui Televisi dan juga "games" atau pun
mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang
menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat
ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai
dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu
ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus
perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja
seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting
Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa
acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak
mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa
tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan
jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan yang
diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa
menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit
pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk
meniru model kekerasan tersebut.
Model
pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan
setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal ini sudah
barang tentu membuat penonton akan semakin mendapat
penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang
menyenangka dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi
dirinya. Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut
terjadi proses belajar peran model kekerasan dan
hal ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya
perilaku agresi.
Dalam
suatu penelitian Aletha Stein (Davidoff, 1991)
dikemukakan bahwa anak-anak yang memiliki kadar aagresi
diatas normal akan lebih cenderung berlaku agresif,
mereka akan bertindak keras terhadap sesama anak lain
setelah menyaksikan adegan kekerasan dan meningkatkan
agresi dalam kehidupan sehari-hari, dan ada kemungkinan
efek ini sifatnya menetap.
Selain
model dari yang di saksikan di televisi belajar model
juga dapat berlangsung secara langsung dalam kehidupan
sehari-hari. Bila seorang yang sering menyaksiksikan
tawuran di jalan, mereka secara langsung menyaksikan
kebanggaan orang yang melakukan agresi secara langsung.
Atau dalam kehidupan bila terbiasa di lingkungan rumah
menyaksikan peristiwa perkelahian antar orang tua
dilingkungan rumah, ayah dan ibu yang sering cekcok dan
peristiwa sejenisnya , semua itu dapat memperkuat
perilaku agresi yang ternyata sangat efektif bagi
dirinya.
Model
kekerasan juga seringkali ditampilkan dalam bentuk
mainan yang dijual di toko-toko. Seringkali orang tua
tidak terlalu perduli mainan apa yang di minta anak,
yang penting anaknya senang dan tidak nangis lagi.
Sebenarnya permainan-permainan sangat efektif dalam
memperkuat perilaku agresif anak dimasa mendatang.
Permainan-permainan yang mengandung unsur kekerasan yang
dapat kita temui di pasaran misalnya pistol-pistolan,
pedang, model mainan perang-perangan, bahkan ada mainan
yang dengan model Goilotine (alat penggal kepala
sebagai hukuman mati di Perancis jaman dulu). Mainan
kekerasan ini bisa mempengaruhi anak karena memberikan
informasi bahwa kekerasan (agresi) adalah sesuatu yang
menyenangkan. Permainan lain yang sama efektifnya adalah
permainan dalam video game atau play station
yang juga banyak menyajikan bentuk-bentuk kekerasan
sebagai suatu permainan yang mengasikkan.
|
|
|
Frustrasi
|
|
|
Frustrasi
terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam
mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan
atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara
berespon terhadap frustrasi.
Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari
frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu
menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan
yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai.
Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan
berperilaku agresi.
Frustrasi
yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak
contohnya, beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di
Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa
yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu.
Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan
penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya.
Begitu
pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada
kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang
cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut.
Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan
dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara
nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi
saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya
perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena
frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta
uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang
yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.
|
|
|
Proses
Pendisiplinan yang Keliru
|
|
|
Pendidikan
disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras
terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik,
dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi
remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan,
1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat
remaja menjadi seorang penakut,
tidak ramah dengan orang lain,
dan membeci orang yang memberi hukuman,
kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya
melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada
orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial
berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang
lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya.
Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola
pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan
pemberontakan, terutama bila larangan-larangan yang
bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara)
lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (cth:
dilarang untuk keluar main, tetapi di dalam rumah tidak
diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan
mereka).
|
|
|
Dengan
mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan
diatas
diharapkan dapat diambil manfaat bagi para orangtua,
pendidik dan terutama para remaja sendiri dalam
berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih
baik sehingga aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk
agresi verbal maupun agresi fisik dapat diminimalkan
atau bahkan dihilangkan. Mungkin masih banyak faktor
penyebab lainnya yang belum kami bahsa disini, namun
setidaknya faktor-faktor diatas patut diwaspadai dan
diberikan perhatian demi menciptakan rasa aman dalam
masyarakat kita. Bukankah Damai Itu Indah.....(jp)
|
| |
_________________________
|
|