|
| |
Menelusuri
Kecemasan pada Remaja |
| |
Oleh :
RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
|
|
|
Jakarta,
08 Januari 2007 |
|
|
Bila banyak pihak mencemaskan individu
yang berada pada masa remaja, bagaimana dengan kecemasan
yang dialami pada remaja itu sendiri?
|
|
|
Period of storm and stress |
|
|
Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi
sorotan yang tidak lekang waktu. Psikologi sendiri
memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak
dengan menamakan period of storm and stress.
Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara
general biasa dihadapi oleh remaja; (1) konflik dengan
orangtua, (2) perubahan mood yang cepat, dan (3)
perilaku beresiko (dalam Laugesen, 2003)
Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’
peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang
membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman
sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja
bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi
Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki
peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman
sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan
gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk
nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu
pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam
pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang
memiliki nilai-nilai sejenis (dalam Perkins,2000).
Benarkah demikian? Agaknya para orangtua
harus berbesar hati dan membuka diri agar tidak tertipu
oleh model rambut, mode pakaian, musik yang berdebum di
kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat
telinga terasa penuh. Kedekatanlah yang bisa membuka
mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai
yang sebenarnya dipegang remaja. Bukankah penemuan
Stenberg menjadi angin segar dan harapan yang
menggembirakan di mana orangtua atau keluarga tetap
menjadi model utama. Hanya penampilan tentu tidak selalu
sama, era digital bukankah membawa berjuta pilihan?
Tidak hanya bagi remaja, tetapi juga orangtua.
Mood yang naik turun juga sering terdengar
dari celetukan remaja, “Bete niiih..” Ada dua
mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita. (1)
Mood-dependent memory ,suatu informasi atau realita
yang menimbulkan mood tertentu, atau (2) Mood
congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan
atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik,
dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau
diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000).
Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat
pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin
terbentuk.
Remaja juga mempunyai reputasi berani
mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode
lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi
meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering
mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil
yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba
banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku
nekat dan hasil yang tidak selalu jelas diasumsikan
Arnett membuka peluang besar untuk meningkatnya
kecemasan pada remaja (dalam Laugesen, 2003) |
|
|
Empat model
kognitif bagi kecemasan remaja |
|
|
Laugesen (2003) dalam studinya tentang
empat model kognitif yang digagas oleh Dugas, Gagnon,
Ladouceur dan Freeston (1998) menemukan bahwa empat
model kognitif tersebut efektif bagi pencegahan dan
perlakuan terhadap kecemasan pada remaja. Kecemasan
merupakan fenomena kognitif, fokus pada hasil negatif
dan ketidakjelasan hasil di depan. Hal ini didasari dari
definisi Vasey & Daleiden (dalam Laugesen,2003) berikut;
“Worry in childhood and adolescence has been defined
as primarily an anticipatory cognitive process involving
repetitive, primarily verbal thoughts related to
possible threatening outcomes and their potential
consequences.”
Empat model kognitif itu ialah (1) tidak
toleran (intoleransi) terhadap ketidakpastian, (2)
keyakinan positif tentang kecemasan, (3) orientasi
negatif terhadap masalah, serta (4) penghindaran
kognitif.
Pemahaman tiap variabel tersebut;
(1) intoleransi terhadap ketidakpastian
merupakan bias kognitif yang mempengaruhi bagaimana
seseorang menerima, menginterpretasi dan merespons
ketidakpastian situasi pada tataran kognitif, emosi dan
perilaku;
(2) sejumlah studi menunjukkan bahwa orang
yang meyakini bahwa perasaan cemas dapat membimbing pada
hasil positif seperti solusi yang lebih baik dari
masalah, meningkatkan motivasi atau mencegah dan
meminimalisir hasil negatif, dapat membantu mereka
dalam menghadapi ketakutan dan kegelisahan;
(3) orientasi negatif terhadap masalah
merupakan seperangkat kognitif negatif yang meliputi
kecenderungan untuk menganggap masalah sebagai ancaman,
memandangnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dipecahkan,
meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah,
menjadi merasa frustrassi dan sangat terganggu ketika
masalah muncul;
(4) penghindaran kognitif dikonsepsikan
dalam dua cara, yakni (a) proses otomatis dalam
menghindari bayangan mental yang mengancam dan (b)
strategi untuk menekan pikiran-pikiran yang tidak
diinginkan.
Studi Laugesen (2003) secara khusus
menunjukkan dua hal penting yang bisa menjadi acuan; (1)
intoleransi terhadap ketidakpastian dan orientasi
negatif terhadap masalah merupakan target utama baik
dalam pencegahan maupun perlakuan pada kecemasan yang
berlebihan dan tidak terkendali pada remaja, (2)
intoleransi terhadap ketidakpastian juga menjadi
konstruk utama dalam kecemasan remaja. Hal lain yang
sangat menarik dalam temuan Laugesen adalah intoleransi
pada remaja berkorelasi dengan persepsi tentang tugas
ambigu, namun tidak dengan kecemasan. Hal ini
menunjukkan bahwa intoleransi dan kecemasan sebagai
konstruk yang unik.
Intoleransi menjadi kunci penting dalam
memahami kecemasan pada remaja. Secara logika bisa
dipahami bahwa ketidakmampuan individu dalam menerima
ketidakpastian sebagai salah satu kenyataan yang akan
dihadapi cukup menggambarkan diri orang tersebut. Hal
ini juga menarik untuk kembali melirik teori dan studi
tentang diri. Laugesen (2003) juga menguji tingkat
kecemasan (tinggi dan rendah), di mana intoleransi tetap
berperan di dalamnya. Remaja atau individu yang
bagaimana tepatnya yang berpeluang untuk mengalamai
kecemasan tinggi, tidak terkendali, atau yang wajar? |
|
|
Siapa Anda?
Siapa saya? |
|
|
Pada model kognitif orientasi negatif pada
masalah, individu juga memiliki kecenderungan untuk
meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah
yang datang. Hal ini menunjukkan peran self-efficacy
dalam pembentukkan rasa cemas. Bandura (dalam Brown,
2005) menyatakan self-efficacy sebagai “a
belief that one can perform a specific behavior,”
dan “Self-efficacy is concerned not with the skills
one has but with judgement of what one can do with
whatever skills one possesses.” Individu dengan
self-efficacy tinggi meyakini bahwa kerja keras
untuk menghadapi tantangan hidup, sementara rendanhya
self-efficacy kemungkinan besar akan memperlemah
bahkan menghentikan usaha seseorang.
Pencarian identitas menjadi salah satu aikon pada masa
remaja.
Hal ini membawa kita untuk menelisik lebih
jauh tentang self-concept yang ada maupun yang
sedang terbentuk. Konsep diri merupakan cara individu
memandang dirinya sendiri. Baron & Byrne (2000)
merumuskan sebagai berikut, “self concept is one’s
self identity, a schema consisting of an organized
collection of beliefs and feelings about oneself.”
Konsep diri berkembang sejalan dengan usia, namun juga
merespons umpan balik yang ada, mengubah lingkungan
seseorang atau status dan interaksi dengan orang lain.
Pertanyaan “Siapa Anda? Siapa saya?” menjadi inti
studi psikologi tentang konsep diri. Rentsch & Heffner
(1994, dalam Byrne & Baron, 2000) menyimpulkan dari
sekian ragam jawaban atas pertanyaan tersebut dalam dua
kategori; (1) aspek identitas sosial dan (2) atribusi
personal. Sebagian dari kita akan menjawab, Saya
adalah arsitek, penulis, mahasiswa, dan lain
sebagainya yang mengacu pada identitas sosial seseorang.
Sebagian dari kita yang lain akan menjawab Saya
periang, terbuka, pemalu, dan sebagainya yang lebih
merujuk pada atribusi diri.
Sementara Rogers (2001) membagi konsep diri dalam dua
kategori yang sedikit berbeda yakni (1) personal dan (2)
sosial. Konsep diri personal adalah pandangan seseorang
tentang dirinya sendiri dari kacamata diri, misalnya
“Saya merasa sebagai seorang yang terbuka terhadap
kritik.” Sedangkan konsep diri sosial berangkat
dari kacamata orang lain, seperti, “Teman-teman di
kampus melihat saya sebagai orang yang keras kepala,”
biasanya kalimat ini akan berlanjut dengan koreksi dari
pandangan dirinya sendiri seperti “…padahal saya
hanya mempertahankan pendapat saya saja.” Atau
justru kalimat yang membenarkan pandangan lingkungan
terhadap diri, seperti “…memang saya merasa susah
menerima perbedaan sih..” Rogers menambahkan bahwa
konsep diri individu yang sehat adalah ketika konsiten
dengan pikiran, pengalaman dan perilaku. Konsep diri
yang kuat bisa mendorong seseorang menjadi fleksibel dan
memungkinkan ia untuk berkonfrontasi dengan pengalaman
atau ide baru tanpa merasa terancam.
Lebih lanjut, pembahasan konsep diri membawa kita pada
self-esteem, sebagai evaluasi atau sikap yang
dipegang tentang diri sendiri baik dalam wilyah general
maupun spesifik. Para ahli psikologi mengambil
perbandingan antara konsep diri dengan konsep diri ideal
atau yang diinginkan.
Semakin kecil perbedaan atau diskrepansi antara keduanya,
semakin tinggi self-esteem seseorang, “He/she
is what he/she wants to be.” Salah satu hasil yang
dituju dalam terapi Rogerian (self-centered therapy)
adalah peningkatan self-esteem atau menurunkan
gap antara diri dan diri ideal dalam seseorang.
|
|
|
Budaya &
Perkembangan Budaya |
|
|
Satu lagi yang perlu dipertimbangkan
adalah faktor budaya.
Perbedaan budaya memiliki pengaruh pada individu dalam
menilai pengalaman emosi. Studi menunjukkan, di
masyarakat kolektif, self critical menjadi norma,
sementara di masyarakat individual, self enhancement
yang berlaku (Baron & Byrne,2000).
Hal ini memberikan sedikit petunjuk
tentang apa yang menjadi obyek perhatian individu dalam
berpikir, bersikap dan bertindak. Apakah memang faktor
eksternal yang lebih menentukan kecemasan remaja di
masyarakat kolektif seperti Indonesia, di mana individu
akan sangat terganggu jika tidak bisa memenuhi aturan
main yang berkembang dengan lingkungan terutama teman
sebaya? Ataukah justru pencapaian diri sudah mencuri
perhatian remaja sebagai dampak dari era keterbukaan
dengan kecanggihan teknologi informasi?
Masih terbuka banyak jalan untuk memahami
kecemasan yang dialami remaja. Melengkapi studi Laugesen,
self-efficacy, self-concept, self-esteem dan
budaya menanti untuk digali khususnya pada remaja di
Indonesia. |
| |
_________________________
Referensi:
Baron, Robert A, & Byrne, Donn (2000) Social
psychology-ninth edition. Boston; Allyn and
Bacon.
Brown, Ulysses J. (2005) College students and AIDS
awareness: the effects of condom perception and
self-efficacy. College Student Journal, March
2005.
Laugesen, Nina (2003) Understanding adolescent
worry: the application of a cognitive model.
Journal of Abnormal Child Psychology, Feb.2003
Perkins, daniel F. (2000) Resiliency and trhiving
in family and youth. Vol.1.No.1,March 2000
Rogers,Carl
(2001) Gale encyclopedia of psychology, 2nd
ed. Gale Group,2001.
|
|