| |
Mengenal
Mekanisme Pertahanan Diri
|
| |
Oleh:
Zainun Mu'tadin, SPsi.,
MSi.
|
|
|
Jakarta,
5 Juli 2002
|
|
|
Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan
tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik adalah
dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia
lakukan secara sadar atau pun tidak. Hal ini sesuai
dengan pendapat dikemukakan oleh Freud sebagai berikut :
Such defense mechanisms are put into operation
whenever anxiety signals a danger that the original
unacceptable impulses may reemerge (Microsoft
Encarta Encyclopedia 2002)
|
|
|
Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan
diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses
tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan
melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya
strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif
bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau
memikirkan masalah itu.
Jadi, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur
penipuan diri.
|
|
|
Istilah mekanisme bukan merupakan istilah yang
paling tepat karena menyangkut semacam peralatan mekanik.
Istilah tersebut mungkin karena Freud banyak dipengaruhi
oleh kecenderungan abad ke-19 yang memandang manusia
sebagai mesin yang rumit. Sebenarnya, kita akan
membicarakan strategi yang dipelajari individu untuk
meminimalkan kecemasan dalam situasi yang tidak dapat
mereka tanggulangi secara efektif. Tetapi karena
“mekanisme pertahanan diri” masih merupakan istilah
terapan yang paling umum maka istilah ini masih akan
tetap digunakan.
|
|
|
Berikut ini beberapa mekanisme pertahanan diri
yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar
individu, terutama para remaja yang sedang mengalami
pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah
kedewasaan. Dari mekanisme pertahanan diri berikut,
diantaranya dikemukakan oleh Freud, tetapi beberapa yang
lain merupakan hasil pengembangan ahli psikoanalisis
lainnya.
|
|
|
Represi
|
|
|
Represi
didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan
frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan
dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi
terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan
memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya
terhadap perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu
dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi.
Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang
tidak terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan
mimpinya, karena mereka membuat keinginan tidak sadar
yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Sudah menjadi
umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek
positif dari kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya:
|
|
|
-
individu
cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali
sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan
hal-hal yang menyenangkan,
-
berusaha
sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian
yang menyesakkan dada,
-
lebih
sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita
buruk,
-
lebih
mudah mengingat hal-hal positif daripada yang
negatif,
-
lebih
sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan
dan enggan menekankan yang tidak membahagiakan.
|
|
|
Supresi
|
|
|
Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri
yang terang-terangan ditujukan menjaga agar
impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap
terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara
pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Individu
sewaktu-waktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang
menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia
sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi)
tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan
atau ingatan yang ditekan (represi)
|
|
|
Reaction
Formation (Pembentukan Reaksi)
|
|
|
Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah
ketika dia berusaha menyembunyikan motif dan perasaan
yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau
supresi), dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan
dengan yang sebetulnya. Dengan cara ini individu
tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang
disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri
pribadi yang tidak menyenangkan. Kebencian, misalnya tak
jarang dibuat samar dengan menampilkan sikap dan
tindakan yang penuh kasih sayang, atau dorongan seksual
yang besar dibuat samar dengan sikap sok suci, dan
permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan.
|
|
|
Fiksasi
|
|
|
Dalam
menghadapi kehidupannya individu dihadapkan pada suatu
situasi menekan yang membuatnya frustrasi dan mengalami
kecemasan, sehingga membuat individu tersebut merasa
tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat
perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau
selamanya. Dengan kata lain, individu menjadi terfiksasi
pada satu tahap perkembangan karena tahap berikutnya
penuh dengan kecemasan. Individu yang sangat tergantung
dengan individu lain merupakan salah satu contoh
pertahan diri dengan fiksasi, kecemasan menghalanginya
untuk menjadi mandiri. Pada remaja dimana terjadi
perubahan yang drastis seringkali dihadapkan untuk
melakukan mekanisme ini.
|
|
|
Regresi
|
|
|
Regresi
merupakan respon yang umum bagi individu bila berada
dalam situasi frustrasi, setidak-tidaknya pada anak-anak.
Ini dapat pula terjadi bila individu yang menghadapi
tekanan kembali lagi kepada metode perilaku yang
khas bagi individu yang berusia lebih muda. Ia
memberikan respons seperti individu dengan usia yang
lebih muda (anak kecil). Misalnya anak yang baru
memperoleh adik,akan memperlihatkan respons mengompol
atau menghisap jempol tangannya, padahal perilaku
demikian sudah lama tidak pernah lagi dilakukannya.
Regresi barangkali terjadi karena kelahiran adiknnya
dianggap sebagai sebagai krisis bagi dirinya sendiri.
Dengan regresi (mundur) ini individu dapat lari dari
keadaan yang tidak menyenangkan dan kembali lagi pada
keadaan sebelumnya yang dirasakannya penuh dengan kasih
sayang dan rasa aman, atau individu menggunakan strategi
regresi karena belum pernah belajar respons-respons yang
lebih efektif terhadap problem tersebut
atau dia sedang mencoba mencari perhatian
|
|
|
Menarik
Diri
|
|
|
Reaksi
ini merupakan respon yang umum dalam mengambil sikap.
Bila individu menarik diri, dia memilih untuk tidak
mengambil tindakan apapun. Biasanya respons ini disertai
dengan depresi dan sikap apatis.
|
|
|
Mengelak
|
|
|
Bila
individu merasa diliputi oleh stres yang lama, kuat dan
terus menerus, individu cenderung untuk mencoba mengelak.
Bisa saja secara fisik mereka mengelak atau mereka akan
menggunakan metode
yang tidak langsung.
|
|
|
Denial
(Menyangkal Kenyataan)
|
|
|
Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia
menganggap tidak ada atau menolak adanya
pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka
sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi
dirinya sendiri. Penyangkalan
kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri.
|
|
|
Fantasi
|
|
|
Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa
dirinya, individu sering merasa mencapai tujuan dan
dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yang
tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan kecemasan dan
yang mengakibatkan frustrasi. Individu yang seringkali
melamun terlalu banyak kadang-kadang menemukan bahwa
kreasi lamunannya itu lebih menarik dari pada kenyataan
yang sesungguhnya. Tetapi bila fantasi ini dilakukan
secara proporsional dan dalam pengendalian kesadaraan
yang baik, maka fantasi terlihat menjadi cara sehat
untuk mengatasi stres, dengan begitu dengan berfantasi
tampaknya menjadi strategi yang cukup membantu
|
|
|
Rasionalisasi
|
|
|
Rasionalisasi
sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari
alasan yang dapat diterima secara sosial untuk
membenarkan atau menyembunyikan perilakunya yang buruk.
Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya
sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah
baik, atau yang baik adalah yang buruk.
|
|
|
Intelektualisasi
|
|
|
Apabila individu menggunakan teknik
intelektualisasi, maka dia menghadapi situasi yang
seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan dengan
cara analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari
persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi
situasi yang menjadi masalah, maka situasi itu akan
dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan
sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan
persoalan tersebut secara emosional. Dengan
intelektualisasi, manusia dapat sedikit mengurangi
hal-hal yang pengaruhnya tidak menyenangkan bagi dirinya,
dan memberikan kesempatan pada dirinya untuk meninjau
permasalah secara obyektif.
|
|
|
Proyeksi
|
|
|
Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya
sangat cepat dalam memperlihatkan ciri pribadi individu
lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan
itu akan cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini
mungkin dapat digunakan untuk mengurangi
kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan
keburukan dirinya sendiri. Dalam hal ini, represi atau
supresi sering kali dipergunakan pula.
|
|
|
Sumber bacaan:
|
|
|
-
Atkinson Rita L. dan Hilgard E.R. (1999).
Pengantar Psikologi.
- Davidoff Linda L. (1991). Psikologi - Suatu
Pengantar.
- Hall dan Linzey. (1995). Psikologi Kepribadian 1,
Teori-teori Psikodinamis.
- Microsoft Encarta Encyclopedia 2002.
|
| |
_________________________
|