|
Beberapa syarat mental di bawah ini sebenarnya
adalah tambahan dari yang sudah kita miliki
berdasarkan pengalaman sehari-hari. Atau bahkan
mungkin sebatas sebagai reminder (pengingat)
atas hal-hal mendasar yang kerap kita lupakan dalam
praktek. Nah, syarat mental yang perlu kita miliki
untuk mencapai kerja cerdas dalam pengertian yang
kita bahas di sini adalah:
Mengembangkan standar prestasi yang pas
Pas di sini artinya memiliki standar yang match
atau sesuai dengan perkembangan kita hari ini.
Seperti yang kita alami, jika standar yang kita
patok itu terlalu rendah, biasanya produktivitas
kita juga rendah. Tapi, jika terlalu tinggi atau
terlalu banyak, biasanya malah bingung atau malah
sedikit hasilnya. Karena itu ada yang menyarankan,
little is more and more is little.
Dengan kata lain, supaya tetap produktif, berarti
kita perlu memberi standar yang benar-benar pas
dengan dinamika perkembangan kita. Jangan terlalu
rendah atau jangan terlalu sedikit. Tapi, jangan
juga terlalu tinggi atau jangan terlalu banyak.
Mengasah kreativitas
Kreatif atau tidak kreatif, pada akhirnya adalah
masalah manajemen batin. Suasana atau fasilitas
memang mendukung kreativitas, tapi jika batin ini
tidak kreatif, fasilitas dan suasana itu tidak ada
gunanya. Mengasah kreativitas ini bisa kita lakukan
dengan menyediakan ruang untuk menemukan berbagai
kemungkinan untuk menciptakan metode, cara atau
tehnik baru yang lebih efektif dan lebih efisien dan
yang membuat kita menjadi lebih produktif.
Soal apa bentuknya, bagaimana caranya dan lain-lain,
ini urusan kita masing-masing. Ini mengingat,
biasanya, the best tehnique is always not in the
book. Tehnik, metode atau cara yang kita
dapatkan dari orang lain atau dari buku, ini umumnya
sebagai “an aid” atau bantuan buat kita untuk
melakukan discovery atau eksplorasi.
Menajamkan fokus
Produktivitas sangat erat hubungannya dengan soal
fokus. Fokus, karena itu merupakan kekuatan. Contoh
sepele, misalnya: jika kita melihat benda di depan
mata tetapi pikiran kita tidak fokus, maka
produktivitas penglihatan kita juga tidak bagus. Ini
terjadi sampai ke hal-hal yang sangat mendasar dalam
hidup manusia.
Jika seseorang memfokuskan pikirannya untuk melihat
masalah, maka yang menjadi kesimpulan di batinnya
adalah masalah. Sebaliknya, jika seseorang
memfokuskan pikirannya untuk melihat peluang, maka
yang menjadi kesimpulan di batinnya tentang dunia
ini adalah peluang. Meski awalnya ini adalah soal
kesimpulan di batin, tetapi pada tahapan tertentu
akan mempengaruhi tindakan dan produktivitasnya.
Saking eratnya hubungan antara produktivitas dan
fokus, teori manajemen sampai mengajarkan kita untuk
membagi aktivitas menjadi:
a) prioritas
b) penting
c) mendesak
d) distraksi
Jika kita gagal membedakan antara prioritas dan
distraksi (aktivtas yang tidak prioritas, tidak
penting dan tidak mendesak), pasti fokus pikiran
kita kacau. Kalau sudah kacau, produktivitas kita
pun akan terancam.
Menggali Tacit knowledge
Istilah Tacit Knowledge ini bisa kita jumpai di
naskah kerja Robert J. Stenberg, pakar Psikologi di
Yale University. Ini adalah semacam pengetahuan
spesifik tentang sesuatu yang diperoleh seseorang
dari praktek. Tacit Knowledge ini punya ciri khas
antara lain:
Pengetahuan itu adalah sebuah prosedur di dalam
diri seseorang tentang bagaimana sesuatu harus
dikerjakan
Pengetauan itu merupakah buah dari melakukan sesuatu,
bukan buah dari diajar orang lain
Pengetahuan itu bersifat sangat pribadi
Seorang sopir yang sudah berpengalaman, pasti
memiliki prosedur batin tentang bagaimana
menjalankan kendaraan yang diajarkan oleh
pengalamannya. Prosedur batin itu biasanya tidak
dimiliki oleh seoran sopir yang baru lulus dari
sekolah montir. Kita sering menyebutnya dengan
istilah “feeling” atau gerakan reflek, atau
juga disebut beyond the technique.
Kaitannya dengan produktivitas di sini sangat jelas.
Seorang sopir yang sudah bekerja dengan feeling tadi,
pasti lebih produktif. Dia lebih tahan lama, lebih
rileks, dan lebih cepat. Saya kira ilustrasi ini
juga bisa kita terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Menjaga harmonitas
Seperti juga alam raya ini, hidup kita akan
produktif kalau hormonitasnya terjaga, serasi atau
seimbang. Belajar dari praktek hidup, mayoritas
penyakit yang merupakan ancaman produktivitas, entah
itu penyakit jiwa atau raga, mulanya muncul dari
pengabaian kecil (ignorance) yang kemudian
menimbulkan ketidakhamonisan, atau ketidakseimbangan
ke hampir seluruh wilayah hidup.
Contohnya adalah kurang tidur. Ketika kita kurang
tidur, yang terjadi bukan hanya kita butuh tidur di
siang hari sebagai pengganti waktu tidur yang telah
kita gunakan untuk yang lain. Kurang tidur yang
sudah sampai pada tingkat overdosis, bisa menganggu
hubungan kita dengan pekerjaan, dengan orang lain,
dan seterusnya, yang akhirnya mengakibatkan
produktivitas rendah.
Perlindungan batin
Batin di sini, tidak bisa kita samakan dengan emosi.
Melindungi batin, bukanlah melindungi emosi. Kalau
konteksnya produktivitas, batin kita perlu
dilindungi dari kotoran yang menganggu produktivitas.
Biasanya, kotoran itu adalah masalah yang kita
ciptakan sendiri secara tidak sengaja atau masalah
yang didatangkan orang lain untuk kita – yang tidak
kita oleh menjadi vitamin batin. Maksudnya ? Kita
sering mendengar ucapan, kritik atau pun pendapat
orang lain yang tidak enak mengenai diri kita, cara
kerja maupun hasil pekerjaan kita.
Kita bisa saja menganggapnya sebagai sampah yang
mengotori batin dan harus dibuang, atau menanggapnya
sebagai warning signal – atas sesuatu di
dalam diri yang perlu kita renungkan. Kalau kita mau
belajar dan bertumbuh, mata batin kita lah yang
harus menangkap “kata-kata” yang ditujuan pada kita,
bukan telinga kita. Mata batin, bisa melindungi kita
dari self-denial (pengingkaran kenyataan diri).
Kita bisa tutup telinga – tapi tidak bisa menutup
mata batin. Kejernihan suara batin bisa menuntun
kita bekerja cerdas, kalau kita mau mendengar
tuntutannya.
Apa mungkin kita sanggup membersihkan batin dari
masalah untuk sekedar menjadi lebih produktif? Kalau
konteksnya praktek hidup, maksudnya yang lebih tepat
bukanlah bersih dalam arti tidak ada masalah atau
lari dari masalah. Selain mustahil, pun juga ini
malah tidak produktif. Maksudnya adalah
menyelesaikan masalah secara sehat, benar, jujur dan
proporsional. Kalau kita proporsional dalam
memikirkan, bersikap dan bertindak, maka
produktivitas kita tidak terganggu dengan masalah
yang ada.
Jika kita sedikit-sedikit sakit hati atau terlalu
memasukkan hati ulah orang lain, dan tidak
menjadikannya “obat pahit”, ini bisa mengganggu
produktivitas. Batin kita akan bekerja untuk
memikirkan orang lain dalam pengertian memikirkan
yang tidak perlu, bukan memikirkan bagaimana
memperbaiki dan mengembangkan diri, serta
memproduksi solusi yang lebih banyak atau lebih
cepat. Semoga bermanfaat !
|