|
Menurut
pendapat Charles Millhuf, ada tiga hal mendasar yang
mempengaruhi perbedaan antara jenis kutu loncat yang
satu dengan yang lain, yaitu:
1.
Disiplin hidup yang kita pilih untuk kita taati.
Disiplin
tertentu yang kita taati, punya hubungan korelatif
dengan kebiasaan dan karakter kita dalam menghadapi
hidup. Menurut Aristotle, kebiasaan dan karakter
adalah dua hal yang mencetak masa depan kita. “Isi
pikiran melahirkan tindakan. Tindakan melahirkan
kebiasaan. Kebiasaan melahirkan karakter. Karakter
melahirkan “nasib”. Pendapat ini bisa kita jadikan
dalil bahwa menjadi atau tidak menjadi kutu loncat
akan sama saja pengaruhnya terhadap nasib karir kita,
sejauh kita bisa berdisiplin terhadap hidup yang kita
pilih.
Banyak
kenyataan yang dapat kita lihat, bahwa pindahnya
tempat atau bidang pekerjaan yang tidak diimbangi
dengan pindahnya kebiasaan yang kita jalani, atau
tidak diiringi dengan berubahnya pola pikir dan sikap,
maka perpindahan itu hanya menghasilkan perubahan
fisik yang sama sekali tidak berpengaruh pada
peningkatan kualitas diri. Sehari dua hari kita merasa
telah terlahir kembali dengan perpindahan yang baru
kita jalankan, tetapi setelah itu kita menghadapi
persoalan yang akan kita selesaikan dengan cara lama
yang sama dan lama kelaman sama juga menghasilkan
situasi yang sama.
Boleh
jadi angka gaji bulanan kita berpindah, tetapi
perpindahan angka yang tidak diimbangi dengan
kebiasaan dan karakter serta keahlian kerja, cepat
sekali angka itu dibikin tak berdaya oleh perpindahan
regulasi pemerintah terhadap naiknya harga barang /
jasa yang kita gunakan. Judul akhirnya memang tak jauh
berbeda. Menurut pengalaman banyak orang yang sudah
berprestasi di pekerjaannya bisa kita simpulkan bahwa
jumlah gaji yang paling kokoh menghadapi naiknya
kebutuhan adalah gaji yang kita terima sebagai balasan
dari keahlian yang kita milikil (How good are
you doing!!!)
2.
Lingkungan yang kita pilih
Tentang
hubungan antara “nasib” dan model lingkungan (orang)
nampaknya tak jauh berbeda antara kesimpulan
Charles Millhuf dan Jim Rohn yang pernah mengatakan
bahwa kalau dalam lima tahun ke depan kita masih tetap
menemui orang yang bermodel sama atau membaca buku
yang isinya sama, maka nasib kita akan sama.
Tanpa
harus kita kasta-kastakan sendiri sebetulnya hukum
alam ini sudah membuat semacam pengkastaan berdasarkan
kualitas kelompok manusia yang oleh para pakar ilmu
pengetahuan disebut Hukum Asosiasi (The Law of
Association) yang kira-kira bisa dijabarkan bahwa kita
secara naluri akan berkelompok dengan orang yang
sejenis atau setara kualitasnya dengan kita.
“Lingkungan
memang tidak bisa mencetak diri kita, tetapi
lingkungan yang kita pilih mencerimankan siapa diri
kita”. Pendapat demikian sudah klop dengan petuah
leluhur yang
berwasiat: “Jika kau ingin mengetahui profil
seseorang, tak usah kau tanya langsung kepada yang
bersangkutan tetapi lihatlah lingkungan seperti yang
dia masuki.”
Kaitan
semua ini dengan kutu loncat bisa kita ambil pelajaran
bahwa pada bagian yang paling menentukan, perpindahan
tempat / bidang pekerjaan tidak banyak menolong
pindahnya nasib karir kita ketika kita berada di dalam
lingkaran orang-orang yang modelnya sama saja dengan
orang-orang yang kita jumpai di masa lalu. Model orang
yang kita jumpai di tempat kerja itu meskipun jenis
kuantitasnya beragam tetapi level kualitasnya bisa
kita petakan menjadi antara orang yang punya kemauan
keras untuk maju dari lokasi kerjanya dan orang yang
menolak kemauan keras untuk
maju (keras kepala).
Kalau
kepindahan kita, membawa konsekuensi berubahnya
kualitas lingkungan kita (secara mentalitas, kualitas
diri dan professionalisme serta kematangan – bukan
kelompok “borjouis”), maka perpindahan itu dapat
mempengaruhi nasib karir kita. Dan demikian pula
sebaliknya; bahkan kita dengan mudah tertular hal-hal
negatif yang ada di lingkungan yang negatif. Hal yang
negatif tak
perlu di-aktivasi sudah aktif sendiri, tetapi untuk
hal yang positif,
selain butuh aktivasi, pun juga tak cukup hanya
berusaha sekali-sekali.
3.
Model paradigma yang kita pilih untuk kita
pertahankan.
Pemahaman,
nilai, paradigma berpikir atau filsafat hidup tertentu
yang kita anut adalah prinsip yang kita ikuti dalam
menjalani kehidupan. Pemahaman kita tentang diri kita,
orang lain, dan pekerjaan (keadaan) atau tentang apa
saja, akan menjadi materi utama yang akan kita
libatkan dalam keputusan atau pilihan hidup kita dari
mulai apa yang kita pikirkan sampai ke tingkat apa
yang kita lakukan terhadap apa yang menimpa kita.
“Nasibmu
tidak berubah oleh keadaanmu tetapi berubah oleh
pilihanmu” begitu kata Jim Rohn.
“Nasib anda tidak ditentukan oleh keadaan yang
melingkupi anda tetapi oleh pemahaman anda tentang
keadaan”, begitu kata Zig Ziglar. “Nasib anda
tidak ditentukan oleh apa yang terjadi pada diri anda
(What ON) tetapi oleh apa yang terjadi di dalam
diri anda (what IN)”, begitu kesimpulan John
C. Maxwell.
Kalau
dikaji menurut pendapat Ralph Marston, paradigma hidup
yang dibawa orang ke tempat kerja itu bisa digolongkan
menjadi tiga.
Pertama adalah paradigma
mengambil (to take). “Apa yang bisa saya
ambil dari kantor?.” Kedua adalah
paradigma mendapatkan (to get). “Apa
yang akan diberikan oleh kantor kepada saya?” Ketiga
adalah paradigma memberi (to give): “Apa yang bisa saya
berikan kepada kantor saya?”
Paradigma
ini merupakan muatan diri kita dan tidak ada
hubungannya dengan jabatan, kekayaan atau kekuasaan
yang kita miliki, kecuali kita memilih untuk
menghubung-hubungkannya sendiri.
Siapa pun kita tetap punya pilihan untuk
menentukan salah satu dari ketiga paradigma itu.
Mengapa? Contohnya
adalah paradigma memberi. Meskipun kita tidak bisa
memberikan semua yang diminta orang lain / instansi
tetapi kita tetap memiliki sesuatu yang bisa kita
berikan dari yang paling gratis misalnya saja senyuman
sampai ke tingkat pengorbanan yang mahal
nilainya. Sekali lagi, ini persoalan apa yang kita
pilih di kepala kita.
Bicara
tentang paradima ini dan hubungannya dengan nasib
karir kita, kalau dirujukkan pada sejarah dunia dan
pengalaman sejumlah orang berprestasi, nampaknya ada
kesamaan. Dunia ini hanya memberikan piala paling
banyak kepada orang yang memberikan terlepas dari
apapun yang secara fisik diberikan.
Kalau
kita kembalikan ke ajaran agama, paradigma ini
mencetak niat. Perbedaan
niat akan menentukan perbedaan “spirit” suatu
tindakan. Perbedaan spirit akan menentukan perbedaan
balasan tindakan di tingkat
“rasa” dan “kenyataan” meskipun (biasanya)
balasan di tingkat kenyataan itu seringkali
“disembunyikan” sekaligus diletakkan di bagian
akhir dari episode aktivitas sesuai dengan cara kerja
Hukum Pembalasan Akhir (The law of farmer).
|