|
Sebenarnya ada satu istilah yang bisa digunakan
untuk menjawab masalah semacam itu. Istilah yang
saya maksudkan adalah “Kesadaran Learning”.
Perlu saya tegaskan, kesadaran learning di
sini bukan konsep, bukan istilah ilmiah atau bukan
pendekatan teoritis. Kesadaran Learning yang
saya maksudkan di sini adalah bukti ketaatan
terhadap hukum-hukum Tuhan yang menyangkut
perbaikan-diri.
Dengan penjelasan seperti itu, Learning bisa
kita artikan sebagai serangkaian usaha yang kita
lakukan untuk meraih apa yang kita inginkan dengan
menggunakan sumberdaya yang sudah ada berdasarkan
keadaan-kontekstual kita secara berproses. Merujuk
pada arti seperti ini, ada beberapa pemikiran yang
bisa kita jadikan sebagai rujukan:
Pertama,
kalau kita menginginkan menjadi orang yang selalu
termotivasi, maka yang harus kita lakukan adalah
selalu memotivasi diri. Tidak bisa menyerahkan
tanggung jawab memotivasi diri ini kepada lembaga
training. Kita butuh training yang dapat memotivasi
kita tetapi kita tidak bisa mengandalkannya.
Motivasi itu bisa diibaratkan seperti mandi. Tidak
cukup kita hanya mandi sekali. Setelah mandi kita
bersih dan ketika nanti kotor lagi, butuh mandi lagi.
Sama juga seperti makan. Pengalaman Peter Davis
mengatakan, “Motivasi merupakan makanan bagi otak
kita. Tidak cukup kita hanya memberikan makan sekali.
Otak kita membutuhkan makan secara terus menerus dan
teratur.”
Kedua,
memotivasi diri tidak bisa dilakukan dengan hanya
memotivasi diri. Untuk memotivasi diri dibutuhkan
sesuatu yang dapat memotivasi kita. Karena itu,
ciptakan sesuatu yang hendak anda raih agar anda
termotivasi. Sesuatu yang ingin anda raih ini dalam
bahasa yang lebih umum disebut tujuan (goal).
Kata Charles Schwabb, jika seseorang sudah memiliki
tujuan yang jelas, orang itu akan lupa makan paginya.
Kesadaran usaha dan tujuan (mencapai keinginan)
adalah dua poin mendasar yang bisa dikiaskan pada
hal-hal lain. Training spiritualitas tidak bisa
membuat kesalehan anda meningkat. Kalaupun ya, itu
hanya sementara. Untuk membuatnya menjadi langgeng,
harus ada kesadaran berusaha. Di samping itu,
dibutuhkan tujuan hidup yang dinamis. Sulit kita
men-sholeh-kan diri dengan hanya men-sholeh-kan.
Harus ada tujuan yang hendak kita capai. Dengan
begitu, karakter kita terbentuk seiring dengan
proses. Saya ingat ucapan Helen Keller begini:
“Karakter tidak bisa dibentuk dengan mudah dan
dalam waktu yang singkat. Hanya melalui serangkaian
pengalaman, penderitaan dan kesalahan, jiwa ini bisa
diperkuat, visi ini bisa diperjelas, ambisi ini bisa
dibangkitkan, dan prestasi ini bisa dicapai.”
Ketiga,
perlu disesuaikan dengan keadaan personal /
keadaan-kontekstual. Ini bisa berlaku bagi individu
dan organisasi. Artinya apa? Artinya, menerapkan
materi-materi training dalam kehidupan kita setelah
kita meninggalkan ruangan training beberap minggu
atau beberapa bulan butuh semacam adaptasi dengan
keadaan kita.
Saya ingin memberi contoh, misalnya saja motivasi
dan tujuan. Di atas saya singgung bahwa agar kita
selalu termotivasi, maka dibutuhkan tujuan hidup
atau sasaran. Tapi di sini perlu dicatat bahwa
tujuan atau sasaran itu tidak sembarang tujuan.
Tujuan yang bisa memotivasi diri kita adalah tujuan
yang benar-benar cocok atau klop dengan keadaan
personal kita hari ini.
Begitu juga dengan organisasi. Menurut pengalaman
kawan saya yang kebetulan menjadi konsultan di
beberap perusahaan besar, bahwa kemampuan
menyesuaikan dengan keadaan kontekstual, menjadi
vital. Katanya, training yang mahal dari luar negeri
sekalipun tidak bisa diterapkan langsung seratus
persen di perusahaan domestik / lokal. Tetap saja
perlu penyesuaian-penyesuaian di lapangan. Ada
ungkapan yang patut direnungkan. Ungkapan itu
mengatakan: “training is general but learning is
personal”.
Keempat,
perlu ada kesadaran menaati proses. Materi yang
disampaikan oleh trainer kepada kita adalah materi
yang berbentuk pengetahuan, wawasan, pemikiran, dan
sebangsanya. Kemampuan pengetahuan ini dalam
menghasilkan prilaku secara langsung, amatlah kecil.
Agar bisa menghasilkan prilaku yang kontinyu atau
kebiasaan, umumnya harus melewati jalur yang bernama
kesadaran berproses (transformasi diri). Kata,
Dietrich Bonhoeffer,“Tindakan tidak lahir dari
pemikiran tetapi lahir dari kesediaan untuk
bertanggung jawab.”
Kelima,
menggunakan sumberdaya yang sudah ada. Yang disebut
menjalani proses pembelajaran itu adalah ketika kita
ingin memperbaiki diri tanpa harus menunggu
datangnya keadaan ideal. Atau, menjadikan datangnya
keadaan ideal sebagai syarat untuk memperbaiki diri.
Saya melihat ini yang kerap menjebak kita. Kita
ingin memacu diri tetapi menunggu kalau gaji naik,
menunggu kalau lingkungan kerja sudah bagus, dan
seterusnya.
Jika kita berpikir semacam itu, masalahnya bukan
soal benar atau salah. Masalahnya adalah, kebiasaan
menunggu atau menjadikan faktor eksternal sebagai
syarat, akan berpotensi membuat proses pembelajaran
di dalam diri kita mandek. Dan kalau sudah mandek,
setan gampang menggoda kita untuk menikmati
kemalasan, menuding ke pihak lain sebagai pembenar
atas kemalasan kita, dan seterusnya. Be careful!
|