|
|

|
MEMBANGUN
KEPERCAYAAN
|
|
|
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
24 Mei 2006
|
|
|
|
|
|
Mengapa
perlu dibangun?
|
|
|
Tentu ada tak terhitung alasan mengapa
kepercayaan itu penting bagi kita. Dalam kaitannya
dengan dunia kerja atau usaha, saya hanya ingin
menegaskan dua hal dari sekian itu, dengan kalimat
seperti berikut:
|
|
|
Pertama,
Kepercayaan adalah kekuatan “daya
tarik” yang luar biasa untuk mengundang peluang
ber-transaksi. Kalau melihat penjelasan para pakar
marketing, transaksi adalah sasaran riil jangka pendek
yang dicapai oleh
kesepakatan antarpihak. Transaksi ini pada
hakekatnya bukan saja akan dilakukan oleh para
pedagang atau pebisnis, tetapi akan dilakukan oleh
semua orang yang menjalankan aktivitas usaha, apapun
usaha itu, termasuk juga bekerja.
Kita ingat pesan mendasar dalam dunia
bisnis (baca: usaha) yang mengatakan, semua orang akan
menjalani hidupnya dengan cara menjual sesuatu
(selling), terlepas apakah itu
barang atau jasa yang kita jual. Nah, supaya
aktivitas jualan kita sampai pada tingkat transaksi,
maka peranan kepercayaan sangat dominan di sini. Tidak
semua produk yang belum laku itu tidak baik, tetapi
adakalanya orang belum percaya akan benefit dari
produk itu. Saking pentingnya kepercayaan itu dalam
bisnis, sampai-sampai ada yang mengatakan begini:
“jika orang itu suka kamu, ia akan mendengarkanmu,
tetapi jika orang itu mempercayaimu, ia akan melakukan
bisnis denganmu.”
Begitu juga, tidak semua karyawan yang
belum mendapat kesempatan promosi jabatan itu tidak
ahli, tetapi adakalanya orang belum percaya akan
keahliannya. Bahkan ada kalimat yang pernah saya baca
dari buku karya Helga Drummond berjudul: “Power:
Creating It Using IT”, (Kogan Page: 1991) yang
intinya ingin memahamkan kita bahwa untuk kepentingan
power, maka yang terpenting bukan saja di bidang apa
kita ahli, tetapi siapa saja yang mempercayai keahlian
kita. Semua orang bisa ngomong politik atau ngomong
tentang jeleknya pejabat, tetapi hanya orang tertentu
saja yang sah untuk berbicara tentang hal ini. Semua
orang di kantor bisa diajak melihat kekurangan
organisasi, tetapi prakteknya hanya orang tertentu
saja yang diberi hak untuk berpendapat tentang hal
ini. Kira-kira begitulah contohnya.
Kasarnya,
biarpun kita sudah ahli di bidang tertentu, tetapi
kalau belum ada orang yang mempercayai keahlian kita,
keahlian itu manfaatnya masih belum banyak buat kita.
Mungkin atas dasar inilah George MacDonald pernah
mengatakan: “Dipercaya itu nilainya lebih besar
ketimbang dicintai.”
Berkali-kali telinga kita
mendengar pengalaman para pengusaha yang bercerita
tentang riwayat hidupnya. Mereka berani menyimpulkan,
modal keberhasilannya adalah kepercayaan. Mereka
mendapatkan uang dari orang lain yang percaya
kepadanya. Lalu mereka mendapatkan produk juga dari
orang lain yang percaya kepadanya. Dari modal dan
produk itulah mereka mengolahnya dengan proses-proses
yang terpercaya lalu lahirlah transaksi yang
menguntungkan. Bank di dunia ini juga menerapakan cara
kerja demikian. Mereka mendapatkan uang dari
masyarakat yang percaya kepadanya. Lalu mereka
kembangkan dengan sistem dan proses yang bisa
dipercaya kemudian dari sinilah mereka mendapatkan
untung.
|
|
|
Kedua,
Kepercayaan
akan mampu mengurangi sekian persen potensi problem
dalam hubungan antarmanusia. Hubungan yang saya
maksudkan di sini bisa hubungan apa saja, mungkin
bisnis, mungkin profesi, rumah tangga, persahabatan
dan lain-lain. Seperti yang kita alami, hubungan kita
dengan orang lain itu tak hanya menjadi sumber solusi.
Terkadang juga menjadi sumber problem. Problem inipun
ada yang berupa kesulitan, dilema, dan misteri.
Pokoknya, warna-warni problem itu bisa dikatakan tak
terhitung.
Jika
dicek ulang apa saja yang menjadi pemicu munculnya
problem dalam hubungan, saya yakin kepercayaan
termasuk salah satu faktor yang terbesar. Jika
kepercayaan itu ada dalam sebuah hubungan memang tidak
berarti problem akan hilang, tetapi jika kepercayaan
itu sudah hilang, dipastikan akan banyak muncul
problem. Problem yang diakibatkan oleh hilangnya
kepercayaan ini biasanya melahirkan ketidak-efektif-an
atau ketidak-efisien-an. Bisa dikatakan, kepercayaan
adalah asas sebuah hubungan yang efektif dan efisien.
Kalau melihat bagaimana sulitnya memimpin
bangsa Indonesia dan sulitnya bangsa Indonesia
menemukan pemimpinnya dalam mengatasi masalah bangsa
ini, mungkin benar juga kata para ahli di televisi.
Hilangnya “trust” telah membuat roda kepemimpinan
pemerintah menjadi tidak efektif dan tidak efisien,
atau kerap terganjal oleh hal-hal yang tidak penting.
Bukankah sering kita lihat demo atau penolakan
sebagian rakyat terhadap program pemerintah padahal
secara konsepnya program itu didesain untuk rakyat?
Pada kasus ini tentu bukan programnya yang ditolak
tetapi rakyat selalu curiga dan tidak percaya akan
munculnya “jangan-jangan” yang dikhawatirkan,
misalnya korupsi atau penunggangan kepentingan
individu atas undang-undang yang sah.
Itulah sekilas gambaran bagaimana cara
kerja kepercayaan dalam praktek hidup sehari-hari.
Jika di atas ada pertanyaan mengapa kepercayaan itu
perlu dibangun, maka jawabnya adalah: kepercayaan itu
bukan pembawaan (traits) tetapi hasil dari
pemberdayaan atau usaha (state), kepercayaan itu bukan
pemberian tetapi balasan, kepercayaan itu bukan
kumpulan pernyataan (talking only), tetapi kumpulan
dari pembuktian (witness).
Dalam teori hidup yang dianut Jet Li,
kepercayaan itu dibangun berdasarkan struktur langkah
yang berawal dari: pertama, ketuklah pintu, kedua,
buatlah orang lain tahu bahwa kau datang, ketiga,
buktikan siapa dirimu. Jika kau sudah berhasil
membuktikan siapa dirimu, maka kau akan mudah mengubah
orang dan mengubah keadaan.
|
|
|
Perusak
Kepercayaan
|
|
|
Ketika berbicara kepercayaan, mungkin ada
dua hal yang patut diingat.
1. Kepercayaan itu datangnya dari orang
lain tetapi alasannya dari kita. Artinya, ada dua
pihak yang terlibat di sini. Karena itu sangat mungkin
terjadi kasus penyimpangan. Misalnya saja, kita
mempercayai orang yang tidak / belum layak dipercaya.
Atau juga, kita belum / tidak dipercaya orang lain
padahal kita sudah menyiapkan alasan untuk dipercaya.
Meskipun teknisnya sangat mungkin muncul
kasus seperti di atas, tetapi prinsipnya tidak
berubah. Artinya, pada akhirnya orang akan tidak
percaya sama kita kalau kita tidak memiliki alasan
atau kualifikasi yang layak untuk dipercaya.
Sebaliknya, kita akan tetap mendapatkan kepercayaan
kalau ternyata kita memiliki bukti-bukti yang layak
untuk dipercaya (meski awalnya tidak dipercaya).
Prinsip ini tidak bisa berubah. Tehnis sifatnya
sementara tetapi prinsip bersifat abadi.
2. Kebanyakan orang sudah mengetahui apa
saja yang perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan
dan mengetahui apa saja yang perlu dihindari karena
akan merusak kepercayaan orang. Tetapi sayangnya hanya
sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya.
Padahal, pada akhirnya kepercayaan itu butuh
pembuktian, bukan pernyataan.
Sebagai penegas ulang dari apa yang sudah
kita tahu, di sini saya mencatat ada tiga hal yang
kerap menjadi perusak kepercayaan.
a.
Malas,
setengah-setengah, ogah-ogahan (low commitment)
Biasanya,
sebelum kita berani melanggar berbagai komitmen dengan
orang lain, awalnya kita melakukan pelanggaran itu
pada komitmen pribadi. Misalnya, kita punya rencana
tetapi tidak kita jalankan. Kita punya target tetapi
kita biarkan. Kita punya keinginan memperbaiki diri
tetapi yang kita praktekkan malah merusak. Ini semua
bukti adanya “gap between the world of word and the
world of action” di dalam diri kita, yang merupakan
buah dari komitmen yang rendah.
Menurut
pengalaman Mahatma Gandhi, efek dari disiplin yang
merupakan buah dari komitmen tinggi itu, tak hanya
pada satu titik dalam kehidupan kita. Tetapi ia
menyebar ke seluruh wilayah. Sebaliknya, efek dari
ketidakdisiplinan juga menyebar ke seluruh wilayah,
dari mulai hubungan kita ke dalam (intrapersonal)
sampai ke hubungan kita ke luar (interpersonal).
b.
Keahlian atau kapasitas yang tidak memadai
Banyak
yang sepakat mengatakan, kejujuran merupakan pondasi
kepercayaan. Ini pasti benar dan sama-sama sudah kita
akui sebagai kebenaran. Cuma, ada satu hal yang sering
kita lupakan bahwa
yang membuat kita menjadi orang yang tidak
jujur, bukan saja persoalan komitmen moral, tetapi
juga keahlian atau kapasitas personal. Kalau Anda
hanya punya pendapatan tetap sebanyak dua juta tetapi
Anda harus menanggung kredit perbulan sebanyak lima
juta, maka Anda mendapatkan stimuli dan force yang
cukup kuat untuk berbohong. Sebagian kita
“terpaksa” berbohong bukan karena rusak imannya
tetapi karena kapasitasnya belum sampai. Di sini yang
diperlukan adalah kemampuan mengukur kadar diri
(self-understanding), pengetahuan-diri (self
knowledge) atau kemampuan membuat keputusan yang bagus
(the right decision).
c.
Kebiasaan
Melanggar Kebenaran
Punya kebiasaan melanggar kebenaran yang
disepakati agama-agama, norma-norma dan lain-lain
serta punya kebiasaan mendewakan
“kebenaran-sendiri” yang melawan kebenaran itu,
juga bisa merusak kepercayaan. Dalam hal usaha atau
kerja sering kita dapati ada orang lebih percaya sama
orang lain ketimbang sama keturunannya sendiri karena
pelanggaran yang dilakukan. Soal sayang, pasti orang
lebih sayang sama keturunannya, tetapi soal percaya,
lain lagi. Bahkan tak sedikit
penjahat atau koruptor
mencari orang lain yang bukan penjahat atau
yang bukan koruptor ketika urusannya adalah soal kerja
atau menjalankan usaha.
|
|
|
Proses Pembelajaran
|
|
|
Sebagai
acuan untuk memperbaiki diri (proses pembelajaran),
saya ingin mengusulkan suatu istilah yang
mudah-mudahan dapat kita jadikan sebagai acuan dalam
membangun kepercayaan. Istilah yang saya maksudkan itu
adalah:
1.
Kesalehan
2.
Keahlian
3.
Komunikasi
Kata saleh yang
sudah dipakai umum di sini diambil dari bahasa Arab.
Salah satu artinya adalah “yang cocok”, singkron,
integrited, atau hormani. Kesalehan adalah kemampuan
kita dalam menyesuaikan tindakan dengan nilai-nilai
kebenaran yang kita yakini, menyesuaikan tindakan
dengan ucapan, menyesuaikan bukti (aksi) dengan janji,
atau menyesuaikan tindakan dengan kata hati, dan
seterusnya.
Kenapa saya
katakan kemampuan karena, tidak ada manusa yang lahir
langsung soleh, menjadi orang jujur, menjadi orang
yang berkomitmen tinggi, menjadi orang yang taat
(discipline), dan seterusnya. Karena itu, harus ada
kesadaran dari dalam untuk meningkatkan kesalehan kita
dari yang paling sanggup kita lakukan. Soal bagaimana
tehnisnya, itu terserah kita. Tetapi prinsipnya harus
ada kesadan dan tindakan perbaikan secara bertahap.
Seperti yang
saya katakan di atas, tak cukup membangun kepercayaan
dengan bermodalkan komitmen moral, seperti kesalehan
ini. Perlu dukungan lain, yaitu keahlian atau
kapasitas, jika urusannya menyangkut kerja atau usaha.
Keahlian di sini adalah kemampuan menyempurnakan
pekerjaan berdasarkan standarnya. Untuk bisa memiliki
kemampuan ini diperlukan tambahan pengetahuan dan
pengalaman.
Pada ruang
lingkup kerja dan usaha yang lebih luas, kesalehan
akan bekerja untuk menyelamatkan kita dari jatuh.
Sedangkan keahlian akan bekerja untuk menaikkan
prestasi kita. Jika kita naik terus tetapi akhirnya
jatuh, tentu ini sakit. Sebaliknya, jika kita hanya
aman saja, tetapi prestasi kita tidak naik-naik, ini
bisa membuat dada kita sesak. Supaya aman dan naik,
kuncinya adalah kesalehan dan keahlian. Bicara
kepercayaan, tentu peranan dua hal ini sangat vital.
Jika kita hanya ahli
tetapi tidak soleh atau soleh saja tetapi tidak
ahli, kepercayaan tentunya masih kurang.
Sedangkan
kemampuan berkomunikasi itu kita butuhkan antara lain
untuk: a) menjelaskan penyimpangan seperti dalam kasus
di atas akibat kesalahpahaman, b) menjelasakan kepada
orang lain tentang diri kita atau c) menyelesaikan
perosalan kesepakatan yang gagal dilaksanakan karena
ada masalah yang muncul.
Ketiga acuan ini
apabila berhasil kita jalankan berdasarkan
keadaan-diri kita masing-masing, trust akan muncul.
Soal tehnisnya mungkin bermacam-macam. Ada yang
mungkin tidak dipercaya lebih dulu baru kemudian
dipercaya atau ada yang langsung percaya. Percayalah!
|
|
_____________________________
|
|