|
|
|
Menyiasati Wawancara Kerja
|
|
|
Oleh
Johanes
Papu
|
|
|
Team
e-psikologi
|
|
|
Jakarta,
22 Maret 2002
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Wawancara
kerja saat ini merupakan salah satu cara yang sangat
populer sebagai salah satu metode untuk menyeleksi
karyawan. Bagi perusahaan-perusahaan kecil dan
menengah wawancara kerja seringkali merupakan metode
yang paling diandalkan, mengingat biaya yang
dikeluarkan relatif murah dan “user” (baca:
atasan) dapat langsung bertatap muka dengan si pelamar.
Bahkan pada jabatan tertentu wawancara kerja bisa
dilakukan berkali-kali, sebelum calon karyawan
diputuskan untuk diterima bekerja. Sementara bagi para
pencari kerja, wawancara kerja mungkin sudah dianggap
sebagai “menu sehari-hari” yang harus dilalui
sebelum resmi diterima bekerja. Anehnya, meskipun
sudah memahami betul bahwa wawancara merupakan suatu
hal yang biasa dilalui dalam melamar pekerjaan, banyak
sekali para pelamar yang tidak siap untuk menghadapi
wawancara kerja. Tidak jarang mereka merasa langsung
gugup bahkan patah semangat ketika dipanggil untuk
wawancara, karena sudah seringkali gagal. Forum
konseling dalam website ini banyak dipenuhi oleh
pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut bagaimana cara
menghadapi wawancara kerja. Para penanya tersebut
banyak yang menceritakan bahwa mereka telah berkali-kali
gagal “melewati” wawancara kerja meskipun diakui
bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh “recruiter”
(petugas rekrutmen & seleksi) relatif sama
antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang
lain tempat mereka melamar pekerjaan. Ada juga penanya
yang mengatakan bahwa ia berkali-kali selalu lolos
dari semua metode seleksi yang lain (test tertulis,
psiko test, dan test
ketrampilan) tetapi tetap gagal ketika wawancara.
|
|
|
Permasalahan
diatas menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh
apa sebenarnya wawancara kerja. Mengapa
wawancara kerja ini penting dilakukan dan
mengapa banyak pelamar yang gagal dalam menjalani
wawancara kerja tersebut. Lalu kemudian apa saja yang
harus dilakukan oleh para pelamar untuk menyiasati
wawancara kerja supaya berhasil.
|
|
|
Tujuan
Wawancara Kerja
|
|
|
Wawancara kerja (job interview) saat ini
merupakan salah satu aspek penting dalam proses
rekrutmen dan seleksi karyawan. Meskipun validitas
wawancara dianggap lebih rendah jika dibandingkan
dengan metode seleksi yang lain seperti psiko test,
namun wawancara memiliki berbagai kelebihan yang
memudahkan petugas seleksi dalam menggunakannya.
|
|
|
Apapun penilaian pelamar (calon karyawan),
wawancara kerja sebenarnya memberikan suatu kesempatan
atau peluang bagi pelamar untuk mengubah lowongan
kerja menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa
wawancara kerja tersebut merupakan suatu proses
pencarian pekerjaan yang memungkinkan pelamar untuk
memperoleh akses langsung ke perusahaan (pemberi kerja),
maka “performance” (baca: proses &
hasil) wawancara kerja merupakan suatu hal yang sangat
krusial dalam menentukan apakah pelamar akan diterima
atau ditolak.
|
|
|
Bagi si pelamar, wawancara kerja
memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan
secara langsung pengalaman, pengetahuan, ketrampilan,
dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk
meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified)
untuk melakukan pekerjaan (memegang jabatan) yang
ditawarkan. Selain itu wawancara kerja juga
memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan
interpersonal, professional, dan
gaya hidup atau kepribadian pelamar. Jika di
dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa
mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi
dan interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia
diberi kesempatan untuk membuktikannya.
|
|
|
Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah
satu cara untuk menemukan kecocokan antara
karakteristik pelamar dengan dengan persyaratan jabatan yang harus dimiliki
pelamar tersebut untuk memegang jabatan / pekerjaan
yang ditawarkan. Secara umum tujuan dari wawancara
kerja adalah:
|
|
|
-
Untuk
mengetahui kepribadian pelamar
-
Mencari
informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan
jabatan
-
Mendapatkan
informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan
dan perusahaan
-
Membantu
perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar
yang layak untuk diberikan penawaran kerja.
|
|
|
Teknik
Wawancara Kerja
|
|
|
Dua
teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan
dalam melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja
tradisional dan wawancara kerja behavioral. Dalam
prakteknya perusahaan seringkali mengkombinasikan
kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih
akurat.
|
|
|
-
Wawancara kerja tradisional menggunakan
pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti “mengapa
anda ingin bekerja di perusahaan ini”, dan
“apa kelebihan dan kekurangan anda”.
Kesuksesan atau kegagalan dalam wawancara
tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan
si pelamar dalam berkomunikasi menjawab
pertanyaan-pertanyaan, daripada kebenaran atau isi
dari jawaban yang diberikan. Selain itu
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih banyak
bersifat mengklarifikasikan apa yang ditulis dalam
surat lamaran dan CV pelamar. Dalam wawancara
kerja tradisional, recruiter biasanya ingin
menemukan jawaban atas 3 (tiga) pertanyaan: apakah
si pelamar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan
kemampuan untuk melakukan pekerjaan, apakah si
pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang
sesuai dengan harapan recruiter, dan apakah
si pelamar akan bisa bekerja dalam team dan
memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya
perusahaan.
-
Wawancara kerja behavioral didasarkan pada
teori bahwa “performance” (kinerja) di
masa lalu merupakan indikator terbaik untuk
meramalkan perilaku pelamar di masa mendatang (baca:
ketika bekerja). Wawancara kerja dengan teknik ini
sangat sering digunakan untuk merekrut karyawan
pada level managerial atau oleh perusahaan
yang dalam operasionalnya sangat mengutamakan
masalah-masalah kepribadian. Wawancara kerja
behavioral dimaksudkan untuk mengetahui respon
pelamar terhadap suatu kondisi atau situasi
tertentu sehingga pewawancara dapat melihat
bagaimana pelamar memandang suatu tantangan/permasalahan
dan menemukan solusinya. Pertanyaan-pertanyaan
yang biasanya diajukan antara lain: "coba
anda ceritakan pengalaman anda ketika gagal
mencapai target yang ditetapkan”, dan “berikan
beberapa contoh tentang hal-hal apa yang anda
lakukan ketika anda dipercaya menangani beberapa
proyek sekaligus”. Untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut si pelamar perlu
mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi,
tindakan dan hasil yang terjadi pada saat yang
lalu. Selain itu, sangat penting bagi pelamar
untuk memancing pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut
dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara
rinci gambaran situasi yang dihadapinya. Untuk itu
diperlukan ketrampilan berkomunikasi yang baik
dari si pelamar. Keberhasilan atau kegagalan dalam
wawancara ini sangat tergantung pada kemampuan
pelamar dalam menggambarkan situasi yang
berhubungan dengan pertanyaan pewawancara secara
rinci dan terfokus. Dalam wawancara kerja behavioral, si pelamar harus
dapat menyusun jawaban yang mencakup 4 (empat) hal: (1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2)
menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil untuk
merespon situasi yang terjadi, (3) menceritakan
hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang
dipetik dari kejadian tersebut (apa yang
dipelajari). Dalam wawancara behavioral ini teknik
yang paling sering dipergunakan adalah yang
disebut S-T-A-R atau S-A-R atau P-A-R.
|
|
|
|
Situation
or
Problem
or
Task
|
Pelamar
diminta untuk menggambarkan situasi yang terjadi
atau tugas-tugas yang harus dilaksanakannya pada
masa lalu. Pelamar harus menggambarkan situasi
atau tugas tersebut secara spesifik, rinci dan
mudah dipahami oleh pewawancara. Situasi atau
tugas yang digambarkan dapat berasal dari
pekerjaan sebelumnya, pengalaman semasa sekolah,
pengalaman tertentu, atau berbagai kejadian yang
relevan dengan pertanyaan si pewawancara
|
|
Action
|
Pelamar
diminta untuk menggambarkan tindakan-tindakan
yang diambil dalam menghadapi situasi / masalah
/ tugas di atas. Dalam hal ini pelamar harus
bisa memfokuskan pada permasalahan. Meskipun
mungkin permasalahan yang ada ditangani oleh
beberapa orang atau team, pelamar harus
memberikan penjelasan tentang apa saja
peranannya dalam team tersebut – jangan
mengatakan apa yang telah dilakukan oleh team
tetapi apa yang telah dilakukan pelamar sebagai
bagian dari team.
|
|
Results
|
Pelamar
diminta menjelaskan hasil-hasil apa saja yang
dicapai. Apa saja hambatan yang terjadi jika
hasil tidak tercapai. Apa yang terjadi kemudian
setelah permasalahan tersebut selesai dikerjakan.
Lalu apa pelajaran yang dapat dipetik oleh
pelamar dari kejadian tersebut.
|
|
|
|
Jenis Wawancara Kerja
|
|
|
Dalam
dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja
sebagai berikut:
|
|
|
-
Wawancara
Seleksi (Screening Interview).
Jika pelamar atau kandidat untuk menduduki jabatan
berjumlah lebih dari satu orang maka dilakukan
wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara
kandidat tersebut merupakan kandidat yang paling qualified
sehingga bisa dilanjutkan ke tahap seleksi
berikutnya. Wawancara seleksi biasanya berlangsung
singkat antara 15 – 30 menit.
-
Wawancara
Telepon (Telephone Interview).
Demi menghemat biaya dan efisiensi waktu, banyak recruiter
yang melakukan wawancara kerja melalui telepon.
Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi
sewaktu-waktu, sebab seringkali recruiter
tidak memberikan pilihan bagi pelamar untuk
menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai
melalui telepon.
-
Wawancara
di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview)
. Meskipun tidak banyak perusahaan yang melakukan
wawancara kerja di kampus, namun untuk
perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para
lulusan untuk dilatih lebih lanjut, cara ini
dinilai sangat efektif karena memberikan akses
bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan
kandidat terbaik yang mungkin sangat sulit
diperoleh jika menunggu para kandidat tersebut
datang melamar.
-
Wawancara
di Pameran Kerja
(Job Fair Interview). Pameran
kerja diadakan untuk menjembatani perusahaan
dengan para pencari kerja. Pada pameran kerja
biasanya, perusahaan memberikan berbagai informasi
mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan
CV dari pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak
jarang para recruiter langsung melakukan wawancara
di stand (booth) mereka. Di Indonesia
memang pameran seperti ini masih sangat jarang
dilaksanakan jika dibandingkan dengan pameran
otomotif, rumah maupun furniture.
-
Wawancara
di Lokasi Kerja (On-Site Interview).
Ketika seorang kandidat telah lolos dalam tahap
wawancara seleksi, seringkali perusahaan
mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara
langsung lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter
biasanya langsung melakukan wawancara secara
mendalam. Bagi pelamar yang belum memiliki
pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya
kurang lebih sama, wawancara kerja di lokasi
mungkin bisa terasa menakutkan karena mungkin
harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah
yang tidak ia kenal.
-
Wawancara
Kelompok (Panel or Group Interview).
Wawancara kelompok adalah suatu jenis wawancara
kerja dimana para pewawancara (recruiter)
terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya
wawancara jenis ini dilakukan jika perusahaan
memandang bahwa pelamar sudah hampir memenuhi
syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para
penanya dalam wawancara inilah yang memiliki
wewenang untuk memutuskan apakah pelamar akan
diterima bekerja atau tidak.
-
Wawancara
Kasus (Case Interview). Wawancara kerja
jenis ini menekankan pada kemampuan analisis dan
pemecahan masalah terhadap suatu kasus tertentu.
Biasanya dalam wawancara kasus, pelamar diminta
untuk berperan sebagai pemegang jabatan yang
ditawarkan, lalu diberikan sebuah kasus untuk
dicarikan solusinya.
|
|
|
Pertanyaan-Pertanyaan Umum
|
|
|
Pada
umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam
wawancara kerja sangat tergantung pada teknik apa yang
digunakan oleh si pewawancara. Jika menggunakan teknik
wawancara kerja tradisional maka pertanyaan-pertanyaan
yang seringkali diajukan adalah sebagai berikut:
|
|
|
-
Jelaskan pada saya bagaimana anda
menggambarkan diri anda?
-
Apa kelebihan dan kekurangan anda?
-
Apa saja prestasi yang pernah anda raih
pada pekerjaan yang terdahulu / ketika sekolah?
-
Mengapa anda berhenti dari perusahaan yang
lalu?
-
Apa tugas-tugas anda pada pekerjaan yang
lalu?
-
Darimana anda mengetahui perusahaan ini?
-
Mengapa anda tertarik untuk bekerja di
perusahaan ini?
-
Jika anda diterima bekerja untuk jabatan
ini, apa yang akan anda lakukan?
-
Apa itu professionalisme menurut anda?
-
Apa itu teamwork menurut anda?
-
Apa hoby anda?
|
|
|
Dalam wawancara yang menggunakan teknik wawancara
kerja behavioral, maka pertanyaan-pertanyaan di atas
seringkali ditambahkan dengan pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut:
|
|
|
-
Ceritakan pada saya/kami kapan anda mengalami suatu situasi yang
sangat tidak menyenangkan dan bagaimana anda
berhasil keluar dari situasi tersebut.
-
Ceritakan pada saya/kami bagaimana anda meyakinkan klien anda ketika
anda melakukan presentasi.
-
Coba anda ceritakan bagaimana anda mengatasi situasi dimana anda
harus melakukan banyak tugas dan anda harus
membuat prioritas tugas mana yang harus
didahulukan.
-
Bisakah anda ceritakan keputusan apa yang paling sulit anda buat
dalam setahun terakhir ini? Mengapa demikian?
-
Ceritakan mengapa team anda gagal mencapai target pada tahun sebelumnya
dan bagaimana anda memotivasi team tersebut
sehingga dapat meraih sukses di tahun berikutnya.
-
Bagaimana cara anda menyelesaikan konflik? Bisa beri contoh?
-
Bisakah anda ceritakan suatu kejadian dimana anda mencoba untuk
menyelesaikan suatu tugas dan ternyata gagal?
-
Ceritakan apa yang anda lakukan ketika dipaksa membuat suatu aturan
yang tidak menyenangkan bagi karyawan tetapi
menguntungkan bagi perusahaan.
|
|
|
Sebagai
suatu proses yang melibatkan interaksi antara kedua
belah pihak, dalam wawancara kerja si pelamar juga
biasanya diberikan kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan. Oleh karena itu akan sangat baik jika
pelamar mempersiapkan beberapa pertanyaan, misalnya:
|
|
|
-
Apa yang diharapkan dari saya jika saya
diterima untuk jabatan ini?
-
Menurut pengalaman di sini, apa yang
merupakan tantangan terbesar bagi pemegang jabatan
ini?
-
Apakah ada pelatihan (internal maupun
eksternal) yang dapat membantu saya untuk lebih
berperan jika saya diterima bekerja di perusahaan
ini?
-
Adakah ada hal-hal khusus di luar uraian
jabatan yang harus saya selesaikan dalam waktu
tertentu?
|
|
|
Menangani
Pertanyaan Bersifat Pribadi
|
|
|
Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju dimana hak individu sangat dijunjung tinggi dan telah
memiliki perangkat hukum sangat memadai tentang
hal-hal yang mengatur hak-hak pribadi seseorang
sehingga para recruiter (pewawancara) sangat
berhati-hati dalam mengajukan pertanyaan, di Indonesia
justru sebaliknya. Dalam wawancara kerja di
perusahaan-perusahaan di Indonesia seringkali
pewawancara justru banyak menggali masalah-masalah
yang bersifat pribadi. Contoh: Menanyakan
latarbelakang pelamar (orangtua, saudara, istri, anak,
status, agama, suku bangsa, umur) adalah merupakan hal
yang dianggap biasa.
|
|
|
Meskipun
seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak
memiliki relevansi dengan jabatan yang
dilamar, pelamar harus menyiapkan diri untuk
merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tepat
dengan cara-cara yang elegan. Para penanya mungkin
saja tidak bermaksud untuk menyudutkan pelamar, tetapi
lebih didasarkan pada kepedulian mereka terhadap
kecocokan antara pelamar (calon karyawan) dengan
budaya yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu jika
pelamar ditanyakan mengenai hal-hal yang dirasa tidak
berhubungan dengan pekerjaan yang ditawarkan, pelamar
harus mampu mengidentifikasi apa makna dibalik
pertanyaan tersebut. Untuk merespon
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, pelamar
dapat melakukan beberapa alternatif:
|
|
|
-
Pelamar bisa mengklarifikasi
kepada penanya apa relevansi pertanyaan yang
diajukan dengan jabatan yang dilamar sehingga
penanya dapat menjelaskan lebih jauh hubungannya
dengan pekerjaan, lalu berikan jawaban yang tepat.
-
Pelamar dapat menjawab
langsung secara diplomatis dengan kesadaran penuh
bahwa pertanyaan tersebut memang tidak memiliki
hubungan langsung dengan pekerjaan / jabatan yang
dilamar.
-
Pelamar bisa juga menolak
untuk menjawab pertanyaan tersebut jika dirasa
sangat mengganggu privacy pelamar. Jika hal
ini terpaksa dilakukan, maka harus dilakukan
dengan cara-cara halus dan diplomatis sehingga recruiter
tidak merasa dilecehkan karena dianggap telah
memberikan pertanyaan yang keliru.
|
|
|
Faktor-Faktor
Negatif
|
|
|
Beberapa faktor, baik fisik maupun psikologis,
yang harus diwaspadai oleh pelamar adalah
faktor-faktor negatif yang menjadi perhatian
pewawancara. Faktor-faktor tersebut misalnya:
|
|
|
-
Penampilan diri yang terlihat tidak
professional (dandanan menor, pakaian yang tidak
enak dilihat, tidak rapi, dan tidak sesuai suasana)
-
Bersikap angkuh, defensive atau agresif
-
Ogah-ogahan (tidak terlihat antusias atau
tertarik dengan materi pembicaraan yang diajukan
pewawancara)
-
Gugup
-
Sangat menekankan pada kompensasi yang
akan diterima
-
Selalu berusaha mencari-cari alasan atas
setiap kegagalan yang pernah dialami di masa lalu
-
Tidak bisa berdiplomasi dan
kurang bisa bersopan santun
-
Menyalahkan
perusahaan lama atau bekas atasan dimasa lalu,
atau mengeluhkan perubahan teknologi yang cepat
-
Tidak
bisa fokus dalam menjawab pertanyaan atau
pembicaraan pewawancara
-
Gagal
memberikan pertanyaan kepada pewawancara
-
Berulang
kali bertanya: “apa yang dapat diberikan
perusahaan kepada saya kalau saya melakukan ......?”
-
Kurang persiapan: gagal memperoleh
informasi penting seputar perusahaan, gagal
menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dan
tidak bisa mengajukan pertanyaan bermutu kepada
pewawancara.
|
|
|
Beberapa Saran
|
|
|
Bagi
anda pencari kerja yang dipanggil untuk
menjalani wawancara kerja, mungkin ada baiknya anda
memperhatikan beberapa saran dibawah ini.
|
|
|
Lakukan hal-hal berikut:
|
|
|
-
Pastikan
anda sudah tahu tempat wawancara
-
Jika
tidak diberitahu terlebih dahulu jenis pakaian apa
yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang
bersifat formal,bersih dan rapi
-
Mempersiapkan
diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin
akan diajukan pewawancara
-
Usahakan
untuk tiba 10 (sepuluh) menit lebih awal, jika
terpaksa terlambat karena ada gangguan di
perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara)
-
Sapa
satpam atau resepsionis yang anda temui dengan
ramah
-
Jika
harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan
rapi.
-
Ucapkan
salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para
pewawancara dan jika harus berjabat tangan,
jabatlah dengan erat (tidak terlalu keras namun
tidak lemas)
-
Tetaplah
berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk.
Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang
-
Persiapkan
surat lamaran dan CV anda
-
Ingat
dengan baik nama pewawancara
-
Lakukan
kontak mata dengan pewawancara
-
Tetap
fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara
-
Tunjukkan
antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan yang
dilamar dan pada perusahaan
-
Gunakan
bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul;
kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan
bahasa tersebut
-
Tampilkan
hal-hal positif yang pernah anda raih
-
Tunjukkan
energi dan rasa percaya diri yang tinggi
-
Tunjukkan
apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan
apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada
anda
-
Jelaskan
serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh
pewawancara
-
Ajukan
beberapa pertanyaan bermutu diseputar pekerjaan
anda dan bisnis perusahaan
secara umum
-
Berbicara
dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar
oleh pewawancara
-
Akhiri
wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda
lakukan selanjutnya
-
Ucapkan
banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu
dan kesempatan yang diberikan kepada anda.
|
|
|
Hindari hal-hal berikut:
|
|
|
-
Berasumsi
bahwa anda tahu tempat wawancara, padahal anda
tidak yakin
-
Tidak
melatih diri untuk menjawab pertanyaan yang
kira-kira akan diajukan pewawancara
-
Berpakaian
seadanya atau berpakaian dan berdandan sangat
mencolok
-
Datang
terlambat
-
Tidak
membawa surat lamaran dan CV
-
Menganggap
remeh satpam, resepsionis bahkan pewawancara
-
Menjabat
tangan pewawancara dengan lemas dan gemetar
-
Merokok,
mengunyah permen atau meludah selama wawancara
-
Duduk
selonjor atau bersandar
-
Berbicara
terlalu keras atau terlalu lembut
-
Membuat
lelucon
-
Menjawab
sekedarnya saja, seperti “ya” atau “tidak”
atau “tidak tahu” atau “entahlah”.
-
Terlalu
lama berpikir setiap kali menjawab
-
Mengalihkan
topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak ada
hubungan dengan pekerjaan
-
Menyalahkan
mantan atasan, mantan rekan kerja atau perusahaan
yang lama
-
Memberikan
jawaban palsu, berbohong atau memanipulasi data
-
Menanyakan
gaji dan fasilitas yang diterima pada saat
wawancara seleksi dimana anda belum tahu
kemungkinan anda akan diterima atau tidak
-
Memperlihatkan
rasa putus asa anda dengan menunjukkan bahwa anda
mau bekerja untuk bidang apa saja dan mau
melakukan apa saja asal bisa diterima bekerja di
perusahaan tersebut
-
Membahas
hal-hal negatif dari anda yang akan merugikan diri
anda sendiri
-
Mengemukakan
hal-hal yang dianggap masih kontroversial
-
Menelpon
atau menerima telepon, atau membaca buku selama
wawancara
-
Salah
menyebut nama pewawancara
-
Tidak
mengajukan pertanyaan pada saat diberikan
kesempatan untuk bertanya
-
Lupa
mengucapkan terima kasih kepada para pewawancara
|
|
|
Mengingat
bahwa masih banyak calon karyawan yang menghadapi
kendala dalam menjalani wawancara kerja, artikel ini
diharapkan dapat memberikan sedikit pencerahan bagi
mereka sehingga lebih siap dan percaya diri. Saya
yakin masih banyak cara-cara yang mungkin belum
tertulis dalam artikel ini, namun setidaknya jika anda
melaksanakan saran-saran yang ada di atas maka anda
akan memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi
wawancara kerja. Selamat mencoba dan semoga anda
sukses diterima bekerja dan menemukan pekerjaan sesuai
dengan yang anda inginkan.
(jp)
|
|
_____________________________
|
| |
|