|
Melangkah
Menjadi Lebih Bijak
Menurut hemat saya, seluruh
kekhawatiran yang dialamatkan pada atasan muda itu
bisa dijawab dengan kesediaan untuk menjadi orang
yang lebih bijak, dari waktu ke waktu. Menjadi bijak
itu tidak terkait secara kausalitas dengan usia.
Banyak anak muda yang lebih bijak dari orang yang
lebih tua. Karena itu ada bunyi iklan begini:
“Menjadi tua itu bukan pilihan, tetapi menjadi bijak
itu pilihan.”
Menjadi bijak artinya kita melatih
kemampuan dalam menyikapi kontradiksi atau masalah
dengan respon-respon yang konstruktif, positif dan “mendamaikan”.
Berdasarkan standar yang umum, untuk menjadi bijak
ini dibutuhkan pemahaman mendalam (deep
understanding), ketajaman melihat sesuatu yang tak
terlihat (keen discernment), dan punya kejelasan
dalam bersikap atau keputusan (a capacity for sound
judgment). Orang bijak, dengan begitu, bukan orang
yang menjual kata-kata manis agar terhindar dari
masalah dan kontradiksi namun tidak punya penyikapan
yang jelas.
Nah, untuk menjadi lebih bijak ini,
rasanya perlu ada beberapa hal yang penting untuk
kita lakukan. Ini antara lain adalah:
Pertama, penghayatan atas pengalaman
pribadi.
Kata James Boswell dan George Bernard Shaw, kita
tidak menjadi bijak dengan pengalaman yang kita
miliki. Bijak dan tidak bijaknya kita akan
tergantung pada sejauhmana kita sanggup menghayati
atau mengambil pelajaran dari pengalaman itu.
Pengalaman di sini bukan sekedar peristiwa hidup
yang menimpa kita, melainkan apa yang kita lakukan
atas peristiwa hidup yang menimpa kita itu. Tepatlah
kalau kemudian dikatakan bahwa pengalaman adalah
guru yang terbaik.
Nah, pengalaman yang biasanya sangat
tepat untuk dihayati itu adalah berbagai pengalaman
yang terkait dengan kegagalan, kerugian, kesalahan
atau kekurangan. Pengalaman Samuel Smiles ini
mungkin banyak terjadi pada kita. Kesimpulannya:
“Kita bisa belajar banyak menjadi orang bijak dari
kegagalan ketimbang dari kesuksesan. Kita akhirnya
bisa menemukan apa yang bekerja setelah mengetahui
apa yang mandul dan mungkin saja orang yang tidak
pernah melakukan kesalahan tidak akan pernah
menemukan sesuatu.”
Sejauh kita sanggup mengambil
pelajaran untuk memperbaiki diri dari pengalaman
semacam itu, biasanya akan membuat kita lebih bijak
dalam melihat masalah dan manusia. Kalau kita sudah
belajar melihat kesalahan kita bukan sebatas sebagai
kesalahan, biasanya kita pun akan mudah belajar
melihat kesalahan orang lain bukan sebatas sebagai
kesalahan.
Kedua, meningkatkan pengertian (empati).
Menurut definisi Thomas F. Mader & Diane C. Mader
(Understanding One Another: 1990), empati adalah
kemampuan seseorang untuk “share-feeling”
yang dilandasi kepedulian. Kepedulian ini ada
tingkatan-tingkatannya.
Kalau mau merujuk pada teori
kompetensi, tingkatan yang paling rendah adalah
ketika kita baru bisa memahami ungkapan verbal,
entah itu perasaan atau pikiran. Tingkatan
menengahnya adalah ketika kita sudah bisa memahami
isu kompleks yang ada di balik suatu percakapan;
mampu mengerti penyebab yang kompleks dari perbuatan,
pola kebiasaan maupun masalah seseorang di masa lalu.
Sedangkan yang paling tinggi adalah memahami lalu
tergerak untuk memberikan bantuan-nyata yang
dibutuhkan orang itu berdasarkan keadaannya.
Empati ini sangat kita butuhkan. Jika
dikaitkan dengan penjelasan di muka, empati ini akan
membuat kita terbiasa menjadi orang yang tidak
terlalu efektif dan tidak terlalu “human”.
Empati akan membuat kita bisa cepat memisahkan orang
dan masalahnya; empati akan mendorong kita untuk
lebih melihat bagaimana menyelesaikan masalah
ketimbang bagaimana menyerang orang.
Ada pemikiran dari Daniel Goleman
soal bagaimana melatih empati itu (Managing with
Emotional Intelligence, Leadership Advantage: 2001).
Goleman menyarankan lima hal berikut:
§ Cepat
menangkap isi perasaan dan pikiran orang lain
(understanding others)
§ Memberikan
pelayanan yang dibutuhkan oleh orang lain
(Service orientation)
§ Memberikan
masukan-masukan positif atau membangun orang lain
(developing others)
§ Mengambil
manfaat dari perbedaan, bukan menciptakan konflik
dari perbedaan (leveraging
diversity)
§ Memahami
aturan main yang tertulis atau yang tidak tertulis
dalam hubungan kita dengan orang lain
(Political awareness)
Ketiga, meningkatkan profesionalitas.
Mungkin kita sudah banyak mengantongi definisi
profesionalitas itu. Cuma, definisi apapun yang kita
anut, ada sedikitnya lima karakteristik utama yang
perlu kita miliki dan tampilkan (Medquest
Communications, LLC: 2000). Kelima karakteristik itu
adalah:
§ Memiliki
pengetahuan / keahlian khusus berdasarkan profesi
kita
§ Mendapatkan
pengakuan dari masyarakat, komuniti, kelompok,
organisasi atau industri yang terkait dengan profesi
kita
§ Memiliki
standar etika-moral yang tinggi, baik itu yang
bersifat universal atau yang bersifat spesial,
misalnya kode etik profesi.
§ Memiliki
otonomi dalam mengambil keputusan berdasakan
pengetahuan dan pengalaman.
§ Punya
rasa tanggung jawab untuk menciptakan kemaslahatan
bagi diri sendiri dan orang lain (tidak bebas nilai)
Tentu kita sadar bahwa untuk memiliki
dan menampilkan kelima hal di atas tidak bisa kita
lakukan secara langsung dan “jadi”. Tetap dibutuhkan
proses yang berkelanjutan. Semoga bermanfaat! |