|

|
MENGAKTIFKAN
JARINGAN KERJA
|
|
|
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
21 Agustus 2005
|
|
|
|
|
|
Alasan
|
|
|
Ada sedikitnya tiga alasan mengapa kita perlu mengaktifkan
jaringan kerja yang sudah kita miliki.
|
|
|
Pertama,
semakin bertambahnya jenis, bentuk dan model peluang
yang bisa kita garap dari pekerjaan kita hari ini.
Sering sekali terjadi, peluang yang beragam dan yang
cocok dengan kita
itu datangnya ke kita melalui pintu orang lain yang
sudah kita kenal. Semakin banyak orang yang kita
kenal, semakin banyak informasi peluang yang bisa kita
garap.
|
|
|
Kedua,
semakin lemahnya jaminan keamanan yang bisa kita
dapatkan dari perusahaan atau orang lain.
Merah-putihnya karir kita akan lebih banyak ditentukan
oleh kita (keahlian, kecakapan atau kelihaian kita).
Perusahaan tempat kita kerja saat ini bisa ambruk
bukan semata-mata oleh kesalahan manajemen melainkan
bisa juga karena pengaruh perubahan global yang di
luar kontrol siapapun. Meskipun kita dan perusahaan
tempat kita bekerja tidak menginginkan, tetapi kalau
perubahan global berkata lain, apa boleh buat.
Kira-kira inilah gambarannya. Semakin banyak orang
yang kita kenal, semakin banyak sumber keamanan yang
bisa kita dapatkan.
|
|
|
Ketiga,
membuka diri. Untuk kepentingan perbaikan-diri, kita
perlu membuka diri kita. Melihat orang lain yang lebih
bagus, selama itu kita lakukan dalam rangka
memperbaiki, ia akan mewahyukan sesuatu kepada kita.
Melihat orang lain yang lebih buruk, selama itu kita
saksikan dalam rangka memperbaiki, ia akan mewahyukan
sesuatu kepada kita. Semakin banyak orang yang kita
lihat, semakin banyaklah pelajaran yang bisa kita
serap.
|
|
|
Masalah
|
|
|
Beberapa masalah yang terkadang menghambat upaya kita
dalam mengaktifkan jaringan atau hubungan itu,
kira-kira bisa dijelaskan sebagai berikut:
|
|
|
1.
Tanpa
tindak lanjut.
|
|
|
Banyak sudah orang yang tahu kita melalui kartu nama yang
pernah kita berikan. Banyak sudah kita mengetahui
orang lain melalui kartu nama yang kita terima dalam
berbagai perjumpaan atau pertemuan. Kartu nama, nomor
telepon atau media lain yang seperti itu seolah-olah
sudah menjadi tradisi yang secara rutin kita lakukan.
|
|
|
Tetapi, cukupkah kartu nama ini kita jadikan andalan?
Meskipun ini penting tetapi prakteknya seringkali
mengatakan belum cukup. Peranan dan fungsi kartu nama
bisa dikatakan hanya sebagai syarat pembuka. Menurut
Teori Hubungan (Relationship theory), jaringan kerja
itu akan bekerja kalau kita mengetahui orang yang
mengetahui kita. Know who knows. Maksud mengetahui
kita di sini adalah mengetahui apa yang kita bisa,
mengetahui apa yang kita ahli di dalamnya, atau
gampangnya, mengetahui bidang kita.
|
|
|
Dengan kata lain, kalau kita berhenti hanya pada
menyebarkan kartu nama kepada orang lain atau
mengumpulkan kartu nama orang lain, maka sebanyak
apapun kartu itu kita luncurkan, sepertinya jaringan
kerja kita belum bisa memberikan manfaat (bekerja)
sesuai dengan yang kita inginkan. Karena itu butuh
usaha ekstra untuk membuat orang lain mengetahui
dengan baik tentang apa yang kita tahu secara baik.
|
|
|
Dengan bahasa yang berbeda, Aman Motwane, penulis
buku “The power of wisdom (2002) menyarankan agar
kita bisa mengubah status hubungan dari “connecting
to” ke “connecting with”. Connecting with adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan intensitas
hubungan yang tidak asal kenal atau asal dikenal
melainkan sama-sama mengenal, sama-sama tahu, atau
pendeknya sebuah hubungan yang lebih mendalam. Pola
hubungan seperti inilah yang mestinya perlu kita
ciptakan dalam proses usaha kita dalam mengaktifkan
jaringan.
|
|
|
2.
Tanpa
seleksi
|
|
|
Semua orang yang kita kenal memang penting artinya bagi
kita tetapi ketika ini kita bawa ke pembahasan tentang
jaringan kerja yang bekerja, tentulah harus ada
seleksi mana yang penting dan mana yang belum (bukan
Tidak) penting untuk kepentingan kita pada hari ini.
Terkadang orang tertentu akan cocok untuk urusan
tertentu dan tidak cocok untuk urusan yang lain.
Karena itulah seleksi tentang orang dibutuhkan.
|
|
|
Ketika sistem seleksi kita terlalu longgar,
biasanya ini kerap menimbulkan apa yang kita
sebut distraksi (virus yang sering mencabut
konsentrasi kita terhadap hal yang penting untuk
kita). Begitu kita sudah terkena virus distraksi ini,
banyak hal yang penting tetapi kita terlantarkan,
tidak tertangani oleh kita atau juga terganggu
penanganannya. Sebaliknya banyak hal yang tidak
penting tetapi mendapatkan perhatian yang porsinya
besar sekali dari kita. Yang penting kita abaikan
tetapi yang tidak penting kita perhatikan.
|
|
|
Jadi, maksud kita membuat seleksi tentang orang bukanlah
untuk membeda-bedakan dalam pengertian menghina atau
merendahkan (humiliate others) melainkan untuk
kepentingan fokus, berpusat dan berkiblat hanya pada
tujuan yang kita inginkan. Ajaran Tao berpesan, ketika kita sudah sanggup berpusat (centered), maka
yang muncul dari diri kita adalah keteraturan (order),
sedikit hal yang kita kerjakan tetapi banyak hal yang
kita dapatkan (berkualitas), atau bekerja dengan
kecerdasan (smart work).
|
|
|
3.
Tanpa
peningkatan
|
|
|
Mungkin
tidak sedikit dari kita yang mengenal (tahu) para
pembesar perusahaan, mengenal pejabat papan atas dari
kalangan militer, tokoh masyarakat atau partai politik
dan lain-lain. Usaha kita untuk menambah jumlah orang
yang kita kenal atau menambah jumlah orang yang
mengenal kita secara umum bisa dikatakan baik dan
bagus. Tetapi ketika ini kita bawa ke urusan jaringan
dan hubungan kerja yang bekerja (aktif), seringkali
prakteknya mengatakan masih belum cukup
|
|
|
Pasalnya, pada tingkat praktek yang spesifik, aktifnya
hubungan kerjasama kita dengan pihak lain juga tidak
bisa dilepaskan dari keberhasilan kita dalam menilai,
menggunakan dan membuktikan kemampuan, keahlian dan
kapasitas kita. Meskipun yang kita kenal adalah
kalangan pembesar yang menawarkan peluang-peluang
besar tetapi kalau kemampuan dan keahlian kita tidak
pernah kita perbesar, ya kemungkinan besar tak banyak
hal besar yang bisa kita tangani.
|
|
|
Karena
itu, seiring dengan jumlah orang yang kita kenal, kita
pun perlu meningkatkan / menambah jumlah dan bobot
kapasitas kita (menaikkan ukuran). Bertambahnya orang
yang kita kenal tanpa diiringi dengan usaha kita dalam
menambah / menaikkan kapasitas kita justru kerapkali
malah menjadi masalah yang menghambat aktifnya
hubungan kerjasama kita. Menurut petunjuk Hukum
Asosiasi yang bekerja di dunia ini, biasanya kita akan
mengenal orang yang lebih bagus kalau kita lebih dulu
memperbagus diri kita. Biasanya, kita akan mengenal
orang yang lebih atas di bidang kita kalau kita
berusaha lebih dulu menaikkan kapasitas kita.
|
|
|
Pembelajaran
|
|
|
Pasti tidak ada orang yang berani mengatakan bahwa
mengaktifkan jalinan dan jaringan yang ada dan
yang sudah kita miliki itu mudah. Meskipun begitu,
karena ini toh pada akhirnya tetap harus kita lakukan,
maka tidak ada cara lain selain harus berusaha melalui
pembelajaran (mengubah ketidakmampuan menjadi
kemampuan sesuai dengan keadaan-diri kita) Sebagian
dari sekian jurus pembelajaran yang bisa kita lakukan
adalah pilihan berikut ini:
|
|
|
1.
Menaikkan
kemampuan ber-empati
|
|
|
Menurut pengertian yang sudah lazim digunakan,
empati adalah kemampuan kita dalam menyelami perasaan
orang lain tanpa harus tenggelam di dalamnya. Empati
adalah kemampuan kita dalam mendengarkan perasaan
orang lain tanpa harus larut. Empati adalah kemampuan
kita dalam meresponi keinginan orang lain yang tak
terucap. Kemampuan ini dipandang sebagai kunci
menaikkan intensitas dan kedalaman hubungan kita
dengan orang lain (connecting with).
|
|
|
Bagaimana cara menaikkannya? Menurut nasehat Daniel
Goleman, kemampuan ini bisa kita naikkan melalui
praktek berikut:
|
|
|
-
Cepat
menangkap isi perasaan dan pikiran orang
lain (understanding others).
-
Memberikan
pelayanan yang dibutuhkan orang lain. Member,
bukan mengambil (Service Orientation), apalagi
memanipulasi.
-
Memberikan
masukan-masukan positif atau membangun orang lain
(developing others)
-
Mengambil
manfaat dari perbedaan, bukan menciptakan konflik
dari perbedaan (leveraging diversity)
-
Memahami
aturan main yang tertulis atau yang tidak tertulis
dalam hubungan kita dengan orang lain (Political
awareness).
|
|
|
Belajar menaikkan kemampuan kita dalam ber-empati ini
merupakan kunci hubungan. Menurut Peter Drucker, kunci
kelancaran komunikasi adalah belajar menangkap apa
yang tak terucap (unspoken). Dalam konteks bisnis
(business of selling), Alf Cattle malah mengatakan:
“Relationship is product”
|
|
|
2.
Menaikkan
kemampuan dalam menggunakan alat seleksi
|
|
|
Satu dari sekian alat seleksi yang sudah disediakan Tuhan
dan gratis kita gunakan sekehendak kita adalah
ungkapan YA dan TIDAK yang keluar dari ucapan kita
dalam meresponi ajakan atau tawaran orang lain yang
kita kenal. Alat seleksi ini, apabila kita tepat
menggunakannya bisa menyelamatkan kita dari
distraksi.
|
|
|
A.P. Goethe mengatakan: “Ada tiga strategi untuk meraih
kesuksesan: 1) ketahuilah apa yang harus dibuang; 2)
apa yang harus dipertahankan; 3) ketahuilah kapan
harus mengatakan TIDAK. Membangun kemampuan dalam
mengatakan TIDAK akan memberikan kapasitas kepada kita
dalam mengatakan YA
|
|
|
Semua orang pasti bisa mengucapkan kata YA atau TIDAK
tetapi untuk mengatakan YA atau TIDAK yang dapat
mengharmoniskan dan mengaktifkan hubungan kita dengan
orang lain, memang perlu diasah, perlu belajar karena
semua manusia tidak dibekali kemampuan mengatakan YA
dan Tidak secara polite (sopan) tetapi firm (kuat).
Tidak ada panduan yang pantas disebut “The
playing-book” (panduan yang pasti menjamin
keberhasilan langsung dan cospleng) tetapi kita bisa
belajar dari praktek hidup sehari-hari, entah dari
kita atau dari orang lain yang kita lihat.
|
|
|
Umumnya, orang yang secara pengetahuan, pengalaman,
keahlian atau derajat hidup lebih bagus dari kita
memiliki kemampuan di bidang ini yang lebih bagus
pula. Nah, Kita bisa belajar dari mereka sebanyak
mungkin dan sekehendak kita, terutama untuk mengetahui
bagaimana, kapan dan kepada siapa kata Ya dan Tidak
itu kita ucapkan.
|
|
|
3.
Mengasah
gergaji milik kita
|
|
|
Keahlian yang kita kuasai ibarat gergaji bagi kita. Mengasah gergaji oleh Covey
dikatakan sebagai pilar terciptanya kebiasaan efektif
dalam hidup kita. Tanpa keahlian, sulit kita
menggunakan sumberdaya, potensi dan peluang yang
muncul. Teori peperangan mengatakan: “Tanpa keahlian
akan membuat kekuatan kita tidak bisa ditembakkan
(executed)”, alias mandul.
|
|
|
Sekedar sebagai tambahan, tiga hal yang penting untuk kita
perhatikan dalam mengasah gergaji milik kita adalah
berikut:
|
|
|
-
Pilihlan jenis
keahlian tertentu (spesifik) yang cocok dengan
keunggulan dasariyah, bakat atau kecerdasan
(intelligence) kita. Pilihan yang tepat akan dapat
mempercepat.
-
Asahlah
secara terukur dan teratur. Keahlian itu kalau
tidak pernah kita naikkan, ia akan statis. Tetapi
kalau kita naikkan sembarangan (hanya berdasarkan
mood sesaat), ia cenderung tak teratur.
-
Yakni
ada banyak cara dan metode yang bisa kita gunakan
untuk mengasah gergaji kita. bila satu pintu
tertutup, berarti ini pertanda ada pintu lain
sudah terbuka untuk kita.
|
|
|
Selamat mengaktifkan.
|
|
_____________________________
|