|
|

|
MENGGALI SUMBER MOTIVASI
|
|
|
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
18 Juli 2005
|
|
|
|
|
|
Intrinsik
& Ekstrinsik
|
|
|
Teori motivasi yang sudah lazim dipakai menjelaskan bahwa
sumber motivasi itu sedikitnya bisa digolongkan
menjadi dua, yaitu sumber motivasi dari dalam diri
(intrinsik) dan sumber motivasi dari luar
(ekstrinsik). Termasuk sumber dari dalam, misalnya
saja kebutuhan kita untuk menemukan makanan,
mendapatkan kesehatan, mendapatkan keamanan,
mendapatkan kehormatan, meraih prestasi di bidang
kita, dan seterusnya.
|
|
|
Sedangkan yang termasuk sumber motivasi dari luar,
misalnya saja kondisi kerja yang mendukung, gaji yang
jumlahnya sesuai dengan keinginan atau tuntutan kita,
perlakukan yang baik dari pihak lain, dan seterusnya.
Dari praktek hidup seringkali kita temukan bahwa
motivasi yang bersumber dari luar ini sifatnya tidak
otomatik dan tidak mutlak. Di atas kertas putih memang
bisa dikatakan bahwa kenaikan gaji bisa menambah
motivasi dan bisa menambah kreativitas tetapi
prakteknya tidak berlaku untuk semua orang atau tidak
mutlak bisa menaikkan motivasi semua orang.
|
|
|
Prakteknya seringkali membuktikan bahwa kenaikan gaji
hanya akan memotivasi orang yang sudah bisa memotivasi
dirinya. Adapun bagi orang yang belum bisa memotivitas
dirinya atau menolak memotivasi dirinya
(malas-malasan, setengah-setengah, dan semacamnya),
kenaikan gaji seringkali terbukti tidak bisa membuat
mereka termotivasi. Atau paling banternya hanya
menambah motivasi untuk jangka waktu yang sangat
pendek.
|
|
|
Bahkan kalau kita rujukkan pada hasil studi Teresa
Amabile, profesor dari Harvard Business School (The 6
Myths of creativity,
Gruner
+ Jahr USA Publishing, 2004),
kenaikan gaji malah menjadi semacam “fithan”,
masalah atau ancaman terhadap motivasi dan kreativitas
bagi orang yang menolak memotivasi dirinya. Teresa
mengatakan bahwa karyawan yang motivasi dan
kreativitasnya tergantung pada kenaikan gaji semata
justru akan menjadikan kemalasan sebagai jurus untuk
mendapatkan kenaikan gaji berikutnya.
|
|
|
Walhasil,
memang perlu kita akui bahwa gaji yang rendah menurut
ukuran yang berlaku umum, kondisi kerja yang tidak
kondusif menurut rasio umum atau perlakuan organisasi
yang tidak fair menurut norma umum, bisa menjadi
demotivator. Tetapi hal ini tidak punya pengertian
bahwa ketika gaji kita naik, kondisi kerja Ok atau
perlakuan yang kita terima OK dari pihak lain lantas
membuat kita secara otomatik menjadi orang yang
kreatif dan ‘motivatif’.
|
|
|
Kita
bisa memilih menjadi orang kreatif dan motivatif
dengan alasan karena kita kekurangan fasilitas,
karena gaji kita tidak cukup menurut ukuran kita,
karena kita sedang dilanda krisis perlakuan baik dari
orang lain ATAU bisa pula kita memilih menjadi orang
kreatif dan motivatif dengan alasan karena kita sedang
dikelilingi fasilitas kerja yang berlimpah, gaji kita
lebih menurut ukuran kita, dan karena kita sedang
mendapatakan treatment yang bagus dari pihak lain.
Prakteknya membuktikan,
“We are the law of ourselves.”
|
|
|
Sumber
Alamiyah: motivator & demotivator
|
|
|
Cukupkah pemahaman kita tentang sumber motivasi itu hanya
sebatas pada pengertian-pengertian yang seperti
penjelasan di atas? Kalau kita mencoba menelaah
praktek hidup lebih dalam, ternyata bisa kita temukan
bahwa sumber motivasi itu jumlahnya tak terbatas dan
terhingga. Seluruh aktivitas perasaan kita (feeling
and mood) dalam meresponi apa yang terjadi di dalam
diri dan apa yang menimpa diri kita dari luar bisa
kita gunakan sebagai motivator, termasuk yang sering
kita cap dengan sebutan hal-hal negatif atau tak
berguna atau ancaman motivasi (demotivator)
|
|
|
Berikut
ini adalah sebagian contoh dari hal-hal yang sering
kita anggap negatif tetapi bisa kita olah sebagai
sumber motivasi yang gratis dan bisa kita gali
seluas-luasnya, sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya:
|
|
|
Pertama, kekesalan. Terlepas dari perbedaan
kadar dan alasan, semua orang yang hidup di dunia ini
pernah kesal: kesal kepada diri sendiri, kesal kepada
orang lain, kesal kepada keadaan, bahkan kesal kepada
Tuhan. Persoalan yang kita hadapi dalam praktek hidup
bukan masalah pernah kesal atau tidak pernah,
melainkan akan kita gunakan untuk apakah kekesalan
yang menggelora di dada kita?
|
|
|
Kekesalan bisa kita jadikan motivator untuk maju tetapi
bisa pula kita jadikan demotivator untuk maju,
tergantung apa yang kita pilih. Anthony Robbins yang
saat ini dikenal Motivator International papan atas
mengakui bahwa dirinya menjadikan kekesalan sebagai
motivator untuk maju. Karena ia kesal dengan posisi
karirnya yang berada di level bawah, maka kekesalan
itu ia olah menjadi energi yang mendorong dirinya
untuk naik.
|
|
|
Kedua, kegagalan. Semua manusia yang
berusaha di dunia ini pastilah pernah gagal. Kegagalan
dalam usaha bukanlah pilihan (choice), melainkan
konsekuensi yang tidak bisa dipilih (not free to
choose). Andaikan boleh memilih, tentulah tak ada satu
pun manusia di dunia ini yang memilih kegagalan. Semua
orang pastilah akan memilih keberhasilan.
|
|
|
Meskipun semua orang pernah menghadapi kegagalan tetapi
yang berbeda adalah bagaimana orang itu menggunakan
energi kegagalan. Apakah kita akan menggunakan
kegagalan usaha kita sebagai motivator untuk mencapai
keberhasilan ataukah kita akan menggunakan kegagalan
kita sebagai demotivator? Semua akan kembali kepada
pilihan kita. Robert Kiyosaki menyimpulkan bahwa
kegagalan itu akan menjadi penghancur (demotivator,
destroyer) bagi orang kalah (losers) tetapi akan
menjadi inspirasi maju bagi para pemenang (winners)
|
|
|
Meminjam istilah yang pernah digunkan oleh Jhon C.
Maxwell, di sana ada yang disebut Kegagalan Maju
(failing forward) dan di sana ada pula yang disebut
Kegagalan Mundur (failing backward). Menurutnya,
Kegagalan Maju adalah kemampuan seseorang untuk
bangkit kembali setelah dipukul mundur, kemampuan
untuk belajar dari kesalahan dan kemampuan untuk
melangkah menuju arah yang lebih bagus. J.M. Barrie menyimpulkan: “Selama lebih dari 30 tahun
saya memimpin, saya sampai pada kesimpulan bahwa yang
paling penting di sini adalah memiliki kemampuan yang
saya sebut “kegagalan maju”.
|
|
|
Ketiga, hinaan, celaan atau cemoohan orang
lain atas kita. Terlepas dari perbedaan bentuk, jenis,
dan kadar, sebetulnya semua orang di dunia ini pernah
dihina, dilecehkan, dipandang rendah, diperlakukan
secara tidak enak oleh orang lain. Semua sepakat bahwa
diotak-atik dengan menggunakan teori apapun, yang
namanya dihina atau dilecehkan tentulah merupakan
sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
|
|
|
Masalah yang kita hadapi dalam praktek hidup (selain
masalah yang sudah kita rasakan)
adalah bagaimana kita menggunakan semua itu.
Hinaan bisa kita jadikan sebagai motivator dan bisa
pula kita jadikan sebagai demotivator, tergantung
bentuk kegunaan yang kita pilih. Tak sedikit para
peraih prestasi tinggi di bidangnya di sekitar kita
yang mendapatkan dorongan maju (motivasi) dari hinaan
orang lain di sekitarnya yang kemudian mengantarkan
mereka pada satu titik pembuktian-diri positif. Albert
Einstein mengakui bahwa semangat dari dirinya yang
agung kerapkali mendapatkan perlawanan dari orang lain
yang punya semangat biasa-biasa.
|
|
|
Karena sesungguhnya yang menentukan kegunaan itu kita,
maka Les Brown berpesan: “Jangan biarkan opini
negatif orang lain tentang dirimu menjadi kenyataan di
dalam dirimu.” Dihina orang lain tidak ‘capable’
kalau kita iyakan (kita gunakan sebagai demotivator)
akan menjadi kenyataan di dalam diri kita tetapi kalau
kita tolak (kita jadikan motivator untuk menjadi
capable) tentu ini setidaknya akan mengantarkan kita
menjadi capable, meskipun tidak semudah orang membalik
tangan. Eleanoor Rosevelt berkesimpulan: “Tidak ada
orang yang sanggup membuat anda down tanpa izin dari
anda.”
|
|
|
Gampangnya ngomong, semua yang diciptakan Tuhan atau semua
yang diizinkan Tuhan untuk ada dan untuk terjadi di
dalam diri kita dan di dunia ini, memiliki kegunaan,
dari (katakanlah) mulai ketakutan, kekurangan,
kebingungan, kemalangan, dan seterusnya. Kitalah yang
diberi pilihan (tawaran) untuk memilih kegunaan itu.
Bisa kita gunakan sebagai motivator
(kegunaan positif) dan bisa pula kita gunakan
sebagai demotivator (kegunaan negatif). Memilih
kegunaan positif akan mengantarkan kita menjadi orang
yang semakin positif. Memilih kegunaan negatif akan
mengantarkan kita menjadi orang yang semakin negatif.
|
|
|
Pembelajaran
|
|
|
Apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa menggunakan
ledakan emosi negatif yang selama ini kita anggap
barang tak berguna itu menjadi berguna, menjadi
motivator atau setidak-tidaknya tidak sampai membuat
kita menjadi orang yang semakin / bertambah negatif
akibat tertimpa oleh hal-hal negatif (hal-hal yang
tidak kita inginkan)? Sebagai pembelajaran, mungkin
kita bisa melakukan pilihan berikut:
|
|
|
1.
|
Menyadari
|
|
|
|
Menyadari atau kesadaran-diri (self-awareness) adalah
kemampuan kita untuk mendeteksi, menyadari, merasakan,
dan mengontrol apa yang kita pikirkan, apa yang kita
rasakan, dan apa yang kita unek-unek-an serta
kemampuan kita untuk memahami bagaimana semua itu
terjadi dan apa yang menyebabkannya. Memiliki
kesadaran-diri seperti ini akan membuat kita punya
pilihan hidup (choice), bisa mengambil keputusan
menurut pilihan kita dari dalam (from the inside-out),
atau responsif (bukan sekedar reaktif).
Seperti yang kita alami dalam praktek hidup sehari-hari,
kekesalan itu bisa kita pilih sebagai sumber motivator
dan bisa pula kita pilih sebagai sember demotivator.
Cuma saja, untuk bisa memilih sebagai motivator ini
dibutuhkan kesadaran-diri, kontrol-diri, atau
penguasaan-diri serta kekebasan memilih (free to
choose). Hilangnya kesadaran-diri ini akan membuat
kita menempati posisi sebagai korban kekesalan, dan
bukan sebagai pihak yang bisa menggunakan kekesalan.
Kita mudah lupa bahwa kekesalan itu selain bisa kita
gunakan sebagai motivator juga bisa menjadi
demotivator.
|
|
|
2.
|
Menggunakan
|
|
|
|
Setelah kita memiliki “kebebasan memilih” dalam
menggunakan apa yang terjadi dan apa yang menimpa
kita, maka tahapan berikutnya adalah menggunakan
energinya untuk mendukung keinginan kita. Kekesalan,
kekecewaan, ketakutan, kekurangan atau kejengkelan
tidak secara otomatik menjadi sumber motivator hanya
karena kita tahu. Ia akan menjadi motivator kalau kita
gunakan (apply) untuk memotivasi diri kita melalui
saluran aktivitas yang jelas dan tujuan (sasaran) yang
jelas.
Karena itu, akan lebih mudah buat kita dalam mengolah
ledakan emosi agar menjadi sumber motivasi kalau kita
memiliki tujuan hidup yang jelas dan jelas-jelas kita
perjuangkan. Ibarat menembak, jika sasaran yang akan
kita bidik itu jelas (spesifik, measureable,
attainable), tentulah akan lebih mudah kita
mengalihkan energi dari yang semula akan mencelakakan
kita ke yang mendukung kita.
|
|
|
3.
|
Mengawasi
|
|
|
|
Dari praktek hidup sehari-hari kita diajarkan bahwa yang
terkadang membuat kita tidak sanggup menggunakan
berbagai ledakan emosi sebagai sumber motivasi itu
bukan saja karena kita tidak tahu semata, melainkan
karena kita lupa (losing control). Karena itu,
pengawasan aktivitas batin kita tetap diperlukan. Lupa
hanya sebentar lalu kita menarik diri untuk ingat,
mungkin tak ada masalah tetapi kalau kita lupa dalam
kurun waktu yang panjang apalagi selamanya, tentulah
ini membahayakan buat kita. Selamat mencoba.
|
|
_____________________________
|
|