|
|

|
Kemahiran
Eksekusi
|
|
|
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
17 Juni 2003
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dalam dunia perang, eksekusi
adalah maksud yang dibarengi tindakan untuk
menembakkan peluru ke arah lawan. Eksekusi bukanlah
keputusan di atas kertas putih atau kertas mental
tetapi pelaksanaan keputusan.
Kalau ada lima ekor burung di hadapan kita
kemudian kita putuskan untuk menembak satu ekor, maka
burung itu masih tetap berjumlah lima ekor
sebab maksud kita baru berupa keputusan belum eksekusi.
Seorang tokoh samurai terkenal, Musashi,
mendefinisikan eksekusi dengan ungkapan: "taking
proper action in appropriate time" (bertindak
pada saat yang tepat). Kemahiran eksekusi menjadi
keahlian vital untuk mengetahui kapan saat yang tepat
untuk melepaskan peluru, mendeteksi posisi lawan, dan
bersembunyi.
|
|
|
Pendapat Musashi tentang
wilayah perang yang sedemikian berkabut sehingga
menuntut keahlian eksekusi, menurut Jalaluduin Rumi (dalam
Reynold A. Nicholson: 1993) merupakan hukum usaha yang
intinya bergelut dengan kemungkinan antara gagal (meleset)
dan sukses (mengenai sasaran). Dikatakan dalam sebuah
syairnya yang jika diprosakan mengandung pengertian,
kalau orang bertindak belum tentu berhasil tetapi
kalau tidak bertindak pasti rugi karena ia tidak akan
menemukan apapun. Dari segi kita sendiri,
selaku selaku eksekutor gagasan usaha (karir, bisnis,
dll), sebenarnya apa yang dibutuhkan adalah
penyiasatan dalam hal menciptakan pembekalan dan
persiapan mental untuk memperkecil dampak kabut
kemungkinan. Faktor-faktor
yang merupakan pembekalan dan persiapan dalam
meningkatkan kemahiran eksekusi dapat jelaskan sebagai
berikut:
|
|
|
Kompetensi
|
|
|
Kalau merujuk pada acuan
kemiliteran (Army Leadership: 2002), kemahiran
eksekusi didukung oleh penguasaan empat wilayah
(domain) keahlian yang terdiri atas: interpersonal
(Interpersonal), konseptual (conceptual), tekhnis
(technical), dan taktik (tactics).
|
|
|
1.
|
Interpersonal
|
|
|
|
Interpersonal adalah
kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain (networking
skill). Dalam kaitannya dengan penyelesaian misi
tidak cukup hanya dengan kenal, atau pertukaran kartu nama melainkan networking yang
sudah mencapai level saling memahami: anda mengetahui
orang yang mengetahui anda dan mengetahui apa yang
harus dilakukan atas nama misi bersama. Peranan saling
memahami di sini dimaksudkan dapat mereduksi potensi
gap komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan level
harapan, pengetahuan atau status.
Keahlian Interpersonal tidak
dimiliki hanya dengan mendalami ilmu (the science)
tetapi perlu penguasaan terhadap seni dalam menjalin
hubungan (the art). Orang yang telah terasah di
bidang ini biasanya sudah tahu apa yang tepat
dilakukan kepada orang lain guna merealisasikan apa
yang diinginkan dari orang lain untuk memperlakukan
dirinya. Rata-rata keahlian Interpersonal didukung
oleh penguasaan senbi berkomunikasi (the art of
communication) dengan bahasa tubuh, lisan dan
tulisan. Dalam praktek, menurut beberapa penelitian
dan pendapat pakar psikologi sosial, penguasaan bahasa
tubuh lebih berperan mempengaruhi bobot eksekusi. “Human
relationships are established and developed MAINLY by
non verbal signals, although words are also used
(Winston Fletcher, MT: 2000).
|
|
|
2.
|
Konseptual
|
|
|
|
Konseptual adalah kemampuan
untuk memahami dan menggunakan doktrin dan ide yang
berkembang tentang sebuah pekerjaan. Keahlian ini
berfungsi untuk meramu bahan baku menjadi sebuah
rumusan pekerjaan yang akan dieksekusi seperti
layaknya seorang
arsitektur. Keahlian konseptual yang dikuasai akan
menentukan bentuk desain bangunan yang akan
diselesaikan meskipun bahan baku yang digunakan oleh
arsitektur ketinggalan
zaman dan arsitektur yang tetap ‘in’
tidaklah berbeda jauh.
Demikian juga dengan pekerjaan di kantor. Bahan
baku yang akan dijadikan peluang umumnya tidak
mengalami perbedaan signifikan: orang, informasi,
perangkat, keadaan, dll, tetapi bagaimana peluang
tersebut akhirnya dieksekusi sangat tergantung pada
keahlian konseptual yang kita miliki.
|
|
|
3.
|
Tekhnikal
|
|
|
|
Keahlian tekhnikal atau
teknis merujuk pada kemampuan seseorang untuk
mengoperasikan peralatan pekerjaan sesuai dengan
bidang yang ditekuni. Keahlian tekhnikal berfungsi
agar proses pengolahan informasi (pekerjaan) menjadi
lebih cepat, lebih akurat dan lebih berbobot sesuai
dengan tuntutan pekerjaan. Keahlian teknis yang tidak
seirama dengan sifat dan jenis pekerjaan membuat
keahlian itu menjadi mubazir, tidak berguna, bahkan
pemborosan. Keahlian tehnis erat kaitannya dengan
penguasaan teknologi yang biasanya memiliki tingkat
perubahan tertinggi mengalahkan temuan pengetahuan.
Contoh: teknologi informasi seperti komputer hampir
bisa dikatakan mengalami perubahan dalam ukuran minggu/bulan.
Penyiasatan yang dapat dilakukan adalah membuat
wilayah spesialisasi. Kalau bukan berprofesi sebagai
IT rasanya tidak diperlukan memahami seluruh kode
instruksi yang muncul setiap saat. Cukup memahami
bagaimana menggunakan apa yang kita butuhkan.
|
|
|
4.
|
Taktik
|
|
|
|
Keahlian taktik merujuk pada
kemampuan bermain di lapangan (the art of playing).
Kecanggihan gaya bermain dalam menjalani eksekusi di
lapangan biasanya didukung oleh pemahaman lapangan (intuisi)
dan pengetahuan faktual (interpretasi).
Menurut hukum akumulasi keahlian taktik tidak dimiliki
hanya dengan satu kali menjalani eksekusi tetapi buah
dari proses pengasahan yang lama. Hukum akumulasi itu
dapat kita artikan dengan kumpulan pengalaman
kalah-menang yang kita maknai sebagai pelajaran hidup.
|
|
|
Karakter
|
|
|
Selain empat keahlian di atas, untuk menjadi
seorang eksekutor yang jitu dibutuhkan karakter yang
mendukung penyelesaian misi (tugas). Karakter adalah
cahaya yang disinarkan dari tindakan kita. Dengan kata
lain karakter merupakan inner strength yang
menjelma dalam sebuah kekuatan bertindak. Kekuatan
karakter berakar pada kepercayaan atau nilai (core
of belief) yang dalam kaitannya dengan melatih
kemahiran eksekusi ini dapat dijelaskan sebagai
berikut:
|
|
|
1.
|
Tidak
berprasangka buruk
|
|
|
|
Nilai dasar dalam menjalin
hubungan dengan manusia yang akan menjadi benih keahlian
interpersonal adalah dengan memiliki prasangka baik
lebih dahulu. Memang pada prekteknya tidak semua
manusia pantas menerima predikat baik atau minimalnya
baik-baik saja tetapi kalau dikalkulasi untung-ruginya,
lebih untung berprasangka baik ketimbang
berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka
buruk yang kita jadikan tesis lebih sering menghalangi
sinar karakter yang sebenarnya kita miliki dan karena
sinar telah redup maka membuat kita menjadi
benar-benar tertipu. Padahal kalau mau jujur,
hukum alam ini sering mendemonstrasikan dirinya, orang
yang tertipu karena prasangka baik atas orang lain
lebih enak hidupnya ketimbang orang yang menipu.
|
|
|
2.
|
Kecerdasan
|
|
|
|
Semua orang memiliki
kecerdasan yang intinya tidak digunakan secara optimal
sebanyak yang dimiliki. Terhadap sosok jenius saja
para ahli berpendapat kecerdasannya baru digunakan
seperlima, apalagi orang umum. Faktor tunggal yang
membatasi kecerdasan itu tidak lain adalah pembatas
yang kita ciptakan sendiri dan kita persempit wilayah
kerjanya hanya sebatas bangku di sekolah. Padahal
kecerdasan berguna untuk menyeimbangkan antara
kecurigaan terhadap orang lain dan prasangka baik
terhadapnya. Kecerdasan juga berfungsi untuk
menyeimbangkan antara berpikir global dan bertindak
lokal; antara keahlian (konseptual dan technical) yang
sudah kita butuhkan dan belum kita butuhkan.
|
|
|
3.
|
Kesetiaan
|
|
|
|
Praktek sering mengajarkan,
kesetiaan tugas yang terbatas pada kepentingan sesaat
atau perubahan keadaan temporer sering membuat orang
memiliki mentalitas bongkar-pasang pondasi personal/pekerjaan
yang didasarkan semata oleh letupan emosi temperamental
yang menolak, bukan menerima keinginan untuk menjadi
lebih baik. Kalau praktek demikian terjadi berulang
kali maka sudah terjadi perlawanan terhadap hukum
akumulasi, bahwa sosok eksekutor yang ahli dihasilkan
oleh pemupukan keahlian yang sifatnya kecil dan terus
menerus.
Kesetiaan adalah rangkuman dari
nilai hidup berupa kesabaran dan kegigihan
menjalani proses ‘from nothings to everythings’.
Tidak salah kalau ajaran kultural kita selalu
menyarankan agar dalam situasi yang berkabut, kita
disarankan untuk meminta pertolongan kepada kesabaran
(kesetiaan pada prinsip) dan harapan menembus batas (optimisme
nilai). Tanpa landasan nilai demikian,
kabut-kemungkinan hidup ini bisa menumpulkan kemampuan
eksekusi yang akan kita jalankan, alias menjadi tidak
memfokus dan patah di tengah jalan.
|
| |
Mengingat sedemikian luas
wilayah kabut dan kemungkinan yang kita hadapi dalam
hidup sehari-hari, uraian di atas
hanyalah berperan setetes dari jumlah yang
sebenarnya kita butuhkan. Untuk mengetahui kapan perlu
kita tambah, ada baiknya kita mengingat perkataan Witson
Churchill (Mantan PM Inggris): “Kesuksesan adalah
kemampuan melangkah dari kegagalan ke kegagalan lain
tanpa kehilangan semangat berjuang sedikitpun” (Lot
of tries, lot of failures, but still action).
Perasaan paling dalam sering mengajarkan bahwa semua
yang pernah kita lakukan ternyata tidak berujung pada
kesia-siaan meskipun saat itu kita memiliki prasangka
yang salah. Semoga
berguna. (jp)
|
|
_____________________________
|
|