|
Apa yang
perlu dipersiapkan?
Teorinya, ketika apa yang kita tekuni itu belum
membuahkan hasil seperti yang kita inginkan, maka
idealnya diperlukan dua sikap. Pertama, kita bisa
tetap menekuninya sambil mengembangan berbagai opsi
dan alternatif (memperbanyak, memperluas atau
meningkatkan kualitas). Kedua, kita banting setir
untuk meraih yang lebih bagus.
Bagi yang dalam posisi "terpaksa" harus banting
setir, rasanya sudah tidak relevan lagi Anda
memikirkan berat atau ringan. Berat atau ringan sama
saja, sebab Anda harus menghadapinya. Justru yang
lebih dibutuhkan adalah memperkuat persiapan dan
pertahanan. Ini antara lain adalah:
1. SWOT-lah Diri Anda
Ini istilah yang sudah jamak kita ketahui. SWOT
berarti mengetahui kekuatan (Strength),
kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity),
dan ancaman (Threat). Dengan kata lain, lihat
dulu ke dalam lalu lihatlah ke luar. Ini penting
supaya kita tidak sampai salah memilih bidang atau
profesi baru. Atau minimalnya tidak terlalu jauh
relevansinya. Sekedar sebagai masukan, kita bisa
memilih bidang atau profesi yang relevansinya dekat
dengan kita, misalnya: pengalaman kerja selama ini,
latar belakang pendidikan, kebiasaan yang sudah kita
jalani (hobi, interest, dst) atau lingkungan (kebutuhan
pasar di tempat kita berada).
2. Yakinilah alasan
Banting setir pekerjaan, profesi atau usaha itu
mirip seperti bertempur dalam cuaca berkabut. Tidak
ada teori yang bisa menjelaskan dari A - Z bagaimana
akhir sebuah pertempuran nanti. Dengan logika ini,
ada nasehat dari Sun Zu yang bisa diingat. Lima
peraturan bertempur menurut Sun Zu adalah:
• Keyakinan: harus meyakini alasan kenapa anda
bertempur
• Sekutu: pilihlah sekutu yang saling memperkuat
• Waktu: perhitungkan waktu yang tepat untuk
bertempur
• Ruang / lokasi: pahami di mana pertempuran akan
terjadi
• Strategi: tentukan strategi yang cocok
Jika anda tidak memiliki alasan yang anda yakini
atau tidak meyakini alasan yang anda ciptakan
sendiri, mungkin spirit anda akan gampang dipatahkan
oleh realitas yang akan anda hadapi. Studi
mengungkap bahwa keyakinan dan optimisme yang
dimiliki oleh mereka yang berhasil banting setir itu
sebesar di atas 80 % (yakin berhasil). Sementara,
yang gagal di tengah jalan hanya memiliki keyakinan
dan optimisme sebesar antara 50–60 % (setengah yakin
setengah ragu.
3. Menggali dan memperluas
Semua bidang di dunia ini memiliki keakhasan yang
merupakan hasil bauran dari perbedaan dan persamaan.
Ada prinsip-prinsip umum yang sama dan juga ada
tehnik-tehnik spesifik yang berbeda. Karena itu,
kita tidak bisa memakai pengetahuan dan pengalaman
masa lalu seratus persen tetapi juga tidak bisa
membuangnya seratus persen. Yang kita butuhkan
adalah menggali dari yang lama dan memperluas yang
baru. Meminjam istilah yang dipakai para ahli di
bidang karir, kita perlu melakukan "stretching"
pengalaman dan pengetahuan di masa lalu dan menjadi
learner (membaca teori, mengoreksi praktek).
Dengan latar belakang yang lebih “heterogen”, bisa
jadi kita malah akan menjadi lebih unggul dari
pemain lama yang latar belakangnya homogen.
4. Memperluas jaringan
Seperti kata Sun Zu, anda membutuhkan sekutu yang
cocok, pasangan yang pas atau mitra yang OK. Tidak
mungkin anda bisa memenangkan pertempuran dengan
hanya seorang diri. Hanya memang perlu diingat,
untuk mendapatkan yang cocok ini biasanya
membutuhkan eksplorasi (pengembaraan). Di sini yang
dibutuhkan adalah kehati-hatian dan keberanian.
Hati-hati supaya anda tidak ketemu orang yang salah
dan berani supaya jaringan anda luas.
Di lain pihak, ada baiknya juga kalau anda membuat
semacam peta dukungan. Kenapa? Untuk usaha yang
sudah mapan atau karir yang sudah mantap, biasanya
kebutuhan kita terhadap kontribusi orang lain itu
sudah terukur. Tetapi untuk yang baru merintis,
biasanya banyak sekali kebutuhan yang tidak bisa
kita cover sendiri dan tidak bisa pula dapat dicover
oleh satu orang. Artinya, kita butuh banyak orang
yang bisa menjadi sumber solusi, seperti yang
dilakukan Henry Ford. Butuh apa saja dia punya orang
yang bisa dihubungi. Kira-kira begitulah
ilustrasinya.
5. Gunakan "Cyberneticlike"
Ini adalah teori tentang model berpikir. Lawannya
adalah "Robotlike" thingking model. Cyberneticlike
adalah model berpikir yang menekankan pentingnya
kecepatan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru,
stimuli baru atau perubahan baru dan kemampuan
menemukan sumber informasi atau kemampuan
mengumpulkan informasi yang kita butuhkan. Untuk
orang / usaha yang sudah settle, sumber
informasi dan jenis informasi yang kita butuhkan
biasanya sudah ada standar. Tapi ini biasanya tidak
berlaku untuk orang yang baru menerjuni bidang baru.
Karena itu dibutuhkan kemampuan beradaptasi dengan
kecepatan tinggi.
6. Fokus pada kebutuhan dan masalah
Untuk usaha atau pekerjaan yang sudah mapan, kita
punya banyak pilihan dan resource. Ibarat orang
menembak, jika satu peluru meleset, kita masih punya
cadangan. Tapi ini jarang terjadi pada usaha atau
pekerjaan yang baru kita rintis. So, batasi
keinginan, ambisi yang berlebihan dan khayalan yang
muluk atau gengsi. Bila kebutuhan kerja masih bisa
ditangani dengan peralatan lama yang masih layak, ya
nggak usah harus beli serba baru. Bila lobi
masih bisa dilakoni dengan cara yang pantas, ya
nggak usah pakai cara yang "wah". Jor-joran
terkadang malah kurang bagus bagi kesehatan pikiran
dan kemajuan usaha kita.
7. Lapisi dengan "resource"
Idealnya, sebelum kita memutuskan untuk banting
setir, harus ada resource atau sumber solusi
yang bisa diandalkan. Ini misalnya saja kita
memiliki pekerjaan lain yang bisa membantu (supportive),
punya usaha lain, punya tabungan, punya pasangan
yang masih kerja, punya keluarga yang membantu.
Bagaimana kalau tidak punya sama sekali? Kita harus
berani menangani pekerjaan apa saja sebagai bantuan
untuk mewujudkan rencana. Pinter-pinternya kita
membagi waktu dan konsentrasi. Tehnik ini sudah
pernah dijalani Iwan Fals, Bob Sadino dan sejumlah
manusia lain sebelum banting setir. Sambil ngamen
dan sambil nyopir, Iwan tetap menjalankan agenda
pertamanya, yaitu menjadi musikus. Sama juga seperti
yang dilakoni JK. Rowling. Sambil menjalani
pekerjaan yang ia tidak sukai, ia tetap berlatih
menulis. |