|
|

|
Mengatasi
Gap Komunikasi
|
|
|
Oleh
Ubaydillah,
AN
|
|
|
|
|
|
Jakarta,
10 Maret 2003
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dalam
kehidupan sehari-hari, baik di kantor maupun dalam
lingkungan keluarga, seringkali dijumpai adanya gap
dalam berkomunikasi. Gap tersebut menyebabkan
perbedaan persepsi antara pihak yang satu dengan pihak
yang lain dan tidak jarang hal ini menimbulkan
kerugian di kedua belah pihak. Jika dilihat secara
cermat maka pemicu terjadinya kesenjangan komunikasi tersebut
seringkali bukan terletak pada persoalan fakta
melainkan sebatas citra yang kemudian membedakan
pemahaman terhadap rasa. Sebab faktanya, kedua belah
pihak (atasan-bawahan, anak-orangtua, suami-istri, dst)
saling membutuhkan dan ketika sudah dijelaskan/dipertemukan,
semua persoalan atau mayoritasnya bisa saling
memahami. Jika anda menyaksikan pihak-pihak yang
saling membenci, maka bisa jadi penyebabnya bukan
karena mempunyai watak-watak yang menjadi alasan untuk
dibenci tetapi karena faktor komunikasi semata.
|
|
|
Karena lebih banyak bisa dikaitkan dengan
persoalan bagaimana membentuk citra agar menghasilkan
pemahaman rasa yang enak, maka yang dibutuhkan dalam
berkomunikasi sebenarnya
adalah usaha untuk mengubah diri ke arah yang lebih
baik, terutama sikap, tindakan, dan perasaan. Artinya, bagaimana anda memperlakukan orang lain menjadi cermin dari
bagaimana anda memperlakukan diri sendiri dan
selanjutnya bagaimana orang lain memperlakukan anda
merupakan feedback dari perlakuan anda terhadap
mereka. Bagaimana caranya mengubah
diri ke arah yang lebih baik? Ada baiknya ada
perhatikan tiga hal berikut ini:
|
|
|
Assertive
|
|
|
Secara definitif bisa dijelaskan bahwa sikap assertive
merupakan manifestasi dari perbaikan yang serius dalam
hal bagaimana anda "memperhitungkan"
keberadaan orang lain tanpa sedikitpun mengurangi
perhitungan terhadap keberadaan anda dengan cara
konstruktif dan fair. Memperhitungkan
orang lain artinya mengakui bahwa semua manusia punya
hak berbeda dengan kesamaan yang dimiliki, bukan
menghakimi perbedaannya.
Di sisi lain, dengan pengakuan tersebut tidak
berarti anda kehilangan "standing of
points". Karena jika kehilangan, bukan lagi assertive,
melainkan permissive atau aggressive. Anda mengatakan YA atau TIDAK dengan alasannya masing-masing.
Tetapi jangan lupa bahwa pendirian anda
tersebut diungkapkan dengan cara yang polite but firm.
Di sinilah keahlian menggunakan ‘bahasa hidup’
menentukan. Oleh karena itu diakui bahwa bagaimana
orang menggunkan bahasa menjadi cermin kualitas
nalarnya. Menyampaikan
gagasan perbaikan kepada atasan tentu berbeda
bahasanya dengan menyampaikannya di depan rekan kerja.
Sikap assertive akan menempatkan anda pada posisi untuk dihormati, bukan
untuk dimanfaatkan. Bedanya sangat tipis.
|
|
|
Empathy
|
|
|
Bagaimana anda menyelami wilayah yang dirasakan
oleh orang lain tetapi anda tidak melarutkan diri di
dalamnya. Sebagai atasan, dibutuhkan untuk merasakan
situasi seperti bagaimana bawahan anda merasakan atau
sebaliknya untuk memahami apa yang benar-benar
dibutuhkan. Istilah
yang lebih memudahkan adalah pengandaian dua arah.
Pengandaian ini akan menajamkan sensitivity
of feeling. Analogi lain bisa digambarkan
bagaimana seorang
pengacara yang menjadi pembebas rakyat tertindas. Ia
akan menjadi pembebas ketika ia memahami apa yang
dirasakan oleh rakyat tertindas itu tetapi segara akan
menjadi tertindas jika hanya sekedar merasakan apa
yang dirasakan oleh rakyat yang tertindas. Bedanya
sangat tipis.
Dalam berkomunikasi dengan lingkungan, maka yang
anda butuhkan adalah memahami apa yang dirasakan oleh
mitra anda. Untuk bisa memahami menuntut lebih banyak
bisa mendengarkan. Stephen Covey mengistilahkan "seek
to understand first". Pada prakteknya, orang
lebih memilih untuk lebih dulu dipahami; lebih dulu
berbicara tentang dirinya sebelum lebih dulu
mendengarkan orang lain; lebih dulu menuntut hak
sebelum kewajiban disempurnakan.
|
|
|
Bekerjasama
|
|
|
Kenyataan
sejarah membuktikan bahwa tindakan co-operative
(bekerjasama) akhirnya lebih menguntungkan dari pada
tindakan konfrontatif ketika konflik menuntut untuk
diselesaikan. Jika kenyatannya orang lebih tertarik
menyelesaikan urusan komunikasi dengan cara
konfrontatif, maka sebagian penyebabnya karena lebih
gampang dan lebih singkat selain juga tidak memerlukan
kecerdasan dalam kadar tinggi. Dan seringkali cara
konfrontatif menjadi penjelasan dari pertarungan
egoisme posisi semata bukan untuk menjelaskan jalan
menuju realisasi misi, visi, dan tujuan. Padahal yang
benar – benar anda butuhkan adalah realisasi dari
apa yang anda inginkan bukan egoisme posisi.
Ketika anda berhubungan dengan orang lain dalam
bentuk apapun, sadarilah bahwa anda berbeda dan begitu
mendapatkan persoalan yang menciptakan perbedaan dalam
cara memahami dan menyelesaikan, maka pilihannya hanya
dua: anda mempertentangkan perbedaan tersebut karena
egoisme posisi; atau anda mengubah perbedaan menjadi
kekuatan sinergis dengan menciptakan alternative
ketiga: saya, kamu, dan kita yang berarti misi dan
visi bersama. Sekian kali lagi, bedanya sangat tipis.
Semoga berguna. (jp)
|
|
_____________________________
|
|